
"Hendy mana?" Tanya Henry setelah Gika membantunya untuk minum.
"Masih di hotel dan dijaga oleh Naka. Hendy belum tahu kau masuk rumah sakit. Dia mencarimu tadi saat di acara," beber Gika menjelaskan pada Henry.
"Tidak usah diberitahu. Besok pagi aku akan pulang dan menemuinya," ucap Henry lirih seraya memejamkan mata seolah sedang menahan rasa sakit.
"Uhuuk!" Henry terbatuk-batuk dan Gika hendak memanggil dokter. Namun Henry mencegah.
"Aku baik-baik saja!" Ucap Henry yang masih batuk sesekali. Henry ganti menoleh ke arah Elleanore yang sejak tadi hanya diam. Pria itu berusaha mengulas senyum ke arah Elleanore yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Ini tidak sungguh-sungguh, kan, Hen?" Gika akhirnya kembali buka suara setelah keheningan beberapa saat.
"Apanya? Soal sakitku?" Tanya Henry yang malah tertawa kecil. Gika benar-benar ingin mengomeli sahabatnya tersebut, tapi Gika tidak bisa. Gika sedang tidak bisa mengomel atau marah-marah sekarang.
"Kau pria baik, Hen! Kau bukan pria brengsek sepertiku. Lalu bagaimana bisa kau--" suara Gika tercekat di tenggorokan.
"Bagaimana bisa kau terinfeksi penyakit sialan itu?" Tanya Gika yang matanya sudah berkaca-kaca. Gika tak pernah merasa sesedih ini seumur hidupnya. Tapi Henry adalah sahabat baik Gika.
"Ibu," jawab Henry lirih.
"Apa maksudnya? Kau tertular dari ibumu?" Tanya Elleanore dengan bibir yang sudah bergetar.
"Kau ingat saat kita SMA, lalu aku mengalami kecelakaan itu, El?" Tanya Henry seraya mengusap lengan Elleanore yang sejak tadi menggenggam tangannya.
Elleanore mengangguk dan airmata gadis itu sudah menetes di kedua pipinya.
"Kau terluka parah di bagian kepala dan kehilangan banyak darah." Gumam Elleanore yang ternyata masih ingat. Dulu saat SMA, Elleanore dan Henry memanglah sahabat dekat.
"Ibu yang mendonorkan darahnya waktu itu untuk menyelamatkan nyawaku, karena stok darah di rumah sakit sedang kosong-"
"Tapi pasti mereka melakukan screening pada darah ibumu, Hen! Bagaimana rumah sakit bisa lalai?" Gika memotong dan menatap tak percaya ke arah Henry.
"Ada masa dimana penderita HIV mengalami yang namanya masa jendela. Yaitu dimana virus tidak terdeteksi oleh alat screening." Ungkap Elleanore seraya menatap kosong .
"Elleanore benar. Itu yang terjadi pada Ibu saat beliau mendonorkan darahnya. Ibu juga belum tahu kalau saat itu dirinya sudah terjangkit."
"Baru setahun yang lalu, saat ibu sakit batuk dan tak kunjung sembuh, dokter meminta tes darah lengkap, tes antibodi." Henry tersenyum kecut.
"Lalu diketahuilah kalau ibu ternyata seorang pengidap. Dan aku yang pernah mendapatkan donor darah dari ibu ikut melakukan tes."
"Lalu hasilnya positif?" Tebak Gika yang kembali membuat Henry tersenyum kecut.
"Sudah masuk tahap akut," ucap Henry lirih.
"Lalu kenapa kau tidak melakukan pengobatan dengan benar jika memang sudah masuk tahap akut? Apa kau tidak mau hidup lebih lama? Apa kau tega membiarkan Hendy hidup sebatang kara nantinya?" Cecar Gika penuh emosi.
"Ada kau yang akan menjadi abang untuk Hendy setelah ini. Kau yang akan membimbing Hendy menjadi apa yang ia inginkan dan ia cita-citakan. Aku tahu kau akan menyayangi Hendy seperti halnya aku menyayangi Hendy." Tutur Henry panjang lebar yang malah membuat Elleanore semakin menangis tergugu.
"Brengsek! Jangan bilang seperti itu!" Mata Gika sudah memerah karena emosi dan rasa sedih yang berbaur menjadi satu.
"Kau akan sembuh dan melihat Hendy menjadi seseorang yang sukses!" Gika menatap penuh harap pada Henry yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku ingin kembali tinggal di rumah masa kecilku. Mengunjungi makam ayah dan ibu..." Henry menuturkan keinginannya dan Elleanore sudah menangis tersedu-sedu.
"Kau sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindungiku, Hen!" Elleanore berucap dengan terbata-bata.
"Selagi aku bisa!" Henry mengingatkan Elleanore kalimat syarat di belakang janjinya kemarin. Tangis Elleanore semakin menjadi.
"Ikutlah bersamaku, El! Di tempat yang ingin aku kunjungi untuk terakhir kali." Pinta Henry seraya mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata yang bercucuran di wajah Elleanore.
"Ada banyak yang ingin aku ceritakan," lanjut Henry lagi nyaris tanpa suara dan Elleanore hanya mengangguk-angguk menyanggupi permintaan Henry.
****
Ashley terbangun dari tidur nyenyaknya karena mendengar dering ponselnya yang tak kunjung berhenti. Perasaan Ashley tak memasang alarm.
Tok tok tok!
Baru saja Ashley akan mengangkat telepon, sudah terdengar ketukan di pintu kamar serta suara Richard dari luar.
"Ash!"
"Ya!" Jawab Ashley seraya meletakkan kembali ponselnya dan langsung melihat tampilan wajahnya di kaca. Ashley hanya memastikan tak ada iler yang mengering di sudut bibirnya sebelum ia membuka pintu dan bertatap muka dengan Richard.
"Ashley!" Panggil Richard sekali lagi.
"Ya! Aku datang!" Jawab Ashley seraya bergegas membuka pintu kamar dan langsing terlihat Rich yang sudah rapi dan wangi mengenakan setelan baju kerja. Sepertinya pria ini akan berangkat ke kantor. Jam berapa memangnya sekarang?
Sesaat Ashley merasa seperti gelandangan saat melihat penampilan Richard yang sudah rapi dan begitu kontras dengan penampilan Ashley yang masih awut-awutan karena baru bangun.
"Ya!" Jawab Richard seraya meletakkan punggung tangannya di kening Ashley.
Ada apa?
Richard pikir Ashley kesurupan karena penampilannya awut-awutan?
"Ada apa? Aku tidak demam," tanya Ashley merasa bingung.
"Aku pikir kau sakit karena tak kunjung bangun," jawab Richard yang raut wajahnya terlihat khawatir.
Mungkin khawatir membayar biaya pengobatan Ashley jika Ashley sakit.
Eh, tapi Richard kan rich!
Masa iya membayar ongkos dokter keberatan?
Ke puskesmas saja kalau keberatan! Ashley punya kartu berobat ke puskesmas, jadi gratis dan tak perlu keluar biaya.
"Aku sehat, kok! Jadi tak perlu khawatir tentang biaya berobat yang sekarang mahal," jawab Ashley sedikit berkelakar yang malah membuat ekspresi wajah Richard berubah bingung.
"Baiklah, lupakan candaan konyolku!" Ujar Ashley lagi seraya mengibaskan tangannya ke arah Richard.
"Kau ada kuliah hari ini?" Tanya Richard selanjutnya pada Ashley.
"Ini hari apa?" Ashley malah balik bertanya pada Richard.
"Senin."
"Astaganaga!" Ashley menepuk keningnya sendiri karena lupa kalau ia ada kelas jam sembilan pagi.
"Sekarang jam berapa?" Ashley meraih lengan Richard untuk melihat jam di arloji mahal Richard. Sudah pukul delapan kurang sepuluh menit.
"Kelasmu jam berapa?" Tanya Richard saat melihat Ashley yang gelagapan.
"Jam sembilan! Dosennya galak!"
"Aku mandi dulu, Bye!" Pamit Ashley seraya membanting pintu kamar hingga Richard sedikit kaget.
Richard hanya geleng-geleng kepala dan memilih untuk menuju ke sofa ruang tengah lalu membuka ponselnya.
"Ed, aku ke kantor sedikit siang." Ucap Richard to the point pada Edward di seberang telepon.
"Kontrak pernikahanmu batal dan kau memutuskan belah duren saat fajar menyingsing?"
"Kau urus saja semua yang perlu diurus! Aku ke kantor sekitar jam sembilan!" Pungkas Richard tanpa menjawab pertanyaan Edward. Richard menutup teleponnya karena Ashley sudah keluar dari kamar dengan penampilan yang tak terlalu rapi. Celana jeans dan sebuah blouse yang kedodoran. Rambut gadis itu juga hanya dicepol ala kadarnya.
"Kau belum berangkat, Rich?" Tanya Ashley seraya menyumpalkan sebuah buku ke dalam tas ranselnya.
"Aku menunggumu dan berencana mengantarmu ke kampus," jawab Richard seraya memindai sekali lagi penampilan Ashley yang sedikit membuat risih.
"Ada apa?" Tanya Ashley bingung.
"Tidak ada! Tapi apa kau biasanya ke kampus seperti ini?" Tanya Richard memastikan. Karena saat bersama Richard, Ashley selalu berpenampilan feminim memakai dress.
"Ya! Lebih nyaman begini ketimbang pakai dress yang mudah tersibak saat tertiup angin," jawab Ashley seraya terkekeh. Richard hanya mengangguk dan segera pergi ke meja makan.
"Kau suka selai rasa apa?" Seru Richard yang sepertinya sedang menyiapkan roti untuk sarapan Ashley. Bukankah biasanya yang melakukan itu adalah seorang istri?
Eh, tapi Ashley hanya istri kontrak disini dan apartemen ini milik Richard. Jadi terserah pria itu mau bagaimana.
"Tidak akan keburu jika aku sarapan dulu, Rich!" Seru Ashley seraya membenarkan ikatan rambutnya.
"Kau bisa makan di dalam mobil," Richard menunjukkan kotak bekal pada Ashley.
"Baiklah! Aku suka selai stroberi!" Ujar Ashley akhirnya menjawab pertanyaan Richard tentang selai kesukaan. Richard membuat roti isi dengan cekatan, lalu menatanya ke dalam kotak bekal dan mengangsurkannya pada Ashley.
"Ayo berangkat!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.