Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
JAGA JARAK!



Ashley memeluk Tiffany yang malam ini datang memakai kursi roda dan dikawal banyak bodyguard.


"Aku pikir kau sudah bisa berjalan memakai tongkat kemarin," ujar Ashley yang sudah melepaskan pelukannya pada Tiffany.


"Opa yang memaksaku naik kursi roda sialan ini-" Tiffany tiba-tiba mendelik ke arah belakang Ashley.


"Aku Naka!" Ucap Naka yang ternyata sudah berdiri di belakang Ashley.


"Aku hanya mau tanya, kakimu bagaimana? Sudah membaik?" Tanya Naka berbasa-basi pada Tiffany karena memang waktu yang membuat kaki Tiffany patah adalah kecelakaan yang melibatkan Tiffany dan Naka. Meskipun Tiffany yang bersalah disini karena melanggar lampu merah dan menabrak mobil Naka.


"Sudah! Hanya tinggal pemulihan," jawab Tiffany senormal mungkin. Menatap Naka selalu mengingatkan Tiffany pada Gika dan itu membuat nada bicaranya ketus secara otomatis.


Tapi Naka kan memang saudara kembar Gika! Jadi wajar mereka mirip.


"Gika kemana, Ka?", tanya Ashley pada Naka yang langsung berhadiah pukulan di lengan dari Tiffany.


"Auw! Aku hanya bertanya pada Naka!" Omel Ashley pada Tiffany yang hanya bersungut.


"Aku tidak tahu Gika dimana. Nanti akan kusuruh kemari kalau bertemu dengannya," ujara Naka menjawab pertanyaan Ashley.


"Tidak usah!" Sergah Tiffany cepat melarang Naka.


"Suruh saja kemari!" Ashley memberikan perintah sebaliknya.


"Ash!"


"Aku yang mau bicara dengan Gika! Jadi tidak usah salah tingkah begitu?" Kekeh Ashley yang langsung membuat Tiffany berdecak.


"Baiklah! Aku akan pergi!" Ucap Tiffany akhirnya seraya memanggil salah satu bodyguard-nya.


"Tiff, kau mau kemana?" Tanya Ashley pada Tiffany yang sudah berlalu pergi. Tak ada jawaban dari sahabat Ashley tersebut dan Ashley memilih untuk kembali ke arah Richard yang masih sibuk berbincang dengan para tamu yang hadir malam ini.


"Kau terlihat lelah. Kenapa tak duduk saja?" Bisik Richard yang hembusan nafasnya terasa sekali di tengkuk Ashley dan mendadak menimbulkan gelenyar aneh pada diri Ashley.


"Duduk dimana?" Ashley bertanya pada Richard sambil berbisik juga.


Richard tak langsung menjawab dan berpamitan dulu pada tamunya, lalu pria itu merangkul Ashley dan membimbingnya agar duduk di salah satu kursi di dalam ballroom.


"Kau haus?" Tanya Richard selanjutnya.


Ashley mengangguk dan Richard segera memanggil pelayan untuk mengantarkan minuman pada Ashley.


"Aku pikir acaranya akan formal dan aku harus berdiri di pelaminan sepanjang acara, menyalami tamu yang datang," Ashley bercerocos seraya tertawa kecil dan Richard hanya menanggapi dengan datar seperti sebelum-sebelumnya.


"Aku tidak suka yang terlalu formal," ujar Richard satu kalimat saja.


"Kita pulang ke apartemenmu mulai kapan?" Tanya Ashley lagi.


"Malam ini selesai acara. Aku sudah minta izin pada Mom," jawab Richard yang hanya membuat Ashley mengangguk. Hidup dalam kepura-puraan akan dimulai setelah ini. Semoga Ashley bisa melalui semuanya.


"Selamat malam, pengantin baru!" Sapa sebuah suara yang langsung membuat Ashley mendongakkan kepalanya dan mengulas senyum.


"Andy!" Sapa Ashley pada Andrew Desmond yang terlihat gagah malam ini mengenakan setelan tuksedo formal.


"Itu panggilanku saat kecil," ujar Andrew memberitahu Ashley yang langsung mengangguk.


"Kalian terlihat akrab!" Celetuk Anneth yang sudah menyusul Andrew.


"Maaf, Nona Anneth! Kami teman lama dan saya tak bermaksud menggoda tunangan anda," jawab Ashley tang segera menjaga jarak dari Andrew. Terlebih Richard yang juga langsung menarik Ashley dan merangkulmya dengan posesif membuat Ashley paham kalau ini saatnya berakting.


"Ashley sudah sah menjadi istri Richard, Anneth! Jadi jangan berlebihan begitu!" Timpal Andrew yang ikut-ikutan merangkul Anneth meskipun terlihat setengah hati.


Apa perjodohan bisnis memang sekaku itu?


"Aku tak berlebihan!" Sergah Anneth bersungut pada Andrew.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada mantan tunanganku-" Anneth hendak memeluk Richard, namun Richard sudah dengan cepat mengulurkan tangannya seolah memberikan isyarat kalau dia tidak ingin dipeluk Anneth dan cukup berjabat tangan.


"Terima kasih karena kalian berdua sudah meluangkan waktu untuk hadir," ucap Richard datar.


"Ini semua sesuai permintaan Ashley dan aku tak pernah bisa menolak permintaan Ashley," ujar Richard seraya mengecup pipi Ashley.


Wajah Ashley langsung memanas mendengar kalimat gombal dari Richard ditambah kecupan bibir Richard yang begitu lembut.


Astaga!


Ini hanya akting dan kau tak perlu terbuai, Ash!


Ashley menggerutu dalam hati merutuki dirinya yang mendadak salah tingkah atas sikap romantis pura-pura dari Richard.


****


Gika berdecak kesal saat ia yang tadi mengikuti Edward karena ingin memberikan pelajaran, malah ketularan jejak asisten abang Richard itu. Gika sudah berkeliling untuk mencari Edward, namun pria itu tak ada dimanapun. Mungkinkah Edward sudah pulang duluan?


"Dasar pengecut!" Gumam Gika kesal yang baru saja akan berbalik dan kembali ke ballroom, saat Gika tak sengaja melihat Tiffany yang duduk di kursi roda sedang menuju ke arahnya.


"Minggir!" Ucap Tiffany galak seraya mendelik pada Gika yang menghalangi langkahnya.


"Mau kemana kau-"


"Maaf! Sebaiknya anda tak dekat-dekat dengan Nona muda!" Sentak bodyguard Tiffany yang langsung menyuruh Gika untuk minggir.


"Aku mau bicara dengannya!" Ucap Gika sok galak seraya berkacak pinggang pada bodyguard Tiffany yang berjumlah empat orang tersebut.


Cih!


Gika juga bisa membawa bodyguard kemana-mana. Tapi Gika tak pernah melakukannya meskipun dulu ia adalah seorang model terkenal. Lalu kenapa si gadis macan rrrooaaar ini berlebihan sekali dan sok-sokan membawa bodyguard ke acara pernikahan?


"Nona Tiffany sedang tidak ingin bicara pada anda, Tuan!" Ujar salah satu bodyguard Tiffany.


"Dia saja belum mengatakan apa-apa! Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau dia tak mau bicara denganku? Memangnya kau cenayang?" Cecar Gika bersungut-sungut pada bodyguard Tiffany.


"Hei, Gadis macan!"


"Rrrrooooaaar! Rrrrooooaaar!" Gika mengaum lebay pada Tiffany dan maju mendekat ke arah kursi roda gadis itu. Namun bodyguard Tiffany bergerak cepat dan segera menyuruh Gika menjaga jarak.


"Silahkan mundur dan jaga jarak, Tuan!"


"Apa, sih? Aku hanya ingin bicara-"


"Aku sedang tak ingin bicara denganmu!" Ucap Tiffany ketus memotong kalimat Gika. Gadis itu juga sudah mendelik ke arah Gika yang balik memelototinya.


"Aku mau minta kompensasi!" Ucap Gika to the point.


"Kompensasi apa?" Tanya Tiffany masih ketus.


"Kompensasi karena kau sudah mencemari otak dan pikiranku!" Gika mencondongkan tubuhnya ke arah Tiffany sebelum kemudian berbisik,


"Aku mau kau menerima lamaranku, menikah denganku, lalu tidur bersamaku-"


Bugh!


Gika belum menyelesaikan kalimatnya saat kaki Tiffany yang tak sakit menendang pangkal paha pria itubtepat di tengah-tengah yang langsung membuat Gika menjerit hebat.


"Waduuuh!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.