Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
GIKA DE CHIO



Gika mengemudikan mobil sambil mengangguk-angguk menirukan alunan musik yang menggema di dalam mobilnya. Pria yang berprofesi sebagai model dan punya nama panggung yang kata Elleanore sedikit aneh itu baru pulang dari lokasi pemotretan.


Gika De Chio!


Itulah nama panggung Gika yang kadang dijadikan bahan ledekan oleh Elleanore. Padahal di kalangan para remaja putri, Gika adalah seorang idola. Foto Gika terutama yang bertelanjang dada pasti banyak terpajang di kamar para remaja putri.


Gika saja harus menyamar saat kemana-mana agar tak dikerubuti oleh fans!


Ponsel Gika mendadak berdering nyaring. Gika baru melirik sejenak ke layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon, saat tiba-tiba sudah ada sebuah motor yang berhenti mendadak di depan mobilnya.


Apa?


Gika menginjak rem secepat mungkin namun tetap saja, motor sialan di depannya tadi tercium bemper depan mobil Gika dan hilang keseimbangan. Pengendaranya langsung ikut jatuh tersungkur ke atas aspal.


"Sial!" Umpat Gika seraya memukul stir mobilnya. Tapi kebetulan jalanan sedang sepi, jadi sepertinya kalau Gika kabur tak akan masalah. Toh pengendara motor sialan tadi juga tidak terluka sepertinya karena kini ia sudah bangkit berdiri dan menghampiri mobil Gika....


Apa?


Sial! Sial! Sial!


Tuk tuk tuk!


Pengendara motor yang masih mengenakan helm fullface itu mengetuk kaca jendela mobil Gika.


Gika tak langsung membukanya dan diam beberapa saat.


Tuk tuk tuk!


Kaca diketuk lagi.


"Ck!" Gika berdecak, meraih kacamata hitamnya di atas dashboard, memakai topi, lalu membuka kaca jendela mobil.


Hei! Gika model terkenal!


Jadi ia harus menyamar agar tak dikerubuti para remaja putri.


"Apa?" Gika membuka kaca mobil dan bertanya dengan ketus.


Si pengendara membuka kaca helm fullfacenya.


"Punya mata, kan?"


Suara si pengendara yang teredam helm membuat Gika kurang mendengarnya dengan jelas. Tapi kenapa seperti suara perempuan? Mustahil pemotor berhelm fullface ini perempuan, kan? Nggak ada feminim-feminimnya!


"Kau bicara apa? Lepaskan helmmu itu dan bicara yang sopan!" Perintah Gika pongah.


Si pengendara motor melepaskan helm-nya dan rambut hitam panjang sepunggung langsung terurai dari balik helm. Bisa Gika lihat juga wajah cantik pengendara motor yang ternyata memang seorang wanita tersebut.


Bibirnya seksi sekali! Rambutnya indah sepunggung dan Gika benar-benar terperangah dibuatnya. Otak mesum Gika langsung berkelana membayangkan saat ia mengecup bibir gadis ini lalu rambut panjang gadis ini yang basah oleh peluh akibat pergelutan Gika dengannya.


Ouh!


Gika benar-benar ingin tidur dengan gadis pemotor ini!


"Halo!" Gadis itu menjentikkan jarinya di depan wajah Gika dan langsung membuat semua lamunan Gika menjadi buyar.


"Kau punya mata, kan, Tuan kacamata hitam!" Gadis itu melepaskan kacamata Gika dari wajahnya dengan tidak sopan.


"Hei! Kembalikan kacamataku!" Gertak Gika galak.


Bisa hancur dunia persilatan kalau ada fans yang melihat Gika.


"Kau buta?" Tanya gadis itu lagi mendelik pada Gika.


"Tidak! Aku bisa melihat! Tapi Kembalikan dulu kacamataku!" Bentak Gika lagi pada gadis kurang ajar itu.


"Lalu kenapa kau menabrakku yang jelas-jelas sudah menyalakan lampu sign dan akan menyeberang?"


"Apa kau baru belajar mengemudi hingga tak hafal letak gas dan rem? Atau jangan-jangan SIM-mu hasil nyogok?" Cecar gadis itu yang ternyata bisa lebih galak dari Gika.


Uuh!


Kalau galak begini saat bergelut di atas ranjang pasti agresif dan des*hannya luar biasa! Gika jadi penasaran!


"Heh!"


"Aku sedang bertanya kepadamu!" Gertak gadis semakin galak.


"Iya, aku mendengarkanmu, Nona-"


"Tiff!"


"Tidak usah memanggilku Nona!" Sela gadis itu yang sepertinya keberatan dipanggi Nona. Aneh sekali!


"Baiklah, Tiff! Aku Gika De Chio!"


"Kau siapa memangnya?" Tanya Tiff mengernyit heran dan memasang raut wajah yang lumayan mengesalkan.


Demi dewa dewi kahyangan!


Gadis ini tidak tahu siapa itu Gika De Chio? Apa gadis ini berasal dari zaman purba megalitikum?


"Kau tidak mengenalku?" Tanya Gika sekali lagi memastikan sekaligus membuka topinya.


"Tidak!" Jawab Tiff yang kini sudah ganti bersedekap.


"Memangnya kau siapa? Artis terkenal? Anak menteri? Presiden?" Cecar Tiff lagi yang benar-benar membuat Gika ternganga tak percaya.


"Tahu iklan shampoo di televisi itu, kan?"


"Aku tidak punya televisi di rumah!" Jawab gadis itu tegas.


"Seriously? Kau hidup di jaman apa? Kenapa tidak punya televisi di rumah dan tidak kenal siapa itu Gika De Chio?" Gika masih merasa tak percaya.


"Ck! Berhenti mengajakku berdebat dan aku minta ganti rugi untuk-"


Beep beep!


Suara klakson dari mobil di belakang mobil Gika menghentikan perdebatan Gika dan Tiff.


"Aku menepi sebentar," izin Gika pada Tiff.


"Jangan kabur!" Gertak Tiff galak.


"Tidak akan!" Gika menepikan mobilnya agar tak mengganggu pengendara lain. Sementara Tiff hendak ikut mengambil motornya yang masih tergelak di tengah jalan saat tiba-tiba ada truk kontainer lewat yang kecepatannya lumayan.


"Tiff!" Seru Gika yang langsung bergerak sigap menarik tubuh Tiff ke tepi jalan demi menghindari truk kontainer yang hampir melindasnya. Namun truk kontainer tadi akhirnya malah melindas motor Tiff hingga hancur berkeping-keping.


"Motor!" Tiff mengulurkan tangannya ke arah motor dan menatap nanar pada motornya yang malang itu.


"Ini semua salahmu!" Tiff refleks mendorong Gika yang tadi mendekapnya karena kesal. Gika yang tidak siap sontak jatuh terduduk di atas aspal dan meringis.


Dasar gadis barbar!


"Motor butut saja, kenapa kau tangisi begitu?" Cibir Gika meremehkan.


"Butut katamu? Aku membelinya second dua minggu yang lalu dengan uang hasil keringatku sendiri! Itu motorku satu-satunya! Motor kesayangan!" Tiff berkata dengan meledak-ledak seraya menunjuk-nunjuk ke arah Gika.


"Ck! Nanti aku ganti yang baru!" Jawab Gika enteng seraya menyentak tangan Tiff yang masih menuding ke arahnya. Pria itu bangkit berdiri dan kembali memakai topinya, lalu merebut kaca mata hitamnya yang masih dipegang oleh Tiff.


"Masuk!" Titah Gika seraya membuka pintu mobilnya untuk Tiff.


"Kau mau menculikku, lalu membuangku ke sungai untuk menghilangkan jejak?" Tuduh Tiff berprasangka buruk. Gika sontak geleng-geleng kepala dan berdecak berulang kali.


"Apa tuduhanmu tidak bisa lebih konyol lagi? Apa wajahku mirip psikopat pembunuh?" Cecar Gika seraya memutar telunjuknya di samping kepala.


"Aku mau mengantarmu pulang karena motor second-mu yang butut itu baru saja terlindas kontainer! Seharusnya kau itu berterima kasih!" Sergah Gika ikut-ikutan emosi.


"Aku masih bisa naik ojek!" Tiff bersedekap dengan pongah.


"Hei, Nona! Seharusnya kau itu berterima kasih dan merasa bersyukur karena sudah ditawari tumpangan oleh seorang Gika De Chio! Kenapa kau sombong begitu?" Gika mendelik ke arah Tiff yang masih bersedekap.


"Jaga jarak dan jangan memanggilku Nona! Aku Tiff!" Tiff mendorong Gika sekaligus memperingatkan pria itu dengan galak agar menjaga jarak.


"Dan tidak perlu menyebut namamu berulang-ulang! Bukan Sultan bukan presiden tapi sok-sokan terkenal!" Cibir Tiff lagi sebelum gadis itu meninggalkan Gika yang masih mematung seperti orang bodoh. Baru sekarang ada gadis yang tidak histeris saat melihat seorang Gika De Chio. Gadis lain pasti sudah minta foto, tanda tangan, dan menjerit-jerit karena ditawari naik mobil Gika De Chio!


"Jangan lupa untuk mengganti motorku dengan yang baru seperti janjimu tadi!" Tiff kembali menuding ke arah Gika.


"Kau belum memberikan alamatmu! Bagaimana aku akan mengirimkan motor baru? Kau pikir aku cenayang?" cecar Gika yang akhirnya bisa buka suara lagi.


"Panti Asuhan Kasih Bunda! Itu alamatku dan kirimkan saja motornya ke sana!" Pungkas Tiff sebelum gadis itu menghentikan ojek yang melintas dan meninggalkan Gika yang hanya mematung sendiri.


Panti asuhan?


Maksudnya Tiff tinggal di panti asuhan?


Tapi kenapa gadis itu sombong sekali?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.