
"Gunawan ada apa, apa ada yang mengusikmu" ucap seseorang Terdengar dari ponsel Gunawan.
"Michael apa kau masih mengenalnya" ucap Gunawan sambil memutar ponselnya mengarah ke Sean Arthur.
"Hai Bos, lama tidak jumpa" ucap Michael
"Michael apa kau bisa bekerja untukku" ucap Sean Arthur.
"Saya, kenapa harus saya, bukankah sudah ada Gunawan disitu" ucap Michael.
"Tidak lucu dan aku tidak tertawa, dimana kau sekarang" ucap Sean Arthur.
"Basecamp bersama pasukan ku, oh ya bos Sean anda terlihat sedang pusing jangan lupa minta obat pusing sama Gunawan" ucap Michael.
"Michael aku akan kesana" ucap Sean Arthur.
"Jika tidak bersama Gunawan maka aku tidak akan membuka pintu" ucap Michael.
"Haruskah" ucap Sean Arthur
"Dan satu lagi sebatang rokok lebih indah dari satu bungkus" ucap Michael sambil mematikan panggilan video itu.
Gunawan langsung menyimpan kembali ponselnya.
"Alex siapkan mobil" ucap Sean Arthur.
"Mobil saya saja sudah di kenal, bawa mobil lain malah nambah masalah" ucap Gunawan sambil berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerjanya di ikuti oleh Sean Arthur dan juga Alex.
Mereka langsung menaiki mobil SUV Nissan milik Gunawan yang memang di bawa Gunawan ke villa Sean Arthur itu dan SUV Nissan itu melesat dengan cepat keluar dari dalam kawasan villa tersebut.
"Bos ada apa ini kenapa saya jadi merasa asing" ucap Alex sambil memperhatikan jalanan yang dilintasi oleh Gunawan yang memilih melewati jalan pintas menuju Lembang.
"Alex, dulu sebelum aku menarik kau, Ardhi dan Rico, teman nakalku ya Gunawan dan Michael, jadi aku akan bernostalgia" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Lalu Bos, sebatang rokok lebih indah dari sebungkus rokok maksudnya apa bos" ucap Alex dengan sangat penasaran.
"Satu batang rokok di nikmati bersama sahabat lebih berarti dari pada satu bungkus rokok tapi di nikmati sendirian, apa kau paham" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Persahabatan" ucap Alex dengan sangat hormat.
"Benar" ucap Gunawan sambil terus mengarahkan mobil nya ke jalanan tanah yang hanya muat satu mobil saja.
"Jalanan ini kenapa seperti ini" ucap Alex.
"Tenang kita hanya menghemat waktu saja" ucap Gunawan.
"Alex, musuh kita adalah musuh dalam selimut karena itu kita lebih aman melewati jalan seperti ini lihatlah kebelakang" ucap Sean Arthur dan terlihat ada beberapa lampu motor.
"Ada yang mengikuti kita" ucap Alex.
"Benar, namun tidak lama" ucap Gunawan sambil terus memacu SUV Nissan nya dan kini memasuki jalanan berbatu terjal lalu kemudian kembali ke jalanan tanah.
"Rute ini hanya aku, Gunawan dan Michael yang tahu dan sekarang kau" ucap Sean Arthur sambil menengok kebelakang dan tidak melihat lagi adanya lampu lampu motor.
"Alex buang jam tanganmu sekarang" ucap Gunawan dan saat ini mereka melintasi jalan tanah yang kiri kanannya adalah jurang.
Alex langsung membuka jendela dan membuang jam tangan miliknya.
"Sudah nanti aku berikan yang lebih bagus, jam tangan mu ada pelacak nya jadi mereka tahu kau dimana" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Bos bagaimana anda bisa tahu" ucap Alex dengan penasaran.
"Alex lihat alat kecil ini, tadi menyala merah pertanda ada pelacak dalam mobil dan kini menyala hijau" ucap Gunawan memperlihatkan sebuah benda kotak kecil sebesar korek api.
"Tapi bagaimana kau bisa yakin itu jam tanganku" ucap Alex.
"Karena hanya punyamu jam berbaterai sedangkan milik kami kinetis semua" ucap Sean Arthur.
"Jam itu jam hadiah dari Ardhi" ucap Alex sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Aku tahu dari mana jam itu sebenarnya" ucap Sean Arthur dengan ramah
SUV Nissan itu terus melesat dengan cepat di jalanan tanah dan memasuki sebuah hutan Pinus yang sangat rapat hingga sampai di sebuah Villa yang sangat besar dengan penjagaan yang sangat extra ketat.
Terlihat jika banyak sekali orang yang membawa senjata laras panjang dan Alex bisa melihat jika banyak sekali sniper disana.
Mobil SUV Nissan itu melesat terus kedalam villa dan berhenti di sebuah villa terbesar yang ada di sana.
"Ayo turun" ucap Gunawan dengan ramah dan semuanya langsung turun.
Gunawan membawa keduanya ke dalam villa itu dan Alex melihat jika Villa itu seperti villa yang siap berperang karena banyak sekali yang membawa senjata di luar dan di dalam villa itu.
"Sean Arthur akhirnya sampai juga kau kesini" ucap seorang pemuda seumuran Sean Arthur sambil memeluk erat Sean Arthur sebentar kemudian mempersiapkan semuanya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.
"Michael kau masih sama seperti dulu" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Sean kau juga masih seperti dulu tenang namun mematikan, dan siapa ahli senjata ini" ucap Michael sambil melihat Alex
"Michael ini Alex bawahan ku dan Alex ini Michael teman waktu aku masih jadi bajingan" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Alex kenapa kau mau jadi bawahannya mendingan jadi bawahan ku saja, ada banyak senjata api untuk kau gunakan sepuasnya disini" ucap Michael sambil tersenyum lebar.
"Michael, bagaimana jawaban mu" ucap Gunawan dengan sangat serius.
"Ah kau ini, datang malam malam hanya nanya jawaban, iya aku akan membantu mu, data yang kau berikan sudah sesuai apa ada tambahan" ucap Michael sambil menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya perlahan lalu memberikan kepada Sean Arthur dan Sean Arthur pun sama menghisap satu kali lalu memberikan kepada Alex.
Alex mengikuti Sean Arthur dan menghisapnya satu kali lalu memberikannya kepada Gunawan dan Gunawan berbeda dia menghisapnya sampai rokok itu habis.
"Data sesuai yang aku berikan satu jam yang lalu" ucap Gunawan setelah menghabiskan rokok Michael itu.
"Oke, anggap saja sudah selesai tapi apa semuanya sekaligus" ucap Michael.
"Lembar pertama saja dulu, agar ada sedikit permainan, lembar kedua aku yang akan mengabarimu kapan waktu yang tepat" ucap Gunawan dengan sangat santai.
"Oke, oh ya enam tikus yang mengikuti mu sudah beres ya" ucap Michael sambil tersenyum lebar ke mereka semua.
Mereka bertiga saling melirik satu sama lainnya dan tampak kebingungan.
"Anggap saja bonus, aku tidak suka tamu tak di undang" ucap Michael sambil mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan ke Gunawan lalu menyimpannya lagi.
"Oke terima kasih atas bonusmu, jam 7 sepertinya jam yang bagus" ucap Gunawan.
"Kau ini emang aku orang kantoran seperti bos besar ini, lihatlah sekarang sudah jam 23.00 wib jadi 23.30 wib lah waktu yang pas jangan di tawar lagi" ucap Michael dengan ramah sambil kembali menyalakan sebatang rokoknya tapi tidak diberikan ke siapa pun.