
^^^Akankah kau melihatku saat ku jauh^^^
^^^Akankah kau merasakan kehilanganku^^^
^^^Jiwaku yang telah mati^^^
^^^Bukan cintaku^^^
^^^Janjiku slalu abadi^^^
^^^Hanya milikmu^^^
^^^Aku...Pergi...^^^
^^^Dan takkan kembali^^^
^^^Akhir...Dari...^^^
^^^Cinta yang abadi^^^
^^^(Akhir Cinta Abadi-Nidji)^^^
"Selamat jalan, Abang!" Ucap Hendy seraya berlinang airmata. Adik kandung Henry tersebut meletakkan setangkai bunga mawar putih ke atas makam Henry yang masih basah. Baru beberapa saat yang lalu, Henry selesai dimakamkan.
"Abang sudah tak sakit lagi," bisik Gika seraya merengkuh kedua pundak Hendy yang hanya mengangguk samar. Kini peran sebagai seorang abang untuk Hendy akan ganti Gika pikul demi memenuhi janjinya pada Henry.
"Ayo!" Gika membimbing Hendy agar bangkit berdiri dan bergabung bersama keluarga Alexander yang lain.
"Sayang!" Mom Fe langsung menyambut dan memeluk Hendy dengan erat.
"Kami semua adalah keluarga Hendy sekarang! Jadi jangan sedih atau merasa sendiri lagi, ya!" Hibur Mom Fe yang sudah ganti mengusap airmata di kedua pipi Hendy.
Hendy hanya mengangguk-angguk dan kembali menghambur ke pelukan Mom Fe. Dad Dean ikut mengusap punggung Hendy demi menyalurkan kekuatan.
Henry pergi untuk selamanya setelah dua hari berada di ruang ICU karena kondisinya yang kritis dan semakin menurun. Semua keluarga Alexander berduka karena Henry adalah pria baik dan dia juga dekat dengan hampir semua anggota keluarga Alexander. Kini Hendy akan dirawat dan dibesarkan oleh Mom Fe dan Dad Dean.
Gika dan Elleanore juga menjamin kalau Hendy akan mendapatkan kasih sayang berlimpah dari keluarga Alexander agar bocah itu tak pernah lagi merasa sendiri.
"Hai!" Elleanore bersimpuh di samping makam Henry dan meletakkan setangkai bunga mawar putih disana.
"Kau memintaku untuk tak menangis saat kau pergi."
"Tapi aku tidak bisa, Hen! Maaf!" Elleanore menangis tergugu dan memeluk batu nisan Henry.
"Kenapa harus secepat ini kau pergi? Kau pria baik, Henry!"
"Kau sahabatku yang terbaik!" Susah payah Elleanore menelan ganjalan pahit di tenggorokannya. Hati Elleanore rasanya seperti tercabik-cabik. Tapi menangis tanpa henti pun tak guna karena Henry tak akan pernah kembali hidup.
"Kami semua akan menjaga dan menyayangi Hendy seperti permintaanmu yang terakhir. Jadi tidak usah khawatir dan beristirahatlah dengan tenang!" Elleanore menghapus airmatanya sendiri dan bangkit berdiri. Alsya dan Ashley melangkah maju untuk membimbing Elleanore yang begitu berduka.
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Henry, seluruh anggota keluarga Alexander akhirnya meninggalkan pemakaman dengan wajah yang masih diselimuti duka.
Henry mungkin bukan anggota keluarga Alexander. Namun Henry lebih dari keluarga bagi semua anggota keluarga Alexander.
****
"Ma!" Panggil Sunny pada Alsya yang hendak naik tangga.
"Ada apa?"
"Apa Hendy akan tinggal disini seterusnya?" Tanya Sunny pada sang mama.
"Mama rasa begitu. Hendy adalah bagian dari keluarga ini sekarang. Jadi mama harap kamu akan bersikap baik pada Hendy mulai sekarang!" Alsya mengusap lembut kepala Sunny.
"Sunny sudah bersikap baik dan berteman baik dengan Hendy, Ma!" Tukas Sunny yang langsung membuat Alsya mengulas senyum tipis.
"Sunny boleh menemani Hendy di halaman belakang dan menghiburnya?" Tanya Sunny selanjutnya pada Alsya.
"Boleh! Tapi tanya dulu, Hendy mau ditemani atau tidak. Jika dia sedang ingin sendiri-".
"Sunny tak akan mengganggunya!" Potong Sunny melanjutkan kalimat Alsya.
"Pinter!" Alsya mengusap kepala Sunny sekali lagi sebelum kemudian gadis sepuluh tahun itu berbalik dan hendak menghampiri Hendy di halaman belakang. Namun Sunny malah berpapasan dengan Naka yang hendak menyusul Alsya.
"Hai, mau kemana? Tidak istirahat?" Sapa Naka pada sang putri sambung.
"Mau menemui Hendy dulu, Pa!" Jawab Sunny seraya menunjuk ke halaman belakang.
"Baiklah! Jangan mengajaknya ribut, oke!" Naka mengangkat tangannya dan mengajak Sunny melakukan tos.
"Siap, Papa!" Jawab Sunny yang langsung berlari ke halaman belakang dan menghampiri Hendy.
Sementara Naka segera menghampiri Alsya yang masih berdiri di bawah anak tangga.
"Hai!" Naka melingkarkan lengannya di pinggang Alsya, lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher istrinya tersebut. Naka selalu menyukai aroma tubuh Alsya sejak pertama ia menghirupnya dua hari yang lalu. Dimana Naka akhirnya melepaskan status perjakanya dan kini resmi menyandang status sebagai suami Alsya sekaligus Papa untuk Sunny.
"El sudah tenang?" Tanya Alsya sedikit khawatir. Dibanding Hendy yang terlihat tegar, Elleanore justru yang begitu sedih dan terpukul atas kepergian Henry. Dua hari kemarin saat Henry dirawat di ICU saja, Elleanore terus-terusan menangis dan tak mau beranjak dari sisi Henry.
"Sudah tadi. Sudah ditenangkan oleh Mom dan sepertinya sudah tidur," jawab Naka saat melihat Mom Fe yang sudah keluar dari kamar Elleanore di lantai bawah.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga gadis itu segera bisa bangkit dan pulih," ujar Alsya penuh harap.
"Aamiin!" Naka mengaminkan sambil tetap mendekap Alsya dari belakang.
"Aku mau mandi," ujar Alsya selanjutnya.
"Baiklah! Kita mandi bersama!" Naka sudah bergerak cepat dan secara tiba-tiba, Alsya sudah berada di gendongan Naka yang menggendongnya ala bridal.
"Naka!" Wajah Alsya bersemu merah, menandakan kalau ia tengah tersipu sekarang.
"Tidak ada orang!" Bisik Naka yang lanjut menaiki satu persatu anakntangga masih tetap sambil menggendong Alsya.
Setelah membawa Alsya masuk ke dalam kamar, Naka menutup dan mengunci pintu kamar agar tak ada yang mengganggu.
"Naka, aku mau mandi," ucap Alsya yang tubuhnya sudah dibaringkan Naka di atas tempat tidur.
"Nanti dulu!" Naka menarik ujung baju terusan selutut yang dikenakan Alsya, lalu meloloskannya melalui kepala. Naka lanjut melenpar baju itu ke sembarang arah
Naka juga melepaskan kemeja hitamnya, lalu menindih tubuh Alsya yang masih terbaring di atas tempat tidur. Naka langsung mencium bibir Alsya tanpa basa-basi. Pasangan pengantin baru itu berpagutan dalam diam hingga membuat suasana kamar menjadi panas.
"Sebaiknya kita mandi dulu!" Ujar Alsya yang kedua tangannya sudah menangkup wajah Naka.
"Ya!" Jawab Naka singkat. Tangan Naka terulur untuk merapikan beberapa anak rambut Alsya yang berantakan. Naka mengecup sekilas bibir Alsya, lalu kembali membopong tubuh istrinya tersebut masuk ke kamar mandi
.
.
.
Masih siang eh!
Mosok mau nganu ðŸ¤ðŸ¤
Lanjut malam habis tarawih.
Jangan lupa like 💜💜