
Elleanore tersenyum lebar saat melihat mobil Edward masuk ke halaman kediaman Alexander. Gadis itu sudah bersiap untuk menonton pertandingan basket sore ini. Outfit berupa kaus polos warna putih dipadu overall jeans tujuh per delapan melekat dengan sangat pas di tubuh Elleanore. Ditambah ikat rambut ala ekor kuda yang semakin menunjukkan kesan chicklit pada penampilan Elleanore.
"Abang Edward! Hai!" Elleanore melambaikan tangan pada Edward yang sore ini terlihat santai mengenakan kaus polo dan celana panjang jeans.
"Sore, Nona El! Jadi ke lapangan basket?" Tanya Edward berbasa-basi pada Elleanore.
"Tentu saja! Aku sudah menunggumu sejak tadi," Elleanore sudah menggamit lengan Edward yang masih saja bersikap kaku. Padahal penampilan pria ini sudah sangat perfect.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Edward selanjutnya seraya melepaskan gamitan lengan Elleanore karena pria itu merasa tak nyaman.
"Ya! Ayo!" Jawab Elleanore bersemangat. Elleanore langsung berlari-lari kecil menuju ke arah mobil Edward. Sementara Edward mengekori Elleanore sambil menghela nafas panjang berulang kali.
Seharusnya Edward sedang bersantai di apartemennya sekarang!
Tepat setelah mobil Edward melaju pergi, mobil Henry masuk ke halaman kediaman Alexander dan berhenti di depan garasi. Henry turun sendiri dan langsung masuk ke dalam untuk menemui Gika yang sekarang tak lagi punya jadwal pemotretan. Sahabat Henry itu sedang sibuk belajar bisnis demi bisa menjadi pawang macan untuk Tiffany.
"Sore!" Sapa Henry pada siapapun di kediaman Alexander yang tumben sedikit sepi.
"Sudah mengerti?" Suara Uncle Aaron terdengar dari ruang tengah dan membuat Henry segera menghampiri sekretaris Dad Dean tersebut yang rupanya sedang menjadi guru pembimbing untuk Gika.
"Mengerti, Gika?" Tanya Uncle Aaron sekali lagi.
"Bingung, Uncle!" Jawab Gika yang langsung membuat Uncle Aaron menepuk keningnya sendiri.
"Rasanya seperti mengajari anak TK alphabet, Uncle?" Celetuk Henry yang langsung membuat Gika bersungut ke arah pria itu.
"Bukan! Lebih tepatnya, seperti mengajari anak TK belajar satu huruf!" Jawab Uncle Aaron yang sepertinya sudah mulai hilang kesabaran.
"Hanya satu huruf dan dia tak kunjung mengerti!" Lanjut Uncle Aaron penuh emosi seraya mengarahkan telunjuknya ke arah Gika.
"Apa Gika memang sepayah itu, Uncle?" Protes Gika merasa tak terima dengan analogi dari Uncle Aaron.
"Ya! Uncle rasa karena otakmu sudah banyak terkontaminasi dengan hal-hal tak senonoh!" Pendapat Uncle Aaron yang langsung membuat Gika merengut.
"Tak senonoh bagaimana maksudnya? Gika saja belum menyentuh wanita hampir sebulan gara-gara wanita macan rrrooaaar itu!" Jawab Gika bersungut-sungut disertai auman seperti biasa.
"Kemajuan yang bagus, Gika!" Henry menepuk punggung Gika yang langsung disentak oleh mantan tuan model tersebut.
"Kau sedang apa disini? Aku belum butuh asisten lagi! Aku masih belajar caranya menjadi tuan direktur!" Tanya Gika sambil tak lupa bercerocos pada Henry.
"Hanya sedang memantau proses kau menjadi tuan direktur yang akan memimpin perusahaan milik Tuan Bowles sebentar lagi," nada bicara Henry terdengar mengejek.
"Sial! Kau meremehkan usahaku? Aku nanti akan sepandai Abang Richard dalam mengelola bisnis. Hanya perlu belajar beberapa hari lagi!" Ujar Gika pongah.
"Beberapa bulan lagi lebih tepatnya!" Sahut Uncle Aaron mengoreksi yang langsung membuat Henry tergelak.
"Kenapa lama sekali, Uncle?" Protes Gika merasa tak terima.
"Karena kau tak bisa-bisa! Uncle sampai botak mengajarimu sejak kemarin!" Jawab Uncle Aaron yang tentu saja semakin membuat Gika merengut.
"Perjuangan cinta memang tak mudah, Gika!" Timpal Henry seraya tersenyum mengejek pada Gika.
"Ck! Gika akan belajar pada Dad saja kalau begitu!" Gika sudah bersedekap dan memasang raut merengut persis seperti bocah yang sedang merajuk.
"Baiklah! Silahkan belajar pada Dad kesayanganmu! Uncle juga mau pulang dan memeluk Aunty-mu!" Uncle Aaron sudah bangkit berdiri dan hendak pamit pulang.
"Mau bikin adik untuk Cecilia yang sebentar lagi menikah, Uncle?" Tebak Gika sok tahu.
"Ya! Mungkin saja ada keajaiban," uncle Aaron tertawa renyah.
"Cecilia sudah mau menikah?" Tanya Henry yang mendadak merasa kepo.
"Sebenarnya masih menunggu maminya Victor yang sepertinya masih keberatan." Jawab uncle Aaron.
"Aku pikir kanebo kering itu julukan untuk Abang Richard saja," Henry tertawa kecil.
"Abang Edward juga! Mereka kan sebelas dua belas!" Jawab Gika malas.
"Ya, semoga Navya segera memberikan restu untuk hubungan Cecilia dan Victor. Jadi mereka bisa secepatnya menikah setelah Richard dan Ashley nanti," pungkas Uncle Aaron penuh harap. Pria paruh baya itu selanjutnya pamit pada Gika dan Henry, lalu meninggalkan kediaman Abraham.
"Ngomong-ngomong, El ada di rumah?" Tanya Henry setelah kepergian Uncle Aaron.
"El pergi bersama Edward!" Jawan Gika cepat.
"Kemana?"
"Mana aku tahu!" Jawab Gika menyalak.
"Aku sedang pusing memikirkan grafik dan saham." Lanjut Gika yangvsudah menyandarkan kepalamya ke punggung sifa dan wajahnya mendongak ke langit-langit ruang tamu.
"Ini pertama kalinya aku melohat seorang Gika begitu niat melakukan sesuatu hanya demi...." Henry juga bingung Gika melakukan semua ini demi apa.
"Demi bisa tidur bersama Tiffany! Kau memang sahabatku yang paling brengsek, Hen! Kau tahu alamatnya Tiffany tapi tak mau memberitahuku!" Gika kembali bersungut-sungut pada Henry.
"Kalau aku beritahu memangnya kau mau apa?"
"Menidurinya lah! Gadis macan itu benar-benar membuatku gila! Setiap malam selalu saja datang di mimpiku. Dosa apa aku kepadanya?" Cecar Gika meledak-ledak.
"Dosa karena kau terlalu membencinya," jawab Henry asal seraya tergelak.
"Opa Bowles selalu bilang jika aku ingin meniduri Tiffany, maka aku harus menikahinya dulu!"
"Jika kau pria jantan memang harusnya begitu!" Timpal Henry berpendapat.
"Lalu agar bisa menikahi Tiffany, aku harus mengerti bisnis yang membuat otakku ingin meledak sekarang!" Gika curhat lagi.
"Anggap saja sebagai perjuangan," jawab Henry enteng.
"Tiff benar-benar akan habis jika aku sudah berhasil memilikinya nanti!" Ujar Gika bertekad dalam hati.
"Boleh aku bertanya sesuatu sebelumnya, Gika?" Henry menyela dan Gika langsung menatap pada asistennya tersebut.
"Tanya apa?"
"Apa kau yakin Tiffany akan mau menikah denganmu nantinya?" Tanya Henry dengan mimik wajah serius yang langsung membuat Gika terdiam beberapa saat.
"Maksudku, selama ini bukankah kalian seperti kucing dan tikus? Lalu apa alasanmu ingin menikahi Tiffany dan bagaimana kau bisa sangat yakin kalau Tiffany akan menerimamu, sekalipun kau sudah menjadi direktur Gika nantinya dan bukan tuan model lagi."
"Kalau ternyata Tiff tidak mau menikah denganmu bagaimana?" Tanya Henry sekali lagi yang benar-benar membuat Gika kehilangan kata-kata.
Benar juga kata Henry!
Bagaimana kalau nanti Tiffany menolak Gika?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.