Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
ALASAN



"Kenapa kau tadi harus mengatakan pada Aunty Navya dan Uncle Erlan kalau kau tunanganku? Kacau sudah semuanya!" Richard menggerutu pada Ashley saat mereka meninggalkan lokasi pesta.


"Kau sendiri yang menyuruhku untuk mengatakan pada semua orang kalau aku tunanganmu," sergah Ashley membela diri.


"Semua orang kecuali Aunty Navya dan Uncle Erlan!" Richard benar-benar geregetan sekarang.


"Mana aku tahu! Kau juga tak mengatakannya sedari awal."


"Aku sudah bertanya padamu secara detail, tapi kau bilang aku sebaiknya diam dan tak banyak bicara serta tak banyak bertanya!".


"Kau sendiri yang mengatakan kalau aku cukup menjawab tunangan Richard Alexander saat ada yang menanyaiku!"


"Jadi tidak usah menyalahkan aku dan menuduh aku tak profesional sebagai pacar bayaran. Kau saja yang terlalu kaku seperti kanebo kering!" Ashley bercerocos panjang lebar padahal tadi Richard hanya mengucapkan satu kalimat.


Ya ampun!


Richard akan benar-benar stress jika harus terus-terusan berhadapan dengan gadis bawel nan cerewet ini!


"Dan satu hal lagi, kau menulis kriteria komunikatif saat memesan pacar bayaran. Aku sudah komunikatif dan bisa mengobrol santai dengan rekan bisnismu yang mana saja. Kau itu yang sejak datang ke acara tadi sudah kaku dan tak bisa berakting!" Ujar Ashley lagi yang sepertinya belum lelah bercerocos. Richard juga tidak tahu kenapa gadis ini terus saja mengoceh dan membuat telinga Richard berdenging.


"Klienku yang sebelum-sebelumnya saja tak pernah komplain dengan profesionalitasku," pamer Ashley lagi yang langsung membuat Richard berdecak.


"Kau punya klien lain?"


"Tentu saja ada beberapa." Jawab Ashley pamer lagi.


"Lalu apa profesi klienmu yang lain? Direktur perusahaan juga?" Tanya Richard lagi memastikan. Jika itu benar adanya, bisa-bisa Richard akan ketahuan rekan bisnisnya kalau ia menyewa seorang pacar bayaran demi sebuah proyek menggiurkan.


"Bukan! Satu-satunya tuan Direktur yang menyewaku hanya anda, Tuan Richard Alexander! Direktur lain sudah dikelilingi banyak wanita, jadi untuk apa mereka menyewa seorang pacar bayaran," Ashley tertawa renyah seolah sedang mengejek Richard.


Menyebalkan!


"Lalu klienmu profesinya apa?"


"Kebanyakan mahasiswa yang sudah lama jomblo dan akan datang ke reuni. Pernah juga dapat klien seorang dokter muda, dan terakhir klienku adalah seorang pemilik kafe yang ternyata dia maho," Jelas Ashley panjang lebar yang hanya membuat Richard diam. Namun tangan Richard terlihat menggenggam erat kemudi mobil seperti sedang menahan sesuatu.


Mungkin sakit perut dan ingin BAB!


"Mulai sekarang, klienmu hanya bileh aku dan jangan menerima klien.lain lagi!" Ujar Richard yang akhirnya buka suara.


Tapi tunggu!


Kenapa pria kanebo kering ini malah mengatur-atur Ashley?


"Kenapa kau mengaturku begitu! Kau bahkan bukan siapa-siapaku!" Ashley bersedekap dan mada bicaranya sudah meninggi.


"Kau calon tunanganku mulai sekarang-"


"Itu hanya pura-pura!" Sergah Ashley menyela.


"Kau tidak ada hak untuk mengaturku!"


"Aku akan menyewamu selama setahun penuh kalau begitu! Aku lunasi pembayarannya di awal!".


"Hah?" Ashley menganga lebar dan merasa tak percaya.


"Tapi kau tidak bisa melakukan ini, Rich!" Sergah Ashley lagi berani.


"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan Richard Alexander!" Ucap Richard sombong seraya menghentikan mobilnya di depan deretan ruko tempat ia menjemput Ashley sore tadi. Suasana sudah sepi dan ruko juga sudah banyak yang tutup.


"Pekerjaanku hari ini selesai! Kau tidak memberiku tip?" Ashley menengadahkan tangannya ke arah Richard tanpa rasa malu sedikitpun.


"Akan kuberi tip tapi kau tidak boleh menerima klien lain selain aku!" Jawab Richard tegas.


Apa?


"Ini tipku tapi kau ingat syarat yang tadi!" Tegas Richard sekali lagi.


Ashley terlihat menimbang-nimbang untuk beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu mengambil keputusan.


"Baiklah, aku setuju! Aku akan keluar dari situs persewaan pacar itu dan hanya menjadi pacar sewaan untukmu!".


"Kau menyimpan nomorku, kan? Langsung hubungi saja dan tak perlu lewat situs lagi! Tapi syaratnya masih sama dan aku tak menerima *****-*****!" Tutur Ashley panjang lebar membuat kesepakatan dengan Richard.


"Oke, deal!" Richard mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan.


"Deal!" Ashley membalas uluran tangan Richard dan dia orang itu saling berjabat tangan.


"Ini tipmu!" Richard memberikan jartu kreditnya tadi pada Ashley.


"Aku bisa membeli apapun dengan kartu ini?" Tanya Ashley memastikan.


"Tentu saja! Apa masih kurang jelas?" Richard mendelik ke arah gadis itu.


"Baiklah, terima kasih! Aku turun du-" langkah Ashley tertahan karena tangan Richard yang kini mencekal lengannya.


"Kau mau kemana?"


"Turun dan pulang!" Jawab Ashley cepat.


"Rumahmu dimana? Dekat dari sini?" Tanya Richard memastikan.


"Sekitar dua puluh menit. Aku akan naik ojek atau angkutan umum-" Ashley sedikit risih dengan tatapan kanebo kering Richard sekarang.


"Kau tidak lihat ini jam berapa? Mana ada angkutan umum malam-malam!" Decak Richard seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Tutup pintu, pakai sabuk pengaman dan aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Richard tegas yang tak lagi dibantah oleh Ashley. Dapat tumpangan gratis, siapa yang akan menolaknya?


"Rumahmu arah ke mana?" Tanya Richard lagi yang sudah mulai melajukan mobilnya.


"Jalan Kenanga, panti asuhan Kasih Bunda." Jawab Ashley santai.


"Kau tinggal di panti asuhan?" Tanya Richard tak percaya.


"Ya, aku yatim piatu dan tak punya orang tua." Jawaban Ashley benar-benar seolah tanpa beban.


Jadi alasan Ashley menjadi pacar sewaaan....


Untuk biaya kuliahnya?


.


.


.


Aku persempit biar nggak bingung.


😁😁😁


Ashley dan Tiff satu panti asuhan ternyata.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.