
Edward mendorong pintu ruangan Richard seperti biasa tanpa mengetuk. Namun pemandangan di dalam ruangan benar-benar membuat Edward harus mengumpat karena Ashley dan Richard sedang menikmati makan siang sambil pangku-pangkuan.
Brengsek!
"Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu!" Decak Edward yang terpaksa balik kanan dan keluar lagi. Pria itu bahkan membanting pintu ruangan Richard demi meluapkan rasa kesalnya.
"Masuklah, Ed!" Seru Richard yang sudah menurunkan Ashley dari pangkuannya.
Ashley membereskan sisa makan siang mereka berdua dan tersenyum pada Edward yang kembali masuk ke dalam ruangan.
Masuk, keluar, lalu masuk lagi!
Sudah seperti orang bodoh saja!
"Ini berkas yang tadi pagi," Edward meletakkan setumpuk berkas yang tadi pagi ia ambil di rumah Richard, lalu ia bawa jalan-jalan ke villa di atas bukit, dan membawanya kembali ke kantor.
"Meetingnya sudah usai!" Jawab Richard sinis dan Edward hanya meringis tanpa dosa.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar padahal," ujar Edward mencari alasan.
"Jalan-jalan ke villa dan kau tidak mengajakku, Ed! Aku suka pemandangan di atas bukit padahal!" Celetuk Ashley sedikit mengajak Edward bercanda.
"Sayang, kau bisa mengatakan kepadaku jika memang kau suka pemandangan di atas bukit! Kita akan kesana berdua dan tak perlu meminta Edward mengantarmu!" Sela Richard yang sepertinya sedang dalam mode cemburu sekarang.
Terserah saja!
"Astaga, Rich! Aku hanya bercanda!" Gelak Ashley seraya geleng-geleng kepala. Richard langsung terlihat salah tingkah.
"Sejak kapan kau jadi posesif begitu?" Gumam Edward yang malah meledek Richard.
Richard tak menjawab dan hanya mendelik pada sang asisten.
"Jadi, sebenarnya kau sedang apa di villa atas bukit? Berkencan?" Tanya Ashley pada Edward. Istri Richard itu sepertinya penasaran sekali. Tapi bukan Ashley namanya kalau tidak merasa kepo.
"Melihat sebuah kebenaran," jawab Edward sok teoritis.
"Kebenaran apa?" Tanya Richard dan Ashley serempak.
"Calon suami Elleanore-"
"El punya calon suami? Siapa?" Ashley memotong dan menyela penjelasan Edward.
"Vic--" Edward terlihat mengingat-ingat.
"Vicky?" Edward menatap pada Richard seolah meminta petunjuk.
"Vicky?" Richard dan Ashley tergelak serempak dan Edward benar-benar kesal dibuatnya.
"Mungkin maksudnya Victor," ujar Ashley disela-sela gelak tawanya.
"Iya, itu! Victor!" Edward akhirnya ingat pada Victor sialan yang tadi di villa bersama selingkuhannya.
"Victor selingkuh dengan seorang gadis di villa dan Elleanore baru saja melabraknya!" Lanjut Edward berapi-api.
Dasar pria sialan.
"Sebentar!" Richard sudah berhenti tergelak sekarang.
"Kau yakin tidak salah duga?" Tanya Richard menatap penuh selidik pada Edward
"Tentu saja tidak!" Jawab Edward penuh percaya diri.
"Sudah tanya langsung pada Elleanore?" Gantian Ashley yang menanyai asisten Richard tersebut.
Edward terdiam beberapa saat sebelum kemudian Ashley menahan tawa dan Rich hanya bersedekap pada Edward seraya geleng-geleng kepala.
Richard kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Bang!"
"Kau dimana, El?" Tanya Richard to the point seraya menyalakan loudspeaker agar Edward turut mendengarkan.
"Masih perjalanan pulang. Ini sedang istirahat makan siang."
"Darimana memang?"
"Dari villa milik Uncle Aaron."
"Tadi Cecilia dan Victor sembunyi di villa dan hampir melakukan hal konyol karena Aunty Navya tak memberikan restu pada hubungan mereka."
"Tapi untunglah belum terjadi apa-apa dan El datang tepat waktu bersama Aunty Navya."
"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Victor dan Cecil," tanya Richard selanjutnya seraya melirik le arah Edward yang sudah mulai salah tingkah.
"Mereka akan menikah dan Aunty Navya sudah memberikan lampu hijau."
"Kau tidak cemburu atau sakit hati? Bukankah yang tadinya mau dijodohkan dengan Victor adalah kau?" Tanya Richard memancing sekaligus memberikan pencerahan pada Edward yang tadi berasumsi panjang lebar dan mengarang cerita tak karuan.
"Ya. Abang terpaksa bertanya karena ada yang mengira kalau kau dan Victor akan menikah, tapi Victor malah berselingkuh di belakangmu dan membawa seorang gadis ke villa."
"Lalu kau melabrak Victor dan selingkuhannya." Lanjut Richard yang langsung membuat Ashley tak bisa menahan lagi tawanya. Istri Richard itu tertawa terbahak-bahak dan tentu saja tak perlu dipertanyakan lagi Ashley menertawakan siapa.
Edward!
"Apa maksudnya? Siapa orang bodoh yang sudah membuat tuduhan konyol semacam itu?"
"Bodoh!" Gumam Ashley yang masih berusaha mengendalikan tawanya. Sementara Edward yang sudah kehilangan muka memilih keluar dari ruangan Richard dan membanting pintu.
"Orangnya baru saja pergi karena sudah salah tuduh." Ujar Richard seraya mengendikkan bahu. Richard lanjut duduk di dekat Ashley dan mengusap wajah istrinya tersebut.
"Apa maksud Abang orang itu adalah Abang Edward?" Tebak Elleanore yang langsung membuat Richard dan Ashley saling bertukar pandang.
"Abang tadi menyuruh Abang Edward membuntuti El?" Gantian Elleanore yang bertanya pada Richard.
"Sama sekali tidak! Aku bahkan tidak tahu kau pergi ke villa, sampai Edward memberitahuku sambil menceritakan karangan konyolnya," Richard kembali tertawa.
"Jadi Abang Edward membuntuti El atas inisiatifnya sendiri?"
"Abang rasa begitu!" Jawab Richard yang kembali mengendikkan bahu.
"Trus apa maksudnya, coba?"
"Dia ingin minta maaf kepadamu perihal kejadian beberapa bulan lalu di GOR." Terang Richard pada sang adik.
"El sudah memaafkannya. Abang bisa mengatakan itu pada Abang Edward dan suruh dia berhenti mengekori El kemana-mana!" Suara Elleanore mulai terdengar emosi.
"El, boleh abang bertanya satu hal kepadamu?" Tanya Richard selanjutnya yang sudah merangkul Ashley dan membawa istrinya tersebut ke dalam dekapan. Aroma tubuh Ashley tetasa begitu menenangkan.
"Tanya apa?"
"Apa kau sungguh tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Edward?" Tanya Richard dengan nada yang sangat serius.
"Abang pasti sudah tahu jawabannya! Bukankah Abang juga sudah pernah merasakannya? Saat abang sangat mencintai seseorang, namun orang itu malah membuat Abang begitu kecewa."
"Itu beda kasus," sergah Richard mengoreksi.
"El rasa tidak!"
"El sudah terlanjur kecewa. Dan lagi, El masih ingin sendiri menikmati hidup El!"
"Baiklah, Abang mengerti!" Richard menghela nafas. Sepertinya Elleanore sudah benar-benar kecewa pada Edward. Entah apa masih ada kesempatan untuk pria itu mendekati Elleanore atau tidak.
"El tutup dulu teleponnya, Bang! Kami akan melanjutkan perjalanan pulang.
"Baiklah! Hati-hati!" Pesan Richard sebelum kemudian telepon terputus.
"El sudah sangat kecewa," pendapat Ashley yang langsung membuat Richard mengangguk.
"Kau sendiri, kecewa padaku tidak?" Tanya Rich tiba-tiba yang malah membuat Ashley bingung.
"Kecewa kenapa?"
"Kecewa karena kita tadi hanya bermain satu ronde," Richard mengerling nakal pada Ashley.
"Mesum!" Ashley mendorong dada Richard dan wanita itu kini tergelak.
"Aku mau pulang!" Ujar Ashley selanjutnya seraya meraih tasnya.
"Kenapa buru-buru, Sayang! Aku masih ingin kau disini!" Rayu Richard seraya mengekori langkah Ashley yang sudah sampai ke pintu. Ashley berbalik dan sedikit membenarkan dasi Richard.
"Pekerjaanmu tak akan beres jika aku tetap disini."
"Nanti malam saja aku akan memberikanmu kejutan di apartemen," ujar Ashley selanjutnya berbisik nakal di telinga Richard.
"Baiklah! Aku pulang seperti biasa, dan aku mau kejutan itu sudah ada di depan pintu saat aku pulang," Richard mengajukan syarat.
"Tentu saja!" Ashley sedikit berjinjit dan mencium pipi Richard.
"Aku pulang dulu, Bye!" Pamit Ashley selanjutnya seraya menarik pintu agar terbuka.
"Bye!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.