Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
RAGU



Ruang tamu di kediaman Attala itu hening sejebak setelah pernyataan mengejutkan dari Uncle Alvin yang tiba-tiba menjelek-jelekkan Dad Dean.


"Maaf, Uncle! Mungkin itu hanya masa lalu. Dan saya mewakili Dad Dean, minta maaf ke Uncle jika memang Dad pernah menyakiti keluarga Uncle Alvin," Naka berucap dengan penuh kerendahan hati. Hal ini benar-benar di luar dugaan Uncle Alvin dan Papi Juna.


"Kau sangat berbeda dari Dad-mu, Naka!" Puji Uncle Alvin yang kini sudah menatap kagum pada Naka.


"Tapi dia juga tak mungkin seperti itu jika Dad dan Mom-nya tidak mengajari, Alvin!" Ujar Papi Juna dengan pendapat bijaknya.


"Ya!" Uncle Alvin tertawa kecil, lalu sahabat Papi Juna itu mengusap wajahnya sendiri seolah baru saja menyadari sebuah kesalahan.


"Maaf karena sudah membawa-bawa masa lalu usang itu kemari, Naka!" Ucap Uncle Alvin selanjutnya.


"Todak apa-apa, Uncle! Paling tidak, saya jadi tahu kelakuan Dad di masa lalu," jawab Naka yang malah berkelakar.


"Nanti sampaikan pada Dad-mu salam dari keluarga Sanjaya. Dad-mu akan langsung tahu," ujar Uncle Alvin lagi.


"Dengan senang hati akan saya sampaikan, Uncle!" Jawab Naka seraya mengulas senyum tipis.


"Eheem!" Alsya yang merupakan satu-satunya wanita di ruangan itu berdehem dan bangkit dari duduknya.


"Alsya akan memeriksa Sunny saja, Pi! Silahkan semuanya mengobrol sebagai sesama pria," pamit Alsya seraya berlalu dari ruang tamu.


"Jadi, kau pacarnya Alsya?" Tebak Uncle Alvin tiba-tiba sambil mengendik ke arah Naka.


"Saya temannya Alsya, Uncle!" Jawab Naka cepat.


"Tapi tatapanmu pada Alsya mengatakan hal lain," nada bicara Uncle Alvin terdengar menggoda.


"Apa maksudmu, Alvin?" Tanya Papi Juna penuh selidik.


"Kau tahu bagaimana Ethan menatap Ruby, lalu Rumi menatap Vivian." Uncle Alvin mulai berteori.


"Seperti itulah tadi kira-kira tatapan Naka pada Alsya," lanjut Uncle Alvin seraya mengul*m senyum. Terang saja, pernyataan Uncle Alvin langsung membuat Naka jadi salah tingkah.


"Uncle, saya tidak bermaksud," Naka menatap sungkan pada Papi Juna.


"Kau tahu siapa Alsya, Anak muda?" Papi Juna tiba-tiba sudah menatap tegas pada Naka.


"Iya, saya tahu, Uncle! Alsya putri sulung anda dan pasti anda sangat menyayangi dan menjaganya, Uncle Juna," ucap Naka bersungguh-sungguh seraya membalas tatapan tegas Papi Juna.


"Om Naka!" Seruan Sunny langsung membuat ketegangan di ruang tamu menjadi usai. Sunny langsung menghampiri dan memeluk Naka dengan erat seperseorang putri yang sedang memeluk ayahnya.


"Sudah bangun? Tadi kata Mama, Sunny masih tidur," tanya Naka seraya merapikan rambut Sunny dan mengusap wajah gadis kecil itu. Jiwa kebapakan dalam diri Naka langsung bisa terlihat.


"Tidak ada yang jual. Nanti kapan-kapan kalau Om pergi lagi ke Maratua atau ke pantai lain, Om buatkan yang baru, ya!" Bujuk Naka yang kemudian mengambil paperbag yang tadi ia bawa.


"Ini apa?" Tanya Sunny seraya memeriksa paperbag yang dibawa Naka. Ada beberapa pernak-pernik ala anak perempuan di dalamnya.


"Itu untuk Sunny! Anggap saja pengganti kalung kerang yang rusak."


"Dan Om minta Sunny jangan marah lagi pada Archie,oke!" Lanjut Naka sseikit menasehati Sunny.


"Tapi Archie-"


"Archie tak sengaja melakukannya!" Potong Naka menatap lembut ke dalam netra gadis sepuluh tahun itu.


"Baiklah! Sunny tak akan marah lagi pada Archie," putus Sunny akhirnya seraya kembali memeluk Naka.


"Terima kasih hadiahnya, Om! Semuanya cantik!" Ucap Sunny penuh binar kebahagiaan yang langsmembuat Papi Juna dan Uncle Alvin mengulas senyum.


"Calon menantu!" Bisik Uncle Alvin pada Papi Juna yang langsung memudarkan senyumnya. Entah mengapa, Papi Juna masih belum yakin pada Naka dan bayangan tentang Alsya yang pernah disakiti oleh mantan suaminya terus saja berkelebat di benak pria paruh baya tersebut.


"Berapa usiamu, Naka? Apa kau juga punya seorang putri? Sepertinya kau daddyable sekali," cecar Papi Juna selanjutnya pada Naka yang kini merangkul Sunny.


"Kebetulan saya masih bujang, Uncle," Naka sedikit tersipu.


"Kalau umur, tahun ini genap 25 tahun," lanjut Naka lagi menjawab pertanyaan Uncle Juna.


"Masih bujang tapi sudah punya jiwa kebapakan," Uncle Alvin bersiul.


"Biasa saja! Di luaran sana juga banyak yang seperti itu," sahut Papi Juna yang sudah tak seantusias tadi pada Naka setelah tahu umur pria itu.


Usianya selisih jauh sekali dari Alsya. Jika membiarkannya menjalin hubungan dengan Alsya, sama artinya hanya mencari masalah. Apalagi Naka yang ternyata masih bujang pasti pikirannya masih labil dan akan sangat mudah berpaling jika nanti bosan pada Alsya. Juna tak akan membuat kesalahan untuk kedua kali.


"Om Naka jadi papanya Sunny saja, bagaimana?" Celetuk Sunny tiba-tiba yang langsung membuat semua orang menoleh ada gadis sepuluh tahun itu.


Apa ini sebuah kode dari Sunny?


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.