
"Bos, jika diizinkan oleh Bos maka saya akan memasukan anak buah saya ke penjara untuk menghabisi mereka semua" ucap Rico dengan sangat sopan karena takut jika Sean Arthur sampai marah kepadanya.
"Apakah itu bisa menyelesaikan masalah, jika ada tahanan yang meninggal dunia karena dipukuli bukankah akan menambah masalah, sudahlah jangan berpikiran seperti masa lalu, justru yang kita cari adalah orang di belakang layarnya dan kita buat dia merasakan apa artinya kehilangan dan kehancuran" ucap Sean Arthur dengan ramah dan inilah alasan kenapa dia ikut ke pemakaman untuk mendinginkan Rico karena dibandingkan Alex, Rico lebih kriminal pemikirannya.
"Semua tempat Spa mu akan aku rubah menjadi butik pakaian mewah dan akan pindah ke tempat yang baru, jika mereka menyerang tempat tempat usaha seperti ini maka mereka memang konyol bukan" ucap Sean Arthur kembali sambil menyalakan sebatang rokoknya lagi.
"Bos kenapa harus butik pakaian mewah nga butik pakaian dalam saja" ucap Rico sambil tertawa ringan.
"Kau jangan gila ya, apa mau orang orang mengenalmu sebagai bos pakaian dalam wanita" ucap Sean Arthur.
"Tidaklah bos, saya hanya bercanda jangan marah seperti itu, tapi kenapa harus pindah tempat bukan kah tempat tempat usaha spa lebih strategis" ucap Rico sambil tersenyum lebar menoleh ke arah Sean Arthur.
"Rico, jika kita masih usaha di tempat yang sama maka mereka pikir kita hanya mengganti usaha, namun jika tempat tempat spa itu tutup mereka akan berpikir jika kita bangkrut dan juga takut terhadap mereka" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil menikmati rokoknya.
"Saya masih nggak mengerti kenapa bos ingin terlihat bangkrut" ucap Rico.
"Rico, karena biar bagaimana pun juga yang mereka incar adalah hartaku yang mereka ketahui, jika mereka mengetahui aku bangkrut bukankah mereka akan berpikir untuk tidak lagi menyerangku" ucap Sean Arthur dengan ramah dan tersenyum hangat ke Rico.
"Semoga saja demikian Bos, namun jika mereka main fisik lagi sama Bos maka saya tidak akan sungkan dengan mereka, akan saya datangi dimanapun mereka berada" ucap Rico sambil mengepalkan tangannya.
"Rico, ada kalanya kita mundur dan melihat dari jauh saja dan ada kalanya kita menyerang nah ini yang harus kau pelajari, kau tahu jika mengikuti emosiku maka aku dengan mudah membunuh mereka semua, dengan jutaan orang yang kumiliki bukankah mudah untukku membunuh mereka namun itu bukan yang aku inginkan, aku ingin mengambil satu persatu kebahagiaan mereka yang selama ini aku berikan untuk mereka, sekarang, sebagian besar sudah masuk penjara dan mumpung mereka masih dalam penjara maka kita akan menghancurkan bisnis mereka, saat ini perdagangan saham mereka sudah di bawah garis dan aku yakin hal ini akan memicu banyak masalah di perusahaan perusahaan mereka jadi api api kecil pasti bermunculan, apa kau paham" ucap Sean Arthur sambil kemudian menghisap santai rokoknya.
"Saya paham Bos, dan mohon maaf jika api api kecil ini terjadi karena pengkhianatan anak buah saya" ucap Rico dengan sangat hormat.
"Yang penting ke depannya kau bisa bersihkan semua anak buahmu, agar tidak ada lagi yang berkhianat" ucap Sean Arthur dengan ramah.
Tepat Jam 15.45 mobil mereka memasuki area taman pemakaman umum Jambudipa Cisarua dan langsung parkir di area parkir mobil.
"Rico kau saja yang turun agar tidak menarik perhatian orang orang" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Baik Bos" ucap Rico sambil turun dari mobil.
Sean Arthur melihat kepergian Rico menuju lokasi pemakaman salah satu karyawan tempat spa mereka dan dia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Alex namun dua panggilan baru di jawab oleh Alex.
"Maaf Bos saya baru bangun, apakah ada yang bisa saya bantu Bos" ucap Alex sambil bangun dari tempat tidurnya.
"Sudah saya titipkan ke anak buahnya bos tadi sebelum saya tidur" ucap Alex
"Oke, sudah sore bangunlah" ucap Sean Arthur kembali.
"Siap Bos" jawab Alex sambil kemudian menyimpan kembali ponselnya.
"Ardhi, buatkan plang rumah dijual dan pasang di Setiabudi dan Sukajadi namun pasang harga sangat tinggi tiga kali lipat dari harga pasaran agar tidak ada yang memberinya aku hanya ingin orang berpikir bahwa aku sampai jual rumah untuk menutup hutang" ucap Sean Arthur melalui panggilan telepon ke Ardhi.
"Baik Bos nanti divisi properti kita yang akan mengurusnya dan akan pura pura terjual juga" ucap Ardhi melalui ponsel itu.
"Oke terima kasih" ucap Sean Arthur sambil mematikan panggilan telepon itu.
Sean Arthur kemudian mematikan rokoknya dan menutup sunroof mobil yang terbuka dan pulas tertidur di dalam mobilnya itu tanpa menyadari jika mobil jenazah yang di tunggu oleh Rico melintasi nya.
Jam 17.20 wib Rico yang sudah selesai dengan prosesi pemakaman langsung kembali ke dalam mobil namun melihat jika Sean Arthur pulas tertidur sehingga dia menjalankan mobil Bentley itu dengan perlahan agar tidak mengganggu istirahat Sean Arthur.
Jam 18.30 wib Sean Arthur terbangun dan langsung meminum air mineral botol untuk mencuci mulutnya.
"Rico di depan ada rumah makan yang bagus kita berhenti di sana, perutku lapar ternyata" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Siap Bos" ucap Rico sambil memelankan laju mobilnya dan langsung masuk ke parkiran rumah makan lalu semuanya termasuk anak buahnya masuk ke dalam rumah makan itu yang semuanya terbuat dari bambu hitam.
Mereka mengisi salah satu pendopo di atas kolam ikan dan langsung memesan semua jenis makanan terbaik rumah makan itu.
Tidak lama mereka menunggu pesanan makanan mereka dan setelah makanan itu datang mereka pun menikmatinya bersama sama seperti sebuah keluarga besar benar benar tampak tidak ada perbedaan antara Bos dan bawahan.
"Tolong pesankan kopi hitam tanpa gula untukku, jika kalian juga mau maka pesan saja sekalian dan minta kecilkan speaker disini atau jika bisa minta dimatikan saja, suara penyanyi dadakan itu membuat telinga ku sakit" ucap Sean Arthur setelah semuanya selesai menyantap makanannya dan memang di rumah makan itu ada live musik jadi setiap pengunjung boleh bernyanyi.
"Baik Bos sebentar saya pesankan dulu kopinya dan sekalian minta agar musik ini di kecilkan" ucap salah seorang pengawalnya itu dengan sangat hormat sambil kemudian berdiri dan melangkah menuju kasir rumah makan itu karena tidak ada pelayan rumah makan yang terlihat disana.
"Bos masakan disini biasa saja masih lebih enak makanan di restoran eropa milik anda" ucap Rico sambil tersenyum lebar.