Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KAU MENYUKAINYA?



"Bangun!"


Ashley yang masih mimpi indah merasa terusik oleh seseorang yang sepertinya usil sekali pagi ini.


"Hei, Nyonya Richard! Bangun kau!" Sebuah benda memukul pundak Ashley dan benar-benar membuat Ashley kesal sekarang. Ashley membuka matanya, mengerjap beberapa kali lalu samar-samar melihat seorang gadis yang berdiri memakai tongkat.


Astaga!


"Tiff!" Teriak Ashley girang yang langsung bangun dengan kecepatan jet dan melesat untuk memeluk Tiffany.


"Ck! Lepas!" Tiffany langsung menyentak pelukan Ashley seperti biasa karena pasti gadis itu akan beralasan ia dan Ashley seperti l*sbi saat berpelukan.


"Kau sudah bisa berdiri? Berjalan kemari?" Cecar Ashley seraya memeriksa Tiffany dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Berjalan dengan empat kaki lebih tepatnya!" Jawab Tiffany seraya mendengus. Tiffany mulai bergerak memakai dua tongkatnya lalu berjalan ke arah ranjang Ashley.


"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" Tolak Tiffany saat Ashley hendak membantunya.


"Huuuft!" Tiffany membanting kedua tongkatnya setelah gadis itu berhasil duduk di ranjang Ashley.


"Kau bersama Opa?" Tanya Ashley lagi yang sudah ikut-ikutan duduk di samping Tiffany.


"Bisa kau cuci muka dan gosok gigi dulu?" Saran Tiffany pada Ashley seraya memencet hidungnya.


"Ck! Nafasku tidak sebau itu!" Ashley mencium nafasnya sendiri sebelum kemudian gadis itu beberapa ingin muntah.


"Sebaiknya kau rajin memakai mouthwash setelah ini agar Richard tidak pingsan saat menciummu nanti," saran Tiffany yang langsung membuat Ashley manyun.


"Richard perasaan juga tak pernah protes," gumam Ashley sebelum gadis itu keluar dari kamar untuk mencuci muka dan sekalian gosok gigi.


Selang sepuluh menit, Ashley sudah kembali ke kamarnya dan wajah gadis itu sudah lebih segar.


"Yang di luar itu bodyguard-mu?" Tanya Ashley kepo karena melihat banyak pria berbadan tegap dan memakai baju serba hitam di halaman panti. Beberapa sedang bermain bersama anak-anak dan ada juga yang hanya duduk-duduk memantau situasi.


"Bukan! Mereka bodyguard opa yang diperintahkan untuk menjaga dan mengawasiku," jawab Tiffany seraya memutar bola matanua dengan malas.


"Enak, ya jadi nona muda. Kemana-mana dikawal bodyguard," kekeh Ashley lalu yang sudah kembali duduk di samping Tiffany.


"Kau akan merasakannya sebentar lagi, lalu setelah itu kau bisa kembali berkomentar apa rasanya enak atau menyebalkan," jawab Tiffany masih dengan ekspresinya kesalnya.


"Richard tidak akan memberiku bodyguard dan dia akan membebaskanku. Dia juga bilang tidak akan mengekangku karena kami menikah juga hanya sementara," tutur Ashley menjelaskan pada Tiffany.


"Jadi kau benar-benar setuju menikah kontrak dengan Richard?" Tiffany menatap tak percaya pada Ashley.


"Ya! Tapi kami juga membuat kesepakatan," jawab Ashley blak-blakan. Ashley tak pernah khawatir menceritakan semua rahasianya pada Tiffany, karena Tiffany bukan tipe gadis ember. Tiffselalu busa menjaga rahasia dan gadis itu juga tak mau banyak ikut campur dengan urusan Ashley.


"Kesepakatan apa?" Tanya Tiffany kepo.


"Jika ke depannya Richard berubah perasaan dan tiba-tiba jatuh cinta padaku maka kontrak otomatis batal," jelas Ashley.


"Apa perjanjiannya juga berlaku sebaliknya?" Tanya Tiffany lagi.


"Tentu saja tidak!" Jawab Ashley seraya tergelak.


"Curang sekali!" Gumam Tiffany yang langsung menatap aneh pada Ashley yang masih tergelak.


"Kau harus membuat Richard jatuh cinta kepadamu jalau begitu!" Saran Tiffany tiba-tiba pada Ashley.


"Apa katamu?"


"Buat Richard jatuh cinta kepadamu agar kontrak itu batal! Kau tidak bisa menerima begitu saja status sebagai istri kontrak, Ash! Kau harus mempertahankan harga dirimu!" Cecar Tiffany berapi-api.


"Oh, ayolah! Aku dan Richard hanya akan hidup sebagai teman nantinya dan kami akan tinggal di apartemen Richard dan tidur terpisah," jelas Ashley penuh keyakinan.


"Baiklah, terserah kau saja! Tapi semoga kalian khilaf dan kontrak sialan itu batal!" Kelakar Tiffany yang langsung berhadiah tinjuan dari Ashley di pundak.


"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Gika?" Ashley mengalihkan bahan pembicaraan.


"Pertanyaan macam apa itu? Aku tak punya hubungan apa-apa dengan tuan model playboy itu!" Jawab Tiffany bersungut-sungut.


"Gika sudah tidak jadi model sekarang. Dia sedang belajar bisnis demi memenuhi tantangan dari Opa Bowles!" Cerita Ashley yang langsung membuat Tiffany berekspresi kaget.


"Mustahil!"


"Hei! Wajahmu memerah! Kau menyukai Gika De Chio juga?" Goda Ashley pada Tiffany.


"Tentu saja tidak!" Jawab Tiffany cepat seraya memalingkan wajahnya dan bersedekap.


"Bilang saja kalau suka!" Goda Ashley sekali lagi.


"Aku tak mungkin menyukai Gika! Aku membenci pria playboy yang sudah celup sana sini itu!" Sergah Tiffany yang sudah menatap tajam pada Ashley.


"Gika sudah tobat dari kelakuan playboy-nya, Tiff! Kau bisa tanya pada Henry kalau tak percaya!" Ujar Ashley cepat yang lagi-lagi membuat Tiffany terdiam tak percaya.


"Mustahil Gika bisa tobat dari kelakuan playboy-nya!" Tiffany masih tak percaya.


"Ya sudah kalau tak percaya!"Ashley mengendikkan kedua bahunya.


"Ngomong-ngomong, kau akan menginap sampai hari pernikahanku, kan?" Tanya Ashley memastikan.


"Ya! Aku juga membawakan gaunmu." Jawab Tiffany sebelum kemudian nona muda itu memanggil seorang pengawalnya. Pengawal Tiffany masuk ke kamar Ashley membawa sebuah kotak yang lumayan besar.


"Wow! Kau benar-benar membuatkannya untukku?" Ashley berbinar tak percaya dan segera membuka kotak warna putih tersebut.


"Aku sudah janji, jadi aku tak mungkin mengingkari janjiku sendiri," jawab Tiffany yang segera mengeluarkan gaun warna putih itu dari kotak.


"Cobalah dulu!" Titah Tiffany selanjutnya pada Ashley.


Ashley tak membuang waktu dan segera mencoba gaun yang sidah dibuatkan Tiffany tersebut.


"Kenapa panjangnya hanya selutut?" Protes Ashley saat mencobanya.


"Agar kau tak terlihat pendek!" Jawab Tiffany to the point dan jujur tentu saja. Ashley refleks merengut.


"Kakimu akan terlihat lebih jenjang jika kau memakai yang model itu! Percaya padaku! Aku paham desain!" Jelas Tiffany panjang lebar yang tetap membuat Ashley merengut.


"Baiklah, buang saja gaunnya jika kau tidak suka!" Tiffany mulai kesal sekarang.


"Jangan!" Ashley kembali mematut penampilannya di depan kaca.


"Aku menyukainya!"


"Terima kasih, Tiff!" Ucap Ashley akhirnya seraya memeluk Tiffany.


"Lepas! Aku bukan lesb*!" Sentak Tiffany sok jual mahal.


"Aku akan menyuruh Gika memelukmu saja kalau begitu!" Kelakar Ashley yang langsung membuat Tiffany mengacungkan tinju ke arah Ashley.


"Tidak usah menyebut namanya lagi!" Tiffany bersungut.


"Dia sudah bekerja keras, Tiff! Hargai sedikit dan berikan kesempatan!"


"Aku tidak peduli!" Jawab Tiffany acuh.


"Dasar kejam!"


"Bodo amat!" Tiffany masih saja acuh saat tiba-tiba ketukan di pintu kamar yang setengah terbuka membuat Tiffany dan Ashley menoleh serempak ke arah pintu.


"Ashley-"


Richard tak melanjutkan sapaannya pada Ashley dan pria itu tampak tertegun saat melihat Ashley yang masih mengenakan gaun pengantin hasil karya Tiffany.



.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.