Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
EDWARD KEMANA?



Elleanore sudah menangis pasrah, saat tiba-tiba sebuah suara disertai pukulan keras menghantam salah seorang pemuda hingga jatuh tersungkur. Tentu saja hal itu membuat Elleanore dan para pemuda berandalan tadi kaget.


"Lepaskan gadis itu!" Gertak Henry galak seraya menuding ke arah para pemuda berandalan yang masih mencekal Elleanore.


"Dasar keparat!" Umpat mereka yang langsung berhamburan dan berusaha mengeroyok Henry. Namun Henry tak tinggal diam dan langsung meladeni para pemuda berandal itu meskipun mereka main keroyokan.


Ilmu bela diri Henry memang cukup mumpuni untuk menghadapi segerombolan pemuda berandal yang hendak berbuat hal tak senonoh pada Elleanore.


"Henry, awas!" Teriak Elleanore saat salah seorang berandalan hendak memukulkan balok kayu ke kepala Henry.


Henry langsung menghindari dengan cepat dan berhasil menangkis dengan lengannya.


"Auuuw!" Ringis Henry saat lengannya tak sengaja membentur balok katu hingga lebam kebiruan.


Henry terus berusaha melawan para berandalan, hingga akhirnya dari kejauhan terdengar sirine mobil patroli polisi. Sepertinya baru saja ada yang melapor.


"Ayo pergi!" Ajak Henry seraya menarik lenagn Elleanore dan segera mengajak gadis itu menuju ke mobilnya. Tangis Elleanore langsung pecah saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Sudah, El!"


"Kau aman sekarang!" Ucap Henry yang langsung menarik Elleanore ke dalam pelukannya. Henry berusaha menenangkan Elleanore yang masih terus menangis. Sangat wajar mengingat Elleanore yang memang tak pernah diperlakukan kasar apalagi menjadi korban orang jahat seperti tadi.


"Aku takut!" Cicit Elleanore yang masih membenamkan kepalanya di pelukan Henry.


"Iya, kau sudah aman. Aku akan mengantarmu pulang!" Henry mengusap lembut kepala Elleanore dan masih berusaha menenangkan gadis itu. Meskipun sesekali Henry harus netingis karena lengannya yang tadi terjena hantaman balok kayu terasa nyeri sekali sekarang.


"Kau tadi terluka, Hen? Kita ke rumah sakit-"


"Tidak!" Tolak Henry cepat.


"Tidak usah ke rumah sakit. Hanya lebam biasa," Henry menunjukkan lengannya yang kebiruan pada Elleanore.


"Akan sembuh setelah dikompres air hangat," lanjut Henry menenangkan Elleanore.


"Aku akan merawatmu nanti." Kau masih bisa menyetir?" Tanya Elleanore khawatir.


"Bisa, kau tenang saja!" Jawab Henry bersungguh-sungguh.


"Kita pulang sekarang, ya!" Lanjut Henry lagi seraya menyalakan mobil. Tak berselang lama, mobil Henry sudah melaju meninggalkan GOR.


****


"Mom, Naka mau melamar Alsya," lapor Naka to the point pada Mom Fe yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah dan sepertinya masih sibuk mengurus beberapa hal tentang pernikahan Richarddan Ashley yang akan digelar beberapa hari lagi. Gika yang kebetulan lewat di dekat Naka dan Mom Fe tak sengaja ikut mendengar laporan Naka tadi dan jiwa kepo Gika mendadak meronta hebat.


"Kapan?" Tanya Mom Fe menatap tegas pada Naka.


"Saat pernikahan Abang Richard, lalu setelah itu, Naka mau Mom mengurus pernikahan kami berdua secepatnya-'


"Memang Alsya sudah setuju? Bukannya kemarin kata Elleanore, Alsya masih menolakmu?" Gika tiba-tiba menyela penjabaran Naka yang belum selesai menjelaskan pada Mom.


"Gika, diam dulu!" Gertak Mom Fe galak.


"Gika hanya bertanya dan memastikan, Mom!" Kilah Gika mencari pembenaran.


"Alsya sudah setuju. Seluruh keluarganya juga sudah memberikan lampu hijau." Naka menatap penuh berbinar pada Mom Fe yang langsung menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Akhirnya!" Mom Fe memeluk Naka dan turut berbahagia dengan apa yang sedang dirasakan Naka sekarang. Berbeda dengan Gika yang hanya merengut dan bersedekap.


Naka cepat sekali mendapat lampu hijau dari Alsya dan keluarganya! Lalu kapan Gika dapat lampu hijau juga dari Opa Bowles dan Tiffany macan rrrooaaar?


"Rrrrooooaaar! Rrrrooooaaar!" Gika tiba-tiba mengaum dengan spontan saking sebalnya ia dengan keadaan.


"Kau kenapa, Gika? Kenapa tiba-tiba mengaum begitu? Kerasukan macan?" Cecar Mim Fe yang langsung membuat Naka terkekeh.


"Pasti memikirkan Tiff!" Tebak Naka sok tahu.


"Mana ada!" Gika bersungut dan memalingkan wajahnya karena baru saja ketahuan oleh saudara kembarnya.


"Tetap semangat belajar bisnisnya, Gika! Kau juga akan segera mendapat lampu hijau dari Tuan Bowles tak lama lagi," Mom Fe memberikan semangat pada Gika.


"Ini sudah semangat sampai kepala Gika berasap setiap hari, Mom! Lama-lama Gika bisa ubanan di usia muda kalau begini caranya!" Gerutu Gika kembali bersungut.


"Semangat, Gika!" Naka menepuk punggung Gika dan ikut memberitahu semangat.


"Iya!"


"Kau akan menikah mendahuluiku berarti?" Tanya Gika sedikit keberatan.


"Aku tak mau menunda sesuatu yang baik." Naka memberikan alasan.


"Hei, yang itu masih jadi perdebatan, dan Mom masih belum ingat siapa yang lahir duluan di antara kita!" Sergah Naka mengingatkan Gika.


Sedangkan Mom Fe yang mendengar perdebatan putra kembarnya langsung tertawa kecil.


"Semuanya Abang! Abangnya Elleanore," ujar Mom Fe menengahi, bersamaan dengan suara derap langkah dari ruang depan.


"Siapa yang pulang?" Tanya Gika kepo yang langsung menoleh ke arah datangnya suara langkah tadi.


Terlihat Henry yang wajahnya babak belur sedang merangkul Elleanore yang sepertinya ketakutan. Apa yang sudah terjadi.


"El, ada apa?" Mom Fe berdiri duluan dan Elleanore langsung menghambur ke pelukan Mom Fe lalu menangis di sana. Sedangkan Henry masih memegangi tangannya yang mulai bengkak. Naka bergerak sigap untuk membantu Henry agar duduk di ruang tamu. Lalu pria itu memanggil maid agar membawakan air untuk mengompres lengan Henry serta kotak P3K.


"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kau babak belur dan dimana Edward?" Cecar Gika pada Henry yang sudah duduk di sofa. Seingat Gika, tadi Elleanore memang pergi bersama Edward. Lalu dimana sekarang asisten abang Richard itu?


"Aku tidak tahu Edward dimana. Tadi Elleanore sendirian di halaman parkir GOR dan hampir dibawa pergi oleh sekumpulan pemuda berandal-"


"Apa?" Gika, Naka, dan Mom Fe kompak membelalak dengan penjelasan Henry.


"El takut, Mom!" Cicit Elleanore yang terlihat benar-benar ketakutan.


"Brengsek si Edward! Mengajak pergi Elleanore tapi malah meninggalkannya!" Umpat Gika yang langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Abang Richard.


"Gika, ada apa?"


"Asisten abang itu keparat!" Teriak Gika pada Richard di telepon.


"Richard sedang di luar negeri, Gika! Untuk apa kau menelepon dan melapor kepadanya?" Tanya Mom Fe heran.


"Agar dia tahu kelakuan sekretarisnya yang tak bertanggung jawab itu, Mom! Dan bisa langsung memecatnya saat pulang nanti!" Jawab Gika berapi-api.


"Edward kenapa? Dia sedang meninjau proyek tadi."


"Meninjau proyek saat sedang menemani Elleanore di GOR basket?" Gika berteriak tak percaya.


"Tunggu! Edward dan Elleanore ke GOR?"


"Ya, sore tadi Edward menemani Elleanore ke GOR menonton pertandingan basket! Tapi sekarang Elleanore pulang bersama Henry yang keadaannya babak belur karena berusaha menolong Elleanore dari segerombolan preman yang hampir memperkosa Elleanore! Dan sekretaris kesayangan Abang itu menghilang tak tahu rimbanya!" Gika menceritakan dengan sedikit lebay kronologi Elleanore ditinggal oleh Edward.


"Elleanore baik-baik saja?" Nada bertanya Richard terdengar khawatir.


"Masih menangis karena ketakutan dan trauma sepertinya," jawab Gika menerka-nerka.


"Baiklah! Besok aku akan bicara pada Edward."


"Jangan hanya bicara, Bang! Pecat!" Gika memprovokasi dan mengompori bersamaan dengan telepon yang akhirnya terputus.


"Kau sepertinya harus ke rumah sakit, Hen," pendapat Naka yang sejak tadi sibuk mengobati luka di lengan Henry.


"Tidak usah, Bang! Nanti juga sembuh setelah dikompres," Tolak Henry yang wajahnya sedikit pucat. Henry belum minum obat!


"Jadi sebenarnya Edward kemana?" Mom Fe bertanya pada Elleanore yang masih sesenggukan.


"Tadi dia hanya pamit menerima telepon di quarter keempat tapi sampai pertandingan selesai dan GOR sepi, dia tak kembali!" Jelas Elleanore.


"Kata abang Richard, Edward sedang meninjau proyek," Gika ikut menimpali.


"Meninjau proyek? Jadi maksudnya dia sengaja meninggalkan Elleanore sendirian di GOR demi meninjau proyek?" Naka bertanya tak percaya pada Gika yang hanya mengendikkan bahu.


"Sudah abang bilang untuk berhenti saja mengejar-ngejar kanebo kering itu! Tapi kau selalu saja-"


"Selamat malam!" Suara sapaan membuat Gika tak jadi melanjutkan kalimatnya. Seseorang yang kini berdiri di antara ruang tengah dan ruang tamu langsung membuat emosi dalam diri Gika membuncah hebat. Gika bangkit berdiri dan sudah menghampiri pria itu dengan cepat.


"Nona Elleanore, anda sudah pulang duluan-"


Bugh!


.


.


.


🤦‍♀️🙈🙈🙈


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.