Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
JATUH CINTA?



Alsya baru saja akan meninggalkan Lily's Cake, saat Naka datang bersama dua wanita.


Siapa mereka?


"Sore!" Sapa Naka seraya mengulas senyum pada Alsya.


"Sore!"


"Kau bersama siapa?" Tanya Alsya sedikit salah tingkah saat tiba-tiba Sunny ikut keluar dari toko dan berteriak girang.


"Om Naka!" Seru Sunny yang langsung memeluk Naka.


"Hai, Sunny! Sudah mau pulang?" Tanya Naka seraya mengusap kepala bocah sepuluh tahun itu.


"Yap!" Jawab Sunny cepat.


"Om Naka mau beli kue?" Tebak Sunny sok tahu. Alsya yang sepertinya tadi ingin melontarkan pertanyaan yang sama, ikut-ikutan menunggu jawaban Naka.


"Mom yang mau membuat orderan,", jelas Naka seraya menatap bergantian ke arah Alsya dan Sunny.


"Oh, jadi ini Mom kamu dan-"


"Adikku yang bungsu!" Naka menjawab pertanyaan Alsya dengan cepat.


"Halo, Alsya!" Mom Fe langsung memeluk Alsya sambil bercipika-cipiki. Elleanore pun melakukan hal yang sama.


"Hai, Sunny! Tos!" Elleanore bersimpuh untuk menyamakan posisinya dengan Sunny, sebelun gadis itu mengajak Sunny melakukan tos.


"Hai, Aunty! Aunty cantik!" Puji Sunny pada Elleanore.


"Sunny juga cantik! Jepit rambutnya bagus," Elleanore balik memuji Sunny serta jepit rambut karakter kuda poni yang dipakai gadis kecil itu.


"Ngomong-ngomong, mari silahkan masuk!" Alsya yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mempersilahkan Naka, Mom Fe, dan Elleanore untuk masuk ke dalam toko. Mereka duduk saling berhadapan di salah satu bangku yang berada di dalam toko kue


"Jadi, sebenarnya ada keperluan apa, hingga keluarga Alexander datang ke Lily's Cake?" Tanya Alsya memulai percakapan dan sedikit berbasa-basi.


"Jadi begini, Alsya!" Mom Fe yang buka suara dan menjawab basa-basi Alsya.


"Akhir pekan ini adalah acara pertunangan abangnya Naka. Lalu secara tak terduga, toko kue yang mengurusi kue untuk acara sedang terkena musibah dan mereka membatalkan orderan kami."


"Jadi, niat kami datang kemari adalah untuk memesan cake untuk acara akhir pekan nanti," jelas Mom Fe panjang lebar.


"Waktunya mepet sekali," jawab Alsya sedikit ragu.


"Itu benar. Tapi kami benar-benar berharap kalau Lily's Cake akan bisa menanganinya. Kami tak keberatan membayar lebih," Mom Fe berusaha membujuk Alsya.


"Apa ada pesanan cake khusus?" Tanya Alsya memastikan.


"Tidak! Semua cake dari Lily's cake rasanya luar biasa dan sangat rekomended. Jadi kami akan pesan variasi yang ada saja," jelas Mom Fe seraya mengulas senyum.


Alsya menghela nafas panjang sebelum akhirnya wanita itu menyanggupi permintaan Mom Fe.


"Baiklah! Kami akan menanganinya."


"Acaranya di mana?" Tanya Alsya selanjutnya.


"Di ballroom hotel." Mom Fe menyebutkan salah satu hotel milik keluarga Alexander.


"Ini undangannya, kau dan Sunny bisa datang ke acara sekalian," ujar Mom Fe lagi seraya menyodorkan undangan pertunangan Richard dan Ashley.


"Kami akan sangat senang jika kau dan Sunny mau datang," Naka ikut-ikutan membujuk Alsya.


"Datang ke mana, Om?" Tanya Sunny menyela.


"Ke acara pesta. Sunny nanti datang bersama Mama, ya!" Bukan Naka,melainkan Elleanore yang sejak tadi duduk di samping Sunny yang menjawab.


"Pakai gaun princess, ya?" Tanya Sunny antusias.


"Iya! Sunny punya gaun princess?"


"Ada banyak, Aunty!" Jawab Sunny dengan mata berbinar.


"Wah! Aunty pinjam satu, ya, nanti!" Ujar Elleanore yang langsung membuat Sunny tergelak.


"Nggak akan muat! Aunty kan besar!"


Elleanor,Naka, Mom Fe, dan Alsya ikut tertawa dengan celotehan Sunny.


"Nanti kita datang, ya, Ma!" Sunny sudah bangkit berdiri dan menghampiri Alsya.


"Mama lihat dulu ada acara tidak, ya!" Jawab Alsya yang sepertinya sedikit enggan untuk datang.


"Abang!" Elleanore menyenggol pundak Naka yang amsih senyum-senyum sendiri. Tak ada tanggapan dari Naka.


"Abang!" Elleanore menyenggol pundak Naka sekali lagi, dan Mom Fe yang melohat tingkah Elleanore serta Naka yang masih senyum-senyum sendiri hanya geleng-geleng kepala.


Sepertinya Naka sedang terhipnotis oleh kedekatan Sunny dan Alsya.


"Kak Alsya cantik, Bang! Sunny juga cantik. Jangan diliatin terus!" bisik Elleanore akhirnya pada Naka dengan nada sedikit menggoda.


"Ck! Apa, sih!" Naka berdecak dan wajah abang Elleanore bisa-bisanya bersemu merah.


Ya ampun!


Abang Naka benar-benar sedang jatuh cinta!


****


"Kau darimana? Check in dulu bersama jal*ng di atas?" Tanya Henry sinis pada Gika yang baru tiba di ballroom hotel. Padahal acara tukar cincin antara Richard dan Ashley sudah selesai.


"Bukan urusanmu!" Jawab Gika bersungut. Wajah tuan model itu terlihat kusut tak bersemangat.


"Tiff datang? Dia kan sahabat Ashley?" Tanya Gika tiba-tiba pada Henry yang langsung membuat asistennya itu mengulas senyum.


"Baiklah! Tidak jadi! Aku hanya ingin menagih kompensasi, jika gadis macan rrrooaaar itu datang!" Lanjut Gika tetap bersungut.


"Kompensasi apa?" Tanya Henry bingung.


"Kompensasi karena omelan galak gadis macan rrrooaaar itu sudah mengkontaminasi otakku! Aku jadi tak bisa tidur dengan wanita manapun sekarang karena omelan gadis rrrooaaar itu terus saja terngiang di kepalaku!" Cerocos Gika panjang lebar mrnjelaskan pada Henry yang justru tergelak.


"Bagus sekali!"


"Aku akan menyuruh Tiffany mengomelimu lagi kalau begitu agar kau tak perlu lagi tidur dengan para jal*ng itu lagi," ujar Henry yang masih tergelak.


"Sialan!" Gika mendorong pundak Henry hingga asistennya itu sedikit terdorong mundur dan tak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, Tuan-" suara Henry tercekat di tenggorokan saat melihat pria tua yang kini berdiri di hadapannya. Pria yang hampir seluruh rambutnya sudah memutih itu juga sepertinya ikut kaget saat melihat Henry.


"Tuan Bowles! Anda datang juga?" Sapa Henry akhir berbasa-basi pada Opa dari Tiffany dan Stefy tersebut.


"Ashley mengundangku, jadi aku datang sekalian mewakili Tiffany yang tidak bisa datang," jelas Tuan Bowles.


"Syukurlah, jika Tiff akhirnya mau pulang, Tuan Bowles. Bagaimana kondisi Tiff sekarang?" Tanya Henry selanjutnya pada Tuan Bowles.


"Tiff sementara masih menjalani terapi pemulihan." Tuan Bowles menatap lekat wajah Henry dan pria tua itu diam untuk beberapa saat.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Henry! Kepergian Stefy bukan sepenuhnya salahmu," pungkas Tuan Bowles sebelum kemudian Opa dari Tiffany itu berlalu pergi. Henry hanya terdiam dan sedaberusaha mencerna kata-kata Tuan Bowles, saat tepukan dari Gika menyentak lamunan Henry.


"Tadi itu, opanya gadis macan rrrooaaar?" Tanya Gika kepo.


"Ya, namanya Tuan Bowles," jawab Henry.


"Kau terlihat akrab dengannya. Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan gadis macan rrrooaaar itu di masa lalu?" Tanya Gika lagi ganti menyelidik.


"Tidak ada! Kami hanya teman," jawab Henry cepat.


"Yakin hanya teman? Jangan-jangan kau pernah pacaran dengan gadis macan rrrooaaar itu!" Gika bersedekap dan menampilkan raut wajah kesal.


"Apa kau sedang cemburu sekarang?" Pertanyaan disertai kejehan dari Henry langsung membuat Gika salah tingkah mendadak.


"Tidak mungkin!"


"Untuk apa aku cemburu?"


"Kau pikir aku menyukai gadis macan rrrooaaar itu?"


"Mustahil! Mustahil!" Cerocos Gika seraya bersedekap dan bersungut-sungut. Henry masih terkekeh dan Gika akhirnya pergi meninggalkan Henry untuk selanjutnya menuju ke meja prasmanan. Namun tanpa Gika duga, ia malah bertemu Tuan Bowles di meja prasmanan.


Sial!


Haruskan Gika bertanya sekarang dimana Tiffany disembunyikan oleh opanya yang kaya ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.