
Elleanore membuka pintu kamarnya, dan hamparan kelopak bunga berwarna merah terlihat memenuhi lantai kamar. Beberapa bunga segar juga diletakkan di setiap sudut kamar, membuat aroma harum demerbak yang menguar memenuhi indera penciuman Elleanore.
"Yang lain tidak ikut pulang?" Tanya Edward yang sudah muncul di belakang Elleanore.
"Tidak!"
"Kak Ashley dan Abang Richard pulang ke apartemennya, lalu Mom dan Dad mungkin menginap di rumah Opa Bowles bersama Kak Tiff dan Abang Gika."
"Dan Abang Naka beserta Kak Alsya mengunap di rumah Uncle Juna karena mereka sudah lama tak menginap. Hebdy ikut menginap juga di rumah Uncle Juna." Jelas Elleanore panjang lebar.
"Para maid?" Tanya Edward lagi.
"Semuanya diliburkan oleh Mom dan hanya ada security di depan," jawab Elleanore seraya duduk di depan meja rias, lalu meraih pembersih wajahnya. Gadis itu mulai membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya.
"Lalu ini apa? Hadiah dari siapa?" Tanya Edward seraya mengangkat sebuah kotak yang diletakkan di atas tempat tidur.
"Aku tidak tahu! Coba kau buka kalau penasaran," saran Elleanore sambil masih fokus membersihkan wajahnya. Edward membuka pita dari kotak di pangkuannya tadi, lalu membuka penutupnya. Pria itu mengernyit saat melihat isi di dalam kotak.
"Apa isinya, Ed?" Tanya Elleanore yang sudah selesai membersihkan wajah, lalu beranjak dan menghampiri Edward yang masih menatap bingung pada benda di dalam kotak.
"Aku tidak tahu. Sepertinya sebuah gaun." Jawab Edward yang akhirnya mengangkat baju berwarna merah terang tersebut. Bentuknya aneh dan sepertinya bukan gaun seperti tebakan Edward karena bahannya menerawang dan ukurannya pendek.
"Ini apa?" Tanya Edward menatap bingung pada Elleanore yang wajahnya mendadak memerah.
"Baju tidur!" Jawab Elleanore seraya menyambar gaun tidur tadi dari tangan Edward, lalu menyumpalkannya lagi ke dalam kotak dan menutupnya dengan asal.
Elleanore yakin sekali kalau itu perbuatan ketiga kakak iparnya. Pantas saja tadi Kak Ashley memberikan kerlingan mata aneh pada Elleanore, sebelum mereka berpisah di lobi hotel.
"Baju tidur? Untukmu?" Cecar Edward yang sepertinya sedikit penasaran. Tapi lucu juga kalau ternyata Edward tak tahu tadi itu benda apa. Apa Edward benar-benar sepolos itu atau pria ini hanya pura-pura polos? Secara usia Edward hampir sepantaran dengan Abang Richard. Masa iya Edward tak tahu menahu tentang lingerie?
"Ya! Tapi aku tak perlu memakainya," jawab Elleanore seraya membuka koper Edward dan mencari-cari sesuatu.
"Sedang mencari apa di dalam koperku?" Tanya Edward bingung.
"Piyama," jawab Elleanore seraya mendongakkan kepalanya dan menatap pada Edward.
"Aku tidak punya," Edward meringis.
"Lebih nyaman pakai kaus lengan pendek dan celana pendek juga saat tidur," Edward mengambil sendiri baju gantinya.
"Kau silahkan mandi duluan kalau begitu," tukas Elleanore yang sudah bangkit berdiri. Elleanore mendadak sedikit salah tingkah di depan Edward.
"Kamar mandinya di sana!" Ujar Elleanore lagi seraya menunjuk ke sebuah pintu di sudut kamarnya.
"Kau? Tidak mandi?" Tanya Edward ragu-ragu yang langsung membuat Elleanore mengernyit.
"Maksudnya? Mandi bersamamu?" Elleanore balik bertanya dengan suara lirih dan ragu-ragu juga.
Edward mengendikkan kedua bahunya.
"Dari artikel yang kubaca semalam, pasangan pengantin baru bisa mandi bersama sebelum mulai berhubungan agar sama-sama tidak grogi."
"Kau membaca artikel tentang malam pertama?" Elleanore menatap heran ke arah Edward.
"Kenapa memang? Ada yang salah? Aku belum punya pengalaman dan aku tidak tahu harus bagaimana, jadi semalam aku tidak tidur dan membaca beberapa artikel sebagai referensi," jawab Edward jujur yang tentu saja langsung membuat Elleanore ternganga.
Apa Abang Richard dulu juga se-teoritis Edward begini? Sepertinya Elleanore harus bertanya dan menelepon Kak Ashley sekarang.
"Kau sudah belajar juga semalam?" Tanya Edward selanjutnya yang benar-benar membuat Elleanore ingin menepuk keningnya sendiri.
"Belajar? Belajar apa?" Tanya Elleanore bingung.
"Tentang yang harus kita lakukan malam ini," jawab Edward yang malah langsung membuat Elleanore tergelak.
"Kau!" Jawab Elleanore seraya menuding ke arah dada Edward yang masih tertutupi oleh kemeja warna putih.
"Apa yang akan terjadi malam ini adalah sebuah hal yang alamiah, Ed! Jadi sepertinya kita tak perlu belajar dan mengacu pada teori yang ada," terang Elleanore yang akhirnya sudah berhenti tertawa.
"Hal alami?" Edward mengernyit bingung.
"Kau sudah pengalaman?" Ceplos Edward yang langsung membuat raut wajah Elleanore berubah.
"Maksudnya pengalaman? Aku masih virgin dan belum pernah melakukannya!" Sergah Elleanore dengan nada yang sedikit meninggi.
"Maaf, aku tak bermaksud!" Koreksi Edward cepat, seraya merengkuh kedua pundak Elleanore dan berusaha meredam emosi gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut.
"Kau sebaiknya mandi duluan, Ed!" Ujar Elleanore akhirnya setelah menarik nafas panjang beberapa kali.
"Atau aku saja yang mandi duluan," lanjut Elleanore berubah pikiran. Elleanore melepaskan rengkuhan tangan Edward, lalu mengambil satu stel piyama dari dalam lemarinya secara acak. Gadis itu masuk ke kamar mandi dengan cepat tanpa basa-basi lagi pada Edward yang juga hanya membisu.
Edward langsung merutuki sikap kakunya pada wanita termasuk pada Elleanore malam ini yang jelas-jelas sudah jadi istri sahnya. Seharusnya Edward mengambil kelas private atau bertanya pada Richard perihql malam pertama. Lalu abang sulung Elleanore itu akan menertawakan dan meledek Edward habis-habisan setelahnya.
Sial!
Edward memejamkan matanya dan merasa bingung harus bagaimana sekarang. Edward juga berulang kali menatap pada pintu kamar mandi dimana Elleanore menghilang tadi.
"Itu adalah hal alamiah, Edward!"
Kalimat Elleanore kembali terngiang di benak Edward.
Hal alamiah?
Edward menatap sekali lagi pada pintu kamar mandi, lalu pria itu tampak berpikir untuk beberapa saat.
"Hal alamiah! Baiklah!" Gumam Edward akhirnya seraya melepaskan deretan kancing di kemejanya. Lalu pria itu juga melepaskan celana kain yang ia kenakan dan kini Edward hanya tinggal mengenakan sebuah underwear saja.
"Hal alamiah!"
"Lakukan saja, Ed! Bukankah Elleanore adalah istrimu sekarang? Itu artinya Elleanore juga adalah milikmu seutuhnya."
"Dengarkan saja kata hati dan biarkan semuanya mengalir!"
Edward tak berhenti bergumam seraya meyakinkan dirinya sendiri kalau ia akan bjsa melakukan semuanya malam ini tanpa harus berpegangan pada teori yang ia baca semalam.
Masa bodoh dengan teori!
Bukankah ini hal alamiah?
Edward sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Jantung Edward memacu dengan cepat dan pria itu mendadak jadi grogi. Edward mengulurkan tangannya dan sudah memegang knop pintu kamar mandi. Sekuat tenaga, Edward menyingkirkan keraguan di hatinya, lalu Edward memutar dan mendorong pelan pintu kamar mandi yang ternyata tak dikunci oleh Elleanore.
Apa ini sebuah kode?
Edward membuka pintu tanpa suara, lalu menyelinap masuk dengan cepat. Dan pemandangan yang kini ada di hadapan Edward benar-benar membuat pria itu mematung. Edward mendadak lupa caranya bernafas.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.