
Edward masih menyusuri lekuk demi lekuk tubuh Elleanore yang tak lagi terbalut sehelai kainpun. Pun dengan Edward yang kini juga sudah tak mengenakan apapun di tubuhnya.
"Emmmmmh!" Elleanore mendes*h lalu menggigit bibir bawahnya, saat Edward membuat gerakan memutar di kedua gundukan kenyalnya. Elleanore menengadahkan kepalanya dan membiarkan air hangat yang keluar dari shower menyirami wajahnya. Edward masih bermain-main dengan dada Elleanore.
Setelah tadi Edward membelainya dengan tangan, kini Edward ganti memainkan kedua ujung dari gundukan kenyal Elleanore dengan lidahnya.
Edward tak sepolos dugaan Elleanore ternyata! Dan mungkin sikap kaku Edward di awal tadi hanya sebuah akting belaka karena kini Elleanore sedang melihat seorang Edward yang ternyata begitu ahli mencumbu setiap jengkal dan setiap lekuk tubuh Elleanore.
"Emmmmmh!" Elleanore kembali mengerang dan kedua kaki Elleanore mendadak tak kuat lagi menopang tubuhnya. Elleanore nyaris jatuh meluruh ke atas pintu kamar mandi, namun Edward sigap menahan tubuhnya, lalu mendekap tubuh naked tersebut. Kini Elleanore bisa merasakan sebuah kehangatan, saat kulitnya bergesekan dan terus bersentuhan dengan kulit Edward.
"Kita sudahi!" Bisik Elleanore pada Edward yang masih mendekapnya.
"Kau kedinginan?" Tanya Edward khawatir seraya mematikan shower.
"Airnya hangat." Elleanore tertawa kecil.
"Tapi kakiku terasa sedikit pegal karena kita tadi sudah berdiri lama saat di acara," lanjutkan Elleanore berucap jujur pada Edward.
"Baiklah!" Edward tiba-tiba sudah mengangkat tubuh Elleanore yang kini sudah terbalut handuk dan menggendongnya ala bridal.
"Rambutku basah dan aku tak bisa langsung tidur," Elleanore mengingatkan Edward yang hendak mendaratkannya di atas tempat tidur.
"Memangnya kita mau langsung tidur?" Edward mendudukkan Elleanore di depan meja rias, lalu menatap pantulan wajah istrinya tersebut melalui kaca.
"Piyamaku masih di dalam kamar mandi tadi," gumam Elleanore yang sudah mulai mengeringkan rambutnya memakai hairdryer.
"Tidak usah pakai piyama," Edward sudah merengkuh kedua pundak Elleanore dari belakang.
"Kau sepertinya tidak benar-benar polos," tebak Elleanore seraya tertawa kecil.
"Aku hanya mengikuti naluri alamiah seperti katamu tadi," kilah Edward mencari pembenaran.
"Dan aku mendadak ingat kalau aku pernah bermimpi-"
"Bermimpi apa?" Sela Elleanore kepo.
"Bermimpi sesuatu," Edward menjawab dan sedikit malu-malu.
"Jadi?" Elleanore meletakkan hairdryer ke atas meja, lalu ganti meraih sisir untuk menyisir rambutnya yang sudah setengah kering. Edward meraih sedikit rambut Elleanore lalu menghirup baunya yang harum.
"Jadi apa?" Edward meraih ujung handuk Elleanore lalu menariknya hingga handuk putih itu menjadi longgar dan terlepas dengan sendirinya. Elleanore masih sempat menahan handuk bagian depan yang menutupi dada gadis tersebut.
"Aku sudah melihat dan merasakannya," bisik Edward yang sontak langsung membuat wajah Elleanore memerah. Bayangan adegan di dalam kamar mandi tadi mendadak berkelebat di benak Elleanore dan bibir gadis itu seketika menyunggingkan senyum.
Elleanore kembali membuka mata, saat ternyata handuk yang tadi ia kenakan sudah melorot ke bawah dan kedua tangan Edward sudah menangkup gundukan kenyal milik Elleanore sambil merem*snya dengan lembut.
"Ouuuhh!" Elleanore melenguh saat gelenyar aneh mulai merambati aliran darahnya. Edward tak membuang waktu lagi dan langsung mengajak Elleanore untuk pindah ke atas tempat tidur. Sesekali Elleanore melirik ke bagian bawah tubuh Edward yang masih terbalut handuk. Namun milik Edward terlihat sudah menonjol dan sepertinya sudah menegang juga.
Elleanore tak menyadari langkahnya hingga tiba-tiba wanita itu sudah direbahkan dengan lembut oleh Edward di atas tempat tidur. Edward langsung mel*mat bibir Elleanore dan mencecapnya berulang kali. Kedua tangan Edward menangkup wajah Elleanore, namun bagian bawah tubuh Edward yang masih tertutupi oleh handuk sudah menggesek area pangkal paha Elleanore.
Pagutan bibir Elleanore dan Edward semakin panas dan dipenuhi gairah. Kini kecupan Edward sudah turun ke leher jenjang Elleanore, lalu terus turun ke dada Elleanore yang tak lagi tertutupi sehelai benangpun.
Edward bermain-main sebentar di area tersebut, sebelum kemudian kecupannya turun ke perut Elleanore, lalu terus ke bagian bawah.
"Aaarrrgh! Edward!" Elleanore mendes*h tak terkendali dan tangannya refleks menjambak rambut Edward, saat suami Elleanore tersebut memainkan lidahnya di dalam milik Elleanore dan berhasil menemukan titik *-**** milik Elleanore.
"Edward!" Elleanore mendes*hkan nama Edward dengan susah payah. Wajah wanita itu sudah memerah dan nafasnya tampak terengah-engah. Milik Edward langsung berontak dan minta dilepaskan secepatnya dari dalam handuk.
"Elleanore!" Panggil Edward lembut seraya menindih tubuh istrinya tersebut. Edward menatap lekat wajah Elleanore yang kedua matanya masih terpejam.
Edward mencium kedua kelopak mata Elleanore yang kemudian terbuka perlahan.
"Aku mau minta izin," ucap Edward lembut.
"Minta izin apa," Tanya Elleanore menatap bingung pada Edward.
"Minta izin untuk memasukimu," kedua tangan Edward sudah bergerak untuk menekuk lutut Elleanore, lalu lanjut bergerilya ke dua bukit kembarnya.
"Aku tidak keberatan." Jawab Elleanore lirih.
"Aku milikmu seutuhnya," sambung Elleanore lagi yang sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Edward. Elleanore merenggangkan kedua pahanya untuk memberikan akses pada Edward.
"Aku sudah bisa langsung masuk, kan?" Tanya Edward tiba-tiba.
"Ya!" Jawab Elleanore berusaha menahan tawa.
"Baiklah!" Edward menelan saliva, lalu mengarahkan miliknya yang sudah menegang sempurna ke dalam milik Elleanore.
Edward menatap sejenak pada Elleanore, lalu sedetik kemudian, pria itu mendorong miliknya untuk menerobos masuk ke dalam milik Elleanore.
Elleanore terlihat memejamkan kedua matanya lalu istri Edward itu juga menggigit bibir bawah dan kedua tangannya merem*s sprei seolah sedang menahan rasa sakit.
Tapi Elleanore sepertinya kesakitan sekali!
Edward refleks mengurungkan niatnya untuk lanjut mendorong dan pria itu malah menarik keluar miliknya dari dalam milik Elleanore. Meskipun sebenarnya hasrat Edward sudah naik ke ubun-ubun sekarang.
"Maaf, El! Aku tak akan menyakitimu!" Ucap Edward yang langsung membuat Elleanore membuka mata dan membulatkan kedua bola matanya dengan lucu ke arah Edward.
"Maksudnya?"
"Kita tunda saja malam pertama kita sampai kau tak kesakitan lagi," ujar Edward yang benar-benar membuat Elleanore ternganga tak percaya.
"Hah?"
.
.
.
Tunda tunda sampai kau menua
🤣🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.