Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
ANCAMAN



"Awas nanti kalau Elleanore sampai menangis atau kesakitan! Aku akan langsung menyunat milikmu sampai habis!"


Ancaman Gika sebelum Edward tadi meninggalkan hotek bersama Elleanore, kembali berkelebat di benak Edward.


Edward memilih untuk tak melanjutkan pergelutannya bersama Elleanore dan pria itu kini sudah berbaring di samping Elleanore yang masih ternganga antara heran, bingung dan tak mengerti dengan jalan pikiran Edward.


Bukankah dimana-mana orang malam pertama pasti rasanya sakit?


Kecuali memang sudah jebol sebelum menikah.


Tapi namanya bukan malam pertama juga kalau sudah jebol.


Kenapa ini begitu membingungkan?


"Masih sakit?" Tanya Edward yang sudah berganti posisi menjadi miring ke arah Elleanore.


"Apanya?" Elleanore balik bertanya bingung.


"Milikmu," Edward mengusap dari luar selimut, milik Elleanore yang bagian bawah.


"Kau saja tidak jadi masuk! Bagaimana mau sakit," Elleanore tertawa kecil dan ikut miring ke arah Edward.


"Kau begitu kesakitan, jadi aku tak tega! Dan lagi aku sudah berjanji untuk tak akan menyakitimu," terang Edward mengungkapkan alasannya.


Elleanore memejamkan matanya sejenak dan benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Edward kali ini.


"Ed, kau itu benar-benar polos atau kau hanya sedang pura-pura bodoh?" Tanya Elleanore akhirnya karena masih merasa tak paham dengan cara berpikir Edward.


"Maaf, jika bahasaku kasar!" Lanjut Elleanore masih menatap serius ke arah Edward.


"Ada apa memang?" Edward malah balik bertanya dan pria itu terlihat bingung.


"Semua malam pertama pasti akan sakit dan beberapa juga berdarah!" Ucap Elleanore akhirnya blak-blakan dan mengesampingkan tata bahasa sopan.


Siapa peduli?


Toh Edward dan Elleanore suami istri sekarang. Luar dalam juga sudah tahu!


"Apanya yang berdarah?" Edward menatap horor pada Elleanore.


"Milikku tentu saja!" Elleanore mulai kesal sekarang.


"Berdarah karena aku masuki?" Raut wajah Edward masih bingung.


"Ya!" Jawab Elleanore tegas.


"Tapi ada beberapa yang tidak berdarah juga meskipun itu adalah malam pertama. Tapi soal rasa semua wanita pasti akan kesakitan saat pertama kali ada pria yang menyentuhnya," jelas Elleanore panjang lebar yang benar-benar seperti guru yang sedang menerangkan pada muridnya. Entah menerangkan pelajaran apa.


"Kau akan kesakitan sepanjang malam? Bagaimana aku bisa-" Kalimat Edward terpotong saat Elleanore tiba-tiba sudah membungkam bibirnya.


"Kita langsung praktek saja agar kau tak terlalu banyak berteori," usul Edward yang langsung membuat Edward menelan salivanya.


"Tapi, El!" Edward tetap saja terlihat ragu. Elleanore terpaksa harus menghela nafas panjang.


"Apa sebenarnya yang mengganggumu, Ed?" Elleanore mulai geregetan sekarang.


"Abang Gika-"


"Abang Gika mengancammu?" Sela Elleanore yang langsung bisa menebak.


"Katanya aku tak boleh menyakitimu atau membuatmu menangis," beber Edward penuh kejujuran seraya meringis.


"Ck!" Elleanore berdecak kesal dan langsung meraih ponselnya di laci nakas.


"Mau telepon siapa?" Tanya Edward menahan Elleanore.


"Pawangnya Abang Gika!" Jawab Elleanore tegas seraya menelepon kontak Tiffany dengan cepat. Cukup lama hingga panggilan diangkat.


"El, ada apa?" Suara Tiffany terdengar cemas.


"Abang Gika mengancam Edward dan menakut-nakutinya, Kak!" Lapor Elleanore sedikit kesal.


"Lalu Edward takut? Pada Gika," terdengar gelak tawa Tiffany dari seberang telepon.


"Katakan pada Edward agar tak usah menghiraukan ancaman konyol Gika!"


Elleanore menyalakan loudspeaker agar Edward bisa ikut mendengarkan perkataan Tiffany.


"Aku nanti yang akan menghukum Gika dan nikmati malam pertama kalian!"


"Good night!" Telepon terputus dan Elleanore menatap pada Edward yang juga sedang menatapnya.


"Jadi mau lanjut?" Tanya Elleanore selanjutnya setelah meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Aku lapar," Edward meringis danbtak berselang lama terdengar suara perut Edward yang ternyata benar-benar kelaparan.


"Baiklah, ayo turun dan makan!" Ajak Elleanore akhirnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tidur untuk mencari piyamanya.


Ah, iya!


Elleanore masih meninggalkannya di kamar mandi tadi.


"Pakai ini!" Edward menyodorkan kotak berisi lingerie hadiah dari ketiga kakak ipar Elleanore.


"Bukankah tidak ada orang di rumah?" Edward akhirnya yang mengambil lingerie tadi, lalu memakaikannya ke tubuh Elleanore.


"Ya ampun!" Elleanore bergumam malu saat menyadari model lingerie itu yang begitu terbuka.


"Kau sexy!" Edward ikut bergumam dan pria itu kembali menelan salivanya saat melihat lekuk tubuh Elleanore yang kini terbalut lingerie warna merah menyala.


Padahal sebelumnya Edward juga sudah melihat dan mencecap tubuh polos Elleanore yang tanpa busana. Namun hanya karena lingerie berwarna merah itu, mendadak ada sensasi lain yang membuat Edward begitu terperangah.


"Kau jadi makan atau hanya akan menatapku seperti itu, Ed?" Wajah Elleanore bersemu merah karena Edward yang sejak tadi tak mengalihkan tatapannya pada tubuh Elleanore.


"Maaf!" Edward tertawa kecil dan langsung bangkit berdiri, lalu mengambil satu celana pendeknya dari dalam koper. Pria itu juga mengenakan satu kaus tanpa lengan yang membuatnya sedikit berbeda.


"Ayo!" Ajak Edward seraya mengulurkan tangannya pada Elleanore yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Kau yakin akan mengajakku ke dapur dengan gaun tidur ini?" Elleanore masih merasa ragu.


"Akan kumatikan semua lampunya. Bukankah hanya ada kita berdua di rumah?" Edward memastikan sekali lagi dan Elleanore langsung mengangguk. Mom memang meliburkam semua maid dan koki.


Benar-benar hanya ada Edward dan Elleanore di kediaman Alexander!


Edward dan Elleanore bergandengan tangan dan menuruni tangga dengan cepat. Semua lampu sengaja tak mereka nyalakan dan penerangan hanya berasal dari pantulan lampu taman. Pasangan pengantin baru tersebut langsung menuju ke dapur.


"Kau mau makan apa, Ed?" Tanya Elleanore seraya membuka kulkas untuk melihat ada makanan apa di kulkas. Cukup lengkap ternyata.


"Adanya apa?" Edward balik bertanya dan pria itu sudah berada di sebelah Elleanore.


"Buah saja atau pudding? Atau kau mau aku buatkan sesuatu?" Elleanore menoleh ke arah Edward dan kini jarak wajah keduanya begitu dekat.


"Kau sukanya apa?" Tanya Edward yang hembusan nafasnya bisa Elleanore rasakan.


"Apa saja," jawab Elleanore nyaris tanpa suara. Elleanore menggigit bibir bawahnya karena mendadak merasa grogi. Tangan Edward juga tiba-tiba sudah terulur dan memegang dagu Elleanore.


"Kita makan buah saja," usul Edward.


"Ya,"


"Akan kuambil," Elleanore sedikit tergagap saat tiba-tiba Edward sudah memiringkan kepalanya, lalu menyatukan bubur dengan bibir Elleanore.


Pagutan Edward masih lembut seperti sebelumnya dan Elleanore langsung membalas tanpa ragu. Cukup lama keduanya berpagutan di depan kulkas yang masih terbuka pintunya.


Elleanore dan Edward baru berhenti, saat keduanya sudah sama-sama kehabisan nafas.


"Ayo makan dulu!" Ajak Elleanore yang sudah mengambil sepiring potongan buah dari dalam kulkas. Edward mengangguk dan menutup pintu kulkas, lalu mengikuti Elleanore ke meja makan.


Edward menghampiri Elleanore yang sudah terlebih dahulu duduk di kursi dan meminta gadis itu untuk berdiri.


"Kau mau duduk disini?" Tanya Elleanore yang sudah bangkit berdiri dan sedikit bingung.


Namun baru saja Elleanore hendak pindah ke kursi lain, Edward malah sudah menariknya ke atas pangkuan.


"Aaauuw!" Elleanore memekik kecil bersamaan dengan tubuhnya yang sudah jatuh ke atas pangkuan Edward.


"Suapi aku!" Titah Edward seraya mendekap pinggang Elleanore dengan erat.


"Manja!" Celetuk Elleanore yang mulai mengambil satu persatu potongan buah, lalu menyuapkannya ke mulut Edward dan ke mulutnya sendiri secara bergantian.


"Sekarang jam berapa?" Tanya Edward selanjutnya yang sudah ganti menyusupkan kepalanya di dada Elleanore. Istri Edward itu sedikit menggeliat karena geli.


"Jam sebelas aku rasa. Tidak terlalu terlihat," jawab Elleanore setelah memperhatikan dengan seksama jam dinding di ruang makan dengan bantuan cahaya yang hanya remang-remang.


Elleanore kembali menggeliat, saat Edward menggosok-gosokkan wajahnya di dada Elleanore.


"Ed, kau sedang apa?" Elleanore melenguh beberapa kali, dan Edward langsung memutar tubuh istrinya tersebut. Kini Elleanore duduk di pangkuan Edward dengan kedua kaki yang melingkar di pinggang suaminya tersebut.


Edward kembali menciumi dada dan leher jenjang Elleanore,lalu meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.


"Ed, kita tidak akan bercinta di ruamg makan, kan?" Tanya Elleanore yang nafasnya sudah terengah-engah. Tali lingerie Elleanore bahkan sudah melorot dari pundaknya, dan kedua bukit kembar wanita itu sudah menyembul keluar dengan ujungnya yang terlihat menonjol karena Edward terus saja menghisapnya sejak tadi secara bergantian.


"Apa ada kamar dibawah yang bisa kita pakai?" Tanya Edward seraya menciumi bibir Elleanore. Edward sepertinya mulai diselimuti oleh gairah jarena Elleanore juga bisa merasakan sesuatu yang begitu menonjol di bawah bokongnya.


Milik Edward sudah sangat tersiksa sekarang!


"Ada banyak!"


"Kamar depan yang biasa kau tempati saat menginap juga ada," jawab Elleanore di sela-sela lenguhannya karena bibir dan lidah Edward yang kini terasa di setiap jengkal kulit Elleanore.


"Baiklah! Kita ke sana saja!" Edward sudah bangkit berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang makan masih sambil menggendong Elleanore ala koala.


.


.


.


๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Masih belum ๐Ÿคฆโ€โ™€๏ธ


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.