
Rico terdiam oleh ucapan Sean Arthur itu dan dia berusaha secepat mungkin untuk menuju ke rumah Sean Arthur yang ada di daerah Setiabudi meskipun jaraknya tidak terlalu jauh namun jalanan kota Bandung yang kebanyakan satu arah itu membuat mereka harus sedikit memutar.
"Bos disini juga sama ternyata, mereka mengirimkan banyak sekali anak buah mereka untuk menunggu kehadiran anda" ucap Rico yang melihat puluhan mobil jip berwarna hitam terparkir di kiri dan kanan jalan di jalan raya yang menuju rumah ke tiga milik Sean Arthur.
"Benar dan ini sudah sangat mengganggu, mereka tidak memikirkan orang lain selain kepentingan mereka saja" ucap Sean Arthur sambil mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat ke Gunawan yang berisi nama jalan dari kedua rumahnya itu lalu menelpon Gunawan.
"Gunawan di dua jalan itu banyak sekali anak buah geng serigala dan aku saat ini ada di jalan ke dua, aku minta bantuan mu untuk mencari data mobil mobil yang terparkir disini dan mengecek status kepemilikan mobil mobil jip hitam ini" ucap Sean Arthur melalui ponselnya.
"Baik Bos, sebentar saya cek terlebih dahulu, saya akan masuk ke cctv kota Bandung untuk melihat nomor polisi mobil mobil itu agar dapat mengecek statusnya" jawab Gunawan melalui ponselnya.
"Jika tidak panggil saja polisi sampaikan saja kepada pihak kepolisian jika ada banyak mobil yang terparkir berhari hari dan mengganggu warga" ucap Sean Arthur kembali.
"Baik Bos, saya akan mengaturnya untuk anda" jawab Gunawan dengan hormat melalui ponsel.
Sean Arthur menghentikan panggilan ponsel itu dan kembali menyimpan ponselnya.
"Rico, kita kembali ke Dago saja, biar pihak lain saja yang mengurus mereka semua" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil kembali menyalakan sebatang rokoknya.
"Baik Bos, saya kira anda mau melihat mereka bentrok dulu dengan pihak perbankan karena mobil mobil mereka di tarik" ucap Rico sambil menambah kecepatan Lamborghini itu dan langsung melesat menuju ke Rumah Sean Arthur di daerah puncak Dago.
Beberapa waktu kemudian ponsel Sean Arthur mendapatkan beberapa email masuk yang langsung di baca olehnya dan email itu berisi data kepemilikan dan status finansial dari mobil mobil jip berwarna hitam yang terparkir di Sukajadi dan Setiabudi.
"Benar dugaan kita ternyata, mobil mobil jip berwarna hitam itu menunggak pembayaran tagihan jadi keuangan mereka tidak stabil jika demikian nanti malam akan menjadi malam yang sangat di ingat oleh geng serigala" ucap Sean Arthur dalam hatinya sambil membaca dengan teliti email email itu dan beberapa pesan masuk juga dia baca.
Pesan pesan singkat yang masuk ke ponsel Sean Arthur adalah rekaman cctv jalanan yang memperlihatkan mobil mobil jip tadi dan ada beberapa rekaman hasil penyadapan kamera ponsel milik orang orang yang ada di dalam jip jip berwarna hitam itu.
"Gunawan selalu bekerja dengan sangat cepat apapun yang aku minta dia selalu memberikan yang terbaik untuk ku, sepertinya aku harus memberikan bonus untuk dia" ucap Sean Arthur dalam hatinya sambil melihat rekaman video di ponselnya itu.
Mobil Lamborghini itu memasuki pintu gerbang rumah Sean Arthur yang ada di daerah Dago dengan cepat dan Langsung berhenti di depan teras rumahnya.
"Rico parkirkan saya mobil ini dan segera bawa sembilan ponsel yang tadi" ucap Sean Arthur sambil turun dari mobilnya.
"Bos anda sudah kembali" ucap Alex dengan hormat sambil tetap duduk di kursinya.
"Maaf kalian menunggu lama, ada ponsel baru untuk kalian namun kita tunggu Rico datang, dan Ardhi apa kau sudah menyiapkan perusahaan untuk menampung karyawan perusahaan kecil yang akan di hancurkan nanti malam" ucap Sean Arthur sambil duduk di sofa yang biasa dia duduki.
"Sudah Bos, kebetulan ada satu perusahaan baru yang sedang di buat mereka untuk mengisi itu saja nanti saya akan mengaturnya langsung dan menarik mereka satu minggu setelah perusahaan lama mereka dinyatakan bangkrut" ucap Ardhi dengan hormat.
"Baguslah, satu minggu sudah cukup untuk mereka pusing dan semoga bisa bekerja dengan maksimal nantinya, lalu alex bagaimana dengan makanan buaya apakah ada kendala" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Tidak Bos, semuanya berjalan lancar buaya buaya muara itu sangat kenyang Bos, dan semuanya bersih tidak akan ada yang membuat anda repot juga nantinya karena pihak keluarga mereka juga sudah kami urus" ucap Alex dengan hormat.
"Lalu bagaimana hasil penyelidikan keluarga dari keluarga penolongku apakah ada informasinya" ucap Sean Arthur sambil melihat tajam ke kedua anak buahnya itu.
"Tenang Bos, kami sudah mengetahui jika penolong anda memiliki seorang anak perempuan yang saat ini bekerja di Jakarta dan sudah kami kirimkan orang kesana untuk menjemputnya agar dia mengetahui makam ayahnya, untuk makamnya saat ini sedang proses pembangunan jadi tidak lagi seperti makam orang tidak dikenal" ucap Ardhi dengan hormat.
"Bagus, dan berapa usia anak perempuan penolongku lalu apa pekerjaan anak itu" ucap Sean Arthur
"Bos dia berusia dua puluh tahun, bekerja di perusahaan swasta sebagai petugas kebersihan dan ternyata penolong anda menggadaikan rumahnya untuk membayar biaya rumah sakit anda namun saya sudah menyuruh orang saya untuk menebusnya dan seharusnya berkasnya sudah ada di kantor" ucap Ardhi kembali menjelaskan dengan sopan dan juga hormat.
"Ardhi kira kira pekerjaan apa yang cocok untuk anak penolongku" ucap Sean Arthur dengan santai.
"Bos, jika anda tidak keberatan saya akan menemui anak nya terlebih dahulu jadi saya bisa melihat potensi dari anak itu, jika memang dia mampu maka saya akan berikan posisi yang baik untuknya, namun jika tidak mampu maka sebaiknya dia saya sekolah kan terlebih dahulu karena ini untuk masa depan dia tentunya" jawan Ardhi dengan hormat.
"Ardhi, kau atur saja yang terbaik untuk anak perempuan penolong ku dan aku minta agar kau bisa menjadikan anak itu menjadi salah seorang pengusaha sukses nantinya" ucap Sean Arthur sambil tetap menikmati rokoknya.
"Bos, aku sudah menyiapkan sepuluh orang wanita yang merupakan istri dari anak buahku untuk di dalam rumah ini, maaf aku tidak berani mengambil dari luar karena apa yang terjadi di rumah ini harus tetap ada disini" ucap Alex dengan hormat.
"Itu lebih baik, jika perlu bangun saja tanah di belakang untuk menjadi rumah rumah mereka jadi mereka tidak perlu pulang" ucap Sean Arthur sambil melihat jika ponselnya yang dia letakkan di atas meja mendapatkan beberapa pesan singkat.