
Richard langsung tertegun di ambang pintu kamar, saat melihat Ashley yang masih mengenakan gaun pengantin hasil karya Tiffany. Baru beberapa hari Richard tak melihat gadis ini, kenapa penampilannya sudah banyak berubah?
"Rich! Kau sudah pulang?" Seru Ashley yang buru-buru menghampiri Richard.
"Aku pikir besok kau baru pulang," ujar Ashley lagi seraya terkekeh.
"Itu gaun siapa?" Tanya Richard seraya mengendikkan dagunya ke arah gaun Ashley.
"Gaunku! Tiffany yang membuatnya," jawab Ashley seraya memamerkan gaunnya pada Richard. Ashley berputar beberapa kali agar Richard bisa melihat detailnya.
"Eh!" Ashley sepertinya terlalu banyak berputar hingga hadis itu mendadak oleng dan hampir jatuh. Beruntung Richard sigap menangkapnya seperti biasa.
"Terima kasih!" Ucap Ashley seraya tersenyum pada Richard.
"Gaunnya bagus." Puji Richard selanjutnya.
"Boleh kupakai saat kita menikah nanti?" Tanya Ashley meminta izin.
"Ya! Pakai saja!" Jawab Richard santai.
"Hati-hati, atau kau akan merobek gaunnya, Ash! Kau selalu saja pecicilan!" Tiffany memperingatkan Ashley yang hampir melompat-lompat setelah Richard mengizinkannya memakai gaun hasil rancangan Tiffany di acara pernikahannya.
"Iya, Tiff! Iya!"
"Aku akan melepas gaunnya!" Jawab Ashley to the point seraya kembali menghampiri Richard yang masih berdiri di ambang pintu.
"Maaf, aku tutup dulu pintunya karena aku mau ganti baju," ucap Ashley pada Richard yang sepertinya mengira Ashley akan melakukan hal lain.
Mungkin Richard kira Ashley ingin minta Richard membantu menurunkan ritsleting gaunnya. Hahahaha!
"Aku ingin bicara nanti. Aku tunggu di depan," ucap Richard sedikit kaku dan sepertinya salah tingkah juga.
"Baiklah!" Jawab Ashley singkat sebelum gadis itu menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Dia mengira kau mau minta tolong membukakan gaunmu?" Celetuk Tiffany yang ternyata isi pikirannya sama dengan Ashley.
"Tuan kanebo kering itu bisa juga salah tingkah," timpal Ashley seraya tergelak. Ashley sudah melepaskan gaun pengantinya, lalu ganti memakai sebuah kaus longgar dan celana selutut.
"Kau tidak mandi dulu?" Tanya Tiffany lagi saat Ashley sibuk menyemprotkan parfum ke tubuhnya, mungkin untuk menyamarkan bau badan.
"Nanti saja! Sudah ada aroma parfum!" Jawab Ashley seraya membenarkan cepolan rambutnya, lalu keluar dari pintu kamar.
"Dasar jorok!" Gumam Tiffany yang sepertinya tidak didengar oleh Ashley.
Ashley berjalan santai menuju ke teras, dimana Richard sudah duduk diam di sana dan menunggu Ashley.
"Hai," sapa Ashley yang langsung ikut dudk bersama Richard.
"Oleh-oleh untukmu!" Richard menyodorkan sebuah paperbag berukuran cukup besar pada Ashley.
"Apa isinya?" Tanya Ashley penasaran yang langsung membuka oleh-oleh darj Richard. Ada dua botol parfum kaca dengan bentuk berbeda dan aroma berbeda juga sepertinya. Lalu ada sebuah clutch mewah dengan merk ternama.
Wow!
"Kau belum mengatakan ingin oleh-oleh apa. Dan karena aku harus buru-buru pulang, jadi aku hanya sempat membelikan itu saja. Kau menyukainya?" Tanya Richard pada Ashley yang sedang sibuk menghitung jumlah kata yang baru saja diucapkan oleh Richard.
"Dua puluh tiga kata sekali ucap!" Gumam Ashley seraya manggut-manggut.
"Ada apa?" Richard mengernyit bingung.
"Tidak ada! Aku menyukai oleh-olehnya! Terimakasih, Rich!" Ashley tersenyum tulus ke arah Richard yang hanya mengangguk dan mengulas senyuman segaris seperti biasa.
Ya ampun!
Ashley benar-benar gemas dan ingin menarik kedua sudut bibir tuan kanebo kering itu sampai ke mata!
"Kau ada kuliah hari ini?" Tanya Richard selanjutnya pada Ashley.
"Tidak ada!" Jawab Ashley cepat.
"Bagus! Kau akan menggantikan Edward hari ini di kantor," ujar Richard lagi yang langsung membuat Ashley membelalakkan mata.
"Edward kemana memangnya?" Tnya Ashley kepo.
"Sedang istirahat karena tidak enak badan."
"Aku pikir tuan robot itu tak bisa sakit," Ashley tergelak dan Rich hanya berekspresi datar.
"Kita berangkat jam berapa?" Tanya Ashley yang sudah berhenti tergelak.
"Sekarang."
"Aku belum mandi," cicit Ashley meringis yang langsung membuat Richard mengernyit.
"Aku mandi dan bersiap dulu! Bye!" Pamit Ashley seraya ngacir pergi dan kembali meninggalkan Richard di teras. Ashley tak lupa membawa oleh-oleh dari Richard dan akan bertanya pada Tiffany berapa harganya.
****
"Sudah kau pantau?" Tanya Tiffany pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Sudah, Nona! Saat ini dia masih di kediaman Alexander dan belum keluar lagi."
"Kemarin dia kemana saja?"
"Pagi-pagi ke Alexander Group. Lalu saat jam makan siang, dia makan di sebuah restoran di dekat Alexander Group-"
"Sendiri?" Tiffany menyela dan memastikan.
"Sendiri, Nona! Saya ikut masuk dan mengawasinya."
"Lalu setelah itu?" Tanya Tiffany lagi
"Setelah itu dia pulang lagi ke kediaman Alexander dan tidak pergi lagi sampai malam."
"Baiklah, tetap awasi dan segera laporkan jika dia bersama seseorang yang mencurigakan!" Pungkas Tiffany seraya menutup telepon karena melihat pintu kamar Ashley yang dibuka dari luar.
"Tiff! Kau masih disini?" Tanya Ashley yang datang membawa sebuah paperbag besar.
"Ya! Aku sedang malas jalan-jalan memakai empat kaki," jawab Tiffany seraya berdecak.
"Perlu aku panggilkan Gika agar dia menggendongmu kemana-mana?" Goda Ashley yang langsung membuat Tiffany mendelik ke arah gadis itu.
"Baiklah, aku hanya bercanda!" Tiffany sudah mengangkat satu tangannya dan jari gadis itu membentuk tanda V.
"Kau bawa apa ini?" Tanya Tiffany seraya membuka paperbag yangbtadi dibawa Ashley.
"Oleh-oleh dari Richard. Kau tahu berapa harganya?" Tanya Ashley to the point seraya menunjukkan dua botol parfum dan satu clutch mewah tadi pada Tiffany.
"Mencari tahu harga oleh-oleh dari seseorang? Dasar tidak sopan!" Komentar Tiffany seraya melihat botol parfum yang ditunjukkan Ashley.
"Kan aku hanya penasaran!" Ashley memberikan alasan.
"JAR Bolt of Lightning, harganya sekitar sepuluh juta per botol," ucap Tiffany seraya menunjuk ke botol parfum.yang bentuk bulat. Ashley langsung menganga mendengar harga sebotol parfum oleh-oleh dari Richard tersebut.
"Yang ini Hermes 24 Faubourg, sekitar dua puluh juta per botol kalau belum naik," lanjut Tiffany seraya menunjuk ke parfum di botol persegi.
"Serius? Harga parfum kecil ini dua puluh juta?" Tanya Ashley masih menganga tak percaya.
"Itu termasuk murah untuk pebisnis sekelas Richard Alexander! Tidak usah berlebihan begitu dan kau harus membiasakan diri agar tak dicap norak!" Tukas Tiffany sedikit memberikan nasehat untuk Ashley.
"Dan jangan pernah lagi mencari tahu harga barang yang menjadi hadiah atau oleh-oleh dari orang lain! Itu namanya tidak sopan!" Pesan Tiffany sekali lagi pada Ashley.
"Iya, baiklah! Aku mau mandi!" Ashley membuka lemari bajunya dan mengambil satu stel baju kerja yang baru beberapa hari lalu Ashley beli agar bisa ia pakai saat Richard memintanya datang ke kantor.
"Mau kemana?" Tanya Tiffany yang gantian kepo.
"Ke kantor! Jadi asisten dadakan untuk Richard karena Edward sedang sakit!"
"Padahal aku pikir asisten sekaligus sekretaris Richard itu tak bisa sakit!" Ashley terkekeh seolah itu adalah hal lucu dan cerocosan Ashley tadi benar-benar membuat telinga Tiffany berdenging.
"Iya, sudah! Mandi sana dan berhenti mengoceh! Kau membuatku sakit kepala!" Usir Tiffany yang sudah ganti merebahkan tubuhnya di atas kasur Ashley setelah gadis itu susah payah mengangkat kakinya yang masih diperban ke atas kasur.
Ashley bukannya tak mau membantu, tapi Tiffany yang memang tak pernah mau dibantu. Dasar keras kepala!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.