Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
MENEMUKAN JAWABAN



"Henry sakit HIV sudah sejak setahun yang lalu," ungkap Gika lagi pada Tiffany yang masih membisu karena kaget.


"Tapi kenapa Henry tak mencintaiku dan malah mengantarku kembali pulang ke rumah Opa?"


"Apa itu artinya Henry tidak mencintaiku?"


"Setahun lalu?" Tiffany bergumam pelan bersamaan dengan kata-kata Stefy satu tahun lalu yang kembali terngiang di telinga Tiffany.


"Ya! Ada apa? Kau terlihat shock." Tanya Gika seraya menatap heran pada Tiffany.


"Tunggu sebentar, kau pernah punya masa lalu bersama Henry."


"Jangan bilang, kalau kau dan Henry pernah--"


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Gika sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


"Bisakah kau membuang semua pikiran mesum itu dari kepalamu?" Tiffany menunjuk-nunjuk ke arah kepala Gika saking sebalnya.


"Aku belum selesai bicara. Kenapa kau sudah menamparku?" Tanya Gika dengan raut bingung seraya mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan Tiffany.


"Tak perlu kau selesaikan kalimatmu karena aku sudah tahu itu mengarah kemana!"


"Aku tak punya masa lalu apapun dengan Henry!" Tiffany menatap tegas pada Gika.


"Henry pernah punya pacar di masa lalu, tapi itu bukan aku! Itu Stefy, cucu Opa Bowles!" Lanjut Tiffany lagj masih menatap tegas pada Gika.


"Kakakmu? Atau adikmu? Sekarang dimana Stefy?" Cecar Gika menyela cerita Tiffany.


"Sudah meninggal," jawab Tiffany lirih yang ganti membuat Gika membelalak.


"Jangan bilang kena HIV juga karena Henry!" Gika sudah berprasangka.


"Bukan!" Sanggah Tiffany cepat.


"Stefy berpikir kalau Henry tak pernah mencintainya, karena saat Stefy kabur dari rumah akibat rencana perjodohan yang direncanakan Opa Bowles, Henry malah mengantarnya pulang lagi dan meminta Stefy menerima perjodohan itu." Terang Tiffany panjang lebar seraya menerawang.


"Kenapa Henry malah mengantar Stefy pulang dan tak mengajaknya kawin lari saja---" suara Gika terdekat di tenggorokan karena otaknya tumben sedikit encer pagi ini. Mungkin karena ada Tiffany di sampingnya.


"Henry pasti sudah tahu dirinya positif saat Stefy meminta untuk dinikahi oleh Henry. Jadi Henry tak mau menyakiti Stefy dan memilih mengantarnya kembali pulang ke rumah Opa, lalu meminta Stefy menerima perjodohan itu," Tiffany menarik benang merah dan semua kesimpulan atas masalah rumit yang melibatkan Henry dan Stefy satu tahun lalu.


Seperti dugaan Gika kalau Tiffany ini cerdas dan otaknya encer. Baru di dekatnya saja, otak Gika sudah ikutan encer. Apa kabar kalau Gika tidur dan bercinta dengannya setial malam. Pasti kecerdasan Tiffany akan otomatis menular pada Gika.


Plak!


Tiffany memukul keras tangan Gika yang sudah merayap ke pahanya. Dasar tuan playboy.


"Sakit, Tiff! Kenapa kau memukulku?" Tanya Gika seraya mengusap tangannya yang langsung berubah merah.


"Tanganmu mesum! Sama seperti otakmu!" Jawab Tiffany ketus.


"Namanya juga khilaf," tangan Gika kembali bergerilya dan satu keplakan langsung mendarat dengan keras.


"Bisakah kau tak barbar begitu?" Tanya Gika bersungut pada Tiffany karena kini tangannya terasa sakit sekali, perih, dan panas luar biasa. Entah kekuatan apa yang Tiffany miliki karena gadis ini kalau menendang atau memukul rasanya sakit sekali.


"Antar aku kembali ke hotel!" Perintah Tiffany selanjutnya pada Gika.


"Tidak jadi menjenguk Henry?" Tanya Gika bingung.


"Tidak! Aku sudah menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang mengganjal satu tahun ini" jawab Tiffany.


"Temani aku menjenguk Henry kalau begitu!" Pinta Gika yang langsung berhadiah delikan dari Tiffany, namun Gika pura-pura acuh dan pria itu malah bersiul tak jelas.


"Aku mau kembali ke hotel!" Ucap Tiffany tegas pada Gika.


"Dan aku mau menjenguk Henry! Ini mobilku, jadi aku yang punya hak mengambil keputusan." Cerocos Gika yang langsung membuat Tiffany emosi dan menerjang pria itu. Namun sial seribu sial karena disaat bersamaan, mobil malah berguncang karena tak sengaja melewati lubang yang ada di jalan.


Jedug! Jedug!


Gika yang merasa mendapat kesempatan, langsung mel*mat bibir Tiffany tanpa basa-basi.


"Brengsek!" Maki Tiffany seraya melepaskan pagutan Gika dan bangkit menjauh dari Gika yang kini tersenyum menggoda ke arah Tiffany.


"Bibirmu manis sekali, Tiff!" Puji Gika seraya mengerling nakal pada Tiffany yang sudah menyeka bibirnya memakai tisu dan punggung tangan, seolah sedang berusaha menghapus jejak bibir Gika di atas bibirnya.


Dasar sialan!


"Jangan dihapus begitu!" Cegah Gika seraya menahan tangan Tiffany yang masih menggosok-gosokkan punggung tangannya ke bibir.


"Kau tadi sengaja, kan?" Tudih Tiffany seraya mendelik pada Gika.


"Sengaja bagaimana maksudmu? Bukan aku yang duduk di belakang kemudi dan tak hati-hati saat melewati lubang!" Kilah Gika mencari alasan.


"Salahkan itu pak sopir menyebalkan yang sudah membuat ban mobil terperosok ke dalam lubang!" Lanjut Gika yang telunjuknya sudah mengarah ke pak supir di depan.


"Maaf, Nona dan tuan," ucap pak sopir tanpa menoleh ke belakang.


Tentu saja!


Mobil bisa terperosok lagi kalau pak supir menyebalkan ini menoleh ke belakang.


Mobil sudah berbelok ke area rumah sakit. Tiffany masih bersedekap dan berdecak sementara Gika sudah bersiap untuk turun.


"Kau tidak mau bertemu Henry?" Tanya Gika pada Tiffany yang tak melakukan pergerakan untuk turun.


"Aku akan kembali ke hotel! Aku sudah menemukan jawaban," jawab Tiffany ketus.


"Tapi bagaimana kalau teorimu salah? Bukankah lebih melegakan jika kau menanyakannya langsung pada Henry?" Pendapat Gika yang tumben otaknya sedikit lurus.


"Baiklah!" Putus Tiffany akhirnya setelah gadis itu berpikir untuk beberapa saat. Tiffany membuka pintu mobil dan hendak keluar saat tiba-tiba Gika sudah membopongnya ala bridal dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Turunkan aku!" Gertak Tiffany seraya meronta.


"Sudah diam! Kakimu masih diperban begitu, sok-sokan mau jalan sendiri!" Jawab Gika yang balik menggertak Tiffany.


"Aku memang sudah bisa jalan sendiri! Turunkan aku!" Tiffany memukul-mukul dada Gika saat pria itu tetap menggendongnya masuk ke dalam lift. Namun Gika sepertinya tak terpengaruh.


Dasar sialan!


"Turunkan aku, Gika!" Gertak Tiffany lebih tegas oada Gika yang pura-pura budeg.


Ck!


Benar-benar perlu diberi pelajaran!


Tiffany sedikit mencondongkan kepalanya ke arah leher Gika. Lalu gadis itu membuka mulut dan tanpa ba bi bu langsung menggigit leher Gika layaknya seorang drakula.


"Auuuuw!" Jerit Gika yang refleks menjatuhkan tubuh Tiffany hingga gadis itu terbanting ke lantai lift. Gika memegangi urat nadinya di leher yang mungkin saja sudah putus karena gigitan maut Tiffany macan Rrrooaaar!


"Gikaaa!!" Jerit Tiffany marah karena Gika baru saja menjatuhkannya ke lantai.


Dasar Gika sialan!


.


.


.


Yang salah siapa, coba?


🙄🙄🙄


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.