
"Alex stop disana" ucap Sean Arthur dan Alex yang sedang membuka mulutnya mengira jika Sean Arthur memintanya untuk tetap membuka mulutnya.
"Haissssss kau itu, bukan itu maksud ku, maksud ku stop dari pemikiran yang itu, aku tanya sudah berapa lama kau ikut ayahku sampai kau ikut aku" ucap sean Arthur dengan ramah.
"Saya ikut ayah anda sejak usia 15tahun dan salah satu yang terlama bos, kira kira sudah tiga puluh tahun, waktu itu saya hanya pesuruh ayah anda saja awalnya, dan Rico baru lima belas tahunan ikut dengan kita demikian juga dengan Ardhi baru sepuluh tahun kurang lebih" ucap Alex sambil berusaha mengingat masa lalunya.
"Dulu Rico di? …. " Ucap Sean Arthur
"Di jalanan bersama dengan Ardhi, sampai Bos menarik mereka untuk Bos" ucap Alex spontan berbarengan dengan masuknya Gunawan ke ruang kerja Gunawan itu.
"Alex apa kau berpikir sama dengan ku" ucap Sean Arthur.
"Benar Bos sebaiknya kita berhati hati semoga saja bukan seperti apa yang saya pikirkan" ucap Alex dengan sangat hormat.
Gunawan langsung menyimpan nampan yang berisi tiga gelas kopi hitam di atas meja dan duduk sebelah Alex.
"Bos maaf lama, saya tadi meminta anak buah saya untuk menyadap ponsel semua yang di print out dan juga Ardhi dan Rico" ucap Gunawan dengan sangat hormat.
"Gunawan aku tahu masih ada yang belum kau perlihatkan kepada kami, silahkan sekarang saja" ucap Sean Arthur dengan ramah dan tersenyum hangat ke Gunawan.
"Maaf Bos saya sengaja menyimpan ini namun saya belum yakin memperlihatkannya kepada anda sekarang" ucap Gunawan dengan sangat hormat.
"Alasannya" ucap Sean Arthur.
"Anda dan saya berteman sejak kita masih sekolah sampai sekarang, saya tahu sifat anda seperti apa makanya saya menahannya, saya tidak ingin anda berubah seperti dulu yang brutal, setelah sekian lama tidak bertemu anda dan melihat anda sekarang seperti ini saya sangat bangga dengan anda" ucap Gunawan dengan tulus berbicara layaknya seorang sahabat sejati.
"Gunawan, aku bukanlah aku yang dulu yang bisa membunuh orang semau ku, tolong berikan apa yang kau temukan" ucap Sean Arthur dengan tulus juga.
"Oke tapi jika anda berubah seperti Sean Arthur yang dulu maka saya akan meninggalkan anda selama lamanya dan tidak akan membantu anda lagi" ucap Gunawan sambil berdiri dan berjalan ke meja kerjanya lalu memainkan mouse dan keyboard laptopnya.
Dua monitor menyala dan memperlihatkan dua rekaman video yang berbeda namun terlihat jika rekaman video itu adalah rekaman video beberapa tahun yang lalu.
"Dari mana kau mendapatkan video ini" ucap Sean Arthur sambil berlinang air mata.
"Tentu saja dari panti asuhan, di jaman era teknologi saat semua terhubung dengan internet maka rekaman lama bisa kita lihat, anda bukanlah anak terbuang namun anda benar benar anak ayah anda, tapi situasi saat itu memaksa ayah anda menitipkan anda di panti asuhan, tapi ayah anda selalu datang ke sana dan merawat anda sejak kecil, ini hanya video untuk mengingatkan anda dengan masa lalu" ucap Gunawan sambil mematikan video dimana ayah angkat Sean Arthur ternyata ayah kandung Sean Arthur itu.
"Terima kasih, dan tanpa video ini pun saya sudah menganggap ayah sebagai ayah kandung dari dulu, lalu mana video keduanya" usap Sean Arthur sambil menstabilkan emosi dan pikirannya.
Gunawan hanya tersenyum dan dia langsung memainkan mouse dan keyboard laptopnya dan kembali kedua monitor itu menyala dan memperlihatkan rekaman video yang membuat Alex sampai berdiri mendekati monitor itu.
"Alex tolong duduk" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Bos Sean dan Alex lihatlah dengan jelas sampai selesai" ucap Gunawan dengan ramah.
Lima belas menit mereka melihat rekaman video itu sampai selesai dan monitor itu mati kembali.
"Bos dugaan kita benar" ucap Alex sambil menarik nafas dalam dalam dan menstabilkan emosi dan pikirannya.
"Anda memang Bos saya namun anda juga sahabat saya, jadi apa salah jika saya menjaga anda" ucap Gunawan sambil kembali memainkan mouse dan keyboard laptopnya dan satu monitor langsung menyala memperlihatkan sebuah rekaman video.
Sean Arthur dan Alex kembali melihat dengan jelas rekaman video itu dan kembali keduanya berusaha menstabilkan emosi dan pikirannya agar tetap tenang dan bisa berpikiran jernih.
Video itu hanya berdurasi setengah jam namun memperlihatkan sepuluh rekaman video yang berbeda beda.
"Bos jadi anda akan bagaimana setelah melihat bukti yang saya temukan" ucap Gunawan dengan ramah sambil duduk di samping Alex kembali.
"Alex apa yang akan kau lakukan" ucap Sean Arthur melemparkan pertanyaan yang sama.
"Saya mau duduk dan menonton saja" ucap Alex sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Maksudmu?" Ucap Sean Arthur lagi.
"Kan mereka berdua sudah di beri mandat untuk membersihkan semua pengkhianat nah saya mau lihat dalam tiga hari ini apa yang mereka lakukan jika mereka gagal ya saya yang akan berolahraga" ucap Alex sambil tertawa ringan.
"Lalu apa yang akan Bos lakukan" ucap Gunawan lagi sambil menghisap kembali rokoknya dengan santai.
"Aku mau menonton video satu lagi yang kau punya, ayolah aku tahu kau masih merahasiakan sesuatu kepada ku" ucap Sean Arthur.
"Bos Bos anda ini memang tidak bisa melihat saya bersantai" ucap Gunawan sambil melangkah menuju laptopnya dan memainkan mouse dan keyboard kembali lalu kembali duduk di samping Alex bersamaan dengan sepuluh monitor menyala dan memperlihatkan rekaman video kembali.
Lima belas menit berlalu dan satu persatu monitor itu mati kembali.
"Alex apakah kau bisa ku percaya" ucap Gunawan dengan ramah.
"Gunawan jangan pernah mempercayai ku, aku ini manusia biasa yang bisa saja lupa mana kawan mana lawan" ucap Alex dengan ramah.
"Bagus jika demikian" tidak salah aku ikut mengizinkan mu melihat semua rekaman video tadi.
"Bos Sean, saran saya hanya satu saja untuk anda jika anda mau mendengarkan saya tentunya" ucap Gunawan dengan ramah.
"Bicaralah aku akan mempertimbangkannya" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Hubungi Michael dan biarkan dia bekerja kembali" ucap Gunawan dengan ramah.
"Gunawan apa kau yakin" ucap Sean Arthur
"Sangat sangat yakin tentunya" ucap Gunawan.
"Oke" ucap Sean Arthur sambil mengambil ponselnya dan langsung memijit beberapa nomor di ponselnya.
"Nomor yang anda tuju sedang di luar servis area….." terdengar dari ponsel Sean Arthur.
"Nomornya sudah ganti" ucap Gunawan sambil mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Michael melalui ponselnya itu dan melakukan panggilan video.