Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
GALAU



"Om Naka jadi papanya Sunny saja bagaimana?" Celetuk Sunny tiba-tiba.


Naka, Papi Juna, dan Uncle Alvin langsung diam dan hanya menatap pada gadis sepuluh tahun itu yang sepertinya nyaman sekali berada dj dekat Naka yang memang berjuwa kebapakan.


"Om Naka mau?" Tanya Sunny sekali lagi bersamaan dengan panggilan Alsya dari ruang tengah. Apa Alsya menguping sejak tadi?


"Sunny!" Panggil Alsya lembut.


"Iya, Ma!" Sunny langsung bangkit berdiri dan menghampiri sang mama.


"Sunny ikut Mama ke toko siang ini, ya!" Ajak Alsya pada sang putri. Sepertinya sengaja untuk mengalihkan pertanyaan Sunny perihal Sunny yang ingin Naka jadi papanya tadi.


"Tapi ada Om Naka, Ma! Sunny masih mau sama Om Naka!" Tukas Sunny keras kepala.


"Om Naka sudah mau pulang! Urusannya dengan Opi susah selesai!" Ujar Alsya seraya melirik sejenak pada Naka yang masih diam. Sangat terlihat jelas kalau Alsya keberatan dengan permintaan Sunny tadj agar Naka menjadi papanya.


"Yaudah! Sunny pamit sama Om Naka dulu!" Sunny kembali menghampiri Naka yang sudah tersenyum ke arah gadis sepuluh tahun itu.


"Sunny harus menemani Mama di toko, Om!" Ujar Sunny pada Naka yang langsung mengangguk.


"Iya, om juga sudah mau pulang," jawab Naka seraya mengusap lembut kepala Sunny.


"Nanti kapan-kapan kita liburan bareng lagi, ya,Om! Bye!" Sunny mencium pipi Naka sekilas sebelum kembali menghampiri Alsya yang sudah menunggunya.


"Kami pergi dulu, Pi!" Pamit Ashley pada Papi Juna, Uncle Alvin, dan Naka. Wanita itu lanjut menggandeng Sunny keluar dari pintu depan.


"Uncle-"


"Jaga jarak dari Sunny dan Alsya mulai sekarang dan jangan lagi sok dekat pada Sunny!"


"Kau masih terlalu muda untuk memahami apa yang pernah terjadi pada Alsya di masa lalu." Sebuah kalimat yang dilontarkan Papi Juna langsung membuat Naka bungkam.


Apa ini artinya, niat Naka untuk serius dan melamar Alsya baru saja terganjal restu dari Papi Juna?


****


"Cari apa, Ka?" Tanya Juan pada Naka yang sedang sibuk membolak-balik data customer.


"Nggak ada!" Jawab Naka cepat seraya menutup kembali buku besar di hadapannya.


"Kemarin habis makan siang kamu kemana? Ngilang gitu aja nggak pamit nggak bilang apa-apa!" Cecar Juan lagi pada Naka.


"Menemui Sunny. Dia mengirimiku pesan dan mengatakan sesang sedih, jadi aku menemui gadis itu untuk menghiburnya," jelas Naka seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikiran Naka sedikit galau mengingat tentang kata-kata Uncle Juna kemarin.


"Jaga jarak dari Sunny dan Alsya mulai sekarang dan jangan lagi sok dekat pada Sunny!"


"Kau masih terlalu muda untuk memahami apa yang pernah terjadi pada Alsya di masa lalu."


"Aku tak akan membiarkan kau menyakiti Sunny ataupun Alsya seperti yang pernah dilakukan pria brengsek itu dulu!"


Naka memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening. Apa yang pernah terjadi pada Alsya di masa lalu memangnya? Kenapa Uncle Juna begitu protektif pada Alsya?


"Bro!" Tepukan dari Juan membutarkan lamunan Naka tentang Alsya.


"Sedang melamun apa?"


"Tidak ada! Siapa yang melamun?" Kilah Naka cepat.


"Kau kemarin menghibur Sunny atau Alsya?" Goda Juan usil yang langsung dijawab decakan oleh Naka.


"Nanti kapan-kapan kita liburan bareng lagi, ya, Om!" Kalimat Sunny kembali terngiang di benak Naka.


"Sunny pergi dulu!"


Naka mengusap pipinya yang kemarin dicium sekilas oleh Sunny, lalu pria itu tersenyum sendiri.


"Naka!" Juan kembali haris menegur sahabatnya yang sedang senyum-senyum sendiri seperti orang gila itu.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak begitu?" Jawab Naka santai seraya kembali membuka buku yang berisi data customer.


"Kau terus saja melamun dan tersenyum sendiri seperti orang gila! Apa Alsya yang sudah membuatmu seperti ini?" Tanya Juan kepo.


"Apa kau pernah jatuh cinta, Juan?" Naka tiba-tiba balik bertanya pada Juan.


"Jika maksudmu cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka jawabannya adalah ya!" Jawab Juan pura-pura melas. Naka sontak tertawa renyak mengingat perjuangan Juan untuk menaklukkan hati Elleanore yang entah sudah dimulai sejak kapan.


"Elleanore!" Gumam Naka yang langsung membuat Juan berdecak.


"Kau saja yang cepat menyerah," pendapat Naka.


"Aku sudah berusaha keras! Segala daya upaya aku lakukan, tapi tak ada sedikitpun Elleanore melirikku dan gadis itu malah terus saja mengejar-ngejar Edward yang jelas-jelas dingin kepadanya!" Cerocos Juan seraya berdecak kesal.


"Teruslah berjuang!" Naka memberikan semangat pada Juan.


"Ya,memang hanya itu yang bisa ku lakukan sekarang. Tapi nanti saat aku sudah menyerah dan memilih berpaling pada gadis lain, semoga Elleanore tak menyesal di kemudian hari." Ujar Juan sok.


"Hmmm, hatimu masih labil ternyata," cibir Naka yang langsung membuat Juan meringis.


"Siapa yang kuat ditolak terus, Ka?" Juan memberikan alasan.


"Kau sendiri bagaimana? Sudah sampai dimana perjuanganmu? Kau sudah melamar Alsya?" Cecar Juan kepo.


"Belum juga aku menyampaikan niatku yang itu, Uncle Juna malah sudah menyuruhku menjaga jarak dari Alsya dan Sunny, karena menurutnya aku terlalu muda untuk bisa memahami Alsya."


"Apa umur selalu dijadikan tolok ukur untuk kedewasaan seseorang?" Beber Naka panjang lebar mengungkapkan semua kegalauannya pada Juan.


"Tidak juga menurutku. Kedewasaan tak melulu ditentukan oleh umur. Memangnya ada apa dengan umurmu? Terlalu muda untuk Alsya?" Tanya Juan seraya terkekeh dengan maksud berkelakar.


"Kata Uncle Juna begitu!" Jawab Naka lesu.


"Uncle Juna itu papinya Alsya?" Tanya Juan lagi.


"Ya! Ada apa?"


"Tidak ada! Hanya heran saja kenapa namanya mirip denganku. Jangan-jangan kami saudara kembar yang lama terpisah," Celetuk Juan yang malah mengalihkan arah pembicaraan dan terkekeh sekali lagi.


"Bisa jadi, jika rambutmu juga sudah memutih semua dan kau sudah punya cucu sebesar Sunny," sahut Naka menanggapi kelakaran Juan.


"Aku belum setua itu!" Juan meninju pundak Naka yang hanya tergelak.


"Selisih berapa tahun memangnya kau dan Alsya?" Tanya Juan selanjutnya merasa kepo.


"Sepuluh!" Naka menunjukkan dengan sepuluh jarinya.


"Sepuluh tahun?" Juan membelalak tak percaya.


"Ya, kenapa? Kau heran?" Cecar Naka seraya tertawa renyah.


"Jadi Alsya usianya hampir kepala empat?" Tanya Juan lagi.


"Baru 35 tahun! Masih lama kepala empatnya!" Sahut Gika menyanggah.


"Tapi tetap saja itu jauh sekali," Juan berdecak tak percaya.


"Kau yakin akan menikahi seorang janda usia kepala tiga? Kepalamu saja masih dua." Juan bertanya sekali lagi.


"Iya aku yakin! Sunny juga sudah memberikan kode setuju. Dia menerimaku sebagai papa sambungnya," jawab Naka penuh keyakinan.


"Alsya? Yang akan kau nikahi Alsya, Bung! Bukan Sunny!" Juan mengingatkan kembali.


"Aku akan membuka gembok di hati Alsya secepatnya setelah aku tahu akar masalah yang pernah dialami Alsya di masa silam," tekad Naka penuh keyakinan.


"Baiklah, terserah!"


"Meskipun Alsya sudah usia kepala tiga, tapi wajahnya masih awet muda. Aku masih tak menyangka kalau wanita itu sudah 35 tahun," gumam Juan yang langsung berhadiah delikan dari Naka.


"Apa? Aku tak mengatakan kalau aku tertarik pada Alsya! Kenapa kau menatapku seperti itu?" Protes Juan yang malah membuat delikan Naka semakin tajam.


"Baiklah! Aku tak akan menyebut nama janda 35 tahun itu lagi! Jiwa jomblomu sudah terlalu lama mendarah daging hingga sekalinya kau jatuh cinta, langsung bucin akut dan posesif begitu!" Cerocos Juan yang langsung berhadiah tinjuan di pundak dari Naka.


"Sialan!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.