Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SANGSI



"Edward tak akan mau!" Ucap Richard tegas setelah Ashley membeberkan idenya untuk menyuruh Edward menjadi relawan juga sama seperti Elleanore.


"Aku paham bagaimana Edward. Dia tidak akan mau terjun ke lapangan, menjadi relawan bencana, apalagi berbaur dengan anak-anak."


"Edward kurang suka pada anak-anak!" Ujar Richard panjang lebar yang sepertinya sudah hafal tabiat Edward luar dan dalam.


Ya, ya, ya!


Sesama kanebo kering biasanya memang saling memahami.


"Tapi ini adalah sebuah kesempatan yang sangat bagus, Rich!"


"Aku yakin Elleanore akan langsung...." Ashley berpikir sejenak untuk menyebut sebuah istilah yang tepat.


"Langsung apa?" Tanya Richard penasaran.


"Langsung terpesona," lanjut Ashley akhirnya yang langsung membuat Richard kembali mengernyitkan kedua alisnya.


"Tapi Edward tidak suka pada anak-anak, Ash! Sepertinya akan sia-sia saja jika kita menyuruhnya pergi."


"Kemarin saja saat menjenguk Casey dia sama sekali tak mau menggendong atau sekedar memangkunya," pendapat Richard yang malah membuat Ashley terkekeh.


"Mungkin akan lain cerita kalau nanti pria itu sudah membuat anaknya sendiri," ujar Ashley masih sambil terkekeh karena ingat pada Richard yang dulu juga sekaku Edward.


"Jadi?" Richard kembali mengambil Casey dari pangkuan Ashley karena bayi tiga bulan tersebut sudah selesai menyusu.


"Dia sudah tidur, Rich! Jangan menimangnya terus dan tidurkan saja di box!" Titah Ashley pada Richard yang hendak menimang-nimang Casey lagi, padahal bayi perempuan Ashley dan Richard itu sudah terlelap.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," Richard mengingatkan sembari meletakkan Casey ke dalam box bayi.


"Pertanyaan yang ma-" Ashley tak jadi melanjutkan kalimatnya dan wanita itu bangkit dari sofa dengan cepat, lalu masuk ke kamar mandi.


"Ash, kau kenapa?" Tanya Richard yang sudah ikut menyusul Ashley ke dalam kamar mandi. Istri Richard itu kini sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Kau sakit?" Tanya Richard khawatir seraya mengusap punggung Ashley.


"Aku tidak tahu." Ashley kembali muntah-muntah.


"Perutku mual," lanjut Ashley sebelum lanjut muntah-muntah juga.


"Kita ke dokter, ya!" Ajak Richard seraya meraih tisu untuk menyeka wajah Ashley.


"Dokter?"


"Dokter kandungan?" Tanya Ashley tiba-tiba yang langsung membuat Richard mengerutkan kedua alisnya.


"Tunggu!" Wajah Richard sudah berubah khawatir sekarang dan Ashley malah tertawa aneh ke arah Richard.


"Casey masih tiga bulan, Ash!" Richard menatap horor pada Ashley.


"Berapa kali kau mengeluarkannya di dalam kemarin?" Ashley mencengkeram kerah baju Richard dan menatap penuh selidik pada suaminya tersebut.


"Aku tak ingat. Kau belum pakai kontrasepsi?" Kedua bola mata Richard sudah membulat dengan lucu sekarang.


Ashley menggeleng dengan sangat yakin.


"Katanya kalau menyusui itu sudah masuk KB alami." Ashley menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sepertinya aku harus ke apotik sekarang," gumam Richard yang justru membuat Ashley tergelak, sebelum kemudian wanita itu kembali muntah-muntah.


"Tapi kemarin saat hamil Casey kau tidak muntah-muntah," Richard masih merasa sangsi dan berharap Ashley hanya masuk angin.


Demi apapun!


Casey baru tiga bulan dan masih butuh ASI dari Ashley!


Tapi salah Richard juga yang kemarin tak berpikir panjang dan asal tembak.


"Mungkin yang ini Richard junior. Jadi bawaannya beda," kikik Ashley yang malah tak merasa khawatir sama sekali.


"Rich!" Ashley menepuk wajah Richard yang terlihat melamun.


"Aku akan ke apotik sebentar," ucap Richard akhirnya seraya mengecup kening Ashley.


"Hati-hati!" Pesan Ashley bersamaan dengan Richard yang sudah keluar dari kamar.


****


"Hoeek!" Gika menumpahkan sekali lagi isi perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk pakai centong sayur. Memangnya, siapa yang menaruh centong sayur di dalam perut Gika.


"Gika!" Tiffany berdecak di depan pintu kamar mandi dan wanita itu mulai kesal sekarang. Tadinya Gika dan Tiffany sudah pemanasan dan baru saja akan mulai bercinta mode quick seperti biasa mumpung si kembar sedang terlelap.


"Ck! Sudahlah! Aku mau tidur!" Gerutu Tiffany kesal pada Gika yang masih hoek hoek tak jelas.


"Tiff, aku keracunan apa ini?"


"Kenapa perutku mual sekali?" Keluh Gika dari dalam kamar mandi.


"Mana aku tahu! Memangnya kau tadi makan apa?" Tiffany kembali berbalik dan masuk ke kamar mandi, lalu mengusap-usap punggung Gika yang kembali muntah-muntah.


"Aku makan makanan yang ada di meja makan tadi. Kau juga makan, semuanya juga makan. Tapi kenapa cuma aku yang muntah-muntah?" Tanya Gika bingung, sementara Tiffany hanya mengendikkan kedua bahunya karena juga tak punya jawaban atas pertanyaan Gika.


"Kau seperti aku saat hamil si kembar kemarin," celetuk Tiffany yang malah meledek Gika.


Gika sudah berhenti muntah-muntah dan pria itu tampak berpikir beberapa saat.


"Kau sudah dapat tamu bulanan?" Tanya Gika tiba-tiba yang langsung membuat Tiffany terdiam.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Aku belum dapat tamu bulanan sejak selesai melahirkan waktu itu. Tapi kata Mom wajar karena aku menyusui si kembar. Mungkin nanti saat si kembar umur enam bulan aku baru akan mendapatkannya," terang Tiffany panjang lebar menjelaskan pada Gika persis penjelasan Mom Fe.


"Kau pakai alat kontrasepsi memangnya? Aku kemarin kebablasan di dalam beberapa kali," kikik Gika yang akhirnya membuat pengakuan. Sontak Tiffany langsung menatap horor ke arah suaminya tersebut.


"Tapi katanya kau keluar di luar!" Tiffany sudah mencengkeram kerah kaus Gika sebelum kemudian suaminya itu wajahnya merah padam seperti hendak muntah. Buru-buru Tiffany mendorong Gika ke arah wastafel agar Gika tidak menyemburkan muntahannya ke wajah Tiffany.


"Hoek!" Gika langsung menumpahkan isi perutnya.


"Minta maid membelikan testpack, Tiff! Aku punya feeling kalau Gwen dan Griff akan segera punya adik!"


"Benih Gika memang paling juara!" Cerocos Gika sebelum pria itu kembali muntah-muntah.


"Ck! Semoga nanti yang ngidam dan muntah-muntah terus kau dan bukan aku!" Sungut Tiffany kesal sebelum kemudian wanita itu keluar dari kamar untuk mencari maid atau supir atau siapa saja yang akan dia suruh ke apotik membeli alat tes kehamilan.


"Semoga tidak hamil, semoga tidak hamil, semoga tidak hamil!"


"Rich, mau kemana?" Pertanyaan Mom Fe pada Richard yang wajahnya terlihat lesu menarik perhatian Tiffany sejenak.


"Ke apotik, Mom!" Jawab Richard yang langsung membuat Tiffany mengernyit penasaran.


"Mau beli obat? Siapa yang sakit?" Tanya Mom Fe lagi.


"Itu..." Richard menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ashley muntah-muntah terus sejak tadi, jadi-"


"Mau beli testpack?" Sela Tiffany seraya mendekat ke arah Richard dan Mom Fe.


"Ashley hamil lagi?" Tanya Mom Fe menatap penuh selidik pada Richard.


"Masih belum tahu, Mom. Makanya Richard mau beli testpack dulu," jawab Richard seraya meringis.


"Tiff titip sekalian, ya, Bang!" ujar Tiffany yang langsung membuat Mom Fe menatap ke arah menantunya tersebut.


"Kau hamil juga, Tiff?" Tanya Mom Fe kaget.


"Belum tahu, Mom." Tiffany meringis.


"Tapi Gika muntah-muntah sejak tadi seperti yang terjadi pada Abang Naka saat Kak Alsya hamil kemarin," lanjut Tiffany memberikan penjelasan.


"Belikan testpack untuk Tiffany dan Alsya sekalian, Rich!" Titah Mom Fe akhirnya pada Richard.


"Baik, Mom!" Jawab Richard patuh sebelum kemudian pria itu berlalu dan pergi ke apotik terdekat.


"Memangnya Kak Alsya juga hamil lagi, Mom?" Tanya Tiffany kepo setelah Richard berlalu pergi.


"Mom akan tanya dulu. Kemarin kalian bertiga bisa barengan. Sekarang bisa saja barengan lagi, kan?" Jawab Mom Fe sedikit berasumsi dan Tiffany hanya mengangguk-angguk.


Benar-benar luar biasa kalau Tiff, Ashley, dan Alsya hamilnya barengan lagi.


.


.


.


Migrain Mom Fe 🤣🤣🤣


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.