Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Polisi yang baik



"Siap Bos, tim pengacara akan bersiap kabari saja jika memang ada masalah dan di kantor polisi mana anda nantinya" ucap Ardhi dengan sangat hormat dan langsung menyimpan kembali ponselnya karena Sean Arthur sudah mematikan panggilan telepon itu.


Tidak sampai sepuluh menit mereka semua sampai di kantor polisi dan pengawal pribadi Sean Arthur itu langsung dibawa untuk diminta keterangannya soal perkara di rumah makan.


"Pak Sean mari kita tunggu di kantin kantor saja, anak buah anda bisa satu jam di dalam pemeriksaannya" ucap petugas polisi yang dulu menolong Sean Arthur.


"Panggil Sean saja pak lebih nyaman, mari pak kami memang memerlukan segelas kopi hitam tanpa gula" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil mengikuti petugas kepolisian itu ke kantin yang ada di kantor polisi itu.


Sean Arthur dan Rico duduk satu meja bersama dengan petugas kepolisian itu sedangkan para pengawal Sean Arthur duduk mengelilingi meja yang berbeda.


"Pak Sean bagaimana kondisi anda" ucap petugas kepolisian itu dengan ramah.


"Alhamdulillah Pak, saya sehat berkat bapak datang tepat waktu saat itu, oh ya dimana kawan bapak yang waktu itu" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Rekan saya sedang di rumah sakit kebetulan istrinya sedang sakit" ucap petugas kepolisian itu dengan ramah.


"Maaf Pak, jika boleh saya tahu nama bapak" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Pak Sean bisa memanggil saya freddy dan kawan saya bernama Dani" ucap petugas kepolisian itu dengan sangat ramah.


"Istri Pak Dani sakit apa pak siapa tahu saya bisa bantu" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Jika saya tidak salah dengar terkena pendarahan dan kebetulan memang sedang hamil tua" ucap Pak Freddy dengan ramah.


"Benarkah, semoga tidak ada hal buruk dengan kandungannya, lalu di rumah sakit mana pak, saya ingin berkunjung sekaligus mengucapkan rasa terima kasih saya" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya karena melihat Pak Freddy itu juga merokok.


"Di rumah sakit ibu dan anak Ros yang di daerah Setiabudi dekat rumah pak Sean" ucap Pak Freddy dengan ramah sambil kemudian meminum sedikit kopinya.


"Bagaimana jika kita kesana bersama saja Pak menjenguknya" ucap Sean Arthur.


"Satu jam lagi saya baru bisa kebetulan shift saya selesai dalam satu jam, Pak Sean jangan khawatir karena mereka semua memiliki senjata api dan pengawal pak Sean juga membela diri dengan tangan kosong jadi semuanya aman untuk pengawal anda" ucap Pak Freddy itu dengan ramah.


"Syukurlah Pak, jika tidak maka mau tidak mau saya akan menghubungi tim pengacara saya" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Oh iya pak Sean saya tinggal sebentar untuk melihat pengawal anda sekaligus saya harus mengerjakan beberapa laporan terkait perkara ini' ucap Pak Freddy dengan sangat sopan.


"Baik Pak, kami menunggu disini saja" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil melirik Rico untuk membayar tagihan mereka di kasir agar tidak didahului oleh pak Freddy itu.


Pak Freddy itu kemudian meninggalkan Sean Arthur dan para bawahannya namun tiga puluh menit kemudian kembali lagi bersama dua orang petugas kepolisian yang berpakaian preman.


"Pak Sean maaf bisa kami minta senjata api anda" ucap Pak Freddy dengan ramah sambil menjulurkan tangan kanannya


"Benar, saya memang membawanya sebentar" ucap Sean Arthur sambil tersenyum ramah dan mengambil senjata api miliknya dan juga buku izin kepemilikan senjata api tersebut.


"Ini Pak, semuanya lengkap dan berizin resmi dan saya juga tadi tidak mengeluarkan senjata api saya meskipun saya bisa karena nyawa saya terancam" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil memberikan senjata api dan buku izin kepemilikannya ke Pak Freddy.


Pak Freddy menerima senjata api itu dan mengecek buku kepemilikan senjata api milik Sean Arthur lalu berbincang sebentar dengan kedua petugas kepolisian yang berpakaian preman dan memberikan kembali senjata api dan buku izinnya ke Sean Arthur.


"Pak Sean terima kasih atas kerjasama anda, ini karena Antoni menyampaikan kepada kami dalam pemeriksaan jika anda juga memiliki senjata api ilegal" ucap salah seorang petugas kepolisian yang berpakaian preman itu.


"Tidak apa apa Pak, ini memang tugas anda, dan memang Antoni pernah melihat pinggang saya jadi melihat senjata api saya namun penggunaan senjata api tetap saya hindari pak jika tidak urgensi" ucap Sean Arthur sambil memasukan kembali senjata api miliknya ke balik baju nya dan menyimpan kembali buku izinnya tersebut.


"Baik jika demikian kami permisi dan pengawal anda juga seharusnya sudah selesai pemeriksaannya nanti akan saya suruh dia langsung kesini saja" ucap salah seorang petugas kepolisian yang berpakaian preman itu dengan ramah.


"Pak Sean sebentar saya berganti pakaian dulu sekalian menjemput pengawal anda" ucap Pak Freddy dengan sangat sopan.


"Iya pak, terima kasih" ucap Sean Arthur sambil melihat kepergian ketiga petugas kepolisian itu.


"Antoni oh Antoni sudah di ujung tanduk masih saja mencari kesalahan orang lain" ucap Sean Arthur sambil duduk kembali di kursinya dan kembali menyalakan sebatang rokoknya.


"Untungnya Bos membawa buku izin nya jika tidak bisa repot dah" ucap Rico sambil tertawa ringan.


"Ya jika aku di tahan gara gara lupa bawa buku izin maka kau harus lari pulang mengambilnya" ucap Sean Arthur sambil tertawa terbahak bahak di ikuti oleh sembilan pengawalnya.


"Kalian ini ikut ikutan, lihat saja aku akan menghukum kalian lari malam nanti" ucap Rico mencandai bawahannya itu.


"Bos, Pak Freddy seperti orang yang jujur dalam tugasnya dan sepertinya dia sudah jelang pensiun" ucap Rico kembali.


"Benar, penolongku waktu itu salah satunya pak Freddy dan Pak Dani, nanti biar dia ikut mobil kita saja jika dia tidak keberatan" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya.


"Dia juga tadi sangat sopan saat meminta senjata api anda, seperti memang dia pribadi yang baik" ucap Rico kembali.


Setengah jam berlalu dan kini Pak Freddy sudah kembali ke kantin bersama dengan pengawal pribadi Sean Arthur dan sebelumnya di periksa oleh penyidik kepolisian.


"Pak Freddy sebaiknya kita satu mobil saja ke Rumah sakit ibu dan anak nya" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil melihat pengawal pribadinya yang terlihat kelelahan.


"Pak Sean saya membawa motor saya saja, nanti saya akan mengikuti anda" ucap Pak Freddy dengan ramah.


"Jangan Pak, kan bapak baru lepas dinas jadi capai sebaiknya motor Bapak dibawa oleh pengawal pribadi saya saja pak, jadi bapak bisa semobil dengan saya" ucap Sean Arthur sedikit memaksa.