Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
HENRY KENAPA?



Edward kembali ke GOR setelah menyelesaikan masalah yang ada di proyek. Tadi pria itu juga sudah menghubungi Richard, namun ponsel Richard malah mati dan tak bisa dihubungi.


Tidak biasanya!


Suasana GOR sudah sepi saat Edward datang. Hanya tinggal beberapa mobil di area parkir dan lampu di dalam GOR juga sudah dimatikan pertanda tak ada lagi orang di dalamnya.


Apa?


Apa pertandingannya sudah selesai?


Tapi Edward tadi hanya pergi sebentar!


"Nona Elleanore!" Edward berkeliling ke sekitar GOR untuk mencari Elleanore . Tak lupa Edward juga berusaha menghubungi ponsel Elleanore. Namun sepertinya ponsel gadis itu mati.


"Nona Elleanore!" Edward berteriak sekali lagi memanggil Elleanore, namun tetap tak ada.


Apa mungkin Elleanore sudah pulang? Sebaiknya Edward memastikan agar ia tak kena omelan Richard jika sesuatu terjadi pada Elleanore!


Edward kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera memacu kuda besi tersebut ke arah kediaman Alexander.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, dan Edward sudah tiba di kediaman Alexander.


"Nona Elleanore sudah pulang?" Tanya Edward pada seorang maid yang berpapasan dengannya di teras.


"Sudah, Tuan Edward! Ada di dalam bersama Nyonya dan Tuan muda," jawab maid.


Edward langsung bernafas lega dan pria itu buru-buru masuk ke dalam untuk minta maaf pada Elleanore.


"Nona Elleanore," sapa Edward sedikit tercekat karena melihat Elleanore yang kini sesenggukan di pelukan Mom Fe. Lalu di sofa lain ada asisten Gika yang Edward lupa namanya sedang diobati oleh Naka dan wajahnya babak belur.


Apa yang sudah terjadi?


"Nona El, anda sudah pulang duluan?" Edward melontarkan sebuah pertanyaan bodoh dan Gika tiba-tiba sudah berdiri di depan pria itu lalu menghadiahinya sebuah bogem mentah.


Bugh!


Bugh!


"Dasar keparat!" Maki Gika pada Edward.


"Gika, sudah!" Seru Mom Fe berusaha menghentikan tingkah barbar Gika.


"Dia sudah meninggalkan Elleanore hingga Elleanore nyaris jadi korban pemerkosaan, Mom!" Sergah Gika berapi-api yang merasa tak terima adiknya ditinggalkan oleh Edward di GOR.


"Tidak perlu juga kau itu main kasar!" Naka sudah bangkit berdiri dan menyeret Gika menjauh dari Edward karena saudara kembarnya itu sudah bersiap meninju Edward lagi.


Gika selalu saja mengutamakan otot!


"Duduk, Abang Edward!" Titah Naka pada Edward seraya mengendikkan dagunya ke arah sofa. Edward hanya menurut dan segera duduk di satu sofa yang terpisah.


"Saya benar-benar minta maaf, Nona Elleanore!" Edward menatap ke arah Elleanore yang tampak marah kepadanya. Elleanore hanya membisu dan menatap Edward sekilas saja sebelum kemudian gadis itu ganti menatap pada Henry yang sejak tadi hanya diam


"Henry, kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Elleanore yang sudah bergegas menghampiri Henry. Semua orang juga langsung melihat ke arah Henry yang wajahnya memang pucat.


"Aku hanya sedikit pusing. Boleh aku menumpang istirahat sebentar?" Tanya Henry yang suaranya nyaris tak terdengar.


"Tentu saja Henry! Naka, Gika! Bantu Henry ke kamar agar bisa istirahat!" Mom Fe memberikan arahan pada kedua putra kembarnya. Pun dengan Elleanor yang segera membantu Henry untuk bangkit berdiri. Namun baru saja Henry berdiri beberapa detik, pria itu mendadak sudah ambruk dan pingsan.


"Henry!" Pekik Elleanore dan yang lainnya.


Gika dan Naka buru-buru mengangkat tubuh Henry, lalu membaringkannya di sofa. Sedangkan Mom Fe cepat-cepat menelepon dokter keluarga agar datang ke rumah untuk memeriksa Henry.


"Apa Henry sedang sakit?" Tanya Naka pada Gika yang paling tahu tentang kondisi Henry.


"Aku juga tidak tahu! Tadi sore saat dia kesini, dia masih segar bugar dan bisa mengejekku berulang kali!" Jawab Gika bingung.


"Mungkin terkena pukulan di kepala saat berkelahi," Edward yang sejak yadi diam ikut melontarkan pendapatnya. Ekor mata Edward masih melihat ke arah Elleanore yang sedang menggenggam tangan Henry dan gadis itu terlihat khawatir sekali.


"El, apa tadi Henry terkena pukulan benda tumpul dari para berandalan?" Tanya Naka pada Elleanore untuk memastikan.


"El rasa tidak, Bang!"


"Tadi memang hampir kena, tapi Henry bisa langsung menangkisnya!" Cerita Elleanore seraya mengingat-ingat.


"Kita tunggu dokter datang dulu! Nanti kalau memang kondisinya tak membaik, kita bawa ke rumah sakit!" Ujar Mom Fe menenangkan anak-anaknya.


Semuanya langsung mengangguk kecuali Edward yang hanya diam dan terus menatap pada genggaman tangan Elleanore di tangan Henry.


Ada sebuah perasaan aneh yang mendadak menggelitik hati Edward saat melihat pemandangan tersebut. Entah perasaan apa namanya tapi rasanya sungguh tak nyaman dan sedikit sakit.


Edward memalingkan wajahnya, lalu memilih untuk menyingkir dari ruangan tersebut bersamaan dengan dokter yang sudah datang.


Edward memilih untuk duduk di teras kediaman Alexander saja dan berusaha menghubungi Richard lagi. Namun tetap tak tersambung seolah Richard sedang memblokir kontak Edward sekarang.


Aneh!


****


"Tekanan darahnya rendah dan kurang minum air putih."


"Lalu lukanya," dokter memeriksa dengan hati-hati luka di lengan kiri Henry.


"Ini tadi terbentur apa?" Tanya dokter memastikan.


Dokter sedikit mengernyit melihat lebam di lengan Henry tersebut.


Aneh memang!


Orang lain biasanya akan lebam kebiruan saja saat terkena benturan tapi milik Henry warnanya sudah lebih gelap dan terlihat mengkhawatirkan.


"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif dan untuk mencegah infeksi juga." Ucap Dokter akhirnya seraya menatap pada Henry yang langsung menggeleng samar. Dokter sepertinya ingin mengatakan sesuatu tentang kondisi Henry namun ditolak oleh pria itu, jadi dokter mengurungkan niatnya.


"Iya, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit saja!" Saran dokter sekali lagi.


"Minumlah agar tak dehidrasi lagi!" Titah Elleanore perhatian seraya membantu Henry minum.


"Aku bisa sendiri, El!"


"Tidak apa, aku bantu!" Ujar Elleanore keras kepala. Henry akhirnya menurut dan membiarkan Elleanore membantunya, bersamaan dengan sepasang mata yang melihat adegan tersebut dari kejauhan. Pria yang tadinya ingin masuk lagi untuk memastikan kondisi Henry tersebut akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke teras kediaman Alexander.


Dokter langsung pamit setelah selesai memeriksa Henry.


"Ayo ke rumah sakit!" Ajak Gika pada Henry.


"Besok saja bagaimana?" Tawar Henry yang sepertinya enggan sekali pergi ke rumah sakit.


"Henry! Kau harus ke rumah sakit sekarang agar lukamu segera mendapat perawatan!" Nasehat Mom Fe tegas namun lembut.


"Baik, Aunty!" Henry akhirnya mengangguk patuh.


"Aku ikut ke rumah sakit!" Ujar Elleanore cepat.


"Kau di rumah saja, Oke! Aku pergi bersama Gika!" Henry mengacak rambut Elleanore dengan satu tangannya yang tak terluka.


Elleanore hanya merengut, namun akhirnya gadis itu mengangguk.


"Nanti pulang dari rumah sakit, Abang Gika bawa Henry kesini lagi, ya! Agar kita semua bisa menjaganya!" Pesan Elleanore pada Gika.


"Iya-"


"Hendy akan sendirian di apartemen kalau aku menginap disini malam ini," Henry mencari alasan.


"Nanti biar Naka menjemput Hendy dan membawanya kesini!" Gika memberikan solusi.


"Tapi aku tak mau merepotkan-"


"Tak ada yang merasa direpotkan, Henry! Kau sudah menyelamatkan Elleanore, jadi biarkan kami ganti merawatmu disini. Hendy juga akan senang disini karena ramai," ujar Mom Fe yang lagi-lagi hanya bisa membuat Henry mengiyakan. Sosok Mom Fe selalu membuat Henry merindukan mendiang ibunya yang sidah berpulang beberapa bulan silam.


"Naka! Kau jemput Hendy ke apartemen!" Seru Gika pada sang saudara kembar.


"Siap!" Jawab Naka yang langsung menyambar kunci mobilnya. Sementara Elleanore dan Gika membantu Henry menuju ke mobil.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Gika ketus pada Edward yang masih duduk di teras.


"Apa Henry baik-baik saja?" Tanya Edward khawatir karena melihat Henry yang dituntun oleh Gika dan Elleanore.


Dan sedikit panas karena Elleanore menggamit erat lengan Henry.


Edward kenapa sebenarnya?


"Ya! Henry baik-baik saja dan dia bukan pengecut sepertimu yang meninggalkan seorang gadis di GOR tanpa kabar-"


"Abang sudah!" Tegur Elleanore pada Gika yang tak berhenti bercerocos.


"Nona Elleanore, saya benar-benar minta maaf soal tadi," Edward menatap penuh bersalah pada Elleanore.


"Ya! Aku sudah memaafkan Abang Ed, dan Abang Edward bisa pulang sekarang," jawab Elleanore yang tak lagi hangat seperti biasanya.


Siapa juga yang tak kesal ditinggal tanpa kabar seperti tadi hingga nyaris jadi korban pemerkosaan!


"Lihat! El sudah menyuruhmu pulang! Sana pulang!" Usir Gika bersungut-sungut pada Edward.


Edward masih diam saat Elleanore membantu Henry masuk ke dalam mobil Gika, lalu mobil itu pergi ke rumah sakit.


Elleanore sudah berbalik hendak kembali ke rumah, dan Edward masih saja di tempatnya semula.


"Abang bisa pulang atau meninjau proyek lagi," sindir Elleanore sebelum kemudian gadis itu berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Edward yang masih membisu dalam kubangan rasa bersalah.


Edward memang bersalah disini.


.


.


.


Alhamdulillah 60k kata 😭😭


Diselingi sakit malaria seminggu sampai UP nya ngesot-ngesot 😁😁


Terima kasih yang tetap setia baca dan sabar nungguin aku UP.


Jangan lupa like.