
"Arrrgh!" Jerit anak buah Tiffany saat Gika memiting tangannya ke belakang.
"Kau masih belum pergi dan masih memata-mataiku, hah?" Omel Gika pada pria yang masih mengenakan kostum serba hitam tersebut.
"Ini saya mau pergi, Pak!"
"Eh, Tuan!" Jawab anak buah Tiffany tadi masih sambil meringis.
"Barusan kau lapor apa pada Tiffany?" Tanya Gika lagi penuh selidik.
"Tidak lapor apa-apa! Nona Tiffany minta dijemput saja ke hotel karena ia mau kesini." Jawab anak buah Tiffany ember.
"Ckckck! Dasar anak buah ember!" Cibir Gika seraya memiting sekali lagi tangan pria yang berhasil ia tangkap tersebut.
"Aaaargh!" Anak buah Tiffany menjerit sekali lagi.
"Sekarang, berikan alamat hotel tempat Tiffany menginap, sebelum aku patahkan tanganmu ini!" Perintah Gika disertai ancaman konyol. Gika jugabtak akan mematahkan tangan pria di depannya ini.
"Hotel Emerald!" Jawab anak buah Tiffany. Gika langsung melepaskan cekalannya di tangan anak buah Tiffany tadi.
"Berikan ponselmu!" Pinta Gika memaksa.
"Jangan, Tuan! Nanti kalau saya dipecat Nona muda, saya mau kerja apa?"
"Aku berikan uang, mau? Tapi berikan dulu ponselmu! Nanti aku transfer uang untuk kau kabur," Gika menyebutkan sejumlah nominal yang langsung membuat anak buah Tiffany tersebut membelalak.
"Yang benar, Tuan?" Tanyanya tak percaya.
"Tentu saja benar! Berikan ponselmu!" Pinta Gika lagi masih dengan nada galak.
"Ini!"
Anak buah Tiffany akhirnya memberikan ponselnya pada Gika dan membuat kesepakatan.
"Pergi jauh sana, dan jangan lapor ke Tiffany!" Gika memperingatkan sekali lagi dan akhirnya anak buah Tiffany tadi pergi dari rumah sakit. Sedangkan Gika langsung menuju ke tempat parkir dan tak berselang lama, Gika sudah meluncur pergi ke hotel Emerald.
****
"Terima kasih karena sudah mengantar kami pulang, Naka," ucap Alsya pada Naka saat mereka tiba di depan kediaman Attala.
"Kenapa harus membawa cowok nyebelin ini, sih, Pa?" Keluh Sunny di jok belakang yang terpaksa duduk bersamaan dengan Hendy. Naka memang bertugas menjaga Hendy sementara waktu sampai Henry puloh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Iya, biar Hendy tahu rumah Opinya Sunny! Jadi nanti kalau Hendy mau mengajak Sunny hang out bareng, sudah tahu harus menjemput dimana," jawab Naka sedikit berkelakar yang langsung berhadiah pukulan di bahu dari Alsya.
"Mereka masih kecil!" Delik Alsya pada Naka.
"Hanya bergurau!" Jawab Naka seraya tersenyum manis pada Alsya.
"Tapi cintaku padamu tak pernah bergurau," lanjut Naka sedikit berbisik pada Alsya yang langsung membuat wajah Alsya bersemu merah.
"Sunny nggak mau hang out bareng cowok nyebelin ini, Pa!" Jawab Sunny dari jok belakang seolah gadis itu menaruh dendam kesumat pada Hendy. Padahal Hendy hanya menumpahkan minuman di gaun Sunny, tapi nyatanya hal itu malah berbuntut panjang.
"Masih ngambek ceritanya gara-gara kejadian semalam?" Gabtian Alsya yang bertanya pada sang putri.
"Itu kan gaun dari Papa Naka, Ma! Dan dia membuatnya kotor!" Rengut Sunny seraya menunjuk ke arah Hendy yang sejak tadi hanya diam. Bocah laki-laki itu sepertinya memang pendiam dan tak suka marah-marah seperti Sunny.
"Sudah papa masukin ke laundry, Sayang! Nodanya bisa hilang nanti dan gaunnya akan terlihat seperti baru . Jadi Sunny jangan ngambek-ngambek lagi, ya!" Naka turut membujuk Sunny seraya mengusap lembut kepala calon putri sambungnya tersebut.
"Maaf ya, Sunny!" Hendy akhirnya buka suara dan kembali meminta maaf pada Sunny.
"Ya!" Jawab Sunny seraya mengulurkan tangannya ke arah Hendy dan mengajak berjabat tangan.
"Maaf juga karena udah ketus sama kamu sejak semalam."
"Tidak apa-apa, kok!" Hendy membalas uluran tangan Sunny.
"Kita teman, kan?" Tanya Hendy selanjutnya yang langsung membuat Sunny mengangguk.
"Nah, kalau akur begini kan bagus!" Puji Naka pada Sunny dan Hendy.
"Aku akan turun sekarang," pamit Alsya seraya melepaskan sabuk pengamannya.
"Nanti malam Mom dan Dad akan ke rumah. Jadi dandan yang cantik, ya!" Pesan Naka seraya menggenggam tangan Alsya.
"Nanti malam?" Tanya Alsya kaget.
"Iya! Kan aku sudah bilang waktu itu, kalau aku akan melamarmu setelah pernikahan Abang Richard," ujar Naka yang sudah ganti menggenggam sekaligus mengusap lembut tangan Alsya.
"Tapi aku pikir masih minggu depan atau bulan depan."
"Lebih cepat lebih baik! Hal baik tidak boleh ditunda-tunda!" Tukas Naka seraya mengusap wajah Alsya sambil menatapnya dengan lekat. Naka melirik sebentar ke jok belakang dimana Sunny masih asyik bercerita bersama Hendy. Seolah mendapat kesempatan, Naka dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke arah Alsya dan mengecup kening wanita itu cukup lama.
"Aku mencintaimu!" Bisik Naka yang lagi-lagi membuat wajah Alsya kembali bersemu merah.
"Aku juga mencintaimu," balas Alsya sedikit berbisik dan mengusap wajah Naka. Rasanya masih seperti mimpi, Alsya akan dilamar, lalu menikah dengan pemuda yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya ini. Tapi kedewasaan Naka sudah melampaui usianya saat ini, jadi Alsya yakin ke depannya Naka akan bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan penyayang untuk dirinya dan Sunny.
"Aku turun sekarang!" Pamit Alsya akhirnya pada Naka yang hanya mengangguk.
"Ngomong-ngomong, mami dan papi sudah tahu soal nanti malam?" Tanya Alsya sekali lagi yang sudah membuka pintu mobil.
"Sudah! Mom dan Dad sudah memberitahunya semalam," jawab Naka.
"Baiklah!'
"Sampai jumpa nanti malam," pamit Alsya sekali lagi.
"Sunny!" Panggil Alsya pada sang putri yang masih asyik mengobrol bersama Hendy. Padahal tadi sempat berseteru, giliran sudah akrab tidak mau berhenti mengobrol.
"Iya, Ma!"
"Ayo turun! Sudah sampai dari tadi," ajak Alsya yang langsung membuat Alsya meringis.
"Belum selesai mengobrol bareng Hendy, Ma!"
"Hendy papa tinggal saja disini bagaimana?" Usul Naka sedikit menggoda Sunny.
"Nanti Abang Henry nyariin, Bang!" Celetuk Hendy mencari alasan.
"Kan abang tinggal bilang, kalau Hendy masih berduaan bersama Sunny."
"Papa, ih! Sunny mau turun!" Gerutu Sunny seraya turun dari mobil dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"Mana ada!" Kilah Sunny seraya mendekat ke jendela mobil dimana Naka duduk, lalu Sunny mencium pipi Naka.
"Bye, Papa!" Sunny melambaikan tangan ke arah Naka. Pun dengan Alsya yang melakukan hal yang sama.
"Bye!" Balas Naka sebelum pria itu melajukan mobilnya dan meninggalkan kediaman Attala. Hendy sudah berpindah ke jok depan dan duduk di sebelah Naka.
"Abang Henry sudah pulang ke apartemen, ya, Bang? Kok tadi malam nggak bangunin Hendy, sih?" Tanya Hendy yang langsung membuat Naka mengusap wajahnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Hendy.
"Sebenarnya, abang Henry ada urusan mendadak di luar kota, Hendy. Jadi sementara ini kamu tinggal di rumah Mom dan Dad dulu, ya!" Jelas Naka pada Hendy sembari mengingat pesan Elleanore pagi ini. Henry masih harus menjalani perawatan di rumah sakit, dan pria itu tak mau Hendy tahu.
"Sampai kapan, Bang? Kok Abang Henry nggak pamitan dulu ke Hendy?" Tanya Hendy lagi.
"Abang belum tahu. Nanti Abang tanyakan dulu, ya!" Naka mengusap kepala Hendy lalu kembali fokus mengemudi.
****
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil anak buah Tiffany akhirnya tiba di depan lobi hotel. Tiffany berjalan tanpa tongkatnya dan masih sedikit terpincang.
"Kenapa lama sekali?" Omel Tiffany pada anak buahnya yang duduk di jokdi samping pengemudi. Sedangkan di belakang kemudi ada satu orang lagi yang sepertinya adalah sopir. Tumben sekali anak buah Tiffany ini memakai sopir?
"Maaf, Nona!" Jawab anak buahnya tersebut yang suaranya agak lain. Apa karena memakai masker?
Aneh sekali!
Tiffany sudah masuk dan duduk di jok belakang, lalu mobil segera melaju meninggalkan hotel tempat Tiffany dan Opa Bowles menginap.
"Apa kau masih belum dapat info tentang sakitnya Henry? Kenapa kau tidak berguna sekali sebagai mata-mata?" Tiffany kembali mengomel di dalam mobil.
"Gika De Chio masih di rumah sakit? Atau dia sudah pergi bersama seorang jal*ng?" Tanya Tiffany selanjutnya pada anak buahnya.
Masih tak ada jawaban dan pria yang Tiffany pikir adalah anak buahnya tadi, tiba-tiba sudah menoleh ke belakang, membuka topi serta maskernya.
"Hah?" Tiffany nyaris terjengkang saat tahu kalau yang duduk di jok depan itu bukan anak buahnya melainkan Gika De Chio.
Apa-apaan ini?
Apa ini semacam sabotase?
"Kau sedang apa disini?" Tanya Tiffany galak pada Gika yang hanya tersenyum tanpa dosa.
"Akhirnya kita bisa satu mobil, hah?" Gika menaikturunkan alisnya seolah sedang menggoda Tiffany. Pria itu bahkan sudah berpindah ke jok belakang dan duduk di sebelah Tiffany.
"Jangan dekat-dekat atau aku tendang senjatamu sampai tidak bisa bangun lagi!" Ancam Tiffany pada Gika yang langsung membuat sopir yang duduk di depan menahan tawa. Entah siapa itu Tiffany juga tak kenal.
"Diam, kau!" Gika mengeplak kepala supirnya.
"Kau masih memata-mataiku, hah?" Tanya Gika seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Tiffany.
"Jangan dekat-dekat!" Tiffany kembali mendorong tubuh Gika agar menjauh.
"Henry sakit apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Gika, Tiffany malah balik bertanya pada mantan tuan model itu.
"Kenapa malah bertanya soal Henry? Jawab dulu pertanyaanku tadi!"
"Kenapa kau memata-mataiku, meminta anak buahmu mengambil fotoku diam-diam, mengawasi gerak-gerikku?"
"Kau nge-fans berat padaku?" Tanya Gika melebihi speaker konslet. Sepertinya pria ini sebelas dua belas dengan Ashley!
"Percaya diri sekali!" Decih Tiffany seraya bersedekap.
"Kakimu sudah sembuh?" Gika ganti memeriksa kaki Tiffany yang masih terbalut perban dan mengangkatnya ke atas pangkuan.
"Auuw! Pelan-pelan! Kau mau membuat kakiku patah lagi?" Omel Tiffany bersungut-sungut pada Gika.
"Akan kugendong kemana-mana kalau kakimu patah lagi," jawab Gika menyebalkan.
"Jadi Henry sakit apa sebenarnya? Kenapa dia bisa pingsan?" Tiffany kembali bertanya pada Gika.
"Kau menyukai Henry?" Gika mengernyit curiga pada Tiffany.
"Bukan urusanmu! Jawab saja pertanyaanku atau kau mau aku tendang keluar dari mobil ini?" Ancam Tiffany sekali lagi pada Gika.
"Ini mobilku! Kau tidak bisa menendangku begitu saja--"
Bugh!
"Auuw!" Gika mengaduh karena Tiffany baru saja menendang perutnya dengan barbar.
"Baiklah, akan kuberitahu Henry sakit apa, tapi kau jawab dulu pertanyaanku dengan jujur!" Gika akhirnya mengajukan syarat.
"Pertanyaan apa?" Tiffany mendelik ke arah Gika.
"Kau menyukaiku?" Tanya Gika penuh percaya diri. Ingin rasanya Tiffany menjambak rambut mantan tuan model yang sekarang hendak banting stir jadi tuan direktur ini.
"Tidak!" Jawab Tiffany tegas.
"Jawab yang jujur!" Gika masih bersikeras.
"Tidak! Tidak! Tidak!" Ulang Tiffany semakin tegas. Gika langsung merengut.
"Sudah aku jawab! Cepat beritahu Henry sakit apa!" Perintah Tiffany masih menatap galak pada Gika.
"Sakit parah!" Jawab Gika seraya membalas tatapan tajam Tiffany.
"Sakit parah apa? Pasti ada namanya!" Tiffany bertanya lagi tetap dengan nada tegas.
"HIV!" Jawab Gika lirih yang langsung membuat Tiffany membelalakkan matanya.
"Apa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.