
"Bos, coba saya tanyakan kepada anda apakah nama anda ada dalam data Arthur corporation" ucap Gunawan sambil tersenyum hangat ke Sean Arthur.
"Benar karena saya pemiliknya" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Nah ini Anton namanya tidak terdaftar di satu pun perusahaan atau tempat usaha milik geng serigala Bos, hasil dari ponsel Anton selama ini selalu bersih dan seolah olah bahwa Anton tidak mengerjakan apa apa namun kini ternyata dia memiliki banyak ponsel" ucap Gunawan menjelaskan.
"Benar benar licik dia, jadi apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa?" Ucap Sean Arthur sambil menarik nafas dalam dalam.
"Dari data yang saya ambil dari panti asuhan anda ternyata Anton itu satu satunya anak yang waktu itu di taruh di depan panti sosial Bos" ucap Gunawan lagi.
"Maksudmu ini semua direncanakan dari dulu" ucap Sean Arthur.
"Mungkin awalnya tidak ke Bos namun ternyata lari ke Bos, ayah anda dari dulu adalah penyumbang terbesar panti sosial itu bos dan sepertinya dari awal target utamanya adalah ayah anda namun karena tidak berhasil jatuhnya ke anda" ucap Gunawan dengan hormat.
"Gunawan siapa saja yang sudah tahu masalah ini" ucap Sean Arthur sambil berdiri dan berjalan lalu mengunci pintu ruang kerja Gunawan.
"Hanya kita berdua saja bos" ucap Gunawan dengan hormat sambil melihat Sean Arthur kembali duduk di tempatnya semula.
"Rico, mobil golf nya simpan saja di teras dan kau istirahat saja namun berikan aku nomor telepon Sony" ucap Sean Arthur menghubungi Rico melalui ponselnya.
"Baik Bos ini saya masih di jalan sebentar lagi sampai" ucap Rico.
Sean Arthur kemudian menerima sebuah pesan singkat dari Rico dan langsung memberikannya ke Gunawan.
"Coba lihat nomor itu apa ada di kontak ponsel ponsel milik serigala pertama" ucap Sean Arthur dengan sangat serius.
"Sebentar Bos" ucap Gunawan sambil kembali ke meja kerjanya dan langsung mengeceknya dan sebuah monitor langsung menyala dan memperlihatkan jika nomor Sony di tulis dengan nama Satu di ponsel kedua serigala pertama dan semua kontaknya juga dinamakan huruf oleh serigala pertama.
"Cek nomor Rico, Alex dan Ardhi dan nomormu juga serta nomorku" ucap Sean Arthur sambil berdiri dan mendekati meja kerja Gunawan lalu berdiri di belakang Gunawan.
Gunawan tidak menjawabnya namun langsung mengerjakannya dan hasilnya nihil tidak ada nomor mereka yang di simpan di kontak ponsel kedua serigala pertama.
"Bos" ucap Gunawan sambil menoleh ke Sean Arthur yang menarik nafas dalam dalam di belakangnya.
Sean Arthur tidak menjawabnya namun mengambil ponselnya dan menghubungi Rico kembali.
"Naik sekarang juga ke ruangan kerja Gunawan" ucap Sean Arthur dengan tegas ke Rico melalui ponselnya.
"Keruangan kerja gunawan sekarang" ucap Sean Arthur dengan tegas ke Alex melalui ponselnya juga.
"Gunawan tolong buka kunci pintu ruangan mu , biarkan keduanya datang kesini laku periksa semua kontak ponsel mereka" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya.
Gunawan hanya mengangguk dan langsung berjalan membuka kunci pintu ruangan kerjanya yang sebelumnya di kunci oleh Sean Arthur lalu duduk kembali di kursi kerjanya.
"Sambil menunggu cek semua nomor anak buahmu apakah ada di salah satu ponsel itu" ucap Sean Arthur dengan tegas tidak seperti biasanya karena dia benar benar jenuh dengan pengkhianatan terhadapnya.
"Siap Bos" ucap Gunawan dengan sangat hormat sambil mencolokkan ponselnya ke laptopnya dan terlihat apa yang dilakukannya di monitor terbesar yang ada di dinding itu dan Sean Arthur melihatnya dengan teliti tidak ingin melewatkan satu hal pun.
"Berikan ponsel kalian ke Gunawan sekarang" ucap Sean Arthur dengan tegas ke Alex dan Rico dengan sorot mata yang super dingin.
"Siap bos" ucap Alex dan Rico kompak dan langsung berdiri lalu memberikan ponselnya ke Gunawan.
"Bos, kontak ponsel saya bersih" ucap Gunawan dengan sangat hormat dan Alex beserta Rico bisa melihat jika Gunawan sedikit tegang.
"Periksa punya Alex dulu" ucap Sean Arthur dengan datar.
"Siap Bos" ucap Gunawan sambil mencolokkan ponsel Alex ke laptopnya dan Sean Arthur langsung melihat ke monitor proses pencocokan nomor telepon itu demikian juga dengan Alex dan Rico.
Alex dan Rico benar benar di buat bimbang dengan sikap Sean Arthur yang terlihat sangat marah dan jika sikapnya seperti ini mereka berdua tahu akan ada nyawa melayang sebentar lagi.
Lima belas menit berlalu dan ponsel Alex terus diperiksa oleh Gunawan.
"Ponsel Alex bersih Bos, sebentar saya cek dulu ponsel milik Rico" ucap Gunawan persis di menit ke dua puluh.
"Lanjutkan" ucap Sean Arthur dengan santai namun tetap terdengar dingin.
"Ardhi kau dimana" ucap Sean Arthur yang menghubungi Ardhi melalui ponselnya.
"Saya baru mau lewat lapangan Gasibu Bos" ucap Ardhi melalui ponselnya.
"Segera ke rumah ku aku tunggu secepatnya di ruang kerja Gunawan" ucap Sean Arthur sambil mengakhiri panggilan telepon itu sebelum Ardhi sempat menjawabnya.
"Bos ada ratusan nomor yang sama" ucap Gunawan persis di menit ke tiga puluh dan nomor nomor itu terlihat di monitor satu dan dua.
"Sebentar Bos, masih nambah" ucap Gunawan lagi.
"Print kan tiga rangkap" ucap Sean Arthur dengan santai sambil menghela nafas panjang.
Satu jam berlalu dan gunawan terlihat berdiri lalu memberikan data nomor kontak ponsel di ponsel Rico yang sama dengan yang ada di kontak ponsel Serigala pertama bersamaan dengan datangnya Ardhi ke ruang kerja Gunawan itu.
"Ardhi berikan ponselmu ke Gunawan dua duanya lalu duduk kau di sebelah Rico" ucap Sean Arthur dengan dingin dan sorot matanya terlihat sangat buas.
"Baik Bos" ucap Ardhi dengan sangat hormat sambil memberikan kedua ponselnya ke Gunawan lalu duduk di samping Rico dengan sangat sopan.
Tidak ada seorang pun yang berani berbicara dengan melihat sikap Sean Arthur seperti itu karena mereka tahu saat ini ada masalah yang sangat membuat Sean Arthur emosi.
Dua Jam berlalu dengan sangat lama untuk mereka semua dan kini Gunawan kembali memberikan print out nomor yang sama ke Sean Arthur lalu mengembalikan ponsel ponsel mereka bertiga karena semua prosesnya sudah selesai.
"Gunawan tolong print lagi masing masing dua lembar" ucap Sean Arthur dengan santai namun terdengar dingin.
"Baik Bos" ucap Gunawan sambil kembali le laptopnya dan langsung melakukan apa yang diperintahkan untuknya.
"Ini Bos" ucap Gunawan sambil menyerahkan hasil printer tersebut kepada Sean Arthur dengan sangat hormat dan langsung duduk di samping Sean Arthur dengan sedikit menjaga jarak.