Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
TUAN KANEBO KERING



"Mau kemana?" Tanya Tiffany saat gadis itu masuk ke kamar dan mendapati Ashley yang sedang memoleskan make up ke wajahnya. Meskipun Ashley pecicilan, tapi gadis itu mahir berdandan dan tidak tomboy seperti Tiffany.


"Menjadi  tunangan sewaan!" Jawab Ashley sebelum lanjut memoleskan lipstik warna pink ke bibirnya.


"Menor!" Komentar Tiffany.


"Nggaklah! Warna pink-nya kan soft. Kamu aja yang nggak paham dunia per-make-up-an!" Cibir Ashley pada Tiffany.


Tiffany tak menyahut dan lanjut memeriksa gaun yang akan Ashley pakai yang masih teronggok di atas tempat tidur.


"Dari butik." Tiffany bersiul.


"Nanti buat kamu gaunnya kalau udah selesai kupakai," ujar Ashley santai.


"Buat  apa? Mau menyuruhku jadi ondel-ondel?" Decak Tiffany yang langsung membuat Ashley tergelak.


"Tiff! Kamu itu cantik  kalau mau aku poles pakai make-up dikit dan tidak tomboy begitu!" Tutur Ashley yang langsung membuat Tiffany mencibir.


"Kau sedang merayuku?"


"Hei! Aku gadis normal yang hanya tertarik pada kaum pria!"


"Masa iya goa ketemu goa! Apa enaknya coba?" Gerutu Ashley yang langsung membuat Tiffany tertawa.


"Tapi bukankah katamu, kau sudah disewa secara eksklusif oleh seorang tuan direktur?" Tanya Tiffany menyelidik. Gadis itu sudah duduk di tepi tempat tidur dan memangku gaun Ashley, lalu memeriksa setiap detailnya.


"Iya ini aku akan menjadi calon tunangan tuan direktur dan bertemu orang tuanya," jawab Ashley menjelaskan.


"Trus nanti tunangan beneran?"


"Nggaklah! Kan cuma pura-pura!" Sergah Ashley cepat.


"Trus kalau orang tua tuan direktur minta kalian menikah apa kalian juga akan menikah pura-pura? Trus nanti malam pertamanya juga pura-pura? Hamilnya pura-pura? Punya anaknya juga pura-pura?" Cerocos Tiffany panjang lebar yang langsung membuat Ashley terdiam.


Kenapa Ashley tak berpikir sejauh itu?


Selama ini Ashley memang menjadi pacar sewaan untuk beberapa pria. Tapi itu hanya pacar sewaan yang dibawa ke acara reuni atau acara kumpul-kumpul. Belum pernah yang sampai membawa Ashley bertemu orang tuanya seperti yang dilakukan Richard.


"Tuan direktur kan maho! Jadi nanti misalnya kami menikah pura-pura tak akan ada malam pertama, kedua, dan seterusnya! Aku juga tak akan hamil apalagi sampai punya anak!" Jawab Ashley akhirnya penuh keyakinan.


"Yakin tuan direktur itu maho?" Tiffany bertanya dengan raut wajah penuh selidik.


"Sudahlah! Aku yakin hubunganku dengan Richard tidak akan sejauh itu! Aku profesional!" Tegas Ashley akhirnya seraya mengambil gaunnya deri pangkuan Tiffany.


"Ashley membuka bathrobe-nya dan langsung memakai gaun itu di depan Tiffany.


"Lepaskan bra-mu!" Ucap Tiffany seraya mengendikkan dagunya ke dada Ashley yang masih terbungkus bra.


"Apa? Talinya bening, tak akan kelihatan. Nanti aku juga akan memakai blazer," jawab Ashley yang masih lanjut memakai gaunnya.


"Ck! Gaunmu ini sudah ada cup bra-nya di dalam! Jadi tidak usah pakai bra lagi!" Tiffany melepaskan bra Ashley dengan barbar.


"Hey! Kau mau apa? Memperkosaku?"


"Aku gadis normal sama sepertimu!" Decak Tiffany seraya membantu Ashley mengenakan gaun mahalnya. Tiffany juga melempar bra Ashley serampangan, lalu sekalian menaikkan ritsleting gaun yang dikenakan Ashley.


"Sedikit geli," kikik Ashley setelah gaunnya terpasang dengan sangat pas di tubuh semampainya.


"Mana blazernya?" Tanya Tiffany selanjutnya.


"Ini!" Ashley mengangsurkan sebuah blazer crop top dengan lengan puff yang senada dengan gaun yang ia kenakan pada Tiffany.


"Sudah!" Ucap Tiffany yang sudah selesai membantu Ashley bersiap.


"Maksudmu?"


"Kau tahu bagian-bagian gaun dan mengerti fashion! Gadis tomboy biasanya tak mengurusi hal-hal semacam itu," Cerocos Ashley panjang lebat bersamaan dengan seorang anak panti yang masuk ke kamar Ashley.


"Kak Ashley! Ada yang mencari di luar," lapor anak panti tersebut.


"Tuan direktur sudah datang! Silahkan pergi dan berhentilah bercerocos!" Ucap Tiffany seraya mendorong Ashley keluar kamar.


"Kau tidak ingin melihat tuan direktur kaya, Tiff?"


"Maaf! Aku tak tertarik dan aku akan tidur di kamar saja!" Tiffany sudah melompat ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya dengan kaki dan tangan yang membuka lebar.


"Baiklah, terserah!" Gumam Ashley seraya mengendikkan bahu. Ashley keluar dari  kamar dan langsung menuju ke teras untuk menemui Richard yang sudah menjemputnya.


Richard mengenakan kemeja motif garis-garis sore  ini yang warnanya senada dengan gaun Ashley.


Aneh!


Kenapa bisa kebetulan begini?


"Apa kita tadi janjian memakai baju yang sama?" Celetuk Ashley seraya terkekeh, namun Richard tak sedikitpun tersenyum apalagi tertawa. Pria itu hanya memindai penampilan Ashley dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Ck! Dasar kanebo kering!


"Ada yang kurang atau terlihat aneh?" Tanya Ashley khawatir. Richard hanya membalas dengan gelengan dan pria itu langsung berjalan menuju ke arah mobilnya lalu membukakan pintu  untuk Ashley.


"Terima kasih, Rich!" Ucap Ashley yang tak dijawab sedikitpun oleh Richard. Pria itu langsung menutup pintu, mengitari mobil lalu masuk ke kursi pengemudi.


"Kenapa tidak bawa sopir? Biasanya tuan direktur selalu membawa sopir dan lusinan bodyguard," celetuk Ashley lagi saat Richard baru menyalakan mesin mobil.


"Aku tidak termasuk!" Jawab Richard masih tanpa ekspresi.


Ck! Kaku sekali pria ini!


"Aku harus bilang umurku berapa dan pekerjaanku apa saat bertemu orang tuamu nanti?" Tanya Ashley lagi seraya membuka notes di ponselnya.


"Mahasiswi, dua puluh satu tahun!" Jawab Richard tanpa basa-basi sedikitpun.


"Itu kan memang profil diriku! Ck!" Ashley berdecak dan tak jadi mengetik di ponselnya.


"Lalu, aku putri pengusaha pertambangan atau kelapa sawit?" Tanya Ashley selanjutnya.


Richard menghentikan mobilnya sebelum menjawab karena lampu lalu lintas sedang  merah.


"Kau, gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan!" Jawab Richard seraya menatap tegas pada Ashley.


"Jadi maksudmu aku harus memperkenalkan jati diriku yang sesungguhnya pada orang tuamu dan tak perlu menyamar?" Cecar  Ashley memastikan.


"Ya!" Jawab Richard singkat seraya menatap lurus ke depan.


"Cerdik juga idemu! Orang tuamu akan langsung menendangku keluar dari istananya," gumam Ashley seraya terkekeh. Richard tak menyahut dan lanjut menjalankan mobilnya setelah lampu berubah hijau.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.