Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Menyelamatkan Rico dan Ardhi



"Alex pengamatan mu bagus juga, lalu bagaimana dengan mu Gunawan apa yang kau lihat" ucap Sean Arthur dengan santai dan ini membuat Alex dan Gunawan tenang kembali karena tahu jika Sean Arthur tenang maka Sean Arthur sudah menguasai situasi.


"Bos, saya melihat apa yang di sampaikan oleh Alex sebelumnya namun ada satu hal yang ingin saya tambahkan yaitu ada enam orang lain di sana dan orang itu seorang wanita, karena ada bekas lipstik di salah satu puntung rokok yang ada di asbak di tambah lagi jika di perhatikan di bawah meja ada satu gelas yang terjatuh" ucap Gunawan sambil men zoom apa yang dia lihat dan kini di salah satu monitor terlihat sebuah gelas yang terjatuh dan pecah.


"Terima kasih atas pengamatan kalian, sekarang kita pakai caraku saja ya" ucap Sean Arthur dengan sangat santai sambil mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja.


"Doni kau ke ruang kerja Gunawan dan ajak Roni bersamamu" ucap Sean Arthur melalui ponselnya dan langsung mematikan panggilan telepon itu lalu menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


"Bos apakah anda akan memulai perang terbuka?" ucap Alex dengan sangat sopan.


"Bos, haruskah seperti ini?" Ucap Gunawan dengan sangat hormat.


"Kalian ini, sudah diem aja dulu, belum juga melakukan apapun sudah khawatir seperti itu, santai saja, sudah jangan terlalu khawatir ya, sini aku pinjam dulu laptopmu" ucap Sean Arthur sambil berdiri dan melangkah menuju meja kerja Gunawan.


Gunawan langsung berdiri dan meninggalkan kursinya yang langsung diduduki oleh Sean Arthur lalu memainkan mouse dan keyboard laptop milik Gunawan itu.


Gunawan langsung duduk di sofa dan menyalakan sebatang rokoknya demikian juga dengan Alex.


Lima menit berlalu dan kini terlihat jika Doni dan Roni memasuki ruangan itu.


"Kami siap Bos, apa ada yang bisa kami bantu untuk Bos" ucap Doni mewakili Roni.


"Doni dan Roni duduklah dulu jangan terburu buru tunggu sebentar lagi saya selesai" ucap Sean Arthur dengan santai dan ramah.


Dua Monitor menyala memperlihatkan dua rekaman cctv yang memperlihatkan sebuah rumah dan kemudian satu lagi monitor menyala memperlihatkan sebuah peta yang sudah di tandai.


Ke empat bawahan Sean Arthur itu melihat ke tiga monitor itu dengan tanda tanya di kepala mereka.


Sean Arthur kemudian berdiri dan melangkah ke depan monitor itu.


"Dua rekaman ini adalah tampak depan dari rumah target dan ini adalah lokasi target, dan ini adalah dua bawahanku yang di sekap oleh mereka, jadi Doni dan Roni tugasnya perintahkan anak buah kalian untuk menyelamatkan mereka berdua dan membawa semua orang yang ada di rumah itu kesini dengan kepala tertutup tentunya, apakah bisa dan berapa lama anak buah kalian bisa melakukannya" ucap Sean Arthur dengan sangat santai tidak seperti tadi yang tegang dan gelisah.


"Bos, lima menit sampai rumah itu, lima menit bekerja dan dua sampai empat jam untuk sampai sini kecuali anda menggunakan helikopter namun bisa lebih dari tiga helikopter dan akan memancing pihak kepolisian tentunya karena area itu cukup padat jadi akan sedikit susah juga helikopter mendarat paling menggunakan tali" ucap Roni dengan sangat hormat.


"Tidak perlu helikopter pakai mobil saja, maksimal empat jam sudah di sini ya, dan tahan semua pelakunya di penjara bawah tanah saja" ucap Sean Arthur sambil melangkah menuju sofa tunggal dan langsung duduk menyalakan sebatang rokoknya.


"Siap Bos, sepuluh menit setelah anda mengirim koordinat nya" ucap Roni sambil mengambil ponselnya.


Sean Arthur hanya tersenyum dan langsung mengirimkan koordinat titik Rico dan Ardhi di sekap ke Roni.


Roni kemudian mengirim ulang pesan singkat itu ke ponsel anak buahnya yang ada di dekat lokasi penyekapan lalu menghubungi nya melalui panggilan telepon.


"Bos, dimulai dari sekarang ya" ucap Roni sambil memijit ponselnya untuk memulai timer tersebut.


"Oke, aku kasih dispensasi dua menit, lewat 12 menit maka kau harus berlari keliling Villa naga dua putaran" ucap Sean Arthur sambil tersenyum ramah.


"Siap Bos" jawab Roni dan Doni dengan sangat hormat dan kompak.


Empat menit berlalu dan mereka melihat ada lima mobil MPV Toyota yang berhenti di depan rumah itu dan langsung turun lalu masuk ke dalam rumah itu dengan sangat cepat dan nampak juga ada lima orang yang berjaga di samping mobil MPV Toyota tersebut.


Menit ke delapan mereka melihat jika orang orang yang tadi turun dan masuk kedalam rumah itu langsung masuk kembali mobil mobil itu dengan membawa Ardhi dan Alex juga sepuluh orang yang terborgol dengan kepala tertutup kain hitam.


Menit ke sembilan semua MPV itu sudah tidak terlihat lagi dan menit kesepuluh mereka melihat sepuluh MPV Toyota jenis yang sama melintas depan rumah itu dengan cepat.


"Bos total sembilan menit tiga puluh empat detik" ucap Roni dengan sangat hormat sambil memperlihatkan timer ponselnya yang di hentikan setelah sepuluh mobil MPV Toyota terakhir melewati rumah itu.


Semua itu terlihat dari dua monitor yang menayangkan rekaman cctv secara langsung dan itu adalah rekaman cctv milik jalan raya yang di sadap oleh sean Arthur sendiri.


"Okay, jadi kalian berdua tidak jadi berolahraga, ngomong ngomong saya lapar belum makan malam, ayo kita semua ke ruang makan, dan Gunawan tolong tetap rekam rumah ini sampai dua hari kedepan, jika perlu perintahkan anak buahmu untuk memantau rumah ini setiap saat dan melaporkan siapa saja yang datang kesini ya, jika sudah segera datang ke ruang makan saya tunggu" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil berdiri.


"Siap Bos" ucap mereka berempat kompak dan sangat hormat


Sean Arthur melangkah menuju ke arah pintu ruangan itu dengan membawa rokok dan ponselnya.


Mereka bertiga langsung berdiri dan mengikuti Sean Arthur, hanya Gunawan saja yang tidak ikut keluar karena mendapatkan tugas dari Sean Arthur.


"Roni saya lupa, tutup juga kepala kedua anak buahku itu dan jangan di ajak bicara, tetap ikat tangan dan kaki mereka" ucap Sean Arthur sambil berjalan menuju tangga ke lantai bawah.


"Baik Bos" ucap Roni dengan sangat hormat sambil berhenti melangkah lalu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi anak buahnya yang ada di mobil yang dinaiki oleh Ardhi dan Rico.


"Tutup mata dan kepala kedua orang itu dan tetap ikat saja mereka, jangan di ajak bicara samakan dengan sepuluh orang yang kalian bawa" ucap Roni melalui ponselnya ke anak buahnya itu.


"Lapor bos, masih kami ikat dan akan kami tutup juga kepala mereka" ucap anak buahnya Roni.


"Bagus, segera bawa semuanya ke penjara bawah tanah untuk kita interogasi" ucap Roni.


"Siap, laksanakan" jawab anak buahnya Roni.


Roni langsung mematikan panggilan telepon itu dan langsung berjalan kembali menyusul Sean Arthur dan yang lainnya ke ruang makan.