Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KAU KENAPA?



"Bang Gika! Lihat Abang Henry, nggak?" Tanya Hendy pada Gika yang masih sibuk dada dada ke arah Tiffany dan opa Bowles.


"Enggak! Memang abangmu kemana? Coba tanya ke El!" Jawab Gika memberikan saran.


"Kak El dimana memang?" Tanya Hendy lagi.


"Mana aku tahu?" Gika mengendikkan kedua bahunya.


"Ada apa, Gika?" Tanya Mom Fe yang malam ini terlihat anggun dalam balutan gaun warna pink lembut senada dengan yang dikenakan oleh Elleanore.


"Ada yang kehilangan Abangnya, Mom!" Lapor Gika seraya menunjuk pada Hendy.


"Aunty lihat Abang Henry?" Hendy ganti bertanya pada Mom Fe sebelum kemudian bocah itu menguap.


"Hendy sudah ngantuk, ya?" Tanya Mom Fe dan Hendy langsung mengangguk.


"Kamu bawa ke kamar atas dulu, Gika! Mom akan mencari Henry. Tadi sepertinya bersama Elleanore," titah Mom Fe pada Gika.


"Hmmmm mencurigakan! Apa Henry sudah resmi berpacaran dengan El sekarang?" Tanya Gika penuh selidik seraya tertawa kecil.


"Sudah, sana!" Perintah Mom Fe sekali lagi pada Gika.


"Iya, Mom! Iya!" Jawab Gika yang sebenarnya sedikit malas. Tapi Mom Fe akan mengomel jika Gika menolak untuk mengantar Hendy ke atas. Acara pernikahan Richard dan Ashley memang digelar di salah satu hotel milik keluarga Alexander. Jadi kalau ada yang mengantuk atau merasa lelah ya tinggal ke atas untuk istirahat di salah satu kamar hotel yang ada.


"Ayo, Hendy! Nanti Abang Henry menyusul," ajak Gika selanjutnya seraya merangkul Hendy yang tingginya sudah sepundak Gika. Padahal usianya baru dua belas tahun. Tinggi juga adik Henry ini.


Gika dan Hendy baru saja akan masuk ke lift saat mereka bertemu dengan Sunny serta Naka yang sepertinya juga akan masuk ke dalam lift.


"Kamu lagi!" Decak Sunny sedikit sinis pada Hendy.


"Maaf soal tadi, Sunny!" Ucap Hendy dengan nada menyesal.


"Ada apa ini? Apa ada perang dingin atau semacamnya?" Tanya Gika kepo.


"Hendy tak sengaja menumpahkan minuman di gaun Sunny tadi. Tahu sendiri akhirnya bagaimana," cerita Naka menceritakan kronologinya. Mereka berempat sudah masuk ke dalam lift sekarang.


"Hei, Sunny! Benci dan cinta itu bedanya tipis, lho! Jangan sampai sekarang kamu benci pada Hendy lalu besok tiba-tiba jadi bucin," kekeh Gika yang langsung berhadiah senggolan dari Naka.


"Mereka masih kecil, Gika! Jangan mengajari aneh-aneh!" Tegur Naka galak pada Gika.


"Apa? Aku hanya memberitahu Sunny!" Sergah Gika mencari pembenaran.


"Ngomong-ngomong, kau mau membawa putrimu kemana?" Gika mengalihkan pembicaraan.


"Ke atas karena Sunny mengantuk," jawab Naka.


"Oh, sama! Hendy juga katanya mengantuk. Tahu begitu tadi Hendy aku titipkan saja ke kamu," gumam Gika yang kembali merangkul Hendy.


"Sunny tak akan tidur sekamar dengan cowok nyebelin ini kan, Pa?" Tanya Sunny pada Naka.


"Tentu tidak, Sunny! Kalian akan istirahat di kamar yang berbeda-"


"Tapi bersebelahan!" Celetuk Gika menyela kalimat Naka dan sedikit menggoda Sunny.


"Papa!" Adu Sunny pada Naka.


"Gika jangan usil!" Tegur Naka sok galak pada saudara kembarnya yang memang usil tersebut.


"Iya, Papa Naka! Gika nggak akan usil lagi," jawab Gika yang berbicara dengan suara kecil khas anak-anak. Dasar Gika lebay!


****


Elleanore naik ke rooftop hotel, menyusul Henry yang sudah terlebih dahulu pergi ke sana. Elleanore bahkan sudah hafal tempat favorit Henry ini.


"Hanya sedang memikirkan seseorang," jawab Henry tanpa mengalihkan pandangannya ke arah langit malam


"Pacar kamu?" Tanya Elleanore yang hanya dijawab Henry dengan kebisuan.


"Kau tak pernah menceritakannya kepadaku," ujar Elleanore lagi.


"Dia sudah tak ada di dunia ini," jawab Henry yang langsung membuat Elleanore tersentak kaget. Elleanore bahkan belum tahu tentang pacar Henry tersebut tapi ternyata dia sudah pergi untuk selamanya.


"Aku turut berduka," Elleanore menggamit lengan Henry lalh menyandarkan kepalanya di pundak Henry seperti yang tadi ia lakukan di ballroom hotel.


"Kau sendiri sedang apa disini, El?" Tanya Henry yang akhirnya berhenti menatap langit malam.


"Menemanimu. Barangkali kau butuh teman berbagi cerita," jawab Elleanore tanpa mengubah posisinya.


"Udaranya dingin dan bajumu terbuka. Kau bisa masuk angin nanti," Henry memakaikan jasnya yang sedari tadi ia pangku ke tubuh Elleanore.


"Sudah berapa lama ia pergi?" Tanya Elleanore merujuk ke mendiang pacar Henry.


"Satu tahun."


"Kau sangat mencintainya?" Tebak Elleanore lagi. Henry tak langsung menjawab dan pria itu mengulas senyuman kecut.


"Aku yang sudah membuatnya pergi untuk selamanya." Suara Henry tercekat di tenggorokan.


"Tapi kenapa?" Tanya Elleanore bingung.


"Aku menolak untuk menikahinya dan meminta dia menerima perjodohan yang sudah direncanakan oleh opanya." Henry kembali menerawang ke hitamnya langit malam.


"Kenapa kau melakukan itu? Kau tidak mencintainya?" Cecar Elleanore menatap tak mengerti pada Henry.


"Aku hanya tidak ingin menyakitinya," jawab Henry singkat seraya menatap Elleanore. Tangan Henry terulur untuk meraih satu rambut Elleanore yang lolos tertiup angin, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.


"Kau mengatakan hal yang sama kepadalu tadi, Henry! Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Tanya Elleanore bingung. Tapi Henry hanya bungkam.


"Henry, jawab!" Perintah Elleanore tegas.


"Kau tidak perlu tahu!" Jawab Henry lirih.


"Dan sebaiknya kau masuk," Henry sudah bangkit berdiri saat pria itu merasakan tempatnya berpijak terasa berputar.


"Henry!" Elleanore yang melihat tubuh Henry sedikit limbung buru-buru menahan tubuh besar itu.


"Aku baik-baik saja, El!"


"Ayo kita turun!" Henry baru maju satu langkah dan dunianya kembali berputar. Kepala Henry mendadak berdenyut dan lengannya terasa sangat sakit.


"Henry, kau kenapa?" Elleanore masih berusaha menahan tubuh Hebry sebelum kemudian tibuh itu ambruk dan Elleanore ikut jatuh terduduk karena tak kuat menopang.


"Henry!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.