Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
JANJI NAKA



"Richard Deano Alexander." Uncle Alvin membaca nama calon pengantin yang tertera di undangan yang baru saja diberikan oleh Naka.


Tadinya Naka tak berniat mengundang keluarga Attala dan keluarga Sanjaya sekalian. Tapi berhubung Naka diajak kumpul bersama mereka dan kebetulan Naka membawa undangan pernikahan Abang Richard, jadi sekalian saja Naka pura-pura memberikan undangan itu pada keluarga Attala dan Keluarga Sanjaya.


Semoga Mom Fe dan Dad Dean tidak mengamuk dengan keputusan Naka ini!


Anggap saja mereka semua ini keluarga Naka.


Calon keluarga maksudnya!


Aamiin!


"Ini abang kamu?" Tanya Uncle Alvin setelah selesai membaca undangan pernikahan Abang Richard.


"Iya kebetulan itu abang sulung saya, Uncle!" Jawan Naka seraya tersenyum.


"Kau berapa bersaudara, Naka?" Sekarang gantian Aunty Ghea yang bertanya. Yang ini mantannya Dad Dean setahu Naka. Kira-kira apa yang terjadi saat Aunty Ghea bertemu Mom Fe? Paling juga cuma mengobrol biasa. Masa iya mau cakar-cakaran seperti Gika dan Tiffany!


"Empat, Aunty!"


"Wow!" Aunty Ghea langsung berdecak kagum.


"Untung bukan kamu istrinya Dean, Ghe! Capek itu mbrojolin empat anak," gumam Uncle Alvin yang langsung membuat semua orang tertawa.


"Apa, sih! Cuma masa lalu!" Delik Aunty Ghea pada Uncle Alvin.


"Kau tidak produksi lagi, Vin? Sasha masih bisa sepertinya kalau punya adik," papi Juna mengompori.


"Ini sedang proses! Besok kami mau honeymoon ke Maratua agar cepat jadi," jawab Uncle Alvin pamer yang langsung berhadiah pukulan di bahu dari Aunty Ghea. Wanita paruh baya itu lanjut berdiri dan meninggalkan Uncle Alvin sambil bersungut-sungut.


"Naka! Ada tiket gratis ke Maratua, kan?" Uncle Alvin ganti bertanya pada Naka yang langsung terkekeh.


"Bisa diatur kalau itu, Uncle!" Jawab Naka santai.


"Harus ada! Atau aku tak akan mendukung hubunganmu dengan Alsya!" Uncle Alvin menuding dan mengancam Naka.


"Kau siapa memangnya? Alsya putriku, kenapa jadi kau yang minta sogokan ke Naka?" Sergah Papi Juna bersungut pada Uncle Alvin. Dan semuanya kembali tergelak, saat tiba-tiba maid menghampiri Naka.


"Maaf, Pak Naka ada yang mencari di depan. Katanya namanya Juan dan sejak tadi menunggu Pak Naka."


"Astaga!" Naka langsung menepuk keningnya sendiri karena melupakan Juan yang sejak tadi menunggunya di mobil. Mungkin sahabat Naka itu sudah jamuran sekarang.


"Juan siapa, Naka? Kenapa tidak kamu ajak masuk?" Tanya Mami Lily pada Naka.


"Iya, Aunty! Naka lupa tadi! Naka panggil dia dulu," pamit Naka seraya bergegas ke depan untuk menemui Juan.


Dan benar saja. Sahabat Naka itu wajahnya sudah terlihat sepet karena terlalu lama Naka tinggalkan.


"Bagus sekali, Naka! Giliran sudah akrab saja dengan keluarga Alsya, aku dilupakan!" Cecar Juan bersungut-sungut pada Naka.


"Iya, sorry! Aku tadi benar-benar lupa! Ayo masuk!" Naka merangkul Juan dan mengajak pria itu masuk ke dalam.


"Jasmine di dalam?" Tanya Juan tak sabar.


"Ada! Tapi dia bersama seorang pria."


Wajah Juan langsung murung seketika.


"Aku akan pulang saja kalau begitu!"


"Ck! Aku belum selesai bicara. Pria itu abangnya!" Ujar Naka lagi yang membuat Juan tak jadi merengut.


Dua sahabat itu lanjut ke halaman belakang kediaman Sanjaya lalu berbaur dan menikmati acara malam ini.


****


Naka merapatkan selimut Sunny hingga ke dada, lalu mencium kening gadis sepuluh tahun tersebut. Sunny sudah terlelap saat mengajak Naka bercerita tadi karena sepertinya gadis itu capek bermain.


"Terima kasih," ucap Alsya setelah Naka keluar dari kamar Sunny dan mematikan lampu.


"Untuk?"


"Untuk semuanya yang sudah kau lakukan hari ini," jawab Alsya seraya menundukkan wajahnya.


"Sama-sama! Bermain bersama Sunny selalu menyenangkan dan membuat waktu berjalan dengan begitu cepat," ujar Naka yang lagi-lagi mengulas senyuman hangat karena sepertinya pria itu murah senyum.


"Aku baru ingat kalau wajahmu mirip seorang model majalah remaja-"


"Gika De Chio?" Tebak Naka cepat yang langsung membuat Alsya mengangkat wajahnya dan menatap pada Naka.


"Bukan!" Jawab Naka cepat seraya menggelengkan kepalanya.


"Itu saudara kembarku. Dia memang model terkenal namanya Gika," jelas Naka yang langsung membuat Alsya sedikit terkejut.


"Jadi kau punya saudara kembar?"


"Iya! Kami hanya selisih lima menit dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan siapa yang abang dan siapa yang adik di antara kami," jawab Naka seraya terkekeh.


"Mau minum kopi dulu?" Tawar Alsya selanjutnya saat ia dan Naka sudah sampai di bawah tangga di dalam kediaman Attala. Rumah memang masih sepi karena semuanya masih berada di rumah Uncle Alvin. Tadinya Sunny diminta tidur di kamar Lena dan Rena saja di rumah Uncle Alvin, tapi gadis itu menolak dan ingin tidur di kamarnya sendiri.


"Boleh, jika kau yang membuatkan," jawab Naka yang langsung membuat Alsya sedikit tersipu.


"Sekalian aku mau membahas kue pesananmu tadi untuk pernikahan abangmu," Alsya memberikan alasan dan Naka kembali ingat kalau ia tadi juga memesan kue pernikahan sebagai bentuk basa-basi ke keluarga Attala.


Tak apa sebagai pedekate!


Nanti Naka tinggal bilang ke Mom kalau kue Abang Richard dan Kak Ashley sudah Naka pesankan.


"Baiklah!" Jawab Naka akhirnya seraya mengikuti Alsya menuju ke dapur di rumah keluarga Attala. Naka langsung duduk di kursi tinggi yang ada di minibar di samping dapur. Sementara Alsya masih sibuk menyeduh kopi untuk dirinya sendiri dan juga Naka.


"Silahkan!" Alsya menyajikan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap ke hadapan Naka.


"Aromanya harum!" Puji Naka yang langsung menyeruput kopi buatan Alsya.


"Dan rasanya seenak aromanya," sambung Naka memuji sekali lagi.


"Itu kopi favorit Papi," ungkap Alsya yang ikut menyesap kopi di cangkirnya. Suasana hening untuk beberapa saat.


"Ngomong-ngomong, kau tahu apa saja tentang masalaluku?" Tanya Alsya yang akhirnya buka suara.


"Tak banyak! Aku hanya tahu kalau papanya Sunny bernama Ericko. Ditangkap dan dipenjara beberapa tahun silam karena jadi bandar narkoba dan memperkosa gadis di bawah umur."


"Menikah dengannya adalah keputusan terbodoh yang pernah aku ambil dalam hidupku. Andai aku mendengarkan papi waktu itu," tatapan mata Alsya terlihat menerawang.


"Tidak ada yang namanya keputusan bodoh, Alsya!" Naka sudah menggenggam tangan Alsya sekarang.


"Selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi pada hidup kita."


"Jika kau tidak menikah dengan Ericko, maka tidak akan ada Sunny. Dan jika tidak ada Sunny, mungkin kita berdua juga tak akan pernah bertemu," lanjut Naka yang tatapan matanya sudah tertuju ke dalam manik mata Alsya. Dua insan itu salong menatap dalam diam seolah sedang berusaha merangkai kata.


"Soal kabar kematian Ericko itu, apa benar? Atau hanya gosip belaka?" Tanya Naka selanjutnya pada Alsya.


"Erick terlibat perkelahian antara sesama napi, lalu ia tertusuk besi tajam yang dibawa seorang napi dan nyawanya tak tertolong. Itu kabar terakhir yang aku dengar."


"Sunny tak pernah menanyakan tentang Ericko sejak aku dan dia resmi bercerai. Mungkin Sunny juga sudah tahu tentang tabiat papanya atau mungkin Sunny sudah terlalu fokus pada Rumi, Ethan dan Papi yang selalu berusaha menjadi sosok papa untuk Sunny. Meskipun sebenarnya itu tak pernah cukup," cerita Alsya panjang lebar.


"Tapi aku benar-benar bersyukur karena masih banyak yang peduli pada aku dan Sunny setelah semua hal berat yang kami lalui," imbuh Alsya lagi seraya tersenyum tipis.


"Tapi Sunny tetap butuh sosok seorang papa, Sya!" Pendapat Naka yang kembali membuat Alsya menatap ke dalam manik mata Naka.


"Kau tahu sendiri dia hanya dekat dengan satu orang sekarang, bahkan sampai kadang Sunny lupa pada aku yang merupakan ibunya saat ia sedang bersama pria itu," ujar Alsya yang langsung membuat Naka tertawa kecil.


"Jadi," Naka menatap lekat wajah Alsya.


"Jadi apa kau akan menyakiti aku dan Sunny ke depannya seperti yang pernah dilakukan Ericko?" Tanya Alsya dengan nada tegas seolah memberitahu Naka bahwa trauma di hatinya masih ada.


"Aku tidak akan pernah melakukannya," ucap Naka bersungguh-sungguh.


"Kau akan menuntut sesuatu yang menjadi kekuranganku suatu hari nanti?" Tanya Alsya lagi memastikan.


"Aku menerimamu apa adanya. Aku juga menerima Sunny serta keluarga besarmu. Aku akan memberikan kasih sayang berlimpah untuk Sunny dan untukmu." Naka berucap dengan sungguh-sungguh dan tak ada sedikitpun rasa gentar pada diri pemida itu. Alsya benar-benar sampai berlinang airmata melihat kesungguhan Naka yang bahkan usianya sepuluh tahun lebih muda ketimbang dirinya. Namun kedewasaan Naka sepertinya memang tak perlu lagi diragukan.


"Kapan kau akan melamarku?" Tanya Alsya akhir memberikan kode pada Naka yang langsung membuat Naka memeluk erat Alsya yang kini menangis bahagia.


"Secepatnya setelah pernikahan Abang Richard!"


.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.