
"Senyum!" Ashley sedikit menyentak lengan Richard yang hanya berekspresi datar saat sesi pemotretan.
"Ck! Senyum, Rich!"
"Apa susahnya tersenyum meskipun ini hanya sandiwara?" Bisik Ashley lagi yang sudah mengangkat tangannya untuk menarik kedua sudut bibir Richard agar membentuk lengkungan.
Astaga!
Benar-benar kanebo kering!
Kaku sekali!
"Tak perlu mengucapkannya keras-keras!" Tegur Richard yang akhirnya melengkungkan sebuah senyuman. Meskipun itu sebenarnya bukan lengkungan dan hanya segariss senyum tipis yang bahkan panjangnya tak sampai ke mata.
Dasar Richard!
"Bagaimana dia akan tersenyum, jika dia saja tidak ada perasaan apapun kepadamu!" Bisik Anneth sinis yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Richard dan Ashley.
Dasar wanita ular!
"Aku tak sabar menyaksikan sandiwara kalian ini terbongkar dan bagaimana kecewanya kedua orang tuamu, Rich!" Sindir Anneth sinis.
"Tidak ada sandiwara disini. Ashley adalah tunanganku sekarang dan kami akan secepatnya menikah setelah ini," ucap Richard tegas menjawab sindiran Anneth.
"Sikapmu pada gadis sewaan ini sudah membuktikannya, Rich! Tak perlu menyangkal begitu!" Ujar Anneth yang benar-benar membuat Richard naik darah sekarang.
"Kau bahkan tak sedikitpun bersikap mesra pada gadis miskin ini seperti yang pernah kau lakukan kepa-" kalimat Anneth terhenti begitu saja saat wanita itu melihat Richard yang tiba-tiba sudah ******* bibir Ashley dengan pagutan yang dalam dan mesra.
Anneth sampai membelalak tak percaya. Pun dengan Ashley yang juga kaget karena Richard yang menciumnya secara tiba-tiba tanpa basa-basi tanpa permisi.
Ah, tapi bibir Richard kenapa dingin begini?
Apa Richard sedang grogi?
Richard terus memagut bibir Ashley dan seolah sedang membantu Richard berakting, Ashley juga mengalungkan kedua lengannya di leher Richard serta membalas pagutan dalam dari pria yang kini berstatus sebagai tunangannya tersebut.
Tunangan sandiwara maksudnya!
"Rich!" Anneth menghentakkan kakinya ke lantai karena marah atau mungkin kesal.
"Itu ciuman kita!" Ucap Anneth lagi menatap penuh kebencian pada Richard dan Ashley yang akhirnya menyelesaikan pagutan mereka.
"Mau berdansa?" Tanya Richard lembut seraya mengulurkan tangannya ke arah Ashley dan seolah mengabaikan keberadaan Anneth disitu.
"Ya!" Jawab Ashley seraya tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Richard. Lampu di ruangan sedikit redup dan ada satu lampu yang menyorot ke arah Ashley dan Richard yang kini sudah berjalake tengah-tengah ruangan. Semua tamu bertepuk tangan, saat Richard mulai meletakkan tangan kirinya di pinggang Ashley,lalu tangan kananya menggenggam tangan Ashley.
Ashley menatap pada pangeran kanebo kering yang malam ini terlihat begitu gagah dalam balutan tuxedo warna hitam.
Ah, tapi Rich memang tampan dan gagah sejak dulu.
Ashley masih tak menyangka, jika Richard bisa juga bersikap seromantis sekarang.
"Nanti selesai acara jangan kemana-mana. Aku mau mengajakmu membahas sesuatu di atas," pesan Richard di sela-sela ia berdansa bersama Ashley.
"Ya!" Jawab Ashley singkat.
****
Juan hanya bisa menatap penuh kecewa, saat Elleanore dan Henry sudah menghilang ke dalam lift dan entah akan menuju ke mana. Juan tahu, Elleanore tadi pasti sedih karena usahanya mendekati Edward selalu saja ditolak oleh asisten Richard itu.
Aneh sekali!
Kalau Juan jadi Edward, Juan pasti akan langsung meyambut Elleanore dengan tangan terbuka.
Sudah sejak lama, Juan berjuang untuk memenangkan hati Elleanore, namun nyatanya gadus itu malah sibuk mengejar-ngejar Edward. Lalu sekarang, saat Elleanore dibuat kecewa oleh Edward,yang muncul sebagai pahlawan juga bukan Juan melainkan malah pria lain bernama Henry itu.
Mungkinkah Elleanore memang tidak pernah ditakdirkan untuk Juan?
"Juan!" Teguran dari Naka langsung membuat lamunan Juan menjadi buyar.
"Eh, iya! Sunny kenapa?" Tanya Juan yang melihat Sunny yang kini sedang digendong oleh Naka.
"Dia mengeluh perutnya sakit dan ingin muntah. Aku masih harus mengurus kue untuk acara," ujar Alsya yang menjawab pertanyaan Juan.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Kau yang menyetir!" Perintah Naka pada sahabatnya tersebut.
"Baiklah! Sejak dulu aku memang selalu menjadi supirmu!" Decak Juan purakesal.
Juan hanya sedang ingin mengalihkan patah hatinya.
"Aku akan menghubungi Omi dan Opinya Sunny agar mereka menyusul ke rumah sakit," Alsya sudah membuka ponselnya.
"Jangan!" Cegah Naka cepat.
"Aku dan Juan yang akan menjaga Sunny nanti. Kau bisa menyusul jika sudah selesai disini. Jangan membuat Omi dan Opinya Sunny khawatir!" Ujar Nak yang langsung membuat Alsya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Papi Juna dan Mami Lily.
"Baiklah! Aku akan secepatnya menyusul ke rumah sakit nanti," ucap Alsya akhirnya seraya mengusap punggung Sunny yang masih berada di gendongan Naka.
"Bye!" Juan ikut-ikutan melambaikan tangan pada Mama kandung Alsya tersebut dan segera mengekor langkah Naka.
"Alsya! Sunny kenapa?" Tanya Mom Fe yang sudah menghampiri Alsya yang masih terlihat cemas.
"Perutnya tiba-tiba sakit dan tadi sempat muntah satu kali. Jadi Naka berinisiatif membawanya ke rumah sakit," jelas Alsya pada Mom Fe.
"Alsya masih harus mengurus beberapa hal disini, jadi nanti Alsya akan menyusul ke rumah sakit setelah semuanya selesai," sambung Alsya lagi.
"Naka pasti akan menjaga Sunny dan Sunny pasti akan baik-baiksaja," Ucap Mom Fe menenangkan Alsya.
"Iya, Aunty!"
****
"Wajahmu terlihat murung! Kau sedang ada masalah?" Tanya Naka penuh selidik saat ia dan Juan menunggu Sunny yang sudah selesai ditangani oleh dokter. Gadis itu sudah tidur dan hanya perlu diinfus karena sedikit lemas. Kata dokter Sunny hanya salah makan.
"Sepertinya aku menyerah saja, Ka!" Jawab Juan tanpa semangat.
"Menyerah untuk?" Naka mengernyit bingung.
"Untuk mendapatkan cinta Elleanore! Sainganku terlalu banyak, dan Elleanore sama sekali tak melirikku," curhat Juan putus asa.
"Dasar lemah!" Naka terkekeh dan menepuk punggung saudaranya tersebut.
"Bukankah ada pepatah, tinggalkan saja jika bertahan hanya membuat sakit hati," ujar Juan sok bijak.
"Bertahan? Kau sudah jadian memang dengan El?" Naka kembali tergelak.
"Bertahan untuk berjuang maksudnya!" Juan mencari alasan, saat suara berisik dari dua orang wanita terdengar dari depan ruang UGD.
"Anak kecil, sepuluh tahun, rambutnya lurus panjang pakai gaun princess!" Naka dan Juan samar-samar mebdengar suara seorang wanita menyebutkan ciri-ciri Sunny.
"Itu Alsya sudah datang?" Tanya Juan yang refleks menyibak tirai dan wanita yang tadi bicara ternyata bukan Alsya melainkan.
"Itu!"
"Sunny!" Wanita yang lebih tua tiba-tiba sudah mendekat ke bed perawatan Sunny dan memeriksa gadis kecil itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sedangkan wanita lain yang lebih muda hanya diam menyaksikan.
"Sunny baik-baik saja, Kak?" Tanya hadus yang lebih muda tadi. Suaranya nyaring dan kecil dan langsung bisa menarik perhatian Juan.
Tapi siapa mereka?
"Maaf, kalian siapa?" Tanya Naka bingung pada wanita yang lebih tua yang wajahnya terlihat judes.
"Kalian itu yang siapa? Kenapa membawa-bawa keponakanku ke UGD tanpa memberitahu keluarganya? Habis kalian apakan Sunny sampai dia tidak sadar diri begini?" Cerocos wanita itu galak.
"Maaf, tapi Sunny sedang tidur dan dia tidak pingsan," Juan mencoba menjelaskan pada si wanita galak.
"Tunggu! Kalau Sunny keponakanmu, apa itu artinya kau aunty-nya Sunny?" Tanya Naka menerka-nerka.
"Ya! Apa masih kurang jelas! Awas!" Wanita itu hendak menggendong Sunny dan membawanya pergi sepertinya.
"Jasmine! Jangan hanya diam dan bantu aku membawa infus Sunny!" Perintah si wanita galak pada si gadis yang ternyata bernama Jasmine tersebut.
"Kau mau membawa Sunny kemana? Dia sedang tidur!" Naka mencegah tindakan barbar si wanita galak tang entah siapa namanya.
"Membawanya pindah dari sini! Aku akan melaporkan kalian berdua pada Uncle Juna dan Aunty Lily!" Ancam wanita itu lagi.
"Ups! Apa itu nama calon mertuamu, Ka?" Juan berbisik usil pada Naka.
"Tunggu-tunggu! Kalian ini siapa sebenarnya?"
Naka masih berdebat dengan wanita galak tadi saat tiba-tiba Alsya sudah masuk ke UGD dan menyela pperdebatan keduanya.
"Sasha! Kau sedang apa disini?"
.
.
.
Sasha adiknya Ethan, anaknya Ghea dan Alvin.
Jasmine adiknya Allegra, anaknya Sean dan Rachel.
Apa hubungan Jasmine sama Sasha?
Apa, ya? 😆😆😆
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.