Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
AKU MAU



Elleanore diam untuk beberapa saat setelah mendengar jawaban Edward. Seperti gadis itu antara kaget dan tercengang karena Edward yang seirabg kanebo kering, ternyata bisa juga menggombal seperti pria bucin di luaran sana.


Atau Elleanore hanya salah dengar barusan tadi?


"Kau barusan bilang apa?" Elleanore yangasih setengah percaya akhirnya bertanya lagi pada Edward.


"Yang mana?" Edward terlihat bingung.


"Baiklah! Lupakan saja!" Elleanore membuang nafas kasar dan tak ingin bertanya lagi. Ternyata Edward masih kaku.


Elleanore sudah selesai mengompres kaki Edward, dan gadis itu bangkit dari duduknya.


"Kau jadinya tak mau pulang dan mau tetap disini, Tuan keras kepala?" Tanya Elleanore memastikan sebelum gadis itu meninggalkan Edward.


"Aku akan pulang jika kau ikut pulang," jawab Edward mengajukan syarat.


"Sudah aku bilang, kalau aku belum akan pulang dalam waktu dekat!"


"Aku masih ingin jadu relawan disini!" Tegas Elleanore yang langsung membuat Edward mengangguk.


"Aku juga akan tetap disini kalau begitu," tukas Edward yang hanya membuat Elleanore memutar bola matanya malas.


"Tapi, El!" Sergah Edward lagi tiba-tiba pada Elleanore yang sudah mengayunkan langkahnya dan hampir pergi.


"Ada apa lagi?" Tanya Elleanore tanpa menoleh pada Edward


"Tidak bisakah kita pulang barang sehari saja-"


"Sudah kubilang kalau aku belum akan pulang dan aku masih ingin jadi relawan disini!" Sergah Elleanore memotong kalimat Edward yang belum selesai dan nada bicara gadis itu terdengar berapi-api.


Edward menarik nafas panjang dan melanjutkan kalimatnya yang tadi dipotong Elleanore.


"Maksudku, kita pulang sehari saja untuk menikah, lalu setelah itu kita bisa kembali lagi kesini dan aku tetap akan menemanimu," ujar Edward panjang lebaran yang langsung membuat Elleanore membelalakkan kedua matanya.


"Me-ni-kah?" "Tanya Elleanore tergagap dan Edward langsung mengangguk yakin.


"Menikahlah denganku, Elleanore Queen Alexander!" Ucap Edward lagi penuh kesungguhan pada Elleanore yang kini mematung dan membisu.


Cukup lama Elleanore diam membisu, sebelum kemudian gadis itu berbalik pergi dan meninggalkan Edward tanoa jawaban apapun.


Edward memejamkan kedua matanya penuh rasa kecewa, karena lagi-lagi dirinya harus merasakan sebuah penolakan. Padahal Edward serius dan sungguh-sungguh ingin menikahi Elleanore karena Edward sudah jatuh cinta pada gadis itu.


Cinta selalu menyakitkan, Ed!


Seharusnya kau belajar dari masa lalu!


****


Elleanore duduk termenung sambil sesekali memperhatikan anak-anak yang asyik bermain kejar-kejaran di area kamp pengungsian.


"Menikahlah denganku, Elleanore Queen Alexander!" Kata-kata Edward kembali terngiang di benak Elleanore.


"Berikan kesempatan untuk Edward, El!"


"Biarkan Edward berjuang lalu kau akan melihat ketulusan cinta darinya." Sekarang gantian kata-kata Henry yang menari-nari di kepala Elleanore.


"El, kau sedang apa?"


"Edward? Kau mengikutiku?" .


"Aku hanya khawatir,"


"Biarkan Edward berjuang lalu kau akan melihat ketulusan cinta dari seorang Edward."


"Sebuah ketulusan cinta!"


"Edward sudah berubah, Elleanore!"


"Edward benar-benar sudah berubah dan ia mencintaimu!"


Elleanore bangkit berdiri dengan cepat, lalu kembali ke tenda untuk menemui Edward.


"Ed, aku sudah punya jaw-" Elleanore tak jadi menyelesaikan kalimatnya karena ternyata Edward tak berada di dalam tenda dan sepertinya sudah pergi.


Tapi Edward pergi kemana?


Bukankah kakinya masih cedera?


"Edward!" Elleanore memeriksa satu per satu tenda pengungsian untuk mencari keberadaan Edward yang entah dimana. Beberapa pengungsi serta anak-anak yang berpapasan dengan Elleanore, tak luput Elleanore tanyai demi tahu Edward ada dimana.


"Zizi! Kau lihat Abang Edward?" Tanya Elleanore pada Zizi yang baru keluar dari tenda anak-anak. Raut wajah gadis kecil itu terlihat murung.


"Abang Ed menitipkan ini untuk Kak El!" Zizi mengangsurkan sebuah kertas pada Elleanore yang tampak bertanya-tanya.


Kertas apa ini?


Elleanore membuka kertas tadi dengan cepat, lalu membaca kata demi kata yang tertulis di atasnya.


Aku pikir, aku masih punya kesempatan sejak kebodohan yang pernah aku lakukan terhadapmu waktu itu. Kebodohan karena sudah meninggalkanmu sendiri tanpa pamit. Kebodohan karena sudah mengabaikan dirimu yang begitu perhatian. Kebodohan demi kebodohan yang kini membuat aku kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki cintamu.


Aku mencintaimu, El!


Aku sungguh-sungguh mencintaimu meskipun kini kau membenciku.


Terima kasih karena sudah membuatku jatuh cinta dan merasakan perasaan aneh itu. Meskipun pada akhirnya aku hanya akan menjadi penonton saat kau melangkah ke pelaminan bersama pria lain yang seribu kali lebih baik dariku kelak. Tapi aku bahagia.


Dan aku akan tetap menyimpan perasaan ini untuk selamanya.


Aku mencintaimu, Elleanore!


"Abang Edward pergi membawa ranselnya dan berpamitan pada kami semua."


"Katanya, Abang Edward mau pulang dan mungkin tak akan kembali kesini, Kak El!" Lapor Zizi panjang lebar, yang langsung membuat Elleanore menggeleng-gelengkan kepalanya.


Elleanore berbalik dengan cepat, dan langsung berlari menuju ke terminal darurat, demi mencegah Edward pergi.


"Edward!" Panggil Elleanore pada Edward yang sudah bersiap naik ke dalam bus.


"Edward, jangan pergi!" Teriak Elleanore masih sambil berlari untuk menghampiri Edward yang kini mematung bingung.


"Edward!" Elleanore langsung menghambur ke dalam pelukan Edward yang akhirnya tak jadi naik bus.


"Edward, aku mau!" Ucap Elleanore di sela nafasnya yang masih terengah.


Edward langsung mengerutkan kedua alisnya karena bingung dengan kalimat Elleanore.


Mau?


Mau apa?


"Mau apa?" Tanya Edward bingung dan Elleanore langsung mengangkat kepalanya dari pelukan Edward.


"Aku mau menikah denganmu," jawab Elleanore seraya menatap penuh kesungguhan ke dalam netra Edward. Kedua bola mata Edward langsung membulat sempurna.


"Kau-"


"Ya, aku mau menikah denganmu karena aku juga mencintaimu," ujar Elleanore panjang lebar seraya menundukkan wajahnya yang kini sudah bersemu merah. Edwar tiba-tiba sudah menekuk satu kakinya dan pria itu hendak berlutut, meskipun harus sedikit meringis. Edward menggenggam satu tangan Elleanore, lalu menarik nafas panjang sebelum mulai berucap,


"Elleanore Queen Alexander, maukah lau menikah denganku?"


Elleanore mengangguk-angguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena bahagia.


"Ya, aku mau!" Jawab Elleanore lantang dan tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari para pengungsi yang ternyata sudah berkerumun untuk menyaksikan acara lamaran Edward pada Elleanore.


"Aku mau menikah denganmu, Ed!" Ulang Elleanore lagi yang sudah ikut duduk, llau menghambur ke dalam pelukan Edward yang langsung mendekapnya dengan erat.


"Aku mencintaimu!"


.


.


.


Mohon maaf lahir dan batin, ya, Guys!


Othor mabuk rendang sama coto. Jam segini baru update bab baru 😌😌


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.