Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KAU MENGIKUTIKU?



Edward masih membuntuti Elleanore yang sudah tiba di depan sebuah rumah yang letaknya lumayan jauh dari kamp pengungsian. Rumah itu kondisinya sudah setengah hancur dan hanya menyisakan sebagian dinding, serta beberapa kayu yang rawan roboh.


Elleanore masuk ke dalam rumah tersebut dengan hati-hati, dan langsung menghampiri sebuah meja panjang yang entah bagaimana masih bertahan dan berada di dalam rumah, saat benda-benda lain sudah hanyut terbawa arus dan tak tahu rimbanya.


"El, kau sedang apa?" Tegur Edward yang langsung membuat Elleanore kaget.


"Edward? Kau mengikutiku?" Tanya Elleanore menatap tak suka pada Edward.


"Aku hanya khawatir," jawab Edward memberikan alasan.


"Kau sedang apa?" Tanya Edward selanjutnya.


"Mengambil foto kedua orangtua Zizi. Katanya ada di laci-" Elleanore berusaha membuka laci meja di depannya dan sedikit kesulitan. Edward langsung sigap membantu dan laci akhirnya bisa terbuka. Ada satu foto yang bingkainya sudah kotor terkena lumpur. Elleanore segera membersihkannya.


"Ayo keluar!" Ajak Edward yabg sudah menggenggam lengan Elleanore, saat tatapan tak suka Elleanore kembali terlontar ke arah pria itu.


"Ma-" Edward belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba pria itu merasakan tanah tempatnya berpijak, bergoyang dan bergetar.


Edward tak jadi melepaskan lengan Elleanore, dan oria itu langsung menarik Elleanore keluar dari bangunan rumah Zizi yang akan roboh sebentar lagi.


"Aduh!" Elleanore tersandung dan foti di tangannya terlepas. Edward membantu Elleanore berdiri terlebih dahulu, lalu mengambilkan foto tadi, saat tiba-tiba.


"El!" Edward bergerak secepat kilat untuk mendekap Elleanore yang nyaris tertimpa kayu besar. Elleanore selamat di dalam dekapan Edward, sayangnya kaki Edward yang justru tertimpa kayu tersebut.


"Aaaaaarrrghhh!" Edward merongis dan tetap mendekap Elleanore, menunggu hingga gempa berakhir.


"Sudah selesai," gumam Edward pada Elleanore yang masih memejamkan matanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Edward seraya melepaskan dekapannya pada Elleanore perlahan. Saat itulah Elleanore sadar kalau kaki Edward tertimpa kayu yang lumayan besar.


"Ed," Elleanore buru-buru bangkit dan berusaha mengangkat kayu tersebut. Namun tenaganya kurang kuat dan kayu tak bergerak sama sekali.


"El! Sudah!" Ujar Edward pada Elleanore yang masih berusaha mengangkat kayu tadi meskipun sia-sia.


"A-aku akan mencari bantuan," Elleanore kembali menghampiri Edward yang hanya diam. Tapi Elleanore tahu betul kalau Edward sebenarnya sedang menahan rasa sakit. Rasa sakit karena berusaha menyelamatkan Elleanore.


"Kau tidak apa aku tinggal sebentar?" Tanya Elleanore menatap penuh kekhawatiran pada Edward yang langsung menggeleng.


Elleanore bangkit berdiri namun tatapan gadis itu masih tak lepas menatap pada Edward.


"Aku akan baik-baik saja!" Edward meyakinkan Elleanore yang akhirnya berbalik dan mulai mengayunkan langkahnya untuk meninggalkan Edward.


"El!" Panggil Edward tiba-tiba saat Elleanore baru pergi beberapa langkah.


"Ada apa?" Tanya Elleanore khawatir.


"Foto kedua orang tua Zizi!" Edward mengendikkan dagunya ke arah foto yang tadi sempat terkepas dari tangan Elleanore.


Elleanore segera memungutnya,llau gadis itu kembali menghampiri Edward. Elleanore memeluk Edward beberapa saat.


"Iya!" Jawab Edward lirih seraya mengusap punggung Elleanore.


Elleanore akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Edward sendirian dengan kaki yang tertimpa kayu besar. Semoga tak ada gempa susulan.


****


Matahari sudah bergulir ke arah barat, dan Elleanore masih belum terlihat Edward menghela nafas sekali lagi dan tak berhenti menatap ke arah Elleanore pergi tadi. Berharap Elleanore akan segera tiba.


Namun sepertinya...


"Edward!"


Suara Elleanore dari kejauhan bagaikan sebuah angin segar. Elleanore datang bersama beberapa relawan lain dan Edward langsung mengulas senyuman lega.


"Maaf lama! Tadi di kamp sedikit kacau," ujar Elleanore seraya bersimpuh di samling Edward, lalu membuka botol air mineral yang ia bawa dan membantu Edward untuk minum.


Elleanore tahu saja kalau Edward sudah haus sekali.


Setelah selesai memberi minum pada Edward, Elleanore lanjut membantu rekan-rekannya untuk mengangkat kayu yang menimpa kali Edward memakai pengungkit sederhana yang mereka buat.


"Satu....dua...tiga..." ucap mereka serempak seraya mengangkat kayu dengan sekuat tenaga.


"Sudah ada ruang?" Tanya salah satu tekan Elleanore.


"Iya!" Jawab Edward yang langsung menarik kakinya yang sudah mati rasa perlahan.


"Aaarrrgh!" Edward kembali mengerang saat akhirnya kaki pria itu berhasil lolos.


Elleanore langsung memeriksa kaki Edward yang kini nampak kebiruan.


"Kau bisa jalan?" Tanya Elleanore memastikan.


Edward hanya mengangguk samar dan Elleanore serta satu rekannya segera membantu Edward berdiri, lalu memapah Edward meninggalkan bangunan rumah Zizi yang kini sudah benar-benar hancur dan rata dengan tanah.


"Foto kedua orang tua Zizi?" Tanya Edward sedikit berbisik pada Elleanore yang memapahnya.


"Sudah aku berikan pada Zizi," jawab Elleanore cepat dan Edward langsung mengangguk seraya tersenyum tipis.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia