Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SALAH



"Griff, Gwen, Casey, Alka, dan Kasya," Elleanore mengabsen satu persatu keponakannya yang semuanya sedang terlelap di box bayi masing-masing.


"Sunny, Aunty!" Sunny ikut berdiri di samping box bayi Kasya.


"Ah, iya! Sunny yang paling besar!" Elleanore mengacak rambut Sunny dengan gemas.


"Kau akan memberikan angpau? Kenapa mengabsen satu persatu begitu?" Celetuk Gika yang sedang berbaring di atas bed perawatan bersama Tiffany. Padahal tadi di dalam ruang persalinan sudah ribut dan cakar-cakaran, tapi sekarang sudah rangkul-rangkulan. Dasar aneh!


"El sedang menghafal wajah mereka!"


"Terutama Kasya dan Alka yang wajahnya mirip sekali," jawab Elleanore yang langsung membuat Mom Fe ikut menghampiri kelima cucunya.


"Dulu Naka dan Gika juga mirip begini saat baru lahir, makanya Mom lupa mana yang keluar duluan dan mana yang belakangan," kekeh Mom Fe seraya membenarkan selimut Alka yang sedikit tersingkap.


"Kamu sendiri kapan akan menyusul ketiga abangmu, El?" Tanya Opa Bowles yang sejak tadi juga masih berada di dalam kamar perawatan. Semuanya memang berkumpul di satu ruangan yang luas ini.


"Menyusul kemana, Opa?"


"El masih mau sendiri dan fokus melihat perkembangan kelima bayi imut ini," tukas Elleanore seraya tertawa kecil, meskioun raut kesedihan masih terlihat sekilas di wajah Elleanore. Sepertinya gadis itu belum benar-benar move on sejak kepergian Henry untuk selamanya.


"El, ini sudah hampir setahun berlalu, dan tak ada salahnya kau mulai menjalin hubungan bersama seorang pria," pendapat Naka yang sejak dulunpaling mengerti Elleanore. Richard yang diam sebenarnya juga senantiasa memperhatikan adik bungsunya itu dan masih berharap Elleanore akan mau membuka hati.


"El masih mau sendiri, Bang!" Jawab Elleanore bersungguh-sungguh menatap pada Naka dan Richard yang duduk berdampingan.


Saat itulah, terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Hendy yang duduk paling dekat dengan pintu bangkit berdiri untuk membuka pintu kamar perawatan.


"Selamat sore!" Sapa Edward yang tak menyangka kalau semua keluarga Alexander tengah berkumpul di dalam satu ruangan ditambah ada Opa Bowles juga.


Ya ampun!


Canggung sekali.


"Sore, Ed! Ayo masuk!" Mom Fe mempersilahkan Edward dengan hangat.


"Semua bayinya sudah lahir, Aunty?" Tanya Edward berbasa-basi dan terlihat canggung.


"Iya, sudah! Semuanya ada lima bayi. Itu bawa balon dan bingkisan untuk siapa? Kenapa hanya satu?" Bukan Mom Fe melainkan Gika yang menjawab dengan sedikit bersungut.


"Ini untuk..." Edward menatap pada lima box bayi yang berjejer serta kelima bayi di atasnya yang mengenakan selimut berbeda-beda. Ada yang biru ada yang pink. Berarti ada yang laki-laki ada yang perempuan. Lalu bayi Richard dan Ashley yang mana?


"Untuk bayi Richard dan Ashley," jawab Edward akhirnya seraya meringis.


"Balonmu salah warna berarti! Bayi Abang Richard cewek, kenapa dibawakan balon biru dan bergambar bayi cowok?" Celetuk Gika yang langsung tertawa mengejek pada Edward yang kini salah tingkah.


"Tidak apa-apa! Balonnya bisa untuk Griff, Kasya atau Alka!" Ujar Richard menengahi dan sedikit membantu Edward yang sudah terlanjur malu karena tak mencari info dulu tentang jenis kelamin bayi Richard.


"Griff, Alka, Kasya?"


"Mereka kembar tiga, Rich?" Tanya Edward menatap bingung pada Richard dan langsung terdengar tawa dari Ashley.


"Alka dan Kasya yang kembar Uncle Edward! Griff kembarannya cewek cantik bernama Gwen yang ada di sebelah Casey itu!" Terang Ashley yang malah semakin membuat Edward bingung. Sepertinya Edward butuh obat sakit kepala sekarang.


Kenapa juga ketiga menantu di keluarga Alexander ini harus melahirkan bersamaan?


"Baiklah! Bingkisan ini untuk Hendy saja! Untuk para bayi nanti aku kirimkan lagi!" Edward yang bingung akhirnya memberikan bingkisan bayi tadi pada Hendy yang hanya terbengong-bengong.


"Buat aku saja kalau begitu!" Sunny yang duduk di sebelah Hendy mengambil hadian bingkisan Edward dari pangkuan Hendy.


"Besok lagi jangan salah kirim bingkisan! Ada tiga bayi cowok dan dua bayi cewek!" Ujar Gika lagi memperingatkan Edward.


"Tidak akan lupa, Bang!" Edward mengeluarkan ponselnya dan menulis di notes sebagai pengingat.


"Tapi bukan berarti aku memberikan lampu hijau untuk kau mendekati El, sekalipun kau nanti memberikan hadiah bingkisan mobil untuk Gwen dan Griff!" Gumam Gika lagi yang cukup keras untuk bisa didengar oleh semua yang berada di kamar perawatan.


"Edward mendekati El?" Tanya Naka penuh selidik.


"Sedang dalam proses, Papa Naka!" Jawab Ashley seraya terkekeh. Istri Richard itu masih belum berhenti makan camilan sejak Casey lahir tadi. Entah seberapa besar perut Ashley karena wanita itu terus saja makan dan hanya berhenti makan saat tidur.


"Proses pedekate?" Kali ini Dad Dean yang angkat suara membuat Edward semakin merasa canggung.


"Maaf, karena belum minta izin pada Uncle dan Aunty." Edward sedikit berbasa-basi pada Dad Dean dan Mom Fe.


"Lalu, sudah dapat lampu hijau dari El?" Gantian Mom Fe yang melontarkan pertanyaan.


Langsung terdengar dengkusan dari Elleanore, dan gadis yang tadi cerewet tersebut langsung diam seribu bahasa setelah Edward datang.


"Belum dan itu tidak akan mudah, Mom!" Jawab Gika sok tahu mendahului jawaban Edward.


"Tidak mudah kenapa?"


"Bukankah kau dulu menyukai Edward, El?" Tanya Mom Fe pada sang putri yang kini merengut di sudut sofa.


"Itu dulu, Mom!"


"Sekarang sudah tidak!" Sahut Elleanore yang seperti sebuah pukulan telak untuk Edward yang kini hanya diam. Berbeda dengan Gika yang langsung tertawa mengejek pada Edward karena penolakan Elleanore tadi.


"Siapapun yang nantinya akan dipilih El sebagai suami, biarlah itu mebjadi keputusan Elleanore, Fe!"


"Kita tak perlu ikut campur dan cukup mendukung saja," tukas Dad Dean panjang lebar yang ikut angkat bicara dan mengambil sikap bijak.


"Nanti kalau menikahnya dipaksa-paksa, hasilnya malah seperti itu!" Timpal Opa Bowles seraya mengendikkan dagunya pada Gika yang wajahnya memang masih lebam dan kebiruan akibat tingkah barbar Tiffany di ruang persalinan.


"Ck! Kok jadi Gika!"


"Ini kan namanya perjuangan, Opa!" Sergah Gika mencari alasan yang langsung mrmbuat semuanya tertawa, kecuali Edward yang benar-benar merasa canggung dan salah tingkah serta seakan salah tempat.


Elleanore bahkan sudah menolak Edward mentah-mentah di depan keluarganya. Lalu untuk apa, Edward masih berada disini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.