Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SIAPA?



"Siapa itu Tiffany?" Elleanore yang paling dulu melontarkan pertanyaan pada Henry.


"Gadis macan! Rrrroaaar!" Bukan Henry, melainkan Gika yang refleks menjawab lengkap dengan raungan macannya saat meledek Tiffany.


"Apa ada hubungannya dengan Gika, Henry?" Tanya Dad Dean penuh selidik yang sepertinya paling peka.


"Gika baru saja membelikan Tiffany sebuah motor baru, Uncle," lapor Henry yang langsung menbuat Gika berdecak.


"Itu hanya sebuah penebus rasa bersalah karena aku tak sengaja menabrak motornya hingga terlindas kontainer truk-'


"Apa Tiffany baik-baik saja?" Sela Mom Fe khawatir karena Gika menyebut tentang terlindas kontainer.


"Tiff baik-baik saja, Mom!" Ashley menjawab kekhawatiran Mom Fe dengan cepat.


"Jadi Tiff marah-marah padaku karena motornya terlindas truk kontainer. Dan karena aku malas berdebat dengannya aku ganti saja motor butut jeleknya dengan motor baru!"


"Itu saja dia masih protes dan tak berterima kasih karena aku membelikannya motor warna pink dan bukan yang hitam."


"Padahal yang membelikan adalah Henry dan bukan aku! Kenapa dia tidak menyalahkan dan mengomel pada Henry dan malah menyalak kepadaku?" Gika bercerocos panjang kali lebar dan semua orang kompak menyimak.


"Aku sudah berniat untuk menukarnya tapi kau melarang!" Ujar Henry mengingatkan Gika.


"Ck! Dia itu kan perempuan! Seharusnya ya naik skuter matic pink dan bukan motor sport hitam!" Sergah Gika bersungut-sungut.


"Tiff gadis tomboy! Jadi dia tidak suka apapun yang berwarna pink," Ashley ikut-ikutan menimpali. Gika hanya mencibir dan tak lanjut bercerocos. Sementara Henry hanya berekspresi datar sama seperti Richard. Mungkin sebelas dua belas dua pria itu.


"Mom jadi penasaran dengan gadis bernama Tiff itu. Bisakah kau mengajaknya kesini, Ash?" Ujar Mom Fe seraya menatap penuh harap pada Ashley.


"Hah?" Ashley tentu saja langsung kaget.


"Kak Ashley bawa Kak Tiff ke rumah ini!" Elleanore memperjelas permintaan Mom Fe pada Ashley.


"Tapi kalau Tiff tidak mau bagaimana? Dia sedikit keras kepala," Ashley mencari alasan. Ashley bisa kena sembur gadis keras jepala.itu jika mendadak mengajaknya ke rumah Gika De Chio.


Eh, tapi sepertinya Tiffany tidak tahu kalau Gika De Chio adalah bagian dari keluarga Alexander.


Keluarga Alexander dan siapa Gika De Chio saja Tiffany tidak tahu!


Dasar kudet!


"Keras kepala, galak, tomboy, tidak ada feminim-feminimnya. Siapa juga yang tertarik?" Celetuk Gika sombong.


"Biasanya kalau terlalu benci nanti tiba-tiba akan jadi bucin akut," celetuk Dad Dean seraya melirik ke arah Mom Fe yang hanya tersenyum tipis.


"Apa itu semacam pengalaman pribadi, Uncle?" Henry yang terlebih dahulu tanggap dengan isyarat mata dari pasangan Alexander itu segera bertanya penasaran.


"Bisa dibilang begitu," Dad Dean kembali melirik pada Mom Fe.


"Wajah Mom bersemu merah," goda Elleanore pada sang Mom.


"Tidak!" Kilah Mom Fe seraya mengusap pipinya sendiri.


"Jadi penasaran dengan kisah cinta Mom dan Dad dulu," celetuk Elleanore lagi menatap bergantian pada Mom dan Dad-nya.


"Mom dan Dad menikah di tepi sungai di sebuah desa," Ujar Richard yang paling ingat dengan acara pernikahan Mom dan Dad-nya yang sederhana tapi sangat berkesan.


"Abang Richard diundang ke pernikahan Mom dan Dad? Lalu aku kemana?" Tanya Gika pura-pura polos.


"Ck!" Richard hanya menjawab pertanyaan Gika dengan sebuah decakan. Padahal jelas-jelas Gika dan Naka juga ada disana waktu itu. Elleanore saja yang belum ada.


"El juga tidak diundang," celetuk Elleanore seraya terkekeh.


"Gika!" Tegur Mom Fe agar Gika menjaga tertawanya.


"Baiklah! Maaf, Mom!" Gika menghentikan tawanya dan mengusap perutnya yang sudah kelaparan.


"Apa para maid di rumah ini pingsan? Dimana makan malamnya?" Celetuk Gika keras-keras. Tak berselang lama, hidangan makan malam mulai disajikan oleh maid dan keluarga itu menikmati makan malam penuh keakraban dan kehangatan.


****


Tok tok tok!


Naka mengetuk pintu kamar resort yang ditempati oleh Alsya dan Sunny. Cukup lama hingga pintu akhirnya dibuka dari dalam. Alsya terlihat lesu dan ada raut kekhawatiran di wajahnya.


"Hai, apa semua baik-baik saja?" Tanya Naka khawatir.


"Sunny mendadak demam," jawab Alsya lirih.


"Sudah minum obat?" Tanya Naka lagi.


"Sudah tadi, tapi demamnya tak kunjung turun dan Sunny terlihat lemas," cerita Alsya menjawab pertanyaan Naka.


"Aku boleh menjenguknya?" Tanya Naka lagi meminta izin.


"Ya!" Alsya membuka lebar pintu kamar.


"Silahkan masuk," ucap Alsya lagi dan Naka segera masuk lalu menghampiri Sunny yang terbaring lesu di atas tempat tidur.


"Sejak kapan demamnya?" Tanya Naka seraya mengambil handuk kecil yang dipakai Alsya untuk mengompres Sunny. Naka mencelupkan handuk tersebut ke air di baskom, memerasnya, lalu kembali meletakkannya di dahi Sunny.


"Sejak semalam."


"Aku sudah memberikannya obat penurun panas. Tapi demamnya terus saja naik turun," cerita Alsya.


Naka tak tinggal diam dan langsung merogoh ponselnya di dalam saku, lalu menghubungi seseorang.


"Halo! Aku Naka. Siapkan speedboat untuk menyeberang ke pulau sebelah. Aku perlu membawa seorang anak bertemu dokter!"


"Segera, ya!" Pungkas Naka seraya menutup telepon.


"Tidak ada pusat kesehatan masyarakat disini. Kita harus menyeberang ke pulau sebelah sekitar tiga puluh menit." Jelas Naka seraya membantu Sunny untuk bangun.


"Ada dokter di sana kalau siang," lanjut Naka lagi pada Alsya yang sudah mengambil jaket Sunny. Naka membantu Alsya memakaikan jaket untuk Sunny.


"Bawa air minum untuk Sunny!" Pesan Naka lagi sebelum pria itu menggendong Sunny.


"Iya!" Alsya bergerak cepat mengambil tasnya serta botol air mineral untuk bekal Sunny.


Naka berjalan di depan seraya menggendong Sunny, dan Alsya mengekor di belakang pria itu. Keduanya langsung menuju ke dermaga resort dimana sebuah speedboat sudah menunggu. Setelah mereka bertiga naik, speedboat segera melaju membelah lautan menuju ke pulau seberang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.