
Alex yang sudah mengambil senjata pilihannya lalu berjalan keluar dari ruang senjata tersebut dan menemui Sean Arthur yang sudah siap menembak.
"Alex dikit sekali senjata api yang kau bawa, semua senjata itu milikku jadi bisa kau gunakan untuk melatih keterampilan mu" ucap Sean Arthur sambil memasang kertas target di tempatnya lalu memijat saklar di atas meja untuk mengirim kertas target ke jarak terjauh.
"Siap Bos, nanti setelah yang dua ini" ucap Alex sambil meletakkan dua senjata api yang di bawanya di atas meja lalu memasang kertas target dan mengirim kertas target itu juga ke jarak terjauh.
"Alex ayo per sepuluh peluru, jika kau bisa mengalahkan ku maka sepuluh juta untukmu, jika kau kalah ya wajib mentraktir ku makan bagaimana?" Ucap Sean Arthur sambil tersenyum lebar.
"Oke Bos, siap sepertinya saya akan mendapatkan uang banyak kali ini" Ucap Alex sambil memasukkan peluru ke magazen demikian juga dengan Sean Arthur.
Sean Arthur yang telah siap dan telah menggunakan penutup telinga melihat Alex dan menunggu Alex menggunakan penutup telinga juga.
Dor
Dor
Dor
Dor
Sepuluh letusan senjata api berturut turut dengan cepat terdengar sesaat setelah Alex menggunakan penutup kepala.
"Cepat sekali" ucap Alex dalam hatinya yang melihat Sean Arthur menembakkan sepuluh peluru itu.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Alex menembak sepuluh kali namun berjeda untuk membidik target dan waktu yang diperlukan oleh alex mencapai hampir lima menit berbeda dengan Sean Arthur yang tidak sampai satu menit.
Sean Arthur dan Alex sama sama memijit tombol saklar untuk menarik kembali kertas targetnya.
Sean Arthur membiarkan kertas target nya tetap di medianya berbeda dengan Alex yang melepas kertas target tersebut lalu melangkah menemui Sean Arthur.
"Bos saya hanya tiga di tengah sisanya jauh" ucap Alex saat mendekati Sean Arthur.
"Alex lihatlah" ucap Sean Arthur menunjuk ke kertas targetnya sambil tersenyum lebar.
"Wah Bos keahlian anda sama sekali tidak berkurang" ucap Alex sambil terkagum kagum dengan hasil menembak Sean Arthur.
"Alex fokuslah dengan target mu jangan banyak pikiran lain saat sedang menembak, sudah sekarang kita latihan lagi ya lupakan taruhan tadi, ingat fokuskan pikiran mu hanya ke target dan kunci target di matamu dengan demikian tembakan mu akan tepat mengenainya, ya paling paling bergeser sedikit saja" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Baik Bos" ucap Alex sambil kemudian melangkah kembali ke area menembaknya.
Sean Arthur dan Alex terus berlatih dan tak terasa sudah jam 16.00 wib saat mereka berdua keluar dari area latihan menembak itu lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menggunakan jip Hummer.
"Alex, kita keluar dari sini, aku ingin makan buah nanas yang masih segar" ucap Sean Arthur sambil membuka kaca jendela mobilnya dan menyalakan sebatang rokoknya.
"Baik Bos saya akan putar balik" ucap Rico yang berpikiran hanya ada satu pintu gerbang saja di kawasan Villa Naga itu.
"Tidak perlu, yang kita masuki semalam itu adalah pintu gerbang darurat sedangkan pintu gerbang utama ada di depan sana, satu kilometer lagi dari sini" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Siap Bos" ucap Alex sambil terus mengemudikan jip Hummer versi militer itu.
"Wah Bos, ternyata jalanannya aspal semua, pantas saja di hanggar garasi anda banyak sedan sports." Ucap Alex setelah mereka keluar dari pintu gerbang villa Naga.
"Alex ikuti saja jalan ini dan lima kilometer lagi kita akan tembus ke jalan utama kota Subang, dan nanti kau belok kanan akan ada banyak penjual buah nanas yang masih fresh karena biasanya pedagang disana memetik nanas jam dua siang tadi" ucap Sean Arthur menjelaskan dengan ramah.
"Siap Bos" ucap Alex sambil menambah kecepatan mobil jip Hummer versi militer itu dari empat puluh kilometer per jam menjadi delapan puluh kilometer per jam.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka sampai di jalan utama kota subang itu dan kini terlihat banyak sekali pedagang nanas asli kota Subang karena kota Subang memang salah satu penghasil buah nanas terbaik di wilayah provinsi Jawa Barat.
Alex langsung memarkirkan mobilnya di bahu jalan yang cukup luas karena Jip Hummer versi militer mereka memang lebih lebar dari mobil mobil pada umumnya.
Sean Arthur langsung turun dan memesan dua buah nanas untuk di makan di warung tersebut sambil menunggu Alex yang masih merapikan parkir mobil agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
"Bos maaf lama saya sekalian memutar mobil soalnya" ucap Alex yang sudah kembali datang menemui Sean Arthur dan terlihat ada dua piring yang berisi potongan potongan buah nanas asli kota Subang.
"Alex yang ini punya mu dan lebih baik kau taburi garam di atasnya agar stamina mu lebih terjaga" ucap Sean Arthur sambil menaburi garam di atas potongan potongan buah nanas itu.
"Wah Bos, nanas ini sangat segar, memang beda juga ya rasanya, apa boleh saya bawa ke Villa" ucap Alex sambil kembali memakan potongan buah nanas itu yang telah dia taburi garam di atasnya.
"Bawa saja, namun ingatkan aku nanti untuk mengambil uang cash, aku lupa lagi membawa uang cash padahal kemarin aku sudah minta di bawakan oleh Ardhi tapi ketinggalan di Villa Dago" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya dan tetap menikmati buah nanasnya.
"Bos, apa kita akan mencari mesin ATM atau bagaimana" ucap Alex sambil melihat sekelilingnya namun sejauh mata memandang disana hanya ada perkebunan Teh saja.
"Tidak perlu, di brankas juga ada, hanya ingatkan saja ya" ucap Sean Arthur.
"Siap Bos, kebetulan uang cash saya hanya tinggal sepuluh juta rupiah saja" ucap Alex sambil tersenyum lebar.
Lima belas menit berlalu dan kini kedua piring itu sudah kosong dan terlihat jika hari sudah mulai gelap.
"Pak, saya minta 200 buah nanas yang besar besar ya untuk saya bawa" ucap Sean Arthur dengan ramah ke pria sepuh yang berjualan nanas tersebut.
"Iya saya akan pilihkan yang besar besar." Ucap pria sepuh penjual nanas itu dengan sangat ramah.
Dan seperti biasa Alex kembali yang membayarnya dan mereka pun langsung kembali ke villa Naga karena ada pesan masuk dari Gunawan yang memintanya untuk datang.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk mereka kembali ke Villa Naga itu dan Sean Arthur langsung ke ruangan kerja Gunawan lalu duduk di sofa yang ada di sana sedangkan Alex setelah menyimpan mobil di garasi langsung membawan nanas yang mereka beli ke dapur untuk minta di potong dan di bagikan ke semua orang yang ada di dalam bangunan utama Villa Naga.