
Elleanore baru keluar dari kamarnya, saat seorang maid menghampiri gadis itu sambil membawa sebuah buket bunga.
"Nona El, ada kiriman bunga," lapor maid seraya memberikan buket bunga di tangannya pada Elleanore.
"Dari siapa?" Tanya Elleanore seraya mengendus aroma bunga yang abru saja ia terima. Tidak biasanya ada yang mengirimkan bunga untuk Elleanore.
"Saya tidak tahu, Nona! Diantar oleh kurir pengantar bunga," jawab maid sebelum unndur diri dan berlalu pergi. Elleanore membuka kartu ucapan yang ikut dikirim bersama bunga tersebut. Hanya ada satu kata di dalam.kartu ucapan tanpa ada nama pengirim.
Maaf!
Aneh!
Siapa yang minta maaf pada Elleanore?
"Wow! Bunga yang bagus, El!" Puji Ashley yang kebetulan memang sedang menginap di kediaman Alexander sejak semalam.
"Dari siapa?" Tanya Ashley lagi kepo.
"Nggak tahu, Kak! Nggak ada nama pengirimnya," jawab Elleanore seraya menunjukkan kartu yang tadi ia temukan di salam buka.
"Maaf!" Ashley membaca satu kata tersebut dengan sedikit keras.
"El merasa tidak sedang ada masalah dengan siapapun, lalu siapa yang minta maaf." Elleanore menghentikan kalimatnya sejenak saat melihat Tiffany yang menuruni tangga dengan langkah sedikit terseok. Ashley ikut heran dengan cara Tiffany berjalan yang sepertinya sedikit kesakitan.
Se-barbar apa Gika menghajar Tiffany hingga istrinya itu kesakitan?
"Tiff! Susah kubilang di kamar saja!" Gika sudah keluar dari ruang makan dan buru-buru menghampiri Tiffany yang baru sampai ke tangga kelima dari atas.
"Kak Tiffany kenapa, Bang," tanya Elleanore yang buru-buru menghampiri Tiffany dan Gika.
"Tidak kenapa-kenapa!" Sergah Gika cepat yang malah membuat Tiffany mendelik galak ke arah suaminya tersebut.
"Kau kenapa, Tiff? Gika menghajarmu dengan barbar semalam?" Gantian Ashley yang bertanya curiga.
"Bukan salahku!" Kilah Gika cepat.
"Abang apain Kak Tiff?" Cecar Elleanore emosi.
"Salahnya sendiri yang pecicilan," Gika masih saja membela diri dan hendak menggendong Tiffany kembali ke kamar. Namun tangan Gika malah disentak kasar oleh Tiffany.
"Aku mau turun dan pindah kamar," rengut Tiffany yang sepertinya sedang marah pada Gika.
"Tidak usah pindah kamar! Aku tidak akan membuatmu jatuh lagi nanti malam!" Janji Gika pada Tiffany.
"Jatuh bagaimana maksudnya?" Tanya Ashley dan Elleanore serempak.
"Hanya sebuah ketidaksengajaan," Gika meringis tanpa dosa.
"Bisakah Abang jelaskan lebih detail?" Tanya Elleanore bingung.
"Tiff jatuh dari atas tempat tidur semalam," jawab Gika akhirnya berkata jujur.
"Itu karena kakimu yang tak tahu diri itu menendangku!" Sungut Tiffany pada Gika.
"Dan bisa-bisanya kau bilang aku yang pecicilan!" Sambung Tiffany lagi semakin bersungut.
"Kau itu yang pecicilan!" Tiffany memukul-mukul Gika saking kesalnya
"Hei, kau tak akan langsung jatuh andai kau tidur sedikit ke tengah dan tak menghindari dekapanku," sergah Gika mencari alasan dan masih berusaha menangkis pukulan Tiffany barbar. Tidak saat bercinta tidak saat bedebat, istri Gika ini gemar sekali memukul. Sementara Elleanore dan Ashley malah menahan tawa sekarang melihat perdebatan Tiffany dan Gika.
"Sudah! Ayo kembali ke kamar dan panggil maid saja jika butuh sesuatu!" Gika memaksa untuk menggendong Tiffany sekalipun istrinya itu meronta-ronta.
"Lepas! Aku mau pindah kamar!" Jerit Tiffany tanpa henti sampai Gika membawanya masuk ke kamar.
"Iya nanti kita pindah kamar berdua! Mau ke kamar hotel atau kamar villa?" Jawab Gika sebelum pria itu menutup pintu kamarnya dengan keras.
Braak!
Elleanore dan Ashley sampai kaget saking kerasnya. Dua wanita itu kembali tertawa kecil.
"Jadi, itu bunga dari siapa?" Ashley bertanya sekali lagi pada Elleanore yang masih menciumi bunga di tangannya.
"Entahlah!" Elleanore mengendikkan kedua bahunya dan membawa bunga itu ke ruang tengah, lalu memindahkannya ke dalam vas berisi air.
"Biar disini saja, Kak!"
"El harus ke kampus karena ada urusan. Kak Ashley tidak kuliah hari ini?" Elleanore balik bertanya pada Ashley.
"Tidak! Aku sedang tidak ada jadwal kuliah," jawab Ashley.
"Baiklah kalau begitu. El pergi dulu, Kak!" Pamit Elleanore seraya membenarkan letak tas di bahunya.
"Eh, El! Kau tidak bareng Edward?" Tanya Ashley yang langsung membuat Elleanore mengernyit.
"Abang Edward memangnya disini?"
"Iya! Dia tadi masih di ruang kerja Richard," jelas Ashley bersamaan dengan Edward dan Richard yang sudah keluar dari ruang kerja.
"Nah, itu mereka!" Ujar Ashley lagi menunjuk pada Richard dan Edward.
"Ed, El mau-"
"Tidak usah, Kak!" Elleanore menyela kalimat Ashley yang hendak menyampaikan pada Edward agar mereka pergi bersama.
"El akan menyetir sendiri karena nanti dari kampus, El harus ke beberapa tempat untuk mengurus hal lain."
"Dan lagi, El tidak mau merepotkan asisten Abang Richard dan membuatnya risih serta tidak nyaman," ujar Elleanore sedikit menyindir Edward yang hanya bungkam. Namun jauh di lubuk hati Edward, ada nyeri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Mau kemana memangnya?" Tanya Richard menatap pada sang adik bungsu.
"Ke kampus, Bang!" Jawab Elleanore yang kembali membenarkan letak tasnya.
"Bulan depan sudah wisuda, kan?" Tanya Richard lagi.
"Iya!"
"El pergi dulu!" Elleanore cipika-cipiki pada Ashley, lalu melangkah cepat menuju ke pintu utama kediaman Alexander.
"Dia menaruh bunganya di ruang tengah?" Celetuk Edward tiba-tiba saat melihat bunga yang tadi ia kirimkan untuk Elleanore sudah terpajang di dalam vas di ruang tengah.
"Katanya karena dia tak tahu siapa pengirim bunga itu. Makanya dia tidak mau menaruhnya di kamar," Ashley mencoba memberikan pengertian pada Edward yang kini mendes*h kecewa.
"Memang tidak kau berikan nama atau minimal inisial?" Tanya Richard mengernyit heran.
"Kata Ashley tidak usah!" Edward menuding pada Ashley yang langsung meringis.
"Maaf!"
"Cinta butuh perjuangan, Ed!" Richard menepuk punggung Edward seolah turut prihatin dengan gagalnya misi pertama kali ini.
Edward hanya mendengus dan memilih untuk mengayunkan langkahnya ke pintu utama kediaman Alexander.
"Aku akan ke kantor saja!" Gumam Edward yang terus melangkah ke arah pintu depan lalu teras. Masih bisa Edward dengar tawa Ashley dan Richard saat Edward sampai di pintu depan.
Dasar pasutri menyebalkan!
"Aunty itu sudah sangat berharap kau yang akan jadi menantu Aunty, Elleanore!"
Sebuah suara dari depan teras langsung menarik perhatian Edward dan membuat pria itu menghentikan langkahnya sejenak. Ada Aunty Navya dan Elleanore yang sepertinya sedang bicara serius.
"Victor pasti baik-baik saja, Aunty! Nanti El akan bantu mencari Victor," ujar Elleanore sembari memeluk Aunty Navya.
Namun kalimat yang tadi dilontarkan Elleanore justru mengibarkan api cemburu serta sebuah prasangka di hati Edward.
Apa itu artinya perjodohan antara Elleanore dan Victor tetap berlanjut dan Elleanore juga akhirnya setuju?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.