Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Restoran Asia 7



"Kau panggil yang di tangga dan simpan kembali senjata kalian semua, amankan juga selongsong peluru kalian tadi, kantongi jika bisa buang ke toilet saja" ucap Sean Arthur ke para pengawal pribadinya itu.


"Siap Bos" ucap mereka kompak dan satu orang langsung berjalan ke tangga sedangkan yang lainnya langsung mengambil selongsong peluru yang ada di lantai lalu mengambilnya dan kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membuangnya melalui toilet yang ada di lantai tiga.


"Pastikan terbuang dengan benar jangan ada alasan untuk mempersulit kita kedepannya dan kau pecahkan kaca kaca jendelanya agar tidak ada bekas peluru dari dalam keluar" ucap Sean Arthur sambil berdiri dan melangkah untuk duduk kembali di salah satu kursi yang terhalang oleh dinding agar tidak menjadi sasaran empuk penembak jitu lagi.


Mereka semua langsung bekerja demikian juga Doni dan Roni yang ikut memecahkan kaca bekas di bolongi oleh peluru Sean Arthur itu.


Satu persatu kaca mereka pecahkan dengan perlahan agar tidak menarik perhatian orang orang yang ada di luar restoran itu.


"Beres Bos, namun bagaimana jika mereka mempertanyakan kenapa kaca ini bisa pecah semuanya" ucap Roni.


"Bilang saja tadi karena dampak dari ledakan dan bukankah masih ada peluru penembak jitu di lantai itu yang bisa kita gunakan sebagai alasan, lagipula kematian penembak jitu tidak akan terlalu di pertanyakan oleh mereka biasanya satu timnya sudah membereskan mayatnya" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya.


"Bos semua selongsong peluru sudah saya buang di toilet dan benar benar hilang" ucap pengawal pribadinya yang membuang selongsong peluru tersebut.


"Bagus, sekarang kalian berempat turun dan buat kopi lagi jika ada petugas kepolisian yang masuk saat kalian di bawah sapa dengan ramah dan sampaikan jika kita terjebak di sini" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Siap Bos" ucap mereka berempat dengan kompak dan langsung melangkah menuju anak tangga.


Ponsel Sean Arthur kembali berbunyi pertanda ada yang menghubunginya melalui panggilan telepon dan setelah di cek ternyata dari Gunawan.


"Bos, saya menemukan jika Anton meninggalkan rumahnya dan saya sudah mengunci GPS ponselnya juga GPS mobilnya mohon petunjuk anda" ucap Gunawan.


"Ikuti saja terus dan kabari lokasi terakhir nya" ucap Sean Arthur.


"Baik Bos" ucap Gunawan.


"Apa ada lagi" ucap Sean Arthur.


"Siap tidak Bos hanya itu saja" ucap Gunawan dan Sean Arthur langsung mematikan sambungan telepon itu lalu menyimpan ponselnya di atas meja namun tidak lama kemudian kembali mendapatkan panggilan telepon dari Alex.


"Bos semuanya sudah tertangkap oleh pihak kepolisian dan sebentar lagi saya akan ke sana setelah pihak kepolisian melakukan pembersihan, kebetulan Pak Freddy dan pak Dani juga akan ikut menjemput Bos" ucap Alex.


"Berapa menit, aku mau minum kopi dulu soalnya" ucap Sean Arthur.


"Siap sepuluh sampai lima belas menit Bos" ucap Alex.


"Oke" ucap Sean Arthur sambil memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpan ponselnya kembali di atas meja.


"Bos, mohon ijin untuk anak buah saya menyisir daerah ini" ucap Roni dengan sangat hormat.


"Tidak perlu untuk saat ini karena pihak kepolisian masih bekerja jadi lebih baik suruh mereka menyingkir saja dari sini" ucap Sean Arthur sambil kemudian menghisap rokoknya dengan santai.


"Baik Bos" ucap Roni sambil mengirimkan pesan singkat ke anak buahnya.


"Kalian berdua dari pada hanya duduk awasi keluar sana" ucap Sean Arthur ke pengawal pribadinya yang hanya tersisa dua orang di ruangan itu.


Sepuluh menit berlalu dan ke empat pengawal pribadinya kembali datang dengan membawa satu teko besar yang berisi kopi hitam tanpa gula dengan sembilan cangkirnya lalu menyajikan tiga cangkir kopi di meja yang di isi oleh Sean Arthur.


"Terima kasih, kalian bergantian berjaganya" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Sekalinya aku keluar malah mendapatkan hal seperti ini, benar benar otak di belakang layar geng serigala ini harus di hapus dari dunia ini" ucap Sean Arthur sambil mematikan rokoknya lalu menyalakan sebatang lagi rokoknya.


"Bos, menurut saya ada orang kuat di belakang mereka, makanya berani membuat kekacauan seperti ini" ucap Doni.


"Itu sudah pasti namun siapa orangnya itu yang menjadi pertanyaannya, apa sudah ada hasil dari penyelidikan rumah panti asuhan ku dulu" ucap Sean Arthur.


"Nihil Bos, semua pembiayaan diberikan oleh ayah anda sebagai donatur tunggal" ucap Doni dengan sangat hormat.


"Aku sangat yakin jika yang mereka incar adalah grup naga yang memiliki kekayaan terbesar di Indonesia ini' ucap Sean Arthur.


"Sepertinya demikian Bos, makanya mereka ingin nyawa anda namun apakah jika anda meninggal grup naga bisa di ambil alih oleh mereka" ucap Doni.


"Tentu saja tidak ada proses panjang untuk itu kecuali jika lawan ku adalah saingan bisnis grup naga, dengan Kematian ku grup naga akan lemah dan sementara waktu tidak bisa mengambil keputusan untuk semua projects besar dan mereka yang akan di untungkan" ucap Sean Arthur.


"Bos siapa lawan grup naga" ucap Roni.


"Ada ribuan bahkan jutaan perusahaan di Indonesia ini maka aku tahu yang mana yang ingin aku mati' ucap Sean Arthur sambil tertawa ringan.


Doni dan Roni hanya menggelengkan kepalanya saja disaat mereka serius ternyata Sean Arthur malah mencandai mereka berdua.


"Hai berpikir nanti saja, nanti juga kita tahu siapa musuh yang sebenarnya" ucap Sean Arthur sambil meminum sedikit kopinya.


Dan kini sudah setengah jam sejak Alex menghubunginya namun Alex masih belum datang.


"Bos, pihak kepolisian sedang menderek semua kendaraan yang tadi terbakar" ucap salah seorang pengawal pribadinya itu.


"Iya lihat jika Alex datang maka kau jemput di bawah" ucap Sean Arthur sambil tersenyum ramah.


"Siap Bos namun belum ada tanda tanda kedatangannya" ucap pengawal pribadinya itu namun dia langsung rubuh bersimbah darah.


Sebutir peluru tepat mengenai keningnya dan mereka semua langsung berlindung di balik tembok restoran itu.


"Alex dimana kau, ada sniper mengincar kami" ucap Sean Arthur melalui ponselnya.


"Bos kami masih belum bisa masuk ke sana pihak kepolisian masih belum membukakan jalan untuk kami" ucap Alex dan panggilan telepon itu langsung di putus oleh Sean Arthur.


"Doni Steyr Aug nya" ucap Sean Arthur dan Doni langsung menyerahkan Steyr Aug miliknya ke Sean Arthur setelah memasang peredam nya.


"Kau ambil senjata dia dan pelurunya juga demikian dengan ponselnya serta dompetnya" ucap Sean Arthur ke pengawal pribadinya yang ada di dekat jenazah pengawal pribadinya yang menjadi korban penembak jitu.


"Dan kau matikan stop kontak itu" ucap Sean Arthur sambil menunjuk ke arah stop kontak dan salah seorang pengawal pribadinya langsung mematikan stop kontak sehingga kini lampu ruangan itu menjadi padam sehingga sangat gelap.