Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SALAH ORANG



"Apa?" Tanya Tiffany pura-pura ketus pada Ashley yang sedang menghubunginya via video call.


Berita tentang pernikahan Tiffany dan Gika sudah sampai ke semua keluarga besar Alexander. Dan sekarang, Tiff masih di bandara bersama Dad Dean, Gika, dan Opa Bowles yang mendadak jadi sehat serta segar bugar serelah Tiffany mengatakan setuju untuk menikah dengan Gika.


Apa ini sebuah konspirasi?


Acara pernikahan Tiffany rencananya memang akan digelar saja di kota X karena semua keluarga besar Alexander ada di sana. Dan itu juga salah satu keinginan Opa Bowles.


"Ciyeee! Yang mau nikah," goda Ashley pada Tiffany yang masih merengut.


"Mana Gika?" Tanya Ashley lagi merasa kepo karena Tiffany hanya terlihat sendiri di layar ponselnya.


"Sedang pergi. Mungkin mencari wanita-"


"Kopi!" Gika sudah kembali duduk di samping Tiffany, setelah tadi pria itu pergi sebentar ke coffeshop yang berada di dalam bandara.


"Dan beberapa roti barangkali kau lapar," sambung Gika lagi seraya membuka bungkusan roti yang tadi ia bawa, lalu memberikannya pada Tiffany. Namun Tiffany menolaknya dan sok jual mahal seperti biasa.


"Eheem!" Deheman Ashley dari layar ponsel Tiffany, mengalihkan perhatian Gika.


"Hai, Kakak ipar! Bagaimana persiapan di sana?" Tanya Gika pada Ashley dengan nada lebay. Dua speaker konslet yang sama-sama lebay mengobrol! Mungkin Tiffany butuh penyumpal telinga sekarang.


"Sudah hampir rampung! Tinggal menunggu calon pengantin tiba." Jawab Ashley sedikit terkekeh.


"Cepat sekali? Apa pakai jasa WO Bandung Bandawasa?" Celetuk Tiffany yang langsung membuat Gika dan Ashley tergelak.


"Aku juga tidak tahu, Tiff! Mom yang mengurus semuanya dan aku hanya bagian menghias kamar pengantin!" Jawab Ashley masih tergelak.


"Jadi, kalian mau nuansa apa di kamar pengantin kalian nanti? Nuansa macan rrrooaaar yang akhirnya menemukan pawang?" Kelakar Ashley yang langsung membuat Tiffany berdecak dan Gika malah tergelak tanpa dosa.


"Bagus juga sepertinya pakai nuansa itu," jawab Gika berpendapat.


"Dan sekalian sediakan kandang macannya di kamar!" Timpal Tiffany menambahkan ide.


"Untuk apa ada kandang macan di kamar pengantin?" Tanya Gika menatap bingung pada Tiffany.


"Untuk mengurungmu jika nanti berbuat macam-macam!" Tiffany menuding ke arah wajah Gika seraya mendelik.


"Macam-macam bagaimana maksudmu? Kau nanti sudah jadi istri sahku! Jadi aku bebas berbuat apa saja padamu!"


"Menciummu, memelukmu, membuka bajumu, menunggangimu-"


Tiffany buru-buru membungkam mulut Gika yang tidak punya rem saat bicara tersebut. Sebelas dua belas dengan Ashley konslet!


"Aku tidak bisa bernafas, Tiff!" Ronta Gika yang sudah hampir ditindih oleh Tiffany yang berusaha membungkam mulut pria tersebut.


"Makanya jangan ceplas-ceplos saat bicara!" Sungut Tiffany pada Gika. Sepertinya Tiffany belum sadar dengan posisinya yang hampir berada di atas Gika.


"Apa rasanya enak berada di atasku? Kau sudah mau memperkosaku sekarang dan mencicil malam pertama kita?" Tanya Gika seraya mengerling nakal ke arah Tiffany yang akhirnya menyadari posisinya.


Dan sialnya, disaat bersamaan, Dad Dean serta Opa Bowles sudah kembali dari coffeshop dan menghampiri Gika serta Tiffany.


"Gika, Tiffany, kalian sedang apa?" Tanya Dad Dean menatap heran pada anak dan calon menantunya.


Tiffany buru-buru bangkit dari atas Gika dan wajah gadis itu sudah semerah tomat sekarang.


"Tiff terpeleset, Dad!"


"Eh, Uncle-"


"Eh, Dad-"


Otak Tiffany mendadak jadi blank dan bingung harus memanggil Dad Dean dengan sebutan Dad atau Uncle. Sementara Gika sudah tertawa terbahak-bahak melihat ke-grogi-an Tiffany.


"Maaf! Tiff ke toilet dulu!" Pamit Tiffany menahan rasa malunya. Gadis itu memberikan ponselnya yang masih tersambung ke video call Ashley pada Gika.


Sementara Dad Dean dan Opa Bowles hanya geleng-geleng kepala, lalu duduk di dekat Gika yang melanjutkan obrolan video call-nya bersama Ashley.


Saat Gika masih asyik mengobrol bersama Ashley, seseorang tiba-tiba menyapa Gika dan sedikit membuat kaget.


"Naka! Disini juga?" Gika mendongakkan kepalanya dan langsung terlihat wanita yang sepertinya seusia dengan Mom Fe.


"Alsya dan Sunny mana? Tidak ikut?" Tanya wanita paruh baya itu lagi, dan Gika hanya garuk-garuk kepala karena sepertinya ibu-ibu yang entah siapa ini baru saja salah orang.


Hhhhh!


"Ghea!" Sapa Dad Dean yang rupanya malah kenal dengan wanita paruh baya itu.


Wah wah!


Gika perlu lapor pada Mom Fe ini.


Tapi sepertinya Gika tak asing dengan wajah ibu-ibu asing yang dipanggil Ghea oleh Dad Dean ini.


"Hai, Dean!" Aunty Ghea menyapa canggung pada Dad Dean, dan Gika akhirnya ingat kalau wanita yang salah menyapanya ini adalah tetangga sekaligus besan mertuanya Naka. Mantan pacarnya Dad Dean juga kalau tidak salah.


Kemarin saat acara pernikahan Alsya dan Naka, Dad Dean terlihat canggung menyapa Aunty Ghea. Padahal sikap Mom Fe biasa saja. Tidak tahu setelah masuk kamar!


"Aku hanya sedang menyapa Naka," lanjut Aunty Ghea lagi memberitahu Dad Dean.


"Maaf, Aunty! Tapi saya Gika bukan Naka!" Gika mengoreksi dan Aunty Ghea langsung salah tingkah.


"Oh, ya! Kamu Gika?"


"Astaga! Maaf! Kalian kembar, iya! Aunty lupa!"


"Tidak apa-apa, Aunty! Sudah sering terjadi," jawab Gika seraya tertawa kecil. Dad Dean dan Opa Bowles ikut tertawa kecil.


Tak berselang lama, suami Aunty Ghea yang sepertinya adalah musuh bebuyutan Dad Dean di masa lalu menghampiri sang istri.


"Ada apa?"


"Aku salah menyapa orang. Aku kira dia Naka makanya aku tanha dimana Alsya dan Sunny." Jelas Aunty Ghea pada sang suami.


"Alvin, apa kabar?" Dad Dean menyapa suami Aunty Ghea yang bernama Uncle Alvin itu dengan ramah.


"Kabar baik, Dean!" Uncle Alvin menjabat tangan Dean dan memasang wajah ramah juga. Tidak tahu bagaimana hatinya. Mungkin masih ada kobaran api peperangan.


"Sedang perjalanan bisnis?" Uncle Alvin berbasa-basi pada Dad Dean.


"Sedang bertemu calon besan," jawab Dad Dean pamer.


"Putramu ada yang mau menikah lagi?" Uncle Alvin terlihat kaget.


Bagaimana tidak kaget!


Baru seminggu yang lalu Dad Dean menggelar pernikahan Naka dan Alsya dengan sangat mewah. Ini sudah mau mantu lagi.


"Saudara kembar Naka yang akan menikah kali ini," Dad Dean menunjuk ke arah Gika yang langsung tersenyum ramah pada Uncle Alvin dan Aunty Ghea.


"Selamat!" Ucap Aunty Ghea.


"Jangan lupa untuk datang nanti! Aku akan mengirim undangan," ujar Dad Dean pada Aunty Ghea dan Uncle Alvin.


"Tentu saja kami akan datang, Dean! Kami duluan," pamit Uncle Alvin akhirnya setelah sedikit berbasa-basi. Pasangan paruh baya itupun berlalu dan duduk di sisi lain ruang tunggu.


"Belum selesai yang video call?" Tanya Tiffany yang melihat layar ponselnya yang berada di pangkuan Gika masih menyala.


"Hah?" Gika melihat ke layar dan Ashley sudah tak terlihat. Entah hilang kemana kakak ipar Gika itu.


"Sudah selesai aku rasa." Gika mengakhiri video call Ashley dan mengulurkan ponsel Tiffany pada sang empunya. Namun saat Tiffany mengambil ponselnya dari tangan Gika, Gika malah langsung menarik Tiffany hingga gadis itu jatuh ke atas pangkuannya.


"Gika!" Tiffany memukul dada Gika dan langsung bangkit, lalu duduk disamling Opa Bowles.


Dasar Gika genit!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.