
Edward masuk ke dalam ballroom hotel dimana acara resepsi pernikahan Naka dan Alsya digelar malam ini. Edward mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ballroom seolah sedang mencari keberadaan seseorang yang belum Edward lihat sepekan belakangan.
Elleanore!
Kata Richard Elleanore sedang di luar kota. Tapi seharusnya gadis itu pulang malam ini karena ini adalah hari pernikahan abang kesayangannya. Namun Edward belum menemukan sosok gadis yang selalu terlihat cheerful tersebut. Elleanore tak terlihat dimanapun!
Edward akhirnya pergi ke salah satu meja yang menyediakan minuman. Pria itu baru mengambil segelas minuman dan hendak meneguknya saat terdengar suara Ashley dari balik punggungnya.
"Jadi El tidak pulang?" Tanya Ashley sepertinya pada seseorang yang datang bersamanya. Apa itu Richard?
"El masih fokus menemani Henry." Itu suara Richard. Tapi bukan itu yang Edward pikirkan melainkan kalimat yang baru saja dilontarkan Richard sebagai jawaban atas pertanyaan Ashley.
Elleanore sedang fokus menemani Henry?
Menemani kemana maksudnya? Mereka sudah menikah dan sekarang sedang honeymoon?
"Ed, kau sudah datang?" Sapaan Ashley langsung membuyarkan lamunan Edward.
"Ya!" Jawab Edwars datar seraya berbalik dan balik menyapa Richard serta Ashley.
"Datang sendiri?" Tanya Ashley lagi yang mendadak membuat Edward ingin mengumpat.
Apa istri kontrak Richard ini harus memperjelas status Edward yang memang tak pernah punya pasangan saat ke acara sejak dulu?
"Dia tidak tertarik pada wanita, Sayang!" Bisik Richard seraya merangkul mesra lalu mengecup tengkuk Ashley hingga istrinya itu sedikit menggeliat.
"Rich, hentikan! Kita sedang di pesta!" Bisik Ashley yang malah membuat Richard semakin intens menyapukan bibirnya di tengkuh dan belakang telinga Ashley.
Edward yang melihat semua pemandangan tersebut langsung memalingkan wajahnya.
"Ada Edward!" Lenguh Ashley pada Richard yang masih sibuk menggigiti telinganya hingga membuat Ashley merasa geli sekaligus bergairah.
Dasar Richard!
"Biarkan saja! Biar dia mencari pacar juga," jawab Richard yang tangannya sudah semakin erat merangkul Ashley.
"Eheeeem!" Edward berdehem karena mulai merasa risih, kesal,sekaligus cemburu dengan apa yang dilakukan Richard dan Ashley di depannya.
"Jangan bilang kalau surat kontrak pernikahan kalian sudah masuk tong sampah!" Sindir Edward sedikit pedas.
"Sudah aku robek lebih tepatnya!" Jawab Richard membuat pengakuan blak-blakan!
"Sudah kuduga! Seharusnya aku tak perlu repot-repot mengetiknya waktu itu!" Gumam Edward seraya mendengus kesal.
"Rich, sudah! Kau merusak riasanku!" Rengek Ashley berusaha menyingkirkan kepala Richard dari tengkuknya. Suami Ashley itu selalu menggila swtiap berada di dekat Ashley.
Ya, sejak pengakuan cinta Richard malam itu, hampir setiap malam Richard dan Ashley selalu bercinta dengan panas dan mencoba hampir setiap sudut apartemen Richard.
Ya ampun!
Wajah Ashley langsung bersemu merah mengingat pergelutan panasnya bersama Richard setiap malam.
"Rich, aku hanya ingin memberitahu kalau ada banyak kamar di atas yang bisa kau pakai dan berhentilah pamer kemesraan begitu!" Omel Edward selanjutnya yang langsung membuat Richard tersenyum mengejek ke arah pria itu.
"Terima kasih saranmu!" Richard kembali mengeratkan rangkulannya di pinggang Ashley.
"Ayo, Sayang! Kita ke atas saja!" Ajak Richard selanjutnya seraya mengecup singkat bibir Ashley masih di depan Edward.
"Brengsek!" Umpat Edward kesal. Sedangkan Ashley dan Richard sudah berlalu pergi keluar dari ballroom dan sepertinya benar-benar akan pindah ke salah satu kamar di atas.
****
"Halo, ini siapa?" Jawab Tiffany saat ada deretan nomor baru yang menelepon ke ponselnya.
"Gika De Chio! Rrrrooooaaar!"
"Oh. Maaf aku sedang sibuk. Bye!" Pungkas Tiffany malas yang hampir menutup telepon saat Gika berteriak seperti speaker konslwt Ashley dari ujung telepon.
Dasar Gika De Chio menyebalkan!
"Tiff! Tunggu dulu!"
"Kau menyaki telingaku!" Omel Tiffany galak.
"Nyalakan video call kalau begitu!"
"Nggak!" Tolak Tiffany tetap galak.
"Akan kututup teleponnya!" Sergah Tiffany lagi tetap galak.
"Jangaaaan!"
"Jangan berteriak-teriak makanya! Dasar toa!" Maki Tiffany kesal
"Dasar macan! Rrrooaaar!"
"Tentu saja tidak! Aku mau bertanya apa kau datang ke pernikahan abang iparmu malam ini?"
"Maaf! Apa katamu tadi? Aku tidak punya kakak ipar!" Jawab Tiffany seraya memutar bola matanya. Sepertinya mantan tuan model itu sedikit gila.
"Naka De Chio maksudku! Dia kan abang iparmu!"
Tiffany kembali memutar bola matanya meskipun Gika tak bisa melihat.
"Kau meneleponku hanya untuk mengoceh tak jelas! Jadi akan kututup teleponnya." Ujar Tiffany lagi.
"Tidaak! Jangaan!"
Teriakan Gika kembali harus membuat Tiffany menjauhkan ponsel dari telinganya.
Dasar toa konslet!
"Pelankan suaramu! Aku belum tuli!" Tiffany bersungut-sungut pada Gika.
"Kau dimana sekarang?"
"Di rumah! Memang kau pikir dimana?" Tiffany kembali bersungut.
"Rumah Opa Bowles?"
"Ya!" Jawab Tiffany singkat.
"Kenapa tidak datang ke pernikahan Naka dan Kak Alsya? Bukankah Mom dan Dad sudah mengirimkan undangan?"
"Ya, tapi Opa sedang sakit. Jadi aku tak mungkin meninggalkannya," jawab Tiffany berkata jujur.
"Opa sakit apa?" Nada bicara Gika terdengar khawatir.
"Sesak nafasnya kambuh dan ada sedikit masalah juga di jantungnya." Jelas Tiffany.
"Sekarang di rumah sakit?"
"Tidak! Opa tidak mau dirawat dan minta istirahat di rumah saja." Jawab Tiffany lagi.
"Besok aku akan kesana dan menjenguk opa."
"Sebaiknya tidak usah ketimbang kau tersesat! Rumahku saja kau tidak tahu!" Tiffany meledek Gika.
"Kau khawatir aku tersesat? Oh, ya ampun! Kau sekarang perhatian padaku, Tiff! Besok aku akan melamarmu!"
"Rrrrooooaaar! Rrrrooooaaar!"
Tiffany kembali memutar bola matanya.
"Akan kuanggap kalimatmu yang terakhir tadi sebagai bualan karena aku masih tak percaya padamu!"
"Bye!" Pungkas Tiffany sebelum gadis itu menutup telepon, lalu melempar ponselnya ke atas kasur. Ponsel Tiffany kembali berdering namun Tiffany memilih untuk mengabaikannya dan keluar dari kamar.
****
Gika masih mencoba menghubungi Tiffany lagi setelah tadi ia mendapat nomor Tiffany dari Ashley yang berhasil Gika rayu. Namun telepon Gika tak kunjung diangkat Tiffany.
"Ck! Mungkin sedang mandi!" Gika mengendikkan kedua bahunya, saat kemudian Gika melihat Mom Fe yang berjalan tergesa keluar dari ballroom bersama Dad Dean.
Ada apa gerangan?
Gika yang penasaran segera menyusul Mom serta Dad-nya tadi dan terlohat Elleanore yang berdiri gelisah di lobi hotel. Elleanore terlihat berantakan dan wajahnya juga sembab. Henry tak ada di sekitar Elleanore.
Sial!
Gika tak berhenti mengumpat dan buru-buru menghampiri Elleanore yang sudah menangis tergugu di pelukan Mom Fe.
"Henry, Mom!" Cicit Elleanore sesenggukan.
"El, Henry kemana?" Tanya Gika tak sabar karena tak melihat Henry.
"Henry....." Elleanore semakin menangis tergugu. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Henry di rumah sakit!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.