
Edward mengerjapkan matanya berulang kali saat samar-samar ia mendengar ketukan di pintu apartemennya. Edward ganti meraih jam digital di atas nakas untuk memastikan apa dia memang lesiangan atau memang ada orang iseng yang bertamu pagi-pagi buta.
Jam masih menunjukkan pukul 05.30. Lalu siapa orang kurang kerjaan yang bertamu sepagi ini?
Terdengar ketukan lagi dari pintu depan dan Edward akhirnya menyibak selimut, lalu bangun dengan sejuta rasa kesal. Edward merapikan rambutnya dengan asal lalu langsung menuju ke pintu depan untuk membukanya.
Pintu baru saja terbuka dan Edward belum melihat siapa yang datang saat sebuah bogem mentah mendarat tepat di hidung mancung Edward dan langsung membuat pria itu terjengkang ke belakang.
Sial!
Edward menggosok-gosok hidungnya yang sudah berdarah sembari memfokuskan pandangannya pada pria tinggi tegap yang kini berdiri di depannya dan memasang raut wajah marah.
Richard!
Apa?
Kapan Richard pulang?
Bukankah jadwal pulang pria ini seharusnya masih besok siang?
"Sudah kubilang untuk menjaga El saat kalian pergi ke GOR!" Richard berdecak marah pada Edward sebelum kemudian bos Edward itu mengulurkan tangannya dan membantu Edward untuk bangkit berdiri.
"Iya, aku salah!" Edward akhirnya membuat pengakuan.
"Tapi kau yang menyuruhku meninjau proyek-" Dan tetap diselipkan alasan di belakang.
"Aku sidah menyuruhmu meninjau keesokan paginya! Dan kau malah bersikeras meninjau waktu itu sambil mengatakan sedang tak ada pekerjaan!" Richard kembali bersungut-sungut pada Edward.
"Aku memang sedang tak ada pekerjaan," jawab Edward enteng sebelum kemudian bogem mentah Richard kembali mendarat di wajahnya.
Sepertinya Edward baru saja salah bicara!
"Menjaga Elleanore itu adalah pekerjaan dan tugas penting!" Richard menuding tegas ke arah Edward.
"Baiklah, aku minta maaf!" Sergah Edward akhirnya yang sudah benar-benar terpojok karena meninggalkan Queen Elleanore hingga gadis itu hampir celaka.
Sejak dulu Elleanore memang putri kesayangan di keluarga Alexander. Bukan hanya kesayangan Mom Fe dan Dad Dean, tapi juga kesayangan ketiga abangnya.
"Dimana kotak P3K?" Tanya Richard selanjutnya seraya menyeret Edward masuk ke dalam apartemen dan memaksa pria itu untuk duduk di sofa.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri, Rich!" Jawab Edward yang langsung membuat Richard mendelik ke arahnya.
"Dimana kotak P3K?" Richard mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa kau sudah pulang? Jadwalmu pulang seharusnya besok," Tanya Edward berbasa-basi pada Richard.
"Agar aku bisa meninju wajahmu karena kau sudah meninggalkan Elleanore!" Jawab Richard dengan ekspresi datar.
"Itu saja?"
"Lalu jika itu terjadi pada Ashley apa kau juga akan melakukan hal yang sama?" Tanya Edward selanjutnya yang tak dijawab oleh Richard.
"Kau menyukai gadis bawel itu?" Tanya Edward lagi sok tahu.
"Bukan urusanmu!" Jawab Richard akhirnya singkat.
"Kalian nanti menikah kontrak atau menikah selamanya?" Tanya Edward lagi.
"Bukankah aku sudah menjelaskannya kepadamu dan meminta kau membuat surat kontraknya?" Richard bersungut pada Edward.
"Baiklah aku hanya memastikan barangkali kau berubah pikiran di detik terakhir." Edward mengendikkan kedua bahunya dan Richard hanya membisu. Atasan Edward itu sudah selesai membereskan kotak P3K dan segera beranjak berdiri sepertinya hendak pergi.
"Aku akan mengatur ulang jadwalmu nanti," ucap Edward pada Richard yang sudah berjalan ke arah pintu apartemen Edward.
"Kau istirahat saja sampai hari pernikahanku dan tak perlu datang ke kantor," jawab Richard seraya menghentikan langkahnya.
"Kau memecatku?" Tanya Edward memastikan.
"Aku menyuruhmu istirahat! Apa kau tidak paham bahasa manusia?" Jawab Richard ketus.
"Lalu siapa yang akan mengatur jadwalmu di kantor, Rich?" Tanya Edward lagi.
"Ashley!" Jawab Richard singkat sebelum pria itu keluar dari apartemen Edward dan menutup pintu. Sementara Edward yang masih duduk di sofa hanya tersenyum simpul seraya bergumam pelan,
"Bilang saja sudah jatuh cinta!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.