
"El!"
Jam di kamar Elleanore masih menunjukkan pukul enam pagi saat pintu kamarnya dibuka dari luar oleh seseorang yang memang tak asing bagi Elleanore, yaitu Cecilia.
"Bangun!" Perintah Cecilia galak seraya menyibak semua tirai di kamar Elleanore.
"Kak Cecil! Tutup lagi jendelanya! El masih ngantuk!" Protes Elleanore yang langsung membenamkan wajahnya ke bawah bantal.
"Tadi malam kemana dan pulang jam berapa? Aku tunggu sampai jam sembilan juga!" Omel Cecilia pada putri bungsu di keluarga Alexander tersebut.
"Reuni! Emang Mom nggak bilang?" Jawab Elleanore yang hanya terdengar seperti gumaman orang yang masih mengantuk.
"Pulang jam?" Tanya Cecilia menyelidik.
"Satu!" Jawab Elleanore yang langsung membuat Cecilia menyibak selimut Elleanore.
"Mom dan Dad kamu nggak marah?" Tanya Cecilia dengan nada dan ekspresi lebay. Mirip sekali dengan Uncle Aaron. Wajar saja!
Mereka bapak dan anak!
"Nggaklah! Kan perginya bareng Victor!" Jawab Elleanore santai seraya menarik kembali selimut yang tadi disibak Cecilia.
"Oh, jadi ceritanya reuni sekaligus nge-date?" Celetuk Cecilia yang nada bicaranya sudah berubah ketus seperti orang yang sedang cemburu.
"Nge-date? Orang cuma duduk-duduk," Kilah Elleanore menyangkal. Gadis itu sudah membuka matanya dan menatap heran ke arah Cecilia yang kini merengut.
"Kak Cecil kenapa, sih?" Tanya Elleanore bingung.
"Nggak! Nggak kenapa-kenapa!"
"Jadinya, kapan kamu nikah sama Victor. Selamat, ya!" Ucap Cecilia tiba-tiba yang benar-benar aneh menurut Elleanore.
Ada apa sebenarnya dengan putri tunggal Uncle Aaron dan Aunty Claudia ini? Apa Elleanore tadi salah bicara?
"Nikah? Kata Dad nunggu Abang Richard, Abang Gika sama Abang Naka dulu! Aku paling belakangan nikahnya!" Jelas Elleanore.
"Tapi sudah pasti sama Victor, kan?" Cecilia memastikan.
"Ya nggak tahu!"Elleanore mengendikkan bahu dan dua gadis itu saling diam untuk beberapa saat.
"Ngomong-ngomong, tadi Kak Cecil nyuruh-nyuruh El bangun ada apa? Kak Cecil mau ngajak Elleanore pergi?" Tanya Elleanore yang akhirnya buka suara terlebih dahulu.
"Tadinya mau ngajak kamu jogging keliling kompleks. Tapi nggak jadi kayaknya. Aku mau pulang!" Jawab Cecilia yang wajahnya kembali merengut.
Lah!
Dasar aneh!
"Jadi juga nggak apa-apa, Kak! Mumpung El libur kuliah," ujar Elleanore seraya menguap lebar.
"Kamu masih ngantuk gitu!" Cecilia berdecak.
"Udah, ah! Aku mau pulang," pamit Cecilia sekali lagi seraya melangkah ke arah pintu. Cecilia baru saja membuka pintu kamar Elleanore, saat tiba-tiba seorang wanita paruh baya sudah merangsek masuk.
Eh, Aunty Navya maksudnya!
"El, kau sudah bangun?" Sapa Aunty Navya yang mengira Cecilia adalah Elleanore.
"El sudah bangun, Aunty," jawab Cecilia seraya meringis.
"Loh, kamu bukannya keponakan Kak Melody, ya? Yang kemarin kuliah di luar negeri?" Aunty Navya terlihat mengingat-ingat.
"Siapa nama kamu?"
"Kak Cecil, Aunty!" Jawab Elleanore yang masih bergelut dengan guling dan selimutnya.
"Oh iya. Cecilia!" Aunty Navya akhirnya ingat.
"Iya itu, Aunty!" Cecilia meringis dan sedikit canggung.
"Saya permisi dulu, Aunty. Selamat pagi!" Pamit Cecilia akhirnya pada Aunty Navya. Namun gadis itu tak benar-benar langsung beranjak dan masih sempat menguping saat Aunty Navya yang ternyata hebdak mengajak Elleanore ke pantai bersama keluarganya.
Ck!
Dasar calon mantu kesayangan.
Cecilia hanya berdecak dan gadis itu segera menuruni tangga dengan cepat saat tiba-tiba ia malah hampir bertabrakan dengan seorang pria di bawah tangga.
Hah!
"Hati-hati!" Ujar pria itu lembut yang tak lain dan tak bukan adalah Victor.
"Iya, terima kasih!" Ucap Cecilia sedikit tersipu.
"Apa kita pernah bertemu? Wajahmu terlihat tak asing." Victor terlihat mengingat-ingat.
"Aku Cecilia! Keponakan Aunty Melody," jawab Cecilia yang langsung membiat Victor ingat.
"Ah, iya! Kita bertabrakan juga saat di pesta anniversary Uncle Dean dan Aunty Fe beberapa bulan yang lalu!" Ujar Victor yang sudah ingat.
"Iya, itu! Aku mengotori tuksedomu" Cecilia kembali tersipu.
"Sudah bersih lagi!" Jawab Victor santai seraya mengulas senyum. Cecilia ikut mengulas senyum saat terdengar suara Elleanore yang menuruni tangga.
"Kak Cecil! Mau ikut ke pantai bersama kami?" Tawar Elleanore pada Cecilia yang masih berdiri di bawah tangga bersama Victor.
"Tidak usah! Aku tidak mau jadi penggannggu," tolak Cecilia seraya tersenyum kecut.
"Ikut juga tidak apa-apa, Cecil! Biar semakin ramai," ujar Victor yang seperti sebuah ajakan untuk Cecilia.
Ya ampun!
Hati Cecilia rasanya cenut-cenut tak karuan melihat senyuman Victor.
"Tapi-"
"Ikut saja, Cecil!" Kali ini ganti Aunty Navya yang mengajak.
Baiklah!
Cecilia tak akan menolak lagi!
"Baiklah, Cecilia akan ikut," putus Cecilia akhirnya. Elleanore langsung bersorak senang. Di saat bersamaan Elleanore tak sengaja melihat wajah Cecilia yang tiba-tiba bersemu merah saat gadis itu beradu pandang dengan Victor.
Sedikit aneh, tapi sepertinya Elleanor baru saja menangkap sebuah something di antara Cecilia dan Victor.
Mungkinkah mereka....
****
Ashley baru pulang seraya membawa banyak belanjaan saat gadis itu berpapasan dengan Tiffany di halaman panti asuhan.
"Darimana?" Tanya Tiff menyelidik seraya mengendikkan dagunya ke arah dua kantong belanjaan besar di tangan Ashley.
"Belanja keperluan anak-anak!" Jawab Ashley seraya memamerkan belanjaannya.
"Semalam dapat tip lumayan dari klien," jawab Ashley seraya meringis.
"Kau memberikannya bonus?" Kedua telunjuk Tiffany sudah membentuk tanda kutip dan raut wajahnya penuh selidik.
"Mana ada! Aku bukan gadis murahan!" Kilah Ashley menyangkal tuduhan Tiffany.
"Lalu kenapa dia memberimu banyak tip hingga kau bisa belanja sebanyak ini?" Tiffany masih saja curiga. Pekerjaan part time Ashley sebagai pacar sewaan sebenarnya sedikit mendapat tentangan dari Tiffany.
"Kami membuat perjanjian!" Jawab Ashley blak-blakan.
"Perjanjian macam apa? Aku tidak mau kau itu berbuat aneh-aneh, Ash! Jangan menjual tubuhmu hanya demi-"
"Aku tak menjual diri, Tiff!" Sergah Ashley cepat.
"Pria itu memintaku keluar dari situs pacar sewaan karena dia ingin menyewaku setahun penuh."
"Dan sebagai gantinya, dia memberiku kartu kredit ini di luar bayaran sebagai pacar sewaan!" Terang Ashley seraya memamerkan kartu kredit unlimited pemberian Richard pada Tiffany yang hanya bersedekap.
"Pria macam apa yang seroyal itu?" Tanya Tiffany heran.
"Dia tuan direktur," jawab Ashley sedikit berbisik. Tiffany langsung tertawa aneh mendengar jawaban Ashley.
"Seorang tuan direktur mencari pacar sewaan? Apa dia seorang maho?" Kelakar Tiffany yang kini ganti tergelak.
"Sepertinya! Dia sekaku kanebo kering dan sepertinya tak tertarik pada wanita," pendapat Ashley seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Tetaplah waspada meskipun dia kaku dan tak tertarik pada wanita! Kaum pria adalah buaya dan jangan sampai terlena!" Pesan Tiffany memperingatkan Ashley. Kedua gadis itu langsung melakukan tos sebagai bentuk persetujuan.
Hingga suara seorang pria dari arah pagar panti asuhan membuat kedua gadis itu menoleh.
"Permisi! Apa benar ini panti asuhan Kasih Bunda?" Tanya seorang pria yang mengenakan seragam sebuah dealer kendaraan bermotor.
"Iya, benar! Cari siapa, Pak?" Jawab Tiffany seraya mendekat ke arah petigas dealer.
"Nona Tiff!"
"Itu namamu. Kau membeli motor baru?" Tanya Ashley kepo. Tiffany langsung menggeleng.
"Saya Tiff, Pak! Tapi saya tidak memesan motor baru," ucap Tiffany bingung.
"Tapi barusan ada yang ke dealer membeli motor dan minta diantar ke alamat ini atas nama Nona Tiff." Jelas petugas dealer yang langsung membuat Ashley bersiul.
"Sepertinya kau punya penggemar rahasia, Tiff!" Goda gadis dua puluh satu tahun tersebut.
Penggemar rahasia?
"Aku Gika De Chio! Kau mengenalku, kan?"
"Nanti aku ganti motor bututmu itu dengan yang baru!"
Tiffany mendadak ingat pada pria sombong yang mengaku sebagai model terkenal...
"Gika De Chio!" Gumam Tiffany yang ternyata juga didengar oleh Ashley.
"Hah, Gika De Chio? Ada apa dengan Gika De Chio, Tiff?" Tanya Ashley bingung.
"Sepertinya dia yang mengirimkan motor ini. Dia menabrak motorku beberapa hari yang lalu," jawab Tiffany seraya mengendikkan bahu.
"Tapi katamu, motormu rusak terlindas kontainer?" Ashley masih saja bingung.
"Iya sebelum terlindas kontainer, Gika De Chio menyebalkan itu menabrak motorku hingga aku jatuh!" Cerita Tiffany berapi-api.
"Jadi motor ini yang membelikan Gika De Chio?" Ashley kembali bersiul.
"Ada apa? Kau kenal memangnya dengan pria brengsek menyebalkan yang mengaku sebagai model itu?" Tanya Tiffany yang sepertinya menaruh dendam kesumat pada Gika De Chio.
"Hey! Dia memang model majalah terkenal! Fotonya yang bertelanjang dada jadi best seller di kalangan remaja putri. Aku menjualnya seratus ribu per lembar bulan kemarin dan laku keras," cerita Ashley yang langsung membuat Tiffany menganga tak percaya.
"Dapat darimana foto telanjang Gika De Chio? Kau menguntitnya?" Tanya Tiffany curiga.
"Dari seorang fotografer. Relasiku kan banyak!" Jawab Ashley sombong yang langsung membuat Tiffany mencibir.
"Jadi, ini Nona Tiff yang mana? Bisa tanda tangan dulu sebagai tanda terima?" Petugas dealer menyela obrolan Tiffany dan Ashley tentang Gika De Chio.
Ck!
Tiffany hanya berdecak dan akhirnya tanda tangan meskipun ia sedikit illfeel dengan motor dari Gika De Chio.
Masa iya, Gika membelikan Tiffany motor warna pink model skuter matic?
Rusak sudah image Tiffany sebagai gadis tomboy!
Pink?
Tiffany benci warna pink!
"Warnanya boleh ditukar tidak, Pak?" Tiffany sedikit bernegosiasi.
"Kenapa harus ditukar, Tiff? Itu sudah cantik dan feminim!" Sergah Ashley yang selalu tergila-gila pada warna pink.
"Aku benci pink!" Jawab Tiffany tegas.
"Maaf tapi tidak bisa, Nona! Ini sudah pilihan anda-"
"Bukan aku yang memilih!" Tiffany menyalak dan menyela kalimat petugas dealer, bersamaan denagn sebuah mobil yang berhenti di depan panti asuhan .
"Itu yang tadi memesan motor ini, Nona! Silahkan bicara padanya saja," saran petugas dealer seraya menunjuk ke arah mobil hitam yang tadi baru datang.
"Itu Gika De Chio?" Ashley berbisik-bisik pada Tiffany.
"Entah?" Jawab Tiff seraya bersedekap acuh. Dua gadis itu masih menunggu pengemudi mobil turun.
Namun saat pengemudi mobil itu turun dan masuk ke halaman panti asuhan, Tiffany langsung membeku di tempatnya dan menatap tak percaya pada pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Henry?"
"Tiffany!"
.
.
.
Jeng jeng jeng!
😆😆😆
Rumit
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.