Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
TEKAD EDWARD



"Kau mau kemana, Ash?" Tanya Richard bingung saat melihat Ashley yang sudah rapi mengenakan setelan blouse kerja warna biru lembut.


"Ikut kau ke kantor dan jadi asistenmu," jawab Ashley seraya tertawa kecil.


"Dan Casey juga akan jadi asisten kecilmu hari ini. Tapi nanti pengasuhnya Casey ikut ke kantor juga , agar aku tak terlalu kecapekan," terang Ashley lagi.


"Apa kau sedang ngidam menjadi seorang asisten?" Tanya Richard menerka-nerka. Karena kadang ngidamnya Ashley memang aneh begini. Seperti misalnya kemarin Ashley menyuruh Richard memanggil penjual siomay pakai gerobak ke rumah agar bisa mentraktor semua anggota keluarga Alexander.


Padahal koki di rumah sangat bisa memasak siomay untuk semuanya. Tapi Ashley tidak mau dan memaksa Richard mencari penjual siomay pakai gerobak. Untung ada Hendy yang membantu Richard mencari.


"Anggap saja begitu!" Jawab Ashley sedikit merayu Richard.


Padahal yang sebenarnya adalah Edward yang menyuruh Ashley untuk menggantikan dirinya beberapa hari ke depan karena Edward yang hendak menyusul Elleanore menjadi relawan di lokasi bencana.


Tentu saja niat baik Edward itu langsung disambut Ashley dengan penuh semangat dan Ashley langsung mengiyakan permintaan Edward.


"Kau nanti tidak mual-mual di kantor?" Tanya Richard khawatir.


"Tidak!" Jawab Ashley bersungguh-sungguh.


"Aku tinggal tidur kalau mual atau tak enak badan." Lanjut Ashley lagi yang hanya bisa membuat Richard menghela nafas. Richard memang tak pernah bisa menolak kemauan istri kesayangannya ini.


"Baiklah! Tapi Casey biar di rumah saja bersama Mom," usul Richard seraya menghampiri Casey yang masih terlelap di dalam box bayi.


"Kalau aku kangen Casey?" Tanya Ashley lagi.


"Kau pulang saja kalau kangen," jawab Richard enteng.


"Mmmmm, tapi aku mau di dekatmu dan di dekat Casey," Ashley mulai mencari-cari.


Richard mengusap wajahnya sendiri dan berusaha mengumpulkan kesabaran atas kemauan Ashley yang kadang menguras emosi begini.


"Begini saja, Casey kan masih tidur. Jadi kita ke kantor dulu. Lalu nanti saat Casey bangun biar dibawa oleh pengasuhnya ke kantor menyusul kita," usul Richard akhirnya yang langsung membuat Ashley setuju dan mengangguk.


Huh!


Akhirnya.


"Ayo berangkat!" Ajak Ashley selanjutnya seraya menggamit lengan Richard. Pasangan suami istri akhirnya tersebut keluar dari kamar.


Di ruang tengah Ashley dan Richard berpapasan dengan Gika yang sepertinya juga akan ke kantor.


"Gika, sudah sehat?" Sapa Ashley pada Gika yang beberapa hari kemarin mabuk berat dan muntah-muntah terus. Tiffany yang hamil tapi Gika yang muntah-muntah. Dasar aneh!


"Masih mual sebenarnya, Kakak Ipar. Tapi berhubung pekerjaan di kantor menumpuk dan ada rapat penting jadi terpaksa ke kantor hari ini," jawab Gika melas.


"Kak Ashley mau kemana?" Gantian Tiffany yang bertanya pada Ashley yang mengenakan setelan baju kerja. Gika sedikit menahan tawa mendengar Tiffany yang memanggil Kak pada Ashley. Terdengar masih kaku karena sebenarnya kalau dirunut dari usia, Ashley adalah yang termuda di antara semua menantu dan anak-anak Mom Fe dan Dad Dean. Tapi justru Ashley yang jadi kakak ipar tertua di keluarga Alexander.


"Jadi asisten dadakan untuk Richard," jawab Ashley seraya mengeratkan gamitannya pada Richard.


"Kau tidak ingin jadi asistenku juga, Tiff?" Celetuk Gika yang tiba-tiba jadi iri.


"Lalu yang mengasuh Griff dan Gwen siapa?" Jawab Tiffany sedikit geregetan.


"Kan mereka sudah punya pengasuh masing-masing. Ada Mom juga di rumah yang akan mengawasi," jawab Gika enteng.


"Ck! Aku tidak mau!" Tolak Tiffany seraya bersedekap.


"Ayolah, Tiff! Temani aku agar aku lebih bersemangat!" Gika mencari alasan dan berusaha merayu Tiffany.


"Tidak!" Tolak Tiffany tegas.


"Iya!"


"Tidak!"


"Kau tidak akan jadi bekerja kalau aku ikut ke kantor!" Tegas Tiffany sekali lagi yang langsung membuat Gika meringis. Sementara Ashley dan Richard sudah berlalu pergi dan sepertinya enggan mendengarkankan perdebatan tak berujung antara Tiffany dan Gika.


"Sudah! Berangkat ke kantor sana sebelum terlambat meeting!" Usir Tiffany selanjutnya pada sang suami.


"Dasar kejam! Rrrrooooaaar!" Gerutu Gika mengaum pada Tiffany.


"Rrrrooooaaar!" Tiffany balik mengaum pada Gika bersamaan dengan tangis Gwen yang terdengat dari kamar. Masih bagus kedua bayi Tiffany dan Gika tidak ikut mengaum juga.


****


"Pagi, Ed! Kau mau kemana?" Tanya Richard heran karena Edward tidak mengenakan setelan baju kerjanya seperti biasa dan pria itu malah terlihat santai mengenakan celana jeans, kaus, dan outer jaket.


"Aku mau minta izin mungkin satu sampai dua minggu ke depan."


"Semua pekerjaan sudah aku bereskan, semua jadwalmu juga sudah aku susun rapi. Nanti jika ada perubahan Ashley yang akan mengurusnya sementara aku pergi," tutut Edward panjang lebar yang hanya langsung membuat Ashley terkikik.


"Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya Richard bingung.


"Menyusul El seperti saranmu semalam. Aku akan ikut jadi relawan sdkalian menjaga El di sana," jelas Edward yang justru membuat Richard ternganga tak percaya.


"Semangat, Ed!" Ashley memberikan semangat untuk asisten Richard tersebut.


"Jadi ini tadi bukan ngidam dan kau sedang sekongkol dengan Edward, begitu?" Tanya Richard penuh selidik pada Ashley yang langsung terkikik.


"Bukankah kita harus mendukung usaha Edward untuk mendekati Elleanore, Sayang! Jangan ngambek, dong!" Ashley sudah mendekap Richard dan mencium pipi suaminya itu sekilas agar Richard tak marah.


Edward langsung mendengus seraya memalingkan wajah saat melihat kemesraan Ashley dan Richard tersebut.


Dasar pasangan bucin!


"Aku tidak marah!" Kilah Richard dengan raut wajah sedatar mungkin.


"Jadi, aku boleh pergi?" Tanya Edward sekali lagi.


"Ya! Silahkan pergi dan berjuang! Tapi janagn membuat El illfeel.di dana atau gadis itu akan membencimu untuk selamanya," pesan Richard yang sama sekali tak ada kata-kata pemberi semangat.


Calon abang ipar macam apa itu?


Tapi tak apa! Edward akan membuktikan kalau ia bisa memenangkan hati Elleanore dan saat pulang nanti, Edward akan langsung menikahi Elleanore.


Edward pasti bisa!


****


"El, ada bantuan untuk anak-anak lagi yang datang!" Lapor salah seorang teman Elleanore.


"Dimana?" Tanya Elleanore seraya mengedarkan pandangannya.


"Sebentar lagi datang-" teman Elleanore belum menyelesaikan kalimatnya, saat sebuah truk box berjalan mundur ke arah posko bantuan. Sepertinya itu bantuan yang dimaksud.


"Yang ini lumayan lengkap karena kemarin donaturnya menelepon langsung dan bertanya barang-barang yang diperlukan." Tukas teman El lagi yang hanya membuat Elleanore mengangguk.


"Ada diapers dan makanan bayi, kan?" Tanya Elleanore memastikan.


"Ada banyak."


Pintu belakang truk box tadi sudah dibuka dan langsung terlihat karton-karton berisi bahan-bahan pokok serta bahan lain di dalamnya. Elleanore dan teman-temannya bergegas menurunkan barang-barang tersebut dari dalam truk dan memindahkannya ke dalam tenda penampungan.


"Jadi, semua barang ini langsung dari donatur?" Tanya Elleanore di sela-sela ia menurunkan barang-barang dari atas truk box.


"Yap! Luar biasa bukan!"


"Keperluan anak-anak ada banyak bahkan ada buku cerita anak-anak juga," terang teman Elleanore tadi.


"Nah, itu salah satu donaturnya. Katanya mau membantu jadi relawan juga." Ujar teman Elleanore seraya menunjuk ke balik punggung Elleanore.


Elleanore langsung menoleh kd belakang karena penasaran siapa donatur baik hati tersebut. Dan saat melihat pria bertopi di belakangnya, Elleanore benar-benar terkejut.


"Edward?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.