
"Gikaaa!!!" Teriak Tiffany yang masih terkapar di lantai lift karena dibantung oleh Gika. Tadj bilang mau digendong kemana-mana tapi ujung-ujungnya dibanting dan dijatuhkan ke atas lantai.
Dasar Gika sialan!
"Pelankan suaramu, Gadis macan!".
"Rrrrooooaaar! Rrrrooooaaar!" Gika mengaum pada Tiffany masih sambil memegangi lehernya yang tadi digigit oleh Tiffany.
"Kenapa kau membantingku ke atas lantai?" Omel Tiffany seraya berusaha untuk bangun dan berdiri. Masih bagus di dalam lift hanya ada dirinya dan Gika. Kalau ada orang lain, bisa mu setengah mati Tiffany!
"Kau menggigit leherku hingga nadiku nyaris putus tadi! Aku kan kaget dan mrmbuat gerakan refleks!" Ujar Gika mencari alasan. Gika membantu Tiffany untuk bangun dan berdiri.
"Jangan pegang-pegang!" Tiffany menyentak tangan Gika dengan kasar.
Ting!
Lift akhirnya sampaj ke lantai tujuan. Tiffany keluar dari lift dengan langkah terseok. Gika mencoba untuk mrmbantu, namun tangannya terus saja disentak oleh Tiffany.
"Kau tahu kamar Henry yang mana memangnya?" Tanya Gika yang terpaksa memelankan langkahnya demi mengimbangi langkah Tiffany.
"Tidak!" Jawab Tiffany ketus.
"Lalu kenapa berjalan sendiri begitu dan tak bertanya kepadaku?" Sergah Gika yang hanya membuat Tiffany memutar bola matanya.
"Aku akan menunggu di luar saja! Tadi yang mau menjenguk Henry kan kau!" Tiffany menjulurkan tangannya untuk meraih sandaran kursi tunggu dan gadis itu langsung membanting bokongnya ke atas kursi. Nafas Tiffany terengah-engah setelah berjalan dari lift sampai kursi tunggu tanpa bantuan tongkat apalagi kursi roda.
Kaki patah memang bikin repot!
"Ayo aku gendong ke kamar Henry!" Tawar Gika yang sudah berjongkok di depan Tiffany.
"Tidak! Kau akan menjatuhkan aku ke lantai lagi seperti karung beras!" Tolak Tiffany galak.
"Tidak akan! Asal kau tidak menggigit leherku!" Sergah Gika bersungguh-sungguh.
"Tapi kalau kau mau mencium leher atau tengkukku aku sama sekali tak keberatan," imbuh Gika seraya mengerling nakal pada Tiffany. Sudah dipastikan kalau Tiffany langsung memberikan Gika sebuah delikan.
"Dasar otak mesum!" Gumam Tiffany kesal. Tiffany masih bersedekap dan duduk di kursi tunggu.
"Ayo, Tiff! Kau tidak mau bertemu Henry? Bicara dengannya atau minta maaf karena kau sudah berprasangka buruk dan pernah memakinya?" Gika masih berusaha membujuk Tiffany.
Tapi perkataan Gika ada benarnya. Tiffany juga penasaran, kenapa Henry bisa mengidap penyakit laknat itu? Apa Henry senakal Gika De Chio?
"Baiklah!" Jawab Tiffany akhirnya seraya berusaha berdiri. Gika hendak kembali menggendong Tiffany, namun dengan cepat ditolak oleh gadis itu.
"Bantu saja aku berjalan dan jangan menggendongku!" Gertak Tiffany memperingatkan Gika.
"Oke!" Gika meraih tangan Tiffany, lalu mengalungkannya di leher. Gika mulai memapah Tiffany denagn oerlahan, saat aroma wangi dari tubuh Gika menguar dan sampai ke indera penciuman Tiffany. Darah Tiffany seketika berdesir aneh gara-gara posisi canggung ini.
"Apa masih jauh?" Tanya Tiffany saat Gika terus memapahnya hingga sudah hampir sampai di ujung lorong.
"Tidak! Kamarnya sudah terlewat tadi, jadi kita putar balik, ya!" Ringis Gika yang ternyata modus sekali agar bisa berlama-lama memapah Tiffany. Ingin rasanya Tiffany menendang bokong mantan tuan model ini hingga terjengkang. Tapi Tiffany akan ikut jatuh jika ia menendang Gika.
Dasar sialan!
"Ini dia kamarnya," ucap Gika akhirnya seraya berbelok ke kamar di samping Tiffany duduk tadi sebelum dipapah oleh Gika.
Sial sekali!
Ternyata Gika memang gemar mencari kesempatan dalam kesempitan! Mimpi apa Tiffany sampai bisa bertemu dengan makhluk jenis ini!
Gika tak mengetuk pintu dan langsung membuka pintu kamar perawatan, saat terlihat Henry yang sudah bisa duduk dibatas bed perawatan sedang disuapi makan oleh Elleanore.
"Kak Tiff!" Sapa Elleanore kaget yang buru-buru meletakkan mangkuk makanan Henry. Elleanore menghampiri Gika dan membantu Tiffany lepas dari papahan Gika De Chio sialan. Akhirnya Tiffany bisa duduk nyaman di sofa.
"Kalian sudah akur?" Tanya Henry penuh selidik.
"Iya!"
"Mana ada!"
Tiffany dan Gika menjawab serempak tapi dengan jawaban berbeda. Elleanore langsung tertawa kecil dan gadis itu kembali duduk di samping bed perawatan Henry lalu lanjut menyuapi asisten Gika tersebut.
"Kau sudah bisa bangun dan membaik?" Tanya Gika seraya menepuk punggung Henry.
"Ya! Aku memang baik-baik saja dan semalam itu hanya akting belaka," Henry berkelakar garing.
"Termasuk kalimat pamitmu itu?" Tanya Gika sok serius.
Semuanya hanya diam dan tak ada satupun yang tertawa. Tiffany sudah bangkit dari sofa dan gadis itu berjalan terseok menuju ke bed perawatan Henry. Elleanore buru-buru menggeser kursi agar Tiffany bisa duduk.
"Kenapa kau tidak jujur saja pada Stefy waktu itu tentang sakitmu?" Tanya Tiffany menatap tajam ke arah Henry.
"Aku tak mau menyakiti Stefy," jawab Henry lirih.
"Lalu dengan mengantarnya pulang dan menyuruhnya menerima perjodohan dari Opa, apa kau pikir itu tak menyakiti dan membuat hati Stefy hancur? Stefy sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya memakai gaun pengantin impiannya karena dia masih berharap kau mau menikahinya!" Sergah Tiffany dengan nada yang sudah meninggi.
"Maaf!" Jawab Henry lirih.
"Sampaikan sendiri maafmu pada Stefy!" Gertak Tiffany yang sedetik kemudian langsung membuat Tiffany menyesali kata-katanya.
"Ya! Aku akan minta maaf sendiri ke Stefy setelah ini, karena aku juga akan menyusul Stefy tak lama lagi."
"Henry!" Elleanore sudah kembali terisak dan berurai airmata.
"Brengsek! Sudah kubilang jangan mengatakan soal kematian! Kau akan sembuh, Henry!" Sergah Gika penuh emosi pada Henry.
"Aku tak akan pernah sembuh!" Henry menatap tajam pada Gika seolah meminta Gika untuk menerima kenyataan ini.
"Aaaargh!" Gika meninju meja demi meluapkan rasa frustasinya.
"Maaf soal perkataanku tadi aku hanya terbawa emosi dan aku benar-benar tak bermaksud---" Tiffany kehilangan kata-kata karena kini Elleanore sudah terisak dan menggenggam erat tangan Henry.
"El," Tiffany mengusap punggung Elleanore dan berusaha meredakan tangis gadis itu. Namun sepertinya hal itu hanya sia-sia belaka.
Tiffany ganti menatap pada Henry yang tatapan matanya kosong dan sayu. Rasa penasaran di hati Tiffany kembali mencuat perihal bagaimana Henry bisa tertular.
"Bagaimana ceritanya kau bisa tertular, Hen?" Tanya Tiffany akhirnya yang langsung membuat Henry menatap ke arahnya.
"Dari Ibu!" Jawab Henry lirih.
"Lalu ibumu?" Tiffany semakin menyelidik.
"Kata dokter kemungkinan dari ayah yang berprofesi sebagai supir dan mungkin sering jajan sembarangan," Henry melirik ke arah Gika yang wajahnya masih terlihat frustasi.
"Makanya aku selalu menasehati kawan baikku agar berhenti bergonta-ganti pasangan dan celup sana sini. Aku meminta dia untuk fokus pada satu gadis saja, menikahinya, lalu membina sebuah keluarga," tutur Henry panjang lebar yang tepat sekali menyentil ginjal Gika.
"Aku main aman selama ini!" Kilah Gika yang langsung membuat Tiffany merasa illfeel.
"Dan aku sudah bertobat dua bulan belakangan! Aku tak lagi tidur dengan wanita manapun sesuai nasehatmu. Karena aku sedang fokus pada seorang gadis," sambung Gika seraya menatap pada Tiffany yang masih membuang mukanya.
"Pria playboy itu sudah tobat, Tiff! Kau tidak mau memberinya kesempatan?" Tanya Henry menatap serius pada Tiffany.
"Aku masih belum percaya!" Jawab Tiffany ketus.
"Terserah!" Balas Gika tak kalah ketus.
Suasana di dalam kamar perawatan sesaat menjadi hening.
"Gika, aku ingin pulang! Bisakah kau mengurusnya hari ini?" Tanya Henry selanjutnya yang pertama buka suara.
"Kau gila! Kau masih perlu dirawat, Hen!" Sergah Gika berapi-api.
"Aku tak perlu dirawat atau botol infus sialan ini!" Henry hendak mencabut paksa jarum infus di tangannya namun Elleanore mencegah dengan cepat.
"Jangan!" Pinta Elleanore lirih.
"Aku mau bertemu adikku, dan menghabiskan sisa waktu yang aku miliki untuk melakukan semua hal yang ingin kulakukan," ujar Henry lagi yang lagi-lagi membuat Elleanore terisak. Elleanore memeluk Henry seolah tidak ingin mendengar soal kematian lagi keluar dari mulut Henry.
"Aku ingin mengajak Elleanore pergi ke rumah masa kecilku dan menghabiskan waktu beberapa hari disana," ujar Henry lagi yang langsung membuat Gika menatap tak percaya ke arahnya.
"Please!" Sambung Henry lagi nyaris tanpa suara. Pria itu sudah mengeratkan dekapannya pada Elleanore yang masih terisak.
"Kau benar-benar brengsek, Hen!" Sergah Gika penuh emosi, sebelum akhirnya pria itu mengangguk dan menyetujui permintaan terakhir Henry.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.