
Gika masuk ke kamar seraya bersiul riang. Namun saat melihat pemandangan di atas tempat tidur, siulan Gika mendadak terhenti.
"Tiff, ini maksudnya apa?" Tanya Gika seraya menunjuk ke arah Gwen dan Griff yang kini tidur di atas tempat tidur Gika, berjejer bersama Tiffany. Padahal kedua bayi kembar Gika itu sudah punya kamar sendiri di rumah Opa Bowles lengkap dengan sua pengasuh yang menjaga mereka.
"Gwen dan Griff akan tidur bersamaku malam ini," jawab Tiffany tegas.
"Lalu aku? Kau tahu sendiri aku tak akan bisa tidur sebelum bercinta denganmu," Gika mengarahkan telunjuknya ke arah wajahnya sendiri.
"Kau silahkan tidur di kamar lain atau dikamar si kembar juga boleh!"
"Dan, kita tak akan bercinta sebelum tidur seminggu ke depan! Aku sedang alergi padamu!" Ujar Tiffany panjang lebar yang langsung membuat Gika menganga tak percaya.
"Salahku apa?" Tanya Gika bingung.
"Masih bertanya apa salahmu? Pikirkan sendiri sana!" Jawab Tiffany galak.
"Tiff, kau tak bisa melakukan ini!" Gika sudah mendekat ke arah Tiffany dan menarik paksa piyama istrinya tersebut.
"Aku bisa gila kalau malam ini tak dapat jatah!" Ujar Gika lagi yang sudah menciumi pundak Tiffany yang kini terpampang karena piyama Tiffany yang bentuknya tak lagi karuan akibat ditarik-tarik oleh Gika.
"Gika, lepas!"
"Aku alergi padamu dan aku tak mau kau sentuh!" Tiffany terus berontak dan merasa benar-benar kesal pada sang suami.
"Alergi apa? Kemarin kita bercinta sampai pagi dan kau baik-baik saja!" Sergah Gika merasa tak percaya.
"Iya, itu kemarin! Sekarang aku alergi!"
"Hatchi! Hatchi!" Tiffany pura-pura bersin demi meyakinkan Gika kalau ia sedang alergi.
"Pergi, Kau!" Usir Tiffany pada Gika masih sambil pura-pura bersin.
"Mustahil!"
"Ini mustahil!"
"Kau tidak bisa alergi padaku!" Gika berteriak seperti orang kesurupan.
"Diamlah! Atau kau akan membangunkan Griff dan Gwen!" Tiffany memukuli Gika dengan bantal.
"Tapi salahku apa? Kenapa kau mendadak alergi padaku? Jelaskan dulu!"cecar Gika meminta penjelasan dari Tiffany.
"Salahmu karena sudah mengancam Edward hingga membuat malam pertama Edward dan Elleanore nyaris berantakan!"
"Jadi kau tak dapat jatah malam ini!" Jawab Tiffany tegas.
"Aku tak melakukannya!" Gika menyanggah dengan cepat. Namun Tiffany langsung mendelik horor pada Gika yang beringsut mundur ketakutan.
"Baiklah aku mengaku! Aku minta maaf!" Gika akhirnya mengakui perbuatan konyolnya.
"Tapi jangan menghukumku begini, Tiff!" Mohon Gika pada Tiffany yang kini bersedekap dan berdecak malas.
"Elleanore dan Edward juga pasti sudah belah duren sekarang! Jadi jangan marah lagi!"
"Ya!" Bujuk Gika merayu Tiffany yang sudah kembali naik ke atas tempat tidur, lalu mengusap punggung Griff dan Gwen bergantian.
"Tiff!" Gika menyusul naik, dan memeluk Tiffany dari belakang, meskipun hanya setengah dari tubuh Gika yang mendapat tempat. Sisanya melayang di udara dan Gika bisa jatuh kapan saja, jika Tiffany berbalik.
"Si kembar sudah nyenyak!" Tiffany memberikan alasan.
"Kita pindah ke kamarmu di lantai atas!" Usul Gika yang langsung membuat Tiffany berbalik, dan...
Bruuk!
Gika seketika langsung terjun bebas ke lantai karena gerakan mendadak dari Tiffany.
"Punggungku!" Ringis Gika yang langsung membuat Tiffany tergelak.
"Kita bercinta di lantai atas, ayo!" Ajak Gika selanjutnya seraya mengerling nakal pada Tiffany yang malah menarik selimut.
"Nanti saja! Aku sudah ngantuk berat!"
****
Edward mendaratkan dengan lembut tubuh Elleanore di atas tempat tidur, lalu kembali mencecap bibir istrinya tersebut dengan mesra.
"Emmmhhh!" Elleanore melenguh dan semakin menekan kepala Edward demi memperdalam ciuman mereka.
Edward melepaskan sejenak pagutannya pada bibir Elleanore untuk menanggalkan kaus yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah melucuti kaus serta celananya, Edward melanjutkan pagutannya tadi sambil tangannya bergerilya merem*s dada Elleanore hingga istriny itu menggelinjang.
Edward juga menggesek-gesekkan miliknya pada milik Elleanore yang masih terhalang underwear.
"Edward!" Elleanore mendes*h tertahan, saat Edward menggigit kecil puncak dari kedua bukit kembarnya. Ciuman Edward terus turun ke bawah dan lingerie yang tadi dikenakan oleh Elleanore juga sudah lolos dari tubuhnya, menyisakan sebuah underwear yang berwarna senada dengan lingerie tadi.
"Emmmmhhhh!" Elleanore kembali mengerang, saat lidah Edward sudah menyusup ke dalam underwearnya, lalu bermain-main di dalam milik Elleanore. Istri Edward itu mulak bergerak dengan gelisah, dan kedua pahanya refkeks menjepit kepala Edward yang masih berada di pangkal.
Edward akhirnya meloloskan penutup terakhir di tubuh Elleanore tersebut, lalu membuka kedua paha Elleanore sedikit lebar. Wajah Elleanore sudah memerah karena diselimuti kabur gairah. Edward seolah tak membuang waktu dan langsung mengarahkan miliknya yang sudah menegang sempurna ke dalam milik Elleanore yang sudah sangat basah.
Perlahan tapi pasti, Edward mendorong miliknya agar terus merangsek masuk. Tatapan mata Edward tak lepas dari wajah Elleanore yang terlihat meringis. Kedua mata istri Edward itu juga terpejam, seolah sedang menikmati apa yan Edward lakukan.
"El!" Edward sudah membungkukkan tubuhnya, dengan kedua tangan yang kini menggenggam tangan Elleanore yang tadinya merem*s sprei.
"Buka matamu," pinta Edward seraya mengecup kedua kelopak mata Elleanore.
Elleanore membuka kedua matanya dan merem*s tangan Edward yang kini menggenggam tangannya.
"Sakit?" Tanya Edward khawatir. Milik
Edward baru masuk setengah dan belum menembus apapun.
"Sedikit," Elleanore meringis dan berusaha menguasai dirinya sendiri.
"Aku teruskan," Edward meminta izin, dan Elleanore langsung mengangguk. Elleanore ganti menarik kepala Edward, lalu menyatukan kedua bibir mereka demi pengalihan rasa sakit. Edward lanjut merangsek masuk, hingga akhirnya...
Bless!
Edward berhasil menembus dinding keperawanan Elleanore, dan dua insan itu berpelukan untuk beberapa saat, menikmati sebuah perasaan serta gelenyar kenikmatan yang terasa di setiap syaraf tubuh dan aliran darah mereka. Rasa nikmat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"I love you, El!" Bisik Edward mesra.
"I love you too, Edward!" Balas Elleanore bersamaan dengan Edward yang kini mulai bergerak perlahan.
Rasa sakit dan perih yang tadi Elleanore rasakan perlahan berubah menjadi rasa nikmat dan menyenangkan. Elleanore seolah tak mau berhenti untuk terus mencecap bibir Edward.
Pun dengan Edward yang kini merasakan sebuah sensasi nikmat tiada tara yang baru pertama kali ini ia rasakan. Edward terus mempercepat gerakannya tanpa jeda, hingga Elleanore yang berada di bawahnya sedikit tersengal saat berusaha mengimbangi gerakan Edward.
Tubuh Edward mengejang hebat, bersamaan dengan cairan hangat dari dalam miliknya yang menyembur dan langsung memenuhi rahim Elleanore. Terengah-engah Edward menatap pada wajah Elleanore yang sudah dipenuhi oleh titik-titik keringat. Bibir istri Edward itu menyunggingkan senyuman, meskipun kedua matanya terpejam, mungkin karena kelelahan.
Edward langsung berguling ke samping dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Elleanore, lalu menarik dan mendekap erat tubuh polos istrinya tersebut.
"I love you, Ed!" Gumam Elleanore di dalam dekapan Edward.
"I love you too, Elleanore!" Balas Edward yang kini hatinya merasa bahagia dan jiwanya seolah terbang melayang hingga ke awang-awang.
.
.
.
Awas ketubruk hidung pesawat!
🤣🤣🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.