
Tok tok tok!
Tiffany mengetuk pintu kamar Opa Bowles saat hari masih pagi. Yadi malam saat Tiffany tiba di rumah, Opa angkatnya itu memang sudah istirahat dan Tiffany tak mau mengganggu.
"Masuk!" Titah Opa Bowles.
"Pagi, Opa!" Sapa Tiffany seraya berjalan pelan menuju ke tempat tidur Opa Bowles.
"Kata maid, Opa sakit kemarin saat pulang," tanya Tiffany seraya duduk di kursi kecil di samping tempat tidur. Tangan gadis itu juga cekatan membenarkan selimut Opa Bowles.
"Hanya sedikit kelelahan kata dokter," terang Opa Bowles.
Tiffany menghela nafas lega.
"Sudah bertemu Henry?" Tanya Opa Bowles pada Tiffany.
"Ya! Henry ternyata sakit keras satu tahun terakhir dan sakitnya itu juga yang membuatnya tidak bisa menikahi Stefy waktu itu."
"Henry menitipkan permintaan maaf pada Opa." Jelas Tiffany panjang lebar. Opa Bowles masih diam.
"Sakit apa?" Tanya Opa Bowles penuh selidik.
"HIV," jawab Tiffany setengah berbisik yang langsung membuat Opa Bowles kaget. Perihal Henry sakit sebenarnya Opa Bowles sudah menebaknya, tapi pria tua itu benar-benar tak menyangka jika ternyata Henry mengidap HIV.
"Apa Opa masih marah dan benci pada Henry?" Tanya Tiffany selanjutnya pada Opa Bowles.
"Opa tak pernah membencinya!" Sergah Opa Bowles menyanggah pertanyaan Tiffany.
"Saat itu Opa hanya menyayangkan sikap Henry yang langsung mengantar Stefy pulang tanpa memberikan penjelasan apapun tentang sakitnya. Padahal jika saja Henry mau jujur dan tetap memperjuangkan hubungannya bersama Stefy, Opa mungkin akan berubah pikiran." Opa Bowles menghela nafas berat.
"Tapi mungkin semua memang sudah suratan takdir," lanjut Opa Bowles lagi.
"Henry hanya tidak mau menyakiti Stefy," ujar Tiffany memberitahu alasan Henry dan Opa Bowles hanya mengangguk.
"Lalu sekarang bagaimana kondisi Henry?" Tanya Opa Bowles yang raut wajahnya terlihat khawatir.
"Hanya tinggal menunggu waktu," jawab Tiffany lirih.
"Henry juga sudah tidak mau menjalani perawatan dan hari ini ia akan pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi untuk terakhir kali." Lanjut Tiffany menjelaskan pada Opa Bowles.
"Disaat seperti ini, hal terbaik yang bisa dilakukan memang hanya membuat Henry sebahagia mungkin." Gumam Opa Bowles berpendapat.
"Gika juga mengatakan demikian," timpal Tiffany.
"Kau sudah akur dengan Gika?" Tanya Opa Bowles mengalihkan pembicaraan.
"Kita sedang membahas Henry, Opa!" Sergah Tiffany berumengelak dari pertanyaan Opa Bowles.
"Dan Tiff tak akan pernah akur dengan mantan tuan playboy itu!" Lanjut Tiffany sedikit ketus.
"Setiap orang punya masalalu, Tiff! Namun beberapa memilih untuk bertobat dari masalalunya, lalu berusaha keras untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Ujar Opa Bowles seolah sedang menasehati Tiffany.
"Iya, Tiffany melihat usahanya, Opa!" Sergah Tiffany merujuk pada Gika.
"Tapi Tiffany masih sulit percaya!" Lanjut Tiffany memberikan alasan.
"Baiklah! Opa juga tak mau memaksa kalau begitu!" Opa Bowles kembali menghela nafas.
"Hanya saja, Opa berharap kamu sudah menemukan pasangan hidup sebelum Opa pergi nantinya." Opa Menjeda kalimatnya karena batuk-batuk.
"Apa maksud Opa? Opa tak akan kemana-mana dan akan tetap disini bersama Tiff!" sergah Tiffany sedikit emosi.
"Opa sudah tua, Tiff! Opa sudah lelah menjalankan perusahaan dan swmua permasalahannya."
"Opa hanya ingin beristirahat sekarang dan menikmati hari tua," ujar Opa Bowles seraya menerawang. Tiffany seolah kehilangan kata-kata karena ia paham pembicaraan Opa Bowles ini mengarah kemana.
Haruskah Tiffany menikah dengan Gika De Chio menyebalkan itu demi opa?
****
"Fiuuuh!"
Gika menatap penuh frustadi pada tumpukan beberapa map di depannya. Gika benar-benar ingin melambaikan bendera putih sekaran. Namun saat Gika melemparkan tatapannya ke arah dinding ruang kerjanya, semangat di hati Gika mendadak kembali berkobar.
Ada stiker foto Tiffany berukuran besar di sana dan itu semua adalah ide konyol dari Elleanore. Kata Elleanore, foto Tiffany akan menjadi pecut semangat untuk Gika saat belajar mengelola perusahaan. Sebuah ide konyol yang sekarang benar-benar bekerja.
"Hai, Gadis macan rrrooaaar!" Gika berbicara pada foto Tiffany yang wajahnya terlihat ketus. Sepertinya Elleanore memang sengaja memasang foto yang itu agar Gika geregetan.
"Aku akan menyelesaikan tumpukan berkas sialan ini agar aku segera bisa membuatmu mengaum setiap malam!"
"Rrrrooooaaar!" Ucap Gika penuh tekad seraya menuding ke foto Tiffany. Gika lanjut mengerjakan tugas dari Dad Dean hari ini.
Semoga tidak ada yang salah atau kepala Gika akan botak di usia muda jika Dad Dean kembali mengomelinya.
****
"Ada apa?"
"Sekretaris Andrew Drsmond baru saja menghubungiki dan mengatakan kalai Andrew sedang dalam perjalanan kemari. Katanya dia mau membahas sebuah proyek bersamamu," jelas Edward yang langsung membuag Richard mengernyit.
Tidak biasanya seorang Andrew Desmond mengajak bekerja sama.
"Baiklah! Langsung kau antar saja ke ruanganku nanti saat dia datang!" Titah Richard yang hanya membuat Edward mengangguk.
Richard melanjutkan langkahnya dan masuk ke ruangannya. Pria itu membuka ponsel yang sejak tadi berbunyi karena ada pesan masuk yang rupanya dari Ashley.
[Hai! Aku cuma mau bilang kau Mom menyuruhku ke rumah hari ini untuk membantu mengurus undangan pernikahan Naka dan Alsya. Jadi aku langsung ke rumah Mom setelah pulang kuliah nanti, dan mungkin aku juga akan menginap di rumah Mom.] -Ashley-
"Kau tidak usah ikut menginap dan nanti aku akan mengarang cerita sebagai alasan] -Ashley-
Richard tak membalas pesan Ashley dan memilih untuk menelepon gadis itu saja.
"Halo, Rich! Kau sudah baca pesanku?"
"Ya!" Jawab Richard singkat.
"Kau tidak usah kesini nanti jika memang kau sibuk. Aku akan memberikan alasan pada Mom."
"Kau sudah sampai di rumah, Mom?" Tanya Richard pada Ashley sedikit tidak nyambung.
"Belum! Aku masih di kampus. Sore nanti aku baru pulang. Mom juga katanya masih ada acara di luar sampai sore."
"Baiklah!" Jawab Richard singkat.
"Maksudnya?"
"Nanti aku akan ke rumah Mom juga," ujar Richard.
"Baiklah, terserah kau saja! Aku masuk kelas dulu. Bye!"
Telepon terputus dan Richard sudah duduk di kursinya. Pria itu menyalakan laptop di hadapannya dan mulai kembali bekerja, saat ketukan di pintu membuat Richard kembali mendongakkan wajahnya.
"Rich, Andrew sudah datang," Lapor Edward setelah membuka pintu ruangan Richard.
"Suruh masuk!" Titah Richard.
"Oke!"
Tak berselang lama, Andrew Desmond sudah masuk ke dalam ruangan Richard dan tak lupa berbasa-basi pada Richard terlebih dahulu.
"Kau mau mengantar undangan pernikahanmu dengan Anneth, Andrew?" Tanya Richard yang ganti berbasa-basi pada Andrew.
"Sebenarnya kami sudah putus," jawab Andrew yang sedikit membuat Richard kaget.
"Anneth main hati di belakangku," Andrew tertawa kecil.
"Entahlah, mungkin memang aku yang bodoh disini. Tapi aku juga mencintai gadis lain. Jadi akhirnya kami putus secara baik-baik." Jelas Andrew pada Richard masih dengan tawa kecilnya.
Richard hanya mengulas senyum tipis dan sebenarnya malas menanggapi. Tapi rasanya tidak sopan jika Richard hanya diam.
"Sayang sekali, ya! Padahal kau dan Anneth terlihat serasi," ujar Richard yang akhirnya menanggapi curhatan Andrew.
"Kita lupakan saja masalah itu."
"Aku mau menawarakn sebuah mega proyek untukmu, Rich!" Andrew menyodorkan sebuah berkas pada Richard.
Richard menatap sejenak pada pria di hadapannya tersebut, sebelum kemudian membuka berkas yang tadi disodorkan Andrew. Lembar demi lembar Richard baca.
"Isinya masih gambaran kasar. Tapi itu nantinya akan jadi sebuah mega proyek yang besar. Alexander Group akan semakin terkenal jika proyek itu selesai," tutur Andrew yang sesaat membuat Richard merasa tertarik. Tapi dalam dunia bisnis tak pernah ada yang gratis. Sepertinya Andrew juga akan mengajukan sebuah syarat untuk mega proyek ini.
"Kau tertarik, Rich?" Tanya Andrew selanjutnya.
"Ya!"
"Syarat apa yang kau ajukan?" Tanya Richard tanpa basa-basi.
"Berikan Ashley kepadaku!" Jawab Andrew yang sesaat membuat Richard bungkam.
Apa Andrew sedang bercanda sekarang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.