Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Menuju Kasino



"Siap Bos" ucap Doni sambil berdiri lalu berlari ke lantai dua menuju ruang kerja Sean Arthur karena disana letak brankas uang dalam jumlah besar.


Sean Arthur kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Alex.


"Siap Bos" ucap Alex dengan sangat hormat yang terdengar melalui panggilan telepon itu.


"Alex, tolong pastikan ya semua aset ku benar benar aman" ucap Sean Arthur.


"Siap Bos, saya akan selalu memastikan hal ini" jawab Alex melalui panggilan telepon itu.


"Terima kasih dan maaf jika aku merepotkan mu, karena hanya kau yang bisa aku percaya untuk tugas ini" ucap Sean Arthur.


"Siap Bos, terima kasih sudah mempercayai saya" ucap Alex melalui panggilan telepon itu dan Sean Arthur kemudian memutuskan panggilan telepon itu lalu menghubungi Gunawan.


"Siap Bos, apa yang bisa saya bantu untuk Bos" ucap Gunawan melalui panggilan telepon itu.


"Gunawan, dimana posisi mu saat ini" ucap Sean Arthur dengan ramah melalui panggilan telepon itu.


"Siap bos, baru sampai vila dago bos" ucap Gunawan.


"Oke, sekarang aku minta bantuan mu untuk mencari semua kasino yang masih beroperasi yang belum tersentuh oleh pihak kepolisian dan berikan datanya kepada ku dalam segera ya" ucap Sean Arthur.


"Siap Bos, maksimal lima belas menit ya bos" ucap Gunawan.


"Oke, dan sampaikan ke pasukan mu untuk menjaga aset aset ku dengan baik ya, jangan sampai ada bom lagi yang meledak di asset ku" ucap Sean Arthur.


"Siap, sudah Bos, satu obyek di jaga sepuluh orang Bos" ucap Gunawan.


"Bagus, aku tunggu informasinya" ucap Sean Arthur sambil memutuskan panggilan telepon itu lalu menyimpan ponselnya di saku celananya.


"Bos mobil dan para pengawal sudah siap" ucap Roni yang sudah datang kembali.


"Iya, kita tunggu dulu Doni datang ya, kita akan bersenang senang malam ini" ucap Azman dengan ramah sambil tersenyum hangat ke Roni.


"Siap Bos" ucap Roni sambil duduk di tempatnya tadi.


Sean Arthur kembali menyalakan sebatang rokoknya sambil menunggu kedatangan Doni karena dia tahu menyiapkan uang sebanyak itu memerlukan sedikit waktu meskipun hanya tinggal memasukkan kedalam tas saja.


Sepuluh menit berlalu dan Doni tampak sudah kembali dengan membawa sebuah tas kerja.


"Ayo berangkat" ucap Sean Arthur sambil tersenyum ramah dan berdiri di ikuti oleh Roni yang ikut berdiri juga.


Mereka bertiga langsung keluar dari dalam villa Naga dan naik ke mobil yang sudah di siapkan yaitu sedan bentley berwarna hitam dan Roni sebagai pengemudinya.


"Bos kemana tujuan kita" ucap Roni sambil menjalankan mobil Bentley itu.


"Kita ke kota subang dulu saja, ada sebuah kasino disana, dan tugas kalian beserta beberapa orang pengawal ku untuk masuk ke ruang penyimpanan uang mereka lalu mengambil semuanya, jangan lupa hancurkan rekaman cctvnya" ucap Sean Arthur dengan tenang sambil kembali menyalakan sebatang rokoknya dan Doni langsung membuka sunroof mobil Bentley hitam itu.


"Baik bos, lalu buat apa uang ini" ucap Doni dengan sangat hormat.


"Buat kita makan makan tentunya, karena aku tidak memegang uang cash sama sekali jadi kau pegang saja ya" ucap Sean Arthur dengan santai.


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Sean Arthur dan langsung di lihat oleh Sean Arthur.


Pesan singkat itu dikirim oleh Gunawan dan berisi semua data kasino yang diminta oleh Sean Arthur, Sean Arthur pun kemudian menghubungi Gunawan melalui panggilan telepon.


"Siap Bos, hanya sepuluh kasino itu saja Bos yang ada dan semuanya tidak di kota bandung melainkan subang, padalarang dan sumedang" ucap Gunawan melalui panggilan telepon itu.


"Iya aku tahu kok, alasan ku menghubungi mu meminta matikan semua cctv jalan raya dan cctv di sekitar kasino di kota subang karena aku mau bersenang senang disana" ucap Sean Arthur melalui panggilan telepon itu.


"Siap Bos, beres" ucap Gunawan dan panggilan telepon itu langsung di putuskan oleh Sean Arthur.


Mereka kini sudah keluar dari kawasan Villa Naga dan sebelas mobil itu terus melaju dengan kecepatan tujuh puluh kilometer per jam menuju kota subang.


"Roni, pelan pelan saja sambil menikmati alam, lagi pula kita tidak terburu buru dengan apapun bukan." Ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Siap Bos" ucap Roni sambil memelankan laju mobil menjadi empat puluh kilometer per jam.


"Perkebunan kita ini harus kita pertahankan terus, agar sampai kapan pun orang orang tahu jika kota subang memiliki perkebunan nanas terbaik" ucap Sean Arthur sambil menurunkan kaca mobilnya dan melihat ke arah luar.


Roni langsung memelankan lagi laju mobil menjadi hanya dua puluh kilometer per jam agar Sean Arthur bisa lebih jelas melihat apa yang ada di luar.


"Siap Bos, kami tidak akan merubah area perkebunan" ucap Doni yang memang dialah orang yang mengurus semua perkebunan milik Sean Arthur.


"Aku ingin semuanya penerus kita tetap merawat perkebunan sebagai perkebunan karena jika semua tanah dijadikan bangunan bisa bisa alam sangat marah kepada kita" ucap Sean Arthur yang mulai menyalakan sebatang rokoknya lagi.


"Iya bos, cukup di tempat lain saja ada bencana longsor dan banjir jangan di tempat kita" ucap Roni sambil terus mengendalikan laju mobil.


"Bos, apa anda tidak lapar" ucap Doni sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Apa kau sudah lapar lagi, tadi sepuluh lebih ketan bakar kau makan bukan" ucap Sean Arthur.


"Iya Bos, tapi itu hanya jadi cemilan, jika belum masuk nasi ya belum makan lah bos" ucap Doni yang tetap mengelus ngelus perut buncitnya itu.


"Terus mau makan dimana?" Tanya Sean Arthur.


"Bos, rumah makan sunda yang menjual sate kelinci saja bagaimana, sudah lama kita tidak mampir disana" ucap Roni memberi saran.


"Oh yang itu, iya yang tahun kemarin kita mampirin bukan, ya sudah kesana saja" ucap Sean Arthur dengan sangat santai.


"Asyik, sudah lama aku tidak makan sate kelinci disana" ucap Doni yang terdengar sangat bergembira.


"Kalau aku sedang ingin sate biawak saja, sudah lama juga aku tidak makan sate biawak" ucap Sean Arthur sambil menikmati rokoknya dan melihat keluar melalui jendela mobil.


"Bos emang enak sate biawak?" Tanya Roni yang terdengar sangat penasaran.


"Roni sebaiknya nanti kau mencobanya saja biar tidak penasaran, lihatlah dulu aku minta kalian mencoba sate kelinci saja kalian ketagihan bukan" ucap Sean Arthur dengan ramah dan tetap menikmati rokoknya itu.


"Siap Bos, nanti kami akan mencoba sate biawak" ucap Roni lagi.


"Bukankah disana juga ada sop musang ya" ucap Doni yang masih sibuk mengelus perut buncitnya.