
"Aku bersedia!"
Seolah sudah mendapatkan lampu hijau, tangan Richard bergerak lincah melepaskan blouse Ashley yang sudah basah kuyup. Lalu lanjut ke celana jeans gadis itu.
"Emmhh!" Ashley menggelinjang, saat jemari Richard sudah menyusup ke dalam underwear-nya.
Richard tersenyum simpul dan segera melepaskan penutup terakhir di tubuh Ashley, lalu pria itu merebahkan tubuh Ashley ke atas tempat tidur. Richard lanjut melucuti bajunya sendiri. Dan saat Richard melepaskan bagian terakhir dari pakaian yang ia kenakan, Ashley menelan salivanya dan wajah gadis itu merona merah.
"Ada apa?" Tanya Richard yang sudah menindih tubuh Ashley. Kini tak ada lagi penghalang di antara mereka, dan Ashley bisa merasakan hangatnya kulit Richard yang bersentuhan langsung dengan kulitnya sendiri.
"Ini yang pertama?" Tanya Richard yang langsung dijawab Ashley dengan anggukan. Richard kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Ashley. Dan kali ini Ashley membalas tanpa ragu. Pagutan keduanya semakin terasa panas dan tangan Richard sendiri sudah bergerilya merem*s dan memainkan gundukan kenyal milik Ashley hingga gadis itu mulai menggeliat di bawahnya.
Ciuman bibir Richard mulai turun ke dagu Ashley, lalu lanjut ke leher, dada, perut. Terus turun ke bawah hingga mencapai bagian tubuh Ashley yang paling intim.
"Rich!" Suara Ashley tercekat di tenggorokan, saat gadis itu merasakan lidah Richard yang basah bermain-main di pangkal pahanya. Ashley mulai bergerak dengan gelisah dan berbagai racauan terus keluar dari bibir gadis itu.
Suasana di dalam kamar yang masih gelap tersebut terasa semakin panas. Richard sudah mulai mengarahkan miliknya ke dalam milik Ashley. Perlahan tapi pasti, Richard mendorong miliknya agar melesak masuk dan...
Bless!
Butir bening jatuh dari sudut mata Ashley setelah penyatuan miliknya dan milik Richard untuk pertama kalinya. Rasa perih merambati pangkal paha Ashley, tapi bukan hal itu yang membuat Ashley khawatir.
"Rich, kita hanya menikah kon-", Richard langsung meletakkan telunjuknya di bibir Ashley dan pria itu menatap lekat wajah Ashley di dalam keremangan kamar.
"Kau istriku," ucap Richard pelan tapi tegas.
"Kau istri sahku dan tidak ada lagi perjanjian apapun di antara kita," lanjut Richard yang lagi-lagi membuat kedua mata Ashley menjadi berkaca-kaca. Rasa haru serta bahagia bergumul menjadi satu di dalam hati Ashley sekarang. Ashley mengalungkan kedua lengannya di leher Richard yang sudah mulai bergerak naik dan turun.
Rasa perih yang tadi merambati pangkal paha Ashley kininsudah berganti menjadi rasa nikmat yang tak lagi mampu diungkapkan dengan kata-kata. Ashley dan Richard sama-sama terhanyut menikmati sore panas mereka. Pagutan di bibir, kecupan, serta erangan mengiringi dua tubuh yang kini sudah sama-sama dipenuhi oleh peluh. Richard mempercepat gerakannya sebelum kemudian ia dan Ashley sama-sama mengejang karena mereka yang baru saja mencapai pelepasan bersama-sama.
"I love you, Ash!" Bisik Richard di telinga Ashley yang terdengar begitu mesra.
"I love you too, Rich!" Balas Ashley sebelum kemudian Richard kembali mencecap bibir Ashley cukup lama.
"Sekali lagi!" Bisik Richard yang langsung membuat Ashley membulatkan kedua matanya.
"Kau tidak lelah?" Pertanyaan Ashley hanya dijawab Richard dengan satu hentakan, dan milik Rich sudah kembali tenggelam ke dalam milik Ashley.
Ya, ya, ya!
Sepertinya ini tak akan berakhir dalam waktu dekat. Semoga Ashley tidak pingsan setelah ini!
****
Ashley mengerjapkan matanya dan tangannya meraba-raba ke samping kanan dan kiri seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Tapi tak ada siapapun di samping Ashley.
Lalu yang Ashley rasakan beberapa jam lalu itu apa?
Apa saat Ashley bercinta dengan Richard itu, hanyalah sebuah mimpi dan khayalan Ashley belaka?
Ashley ganti mengintip ke dalam selimut dan gadis itu mendapati tubuhnya yang masih full naked di dalam selimut. Pangkal paha Ashley juga sedikit nyeri dan perih.
Oh, ya ampun!
Ashley menutupi wajahnya dengan selimut karena kembali ingat pada permainannya bersama Richard beberapa jam lalu. Bahkan sentuhan bibir Richard masih bisa Ashley rasakan di sekujur tubuhnya.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibuka, lalu di tutup kembali, membuat Ashley diam sejenak. Gadis itu masih menyembunyikan wajahnya di dalam selimut dan mendadak merasa tak berani untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke kamar.
"Ash, kau sakit?" Nada bertanya Richard terdengar khawatir. Pria itu juga langsung menyibak selimut yang menutupi wajah Ashley untuk memastikan.
"Hai!" Sapa Ashley sedikit salah tingkah pada Richard yang tumben hanya mengenakan kaos lengan pendek dan sebuah celana pendek selutut.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Richard sekali lagi seraya meletakkan punggung tangannya di kening Ashley.
"Ya, aku baik-baik saja, Rich! Dan aku tidak demam."
"Sekarang jam berapa?" Ashley ganti bertanya pada Richard.
"Jam sepuluh malam."
"Kau mau mandi atau tidur lagi?" Tanya Richard yang sudah naik ke atas tempat tidur, dan ikut masuk ke dalam selimut bersama tubuh full naked Ashley. Richard bahkan tak segan menarik Ashley ke dalam dekapannya sekarang.
Ya ampun!
Kenapa malah Ashley yang jadi salting?
"Itu apa?" Tanya Ashley saat Richard meraih beberapa kertas dari atas nakas yang tadi memang ia bawa dari luar kamar.
"Surat kontrak," jawab Richard seraya merobek kertas berisi perjanjian kontrak antara Ashley dan dirinya sebulan lalu.
"Tidak ada lagi perjanjian atau pernikahan kontrak. Kau milikku seutuhnya, sekarang, besok, dan untuk selamanya," ucap Richard lagi yang sudah menyatukan keningnya dengan kening Ashley.
"Aku belum bertemu Mom sejak tadi," Ashley mengalihkan pembicaraan.
"Mom sudah istirahat di kamar dan tadi aku sudah bilang pada Mom, kalau kau kelelahan sepulang kuliah." Jelas Richard yang langsung membuat Ashley tertawa kecil.
"Kelelahan karena kau terjang," kikik Ashley seraya merapatkan selimut yang membalut tubuhnya.
"Dan aku masih belum selesai," ujar Richard yang sudah kembali menanggalkan kausnya.
Oh, ya ampun!
"Rich!" Ashley menahan dada Richard yang sudah sangat dekat dengannya. Bisa Ashley rasakan degup jantung Richard yang memacu dengan cepat. Sebelas dua belas dengan jantung Ashley sendiri.
"Kau tidak lelah?" Tanya Ashley merasa ragu. Kedua tangan gadis itu masih berada di dada Richard yang kekar berotot.
"Rasanya seperti candu," bisik Richard yang sudah kembali menyatukan keningnya dengan kening Ashley. Richard lanjut mengecup sekilas bibir merah Ashley, dan istrinya itu langsung mengulas senyuman manis.
"Apa kau masih ragu padaku?" Tanya Richard seraya menatap lekat wajah Ashley.
"Tidak!" Ashley menjawab sekaligus menggeleng.
Richard tersenyum lega, dan pergelutan pun kembali dimulai. Menjelang dinihari, Ashley dan Richard baru terlelap dengan tubuh yang masih saling memeluk.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia.