Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
BERIKAN KESEMPATAN



Elleanore bersimpuh di samping Henry dan meletakkan setangkai bunga mawar putih ke atas makan Stefy. Henry terlihat menitikkan air mata, saat tangannya mengusap-usap batu nisan yang tertancap di atas makam yang kini berselimut rumput warna hijau tersebut.


"Hai, Sayang!" Ucap Henry yang sudah ganti meletakkan kepalanya di atas batu nisan Stefy. Terlihat jelas kalau Henry begitu mencintai Stefy dan sepertinya hati Henry memang tak pernah berpaling.


Semua kebaikan serta perhatian Henry pada Elleanore selama ini bukanlah perhatian sebagai seorang pria yang mencintai Elleanore. Melainkan hanya perhatian sebagai seorang sahabat. Henry hanya menganggap Elleanore sebagai sahabatnya saja dan tak pernah ada perasaan lebih.


Miris!


Elleanore menelan ganjalan pahit di tenggorokannya dan masih menunggu Henry selesai memeluk batu nisan Stefy.


"Kita akan bertemu tak lama lagi." Ucap Henry lirih yang masih bisa didengar oleh Elleanore. Hati Elleanore seperti teriris sembilu saat mendengarnya.


"Kau masih menunggu, kan?" Lirih Henry lagi pada makam di hadapannya. Tak ada jawaban. Hanya desau suara angin yang membuat daun saling bergesekan dan menerbangkan dedaunan kering di area makam.


Elleanore menelan ludahnya yang terasa pahit sekali lagi, lalu segera membantu Henry yang hendak bangkit berdiri. Seorang pengawal membawakan kursi roda Henry dan membantu pemuda itu untuk duduk di atasnya.


Uhuuuk!


Henry kembali batuk-batuk dan Elleanore dengan sigap memberikan minum untuk Henry yang wajahnya semakin pucat dari hari ke hari.


"Kita ke pantai setelah ini, ya!" Pinta Henry pada Elleanore yang sudah bersiap mendorong kursi rodanya.


"Kau harus pulang dan istirahat dulu, Henry!" Elleanore menasehati Henry selembut mungkin.


"Aku tak mau istirahat! Aku mau melihat gulungan ombak," ujar Henry keras kepala.


Elleanore menghela nafas dan akhirnya mengiyakan permintaan Henry. Gadis itu mendorong kursi roda Henry meninggalkan area pemakaman, lalu naik ke mobil dan segera meluncur menuju ke pantai terdekat.


****


[Kau di kota Z sekarang?] -Tiffany-


[Ya! Tadi El baru saja menemani Henry mengunjungi makam Stefy] -Elleanore-


[Bagaimana keadaan Henry?] -Tiffany-


[Sama sekali tak ada perubahan dan semakin pucat] -Elleanore-


[Tetap semangat menemani Henry, El! Kau bisa cerita apapun jika ada yang mengganggu.] -Tiffany-


[Terima kasih, Kak Tiff. El masih berharap Kak Tiff akan mau menerima Abang Gika dan menjadi kakak ipar ketiga El] -Elleanore-


[Masih ku pertimbangkan] -Tiffany-


[Kak Tiff adalah semangat untuk Abang Gika berubah menjadi pribadi yang lebih baik] -Elleanore-


Elleanore mengirimkan foto Gika yang masih fokus menghadap laptopnya dengan background foto Tiffany yang dicetak sebesar dinding.


[Astaga! Itu perbuatan Gika?] -Tiffany-


[Agar Abang Gika lebih semangat belajar katanya.] -Elleanore-


[Baiklah! Suka-suka dia sajalah] -Tiffany-


Elleanore tak membalas pesan Tiffany lagi karena Henry yang sejak tadi duduk di samping Elleanore, tiba-tiba sudah meletakkan kepalanya di pundak Elleanore.


"Ayo pulang!" Ajak Elleanore lembut seraya mengusap kepala Henry.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Henry lirih. Suara pria itu memang berubah lirih belakangan ini. Sepertinya efek dari sakit.


Elleanore membimbing Henry agar meletakkan kepalanya di pangkuan Elleanore.


"Begini lebih baik," Henry mengulas senyum di bibirnya yang pucat.


"Tadi mau ngomong apa?" Tanya Elleanore seraya mengusap lembut kepala Henry.


"Edward."


Bibir Elleanore langsung merengut mengingat Edward yang pernah meninggalkanmya tanpa pamit di GOR.


"Bisakah kita membahas hal lain saja?" Pinta Elleanore yang sekarang benar-benar malas bertemu dengan Edward apalagi mengejar-ngejarnya seperti dulu yang Elleanore lakukan.


"Tidak bisa, El! Kita harus membahasnya dan kau harus mendengarkan aku!" Tangan Henry sudah terulur untuk mengusap wajah Elleanore.


"Kau masih marah pada Edward, meskipun sebenarnya kau mencintai pria itu-"


"Aku tak pernah mencintainya!" Sergah Elleanore menyela kalimat Henry.


"Kau dulu mencintainya dan mengejar-ngejarnya." Henry mengingatkan Elleanore.


"Itu Elleanore si bodoh dan bukan aku!" Kilah Elleanore yang langsung menbuat Henry tertawa kecil.


"Lagipula, siapa juga yang akan mencintai seorang pria yang hampir membuatnya celaka," sambung Elleanore lagi seraya membuang wajahnya ke samping.


"Edward hanya khilaf waktu itu. Dan dia sudah minta maaf serta menyadari kesalahannya. " Henry mengingatkan sekaligus menasehati Elleanore. Kedua netra Henry tetap menatap lekat wajah Elleanore.


"Terlambat! Aku sudah tak ada perasaan apapun kepadanya," ucap Elleanore yang wajahnya terlihat kecewa.


"Kau yakin? Kalau aku bilang sekarang Edward jatuh cinta kepadamu dan mulai tertarik kepadamu, apa hatimu tidak merasa bergetar?" Tanya Henry memancing.


"Tidak!" Jawab Elleanore tegas.


"Perasaanku pada Edward sudah menguap pergi dan aku sudah ganti mencintai pria lain!" Ungkap Elleanore lagi yang kini sudah menatap pada kedua netra Henry.


"Pria lain?" Henry bergumam pelan.


"Ya! Pria lain."


"Meskipun sebenarnya pria itu hanya mencintai satu gadis dan itu bukanlah aku," Elleanore tersenyum kecut.


"Pria itu sangat tidak pantas untukmu, Queen Elleanore!" Tangan Henry kembali terulur dan mengusap wajah Elleanore sekali lagi, sekaligus menyeka bulir bening yang jatuh di kedua pipi Elleanore.


"Aku mencintaimu, Hen!" Ucap Elleanore nyaris tanpa suara. Henry tak menjawab dan hanya mengulas senyum tipis.


"Kenapa kau tak mau berjuang untuk sembuh dan membalas perasaanku?" Tanya Elleanore lagi yang airmatanya sudah jatuh bercucuran.


"Karena sudah ada Edward yang akan mencintaimu setulus perasaannya. Pria itu yang kelaka akn membuatmu bahagia dan tersenyum kembali." Tatapan mata Henry terlihat kosong saat mengucapkannya. Elleanore sudah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi seluruh perasaanku, hatiku, cintaku, sekarang hanya tertuju kepadamu."


"Jangan pergi, Hen!" Mohon Elleanore seraya terisak.


"Jangan pergi!"


"Berikan kesempatan untuk Edward, oke!" Nasehat Henry yang lagi-lagi membuat Elleanore menggeleng.


"Biarkan Edward berjuang dan kau akan melihat ketulusan cinta darinya," pungkas Henry yang malah membuat tangis Elleanore kian pecah.


Elleanore menangkup wajah Henry dan menatapnya dengan begitu lekat.


"Katakan sekali saja!" Pinta Elleanore yang masih berharap perasaannya pada Henry akan menemukan balasan. Namun nyatanya Henry hanya bungkam dan tak berucap sepatah katapun.


"Henry!"


"Kau sahabatku yang terbaik, Elleanore Queen Alexander!" Ucap Henry yang malah membuat hati Elleanore tercabik.


Benarkah Henry tak pernah mencintai Elleanore?


Benarkah Henry hanya menganggap Elleanore sebagai sahabatnya hingga detik ini?


"Biarkan aku melihat semburat oranye itu untuk terakhir kali. Aku tak akan pernah bisa ke tempat ini lagi," pinta Henry yang langsung membuat Elleanore membantu pria itu untuk kembali duduk. Elleanore mendekap Henry dan membiarkan sepasang netra yang mulai sayu itu menatap ke ufuk barat, dimana bola berwarna jingga itu mulai tenggelam dengan perlahan. Meninggalkan cahaya oranye-nya yang menyinari alam semesta.


Semburat senja semakin terasa redup sebelum akhirnya langit berubah hitam, menandakan malam yang sudah menjelang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.