
"Terima kasih, ya, Bang!" Ucap Hendy sebelum pemuda itu keluar dari mobil Edward.
"Sama-sama! Nanti pulang naik apa?" Tanya Edward yang tumben sekali bisa berbasa-basi.
"Nanti dijemput Abang Naka sekalian menjemput Sunny," bukan Hendy melainkan Elleanore yang menjawab.
"Iya seperti itu," timpal Hendy membenarkan. Edward hanya mengangguk-angguk dan melambaikan tangannya sekali lagi paad Hebdy yang sudah turun dan berlari ke arah gerbang sekolah yang hampir tertutup.
Kini hanya tinggal Edward dan Elleanore di dalam mobil.
"Aku akan naik taksi saja dari sini," ujar Elleanore yang kebetulan melihat beberapa taksi yang sedang nge-tem tak jauh dari sekolah Hendy.
"El!" Panggil Edward hendak mencegah Elleanore yang sudah membuka pintu mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya, tapi arah kita berbeda. Jadi aku akan naik taksi saja," ucap Elleanore yang akhirnya benar-benar keluar dari mobil Edward. Dan sekali lagi, Edward gagal menghentikan Elleanore dan malah membiarkan gadis itu naik taksi entah mau kemana.
Bodoh kamu, Ed!
Bodoh!
Edward tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.
****
"Hoek!"
Tiffany membuka keran dengan frustasi, lalu berkumur-kumur sekalian membasuh wajahnya yang sudah mirip zombie. Morning sickness yang dialami Tiffany benar-benar parah, bahkan sampai di akhir trimester kedua Tiffany masih tak berhenti mual dan muntah-muntah.
"Tiff!" Gika sudah kembali dan segera menyusul masuk ke dalam kamar mandi, lalu membimbing Tiffany agar keluar perlahan.
"Aku tidak mau hamil lagi setelah ini!" Tiffany memukul-mukul dada Gika dan memulai drama lebaynya.
"Kau benar-benar menyiksaku, Gika!" Omel Tiffany lagi seraya meraih tisu di atas meja, lalu mengelap air matanya yang bercucuran serta ingus yang keluar dari hidung wanita hamil itu.
Baiklah!
Itu sedikit menggelikan bagi Gika.
"Opa Bowles yang minta banyak cicit pada kita. Jadi bukan salahku jika aku terus menghamilimu ke depannya!" Jawab Gika dengan raut tanpa dosa.
"Sudah kubilang aku tidak mau!"
"Hoek!" Tiffany kembali mual mual, namun tangannya masih bisa mencengkeram baju Gika.
"Aku jadi jelek dan seperti zombie sekarang!" Tiffany mulai menangis lagi. Gika juga tidak paham kenapa gadis macan rrrooaaar ini berubah cengeng sekali setelah perutnya membesar. Tapi kata Mom Fe itu hal wajar dan terjadi hampir semua pada ibu hamil.
Padahal Ashley dan Alsya juga tak lebay-lebay amat seperti Tiffany.
"Kau pasti akan meninggalkanku setelah ini karena aku seperti zombie!" Tiffany mendaratkan bokongnya di sofa, lu meraih tisu dan meniupkan ingusnya ke dalam tisu.
Iyuuuh! Gika tidak mau melihatnya!
"Aku sekarang jelek!"
"Kau akan meninggalkan aku!" Tiffany tak berhenti bercerocos.
"Siapa yang akan meninggalkanmu, Tiff? Aku masih disini!" Gika duduk di samling Tiffany dan merangkul istrinya tersebut, llau menyingkirkan tisu-tisu bekas pakai yang berserakan di pangkuan Tiffany.
"Tapi kau selalu dikelilingi gadis cantik sejak dulu! Kau selalu gonta ganti pacar!"
"Kau mana mau bertahan dengan wanita jelek sepertiku?" Sergah Tiffany mendelik-delik pada Gika.
"Kau tidak jelek, oke! Kau masih cantik seperti dulu, dan kini semakin cantik," hibur Gika bergombal demi memperbaiki suasana hati Tiffany sebelum ke-lebay-an ini semakin berkembang biak dan beranak pinak.
Cukup Gika dan Tiffany saja yang berkembang biak dan beranak pinak sebelas orang. Sikap lebay Tiffany tidak usah!
"Kau itu cantik dan tidak seperti zombie. Kau istriku yang cantik!"
"Mmmmmmuuuaaah!" Gika mengecup kening Tiffany dengan lebay.
"Aku mau muntah," ucap Tiffany tiba-tiba setelah Gika selesai menciumnya.
"Aku yakin itu hanya mual dan bukan muntah sesungguh-"
"Hoeek!" Tiffany sudah menyemburkan muntahnya sebelum Gika merampungkan kalimatnya. Mungkin Gika memang sedang sial sekarang.
"Tifff!!!!!" Gika menggeram dan siap meledak.
"Salahkan kedua calon anakmu, Papa Gika!" Tiffany tersenyum tanpa dosa dan sekali lagi Gika hanya mampu menggeram tanpa bisa berbuat apapun.
Sabar, Gika!
Sabar!
****
"Harus bedrest total," ucap dokter menatap tegas pada Alsya dan Naka.
"Apa harus dirawat di rumah sakit, Dok?" Tanya Naka khawatir.
"Naka, aku tidak mau di rumah sakit!" Tolak Alsyaseraya merengut pada Naka.
"Nanti akan ada perawat yang kesini untuk memasang infus. Alsya hanya perlu istirahat total dan jangan membuatnya stress atau Alsya akan mengalami flek lagi," pesan dokter panjang lebar pada Naka.
"Iya, Dokter!" Jawab Naka patuh. Dokter akhirnya berpamitan setelah sekesai memeriksa kondisi Alsya.
"Bagaimana?" Tanya Mom Fe yang ganti masuk ke dalam kamar setelah dokter pamit pulang.
"Harus bedrest total, Mom!" Jawab Naka seraya mengusap perut Alsya yangvsydah sebesar semangka. Berdasarkan hasil USG, calon bayi Naka dan Alsya memang kembar dan dua-duanya adalah laki-laki.
Namun kehamilan kembar ini juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengingat usia Alsya yang sudah masuk ibu hamil beresiko, ditambah kehamilan kembar yang membuat resiko bertambah dua kali lipat. Ini ketiga kalinya Alsya mengalami flek karena kelelahan.
"Kita tidak jadi ke rumah Mami?" Tanya Alsya seraya menatap pada sang suami.
"Nanti sore Mami dan Papi akan kesini. Aku sudah menelepon mereka dan mengabari tentang kondisimu. Semua demi calon anak-anak kita," ujar Naka menenangkan Alsya.
"Mom akan mengambilkan makan untukmu. Kau mau makan sesuatu?" Tanya Mom Fe selanjutnya yang memang perhatian sekali pada ketiga menantunya yang hamil berbarengan.
"Apa saja, Mom," jawab Alsya seraya mengulas senyum.
"Baiklah!"
"Kau tetap disini menjaga Alsya, Naka!" Pesan Mom Fe pada Naka yang langsunh mengangguk patuh.
"Sunny belum pulang?" Tanya Alsya setelah Mom Fe keluar dari kamar.
"Mungkin sebentar lagi. Tadi sudah dijemput sopir bersama Hendy sekalian," jawab Naka setelah melihat arloji di tangannya.
"Mereka semakin akrab dan tak pernah ribut lagi sepertinya," ujar Alsya merujuk pada pertemanan Sunny dan Hendy.
"Masih beberapa kali bertengkar. Tapi biasanya cepat baikan juga," Naka sudah naik ke atas temlat tidur,lalu meletakkan kepalanya di perut Alsya.
"Hai, dua jagoan papa!" Sapa Naka seraya mengelus perut Alsya.
"Tumbuh sehat dan kuat, ya! Mama juga pasti kuat untuk kalian berdua," sambung Naka lagi yang tentu saja langsung membuat mata Alsya berkaca-kaca.
"Papa sayang kalian," Naka mengecup perut Alsya dengan penuh sayang.
"Papa juga sayang pada Mama dan Kak Sunny," sambung Naka lagi yang sudah mengangkat kepalanya, lalu menatap pada Alsya yang masih berkaca-kaca.
"Jangan menangis atau stress!" Naka menyeka butir bening di kedua pelupuk mata Alsya.
"Aku sedang menangis bahagia," kilah Alsya seraya menangkup wajah Naka, suamomya yangvsepuluh tahun lebih muda tapi sikapnya begitu dewasa.
"Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayangmu selama ini," ucap Alsya menatap penuh ketulusan pada Naka.
"Kau bahagia?" Tanya Naka seraya membalas tatapan Alsya.
"Sangat bahagia." Jawab Alsya.
"Aku juga bahagia memiliki kau, Sunny, dan dua calon jagoan kita!" Ujar Naka yang langsung meraup Alsya ke dalam pelukannya.
****
Richard masih berbicara di tekepon bersama Edward, saat Ashley yang sejak tadi tidur di dalam dekapan Richard mulai bergerak-gerak.
"Nanti aku telepon lagi, Ed! Ashley sudah bangun," pungkas Richard seraya menutup telepon, lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Sayang!" Panggil Ashley dengan suara seraknya.
"Iya. Kau sudah bangun?" Richard merapikan rambut Ashley dan mengusap wajah istrinya itu dengan lembut.
"Aku lapar," lapor Ashley yang bahkan matanya masih setengah terpejam.
"Kau tadi sudah makan sebelum tidur, Sayang!" Richard mengingatkan karena Ashley yang memang jadi tukang makan banyak sejak hamil. Sebenarnya Richard tak mempersoalkan, hanya saja Richard takut kalau Ashley sakit perut.
"Tapi sekarang aku lapar lagi!" Ashley mencium pipi Richard dengan gemas.
"Nanti kamu yang aku makan kalau kau melarangku makan!" Ancam Ashley yang langsung membuat Richard tergelak.
"Baiklah, Nyonya Richard! Kau mau makan apa?" Tanya Richard yang akhirnya mengalah dan menuruti saja kemauan Ashley.
"Jalan-jalan ke food court, yuk! Aku mau makan di luar," rengek Ashley seraya mengerjap-ngerjap manja pada Richard.
"Sekarang? Kau baru bangun. Belum mandi," ujar Richard mengingatkan.
"Memang harus mandi, ya? Kan ada parfummu yang wangi."
"Kau juga bilang suka bauku sebelum mandi," Ashley merayu Richard dan sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Richard.
"Bagaimana kalau aku memandikanmu? Sekalian aku mau menyapa..." Richard meletakkan kepalanya di atas perut Ashley.
"Hai, Princess atau jagoan?" Sapa Richard pada calon anaknya yang belum ketahuan perempuan atau laki-laki meskipun sudah berulang kali USG. Padahal jenos kelamin calon anak Tiffany dan Kak Alsya sudah terlihat jelas. Namun untuk anak Ashley dan Richard sepertinya masih malu-malu.
"Princess seperti mommy-nya!" Gelak Ashley seraya mengelus-elus kepala Richard yang masih berada di atas perutnya.
"Jagoan saja, ya, Sayang," bujuk Richard sambil menciumi perut Ashley dengan gemas.
"Yaudah, jagoan saja. Asal jangan kanebo kering seperti Dad!" Tuaks Ashley akhirnya yang langsung membuat Richard tergelak.
"Udah lemes kanebonya," sanggah Richard yang sudah mengangkat kepalanya dari perut Ashley, karena bunyi perut Ashley yang kelaparan lumayan mengganggu komunikasi Richard dengan calon anaknya.
"Iya, iya! Jadi mandiin aku, nggak? Nanti aku keburu pingsan karena kelaparan," Ashley yang usil mencubit perut Richard.
"Auuw!" Richard meringis dan segera bersiap menggendong Ashley ke kamar mandi.
"Masih kuat memang?" tanya Ashley merasa ragu.
"Masihlah! Apa gunanya fitness setiap hari tapi menggendong istri saja tidak kuat," jawab Richard sombong seraya menggendong Ashley dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Makin sayang sama kamu!" Ashley mencium mesra pipi Richard dan senyuman lebar langsung tersungging di bibir pria itu.
Ya, ya, ya!
Senyuman segaris Richard sudah berkembang menjadi senyuman lebar sekarang. Bukankah itu sebuah kemajuan?
.
.
.
Silahkan yang mau muntah pelangi.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.